Part 6
Garis finish sudah ada di depan mata. Satu motor telah menjadi pemimpin dan sebentar lagi meraih garis finish, tidak kalah jauh ada satu motor yang hampir menyalipnya, tapi seorang yang di depan itu tidak akan membiarkan orang yang dibelakang lebih unggul darinya. Dia menambah kecepatan motor. Suara decitan ban motor terdengar.
"Pemenang kita malam ini!" terdengar suara seseorang berteriak.
Si pemenang tersenyum miring dibalik helm yang dia pakai. Menoleh pada lelaki yang berada di belakangnya. Mendapatkan juara dua membuat wajahnya masam. Selama ini tidak ada yang mengalahkannya. Dia penasaran siapa lawannya malam ini, sementara musuh dengan santainya berdiri di samping lawannya itu.
"Lo hebat!" puji Radit.
Lelaki itu melirik pada Kenan yang sejak tadi menatapnya. Radit tahu jika dia sedang mencari tahu siapa lawannya malam ini. Jika Radit selalu kalah dengan Kenan, kini dia akan kalah dengan seseorang yang menggantikannya. Sementara Rean menghampiri Kenan dan melihat Radit dari kejauhan yang sedang berbicara dengan sosok misterius.
"Dia siapa?" tanya Kenan.
"Mereka bilang Queen."
"Dia perempuan?" Kenan menunjuk ke arah pembalap misterius itu. Masih tidak percaya jika Kenan dikalahkan oleh seorang perempuan.
"Iya, keren ya. Seorang Kenan bisa kalah sama cewek," celetuk Rean tanpa mengalihkan pandangan ke arah Radit.
Pletak!
Kenan menjitak kepala Rean. "Ini gila! Bisa-bisanya Radit merekomendasikan seorang perempuan untuk jadi pembalap?"
"Heh!" Rean menepuk lengan Kenan. "Dia kayaknya pembalap bukan kaleng-kaleng. Lo diem aja dikalahkan begini? Gue sih enggak! Jatoh harga diri gue." Rean semakin membuat Kenan emosi.
Tidak tahu saja dia, kalau yang sudah mengalahkan Kenan adalah saudara kembarnya sendiri. Rean saja kalah, apalagi Kenan. Apa yang terjadi jika mereka tahu siapa 'Queen' yang sebenarnya.
"Udah biarin aja! Lihat aja nanti!" ujar Kenan yang memilih pergi ke podium.
Rean pun mengikuti langkah Kenan, tapi lelaki itu menghentikan langkahnya sejenak saat berpapasan dengan sang juara satu. Rean merasa tidak asing dengan hoodie yang di pakai oleh gadis yang dijuluki Queen itu.
"Rain?"gumam Rean.
Rean merogoh saku celananya dan memencet nomor Rain. Ah, dia lupa jika Rain telah mengganti nomor ponselnya dan dia belum diberitahu. Rain sempat meminta nomornya tapi Rean buru-buru hendak pergi ke sirkuit.
"Woy! Bengong aja!" Lando menepuk pundak Rean.
"Anjrit! Ngagetin aja sih Lo!"
"Lo ngapain bengong?"
Rean menggeleng, dia tidak akan memberitahu Lando terlebih dahulu. Dia akan memastikan sendiri bahwa dugaannya benar.
"Gue lagi khawatir sama Rain," kilah Rean.
"Udah dia baik-baik aja, nggak bakal lakuin sesuatu yang bikin Lo khawatir lagi. Juga si Rain udah jago bela diri sekarang. Dia bisa jaga diri sendiri. Percaya sama gue!" Lando menepuk pundak Rean pelan.
Rean membenarkan ucapan Lando, sejak keluar dari rumah sakit, Rain mengalami banyak perubahan. Dia lebih berani dan bisa melawan orang yang selalu menyakitinya. Mungkin ada benarnya jika sekarang Rean tidak perlu terlalu khawatir lagi. Rean juga menepis tentang pikirannya bahwa pembalap baru itu bukanlah Rain. Pemilik hoodie seperti itu kan banyak. Rean memilih mendekat ke podium.
"Lo siapa sih!" tanya Kenan ketus.
"Orang!" sahut gadis yang berdiri di samping Kenan. Dia masih memakai helmnya.
"Gue tahu! Coba buka helm Lo!"
Gadis itu mengangkat kedua bahunya dan memilih turun dari podium setelah mendapatkan hadiah. Kenan terus menatap gerak-gerik gadis yang telah membuatnya kalah malam ini. Biasanya dia akan mengalahkan geng motor Radit, tapi kali ini dia yang harus menerima kekalahan.
"Lo hebat, gue jadi___"
"Sssst! Kenan lagi ngelihatin kita, jangan macem-macem!" bisik gadis itu tanpa mau melepas helmnya.
Radit melirik ke belakang, benar saja Kenan sedang menatap ke arahnya. Rupanya dugaan Rain benar, bahwa Kenan terus curiga dengan gadis yang Radit bawa malam ini. Radit menyeringai, malam ini dia bisa melihat kekalahan Kenan. Bahkan gadis yang menjadi tunangannya itu lebih memilihnya.
"Thanks ya, karena Lo ... Gue jadi bisa lihat kekalahannya. Orang sombong seperti dia memang harus sekali-kali diberi pelajaran!" Radit menepuk pundak Rain.
"Ck, gue yang seharusnya makasih. Hari ini Lo udah kasih hadiah dan sekarang bolehin gue ikut balapan. Sekarang bagi tuh duit buat makan-makan. Gue nggak mau ada alkohol tapi!"
Radit mengangguk, lalu mengajak Rain untuk kembali ke Markas Black Devil miliknya. Dimana seluruh anggota telah berkumpul.
"Woah, pemenang kita malam ini. Lo keren, Bro!" Fano memukul lengan Rain dan dibalas oleh gadis itu.
Rain melepas helmnya, dia merasa sudah aman di dalam rumah yang dijadikan markas oleh Radit.
"Hah! Jadi Lo cewek?" Fano melongo saat melihat Rain.
Bukan hanya Fano, beberapa orang yang ada di sana pun dibuat terkejut oleh Rain.
Sementara Radit terkekeh, berhasil membuat anggotanya terkejut.
"Gimana? Keren kan?" tanya Radit.
"Gila sih, ini baru ada cewek se keren Lo! Boleh lah Lo gabung sama kita!" puji Danis.
"Iya, Bos. Baru sekarang gue lihat Kenan kalah!" sahut Gani.
Anggota lainnya pun mengangguk.
"Lo mau?" tanya Radit pada Rain.
"Untuk saat ini kalau balapan sih gue mau. Kalau gabung nanti dulu dah gue lagi banyak kerjaan."
"Lo jomblo kan?" Tiba-tiba Fano bertanya, membuat anggota yang berada di sana menatap ke arahnya.
"Lo mau deketin dia, hadapi dulu gue!" jawab Radit tidak suka.
"Dia cewek Lo? Bukannya Lo suka sama Rain si cupu itu?" Danis penasaran. Kenapa ketuanya bisa langsung berpindah ke lain hati.
"Kenalan gih sama mereka!" Radit merangkul pundak Rain.
Rain tersenyum dan menatap satu per satu anggota yang ada di dalam. Sekitar dua puluh orang.
"Selamat malam, gue Rain Grittella. Senang bisa kenal sama kalian semua!" ucap Rain.
"Apa?" ucap mereka serempak.
Pasalnya saat Radit menyatakan cinta sama Rain asli di tolak mentah-mentah dan Radit pernah membawa Rain ke markas saat bertemu di jalan pun gadis itu memasang wajah tidak ramah. Berbeda saat ini, Rain sekarang lebih enjoy dan mudah bergaul. Seakan ada dua Rain saja.
Namun, mereka semua tidak mengambil pusing hal yang dianggap sepele. Memilih menikmati malam kemenangan mereka kali ini. Meski bukan Radit yang turun tangan. Rain adalah penyelamat mereka, sudah lama mereka tidak merasakan masa kejayaan lagi.
"Gue balik dulu ya, guys," pamit Rain saat selesai makan spaghettinya.
"Kok buru-buru?" tanya Fano.
"Iya, gue takut Rean balik. Jadi gue harus lebih dulu sampe rumah."
"Lo ada hubungan apa sama Rean?" Fano memicing, dia belum tahu jika mereka kembar.
Memang tidak ada yang mengetahui jika mereka kembar. Hanya geng Aksara saja yang tahu. Bahkan Radit pun baru tahu tadi saat bersama Rain di mall.
"Nanti gue jelasin, gue anter Rain dulu," ucap Radit. Dia tidak mau Fano menahan Rain lebih lama. Takut jika Rean pulang lebih dulu dan semuanya akan ketahuan.
Fano jika sudah penasaran maka akan seperti wartawan. Mengajukan pertanyaan sampai ke akar-akarnya.
***
"Thanks ya." Rain menyodorkan helm yang dia kenakan.
Rain juga telah mengganti pakaiannya sebelum pulang ke apartemen. Dia juga membeli beberapa camilan di supermarket dekat apartemen. Ini semua sudah Rain pikirkan, karena sejak tadi diam-diam Rain memperhatikan Rean yang terus memindai penampilannya. Beruntung dia membawa baju ganti.
"Lo bawa aja besok baju gue ke sekolah!" ujar Rain.
"Siap, Tuan Putri." Radit mengangkat tangannya untuk hormat.
"Oh, iya makasih udah traktir lagi. Hehe."
"Iya, sayang. Selamat malam ya. Nanti aku telpon."
Ada rasa aneh yang menjalar di tubuh Rain. Dia belum pernah merasakan hal seperti ini, bahkan jatuh cinta saja dia tidak tahu seperti apa. Rain segera menepis rasa itu, dia kan hanya ingin memanfaatkan Radit saja. Perkara nanti dia jatuh cinta urusan nanti, yang terpenting dia ingin membalas dendam pada Kenan. Juga mengumpulkan bukti-bukti jika Kenan telah berselingkuh dan tentang siapa Ella sebenarnya.
Rain menatap kepergian Radit, kemudian dia masuk ke unit apartemen milik Rean. Suasana masih sama sebelum dia tinggalkan. Lantai dasar masih gelap, dia memilih langsung masuk ke kamar.
"Darimana aja Lo, Rain?" Suara itu membuat Rain kaget.
Gadis itu merasakan bulu kuduknya merinding. Siapa yang bicara apa jangan-jangan ada hantu?
Lampu di sudut meja dekat televisi menyala, memperlihatkan seorang lelaki duduk di sofa. Rain menghela napas lega.
"Lo ngagetin aja! Gue kira setan!"
Rean mendekat dan menoyor kening Rain.
"Lo pergi nggak bilang-bilang!" Rean melihat penampilan Rain. Dari celana jeans, ikatan rambut, hoodie dan sepatu kets yang dia pakai. Berbeda dengan gadis yang disebut 'Queen' saat di area balap tadi.
"Ada apa sih, Bang?" tanya Rain pura-pura tidak mengerti tatapan Rean. Rain sebenarnya sudah tahu jika Rean sedang memastikan bahwa yang di area balap tadi adalah dirinya.
Beruntung gadis itu cepat tanggap, bisa membaca situasi.
"Nggak apa-apa. Lo darimana?"
"Supermarket!" Rain mengangkat palstik belanjaannya yang penuh dengan camilan.
"Oh, iya! Sorry ya gue lupa belanja. Lo laper nggak?" Rean menepuk keningnya.
"Nggak, tadi udah makan nasi goreng pas mau belanja. Mana capek banget jalan kaki!" gerutu Rain yang menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Bang, beliin motor kek! Biar gue bisa pergi sendiri tanpa nunggu Lo! Gila Lo ya bikin gue kelaparan!" Rain membuka minuman kaleng soda.
Rean mematung, ini bukan seperti adiknya. Minuman soda itu tidak Rain sukai dulunya. Lalu Rain dulu tidak mau menggunakan motornya sendiri.
"Lo siapa?" tanya Rean. Pertanyaan itu lolos begitu saja.
Rain tersedak minumannya. Dia terkejut mendengar pertanyaan Rean. Bisa-bisanya meragukan bahwa dia adalah kembarannya.
"Heh, gue yang amnesia kenapa Lo jadi lupa sama gue!"
Rean duduk di sebelah Rain, dia mengambil minuman kaleng yang berada ditangan Rain. Rean menatap manik mata Rain. Memastikan bahwa dia adalah adiknya.
"Lo suka sama gue, Bang?" Rain pun ikut menatap Rean. Bahkan gadis itu mendekatkan wajahnya. Kepalanya sedikit miring.
"Astaga! Rain! Apa-apaan sih Lo!" Rean mendorong wajah Rain sedikit menjauh.
"Hahaha lagian Lo bisa-bisanya ngelamun. Gue ini Rain lah. Siapa lagi? Lo pikir gue punya kembaran lagi? Kan Lo yang jagain gue di rumah sakit!" Rain merebut kembali minumannya.
"Lo nggak segabut ini, Rain. Lo beda banget. Banyak berubah."
"Bang, gue capek jadi cewek lemah! Gue pengen orang-orang nggak lihat gue sebelah mata."
Rean mengacak rambut Rain. "Lo sekarang keren. Gue suka. Jangan coba pergi lagi ya!" Rean memeluk adiknya erat. Dia merasa bersalah karena telah meragukan gadis yang ada dihadapannya ini. Dia pikir adiknya itu adalah orang lain.
"Lo belum pernah cerita soal keluarga, Bang!" Rain melepas pelukan Rean.
Wajah Rean menegang. Selama Rain keluar dari rumah sakit dan dinyatakan amnesia, dia merasa lega karena Rain tidak ingat apa yang terjadi. Rain tidak perlu lagi merasa tertekan. Meski di sekolah dia akan bertemu Ella. Namun, kekhawatiran Rean soal Ella sudah hilang karena Rain bisa melawan Ella. Bahkan Rain sudah menjauhi Kenan. Jika dipikir dia lebih setuju Rain dengan Radit yang memang benar-benar mencintainya sejak dulu.
Meski bersahabat, Rean tidak suka dengan sikap Kenan yang mengabaikan Rain. Dulu dia cuek dengan Rain, tapi sekarang dia selalu takut kehilangan Rain. Sejak Rain mencoba bunuh diri. Dia sadar selama ini banyak melakukan kesalahan.
"Rain, udah ya kita lupakan itu. Gue bakal berusaha bikin Lo bahagia. Anggap aja kita nggak punya orangtua. Uang gue nggak bakal habis kok tenang aja. Bahkan sampai kita kuliah pun gue masih bisa biayain. Soal motor, nanti gue bakal beliin ya." Rean menangkup wajah Rain.
Rean memeluk kembali adiknya. Apapun yang akan terjadi dia tidak akan membuat hidup Rain susah. Rean berjanji akan selalu menjaga Rain seperti pesan dari mamanya. Saat ini Rean ingin ingatan Rain tidak muncul, agar bisa menikmati hari-hari yang indah. Menggantikan hari buruk Rain yang dulu.
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
murniati cls
Napa tak cerita aja ma raen dia,biar cari bukti sama2
2023-10-10
4
Abizar zayra aLkiaana
jdi kepengen ada yg merhatiin😣
2023-06-24
1
Diii
sayang banget nih kakak
2023-06-21
1