Bab 18

Bab 18

Rain keluar dari kamar setelah memastikan tidak ada siapapun di mansion Damian. Mereka sedang berkumpul di ruang tengah yang menjadi ruang keluarga itu. Rain masuk ke dalam ruang kerja sang papa untuk mencari bukti. Dia juga sudah mengecek cctv di ruangan itu dan sudah memanipulasinya. Rain membuka laci meja yang paling atas. Tidak ada hal yang mencurigakan. Hanya ada beberapa dokumen di sana. Lalu laci ke dua hanya peralatan menulis dan juga beberapa dokumen.

Laci ke tiga .... Rain mengernyit, ada dua kotak. Satu berwarna hitam dan satu berwarna merah. Keduanya berbentuk hati. Rain membuka kotak itu dan rupanya kotak berwarna merah berisi kalung dengan liontin bulan sabit. Sementara kotak satunya juga berisi kalung dengan liontin matahari. Rain membaca surat yang terselip di kedua kotak itu.

"Kalung ini mama berikan untuk kamu, Rain. Semoga suka ya."

Kotak warna hitam pun berisi tulisan yang sama. Bedanya itu untuk Rean. Jadi liontin berbentuk bulan sabit itu untuk dirinya dan matahari untuk Rean.

Bulan memberikan cahayanya dimalam hari sementara matahari memberikan sinarnya di siang hari. Mereka saling melengkapi. Simbol itu Kimberley berikan agar mereka saling memberi kekuatan dan melengkapi satu sama lain.

Rain mengambil dua kalung itu dan juga suratnya. Dia memasukkan ke dalam kantong hoodie yang dia kenakan. Rain kembali melihat isi laci tersebut. Rupanya ada kotak lagi namun kotak itu terkunci dengan kode. Tidak ada lagi apapun di sana. Rain segera mengambil kotak itu dan menyimpannya. Perlahan dia membuka ruang kerja Damian. Tidak ada siapa-siapa karena memang hari libur ini mereka habiskan di ruang keluarga. Rain tidak pergi ke sana. Toh mereka tidak membutuhkan dirinya.

Rain segera menghapus rekaman cctv di ruang kerja tadi. Lalu dia mencoba membuka kotak itu dengan memasukkan tanggal ulang tahun dirinya. Rupanya itu salah. Lalu tanggal pernikahan sang mama dengan Damian dan tetap saja salah. Rain tahu tanggal-tanggal itu dari informasi yang dia dapatkan.

Saat sedang serius mencoba membuka kode, ponselnya berdering. Membuat Rain terlonjak kaget.

"Anjir, kaget gue! Siapa sih yang ganggu orang aja pagi-pagi gini!"

Padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.

Tertera nama Aldi. Rain segera mengangkat panggilan itu.

"Halo, Rain. Gue udah dapet informasi. Bisa kita bertemu?"

Rain terkejut, Aldi memang bisa di andalkan. Obrolan mereka tidak lagi kaku, karena Rain meminta agar gaya bicaranya seperti teman saja. Supaya lebih enak dan santai saat berbicara.

"Kapan? Gue lagi di rumah bokap soalnya. Gimana kalau lusa aja?" tanya Rain.

"Boleh, gue yang cari tempat supaya aman."

"Oke, gue tutup dulu teleponnya."

Rain memutus panggilan tersebut dan kembali mengotak-atik kodenya.

"Gue harus minta bantuan Rean nih. Mau nggak mau gue kasih tahu semuanya aja."

Rain menyembunyikan semua yang dia temukan di lemari miliknya. Dia terkejut saat melihat isi lemari yang mencurigakan. Rain mencoba menggeser semua pakaian itu dan mengambil kotak juga kalung yang dia dapatkan tadi. Ada sebuah tombol di sana. Ini sangat kecil jika tidak teliti maka tidak akan ada yang tahu. Rain menekan tombol itu. Rupanya itu adalah sebuah ruangan. Lemari itu telah di desain untuk menjadi pintu ruang rahasia.

Rain segera masuk ke dalam lemari tersebut. Di sana ada sebuah lorong. Rain masuk dan rupanya ruangan itu adalah ruangan baca yang memiliki cahaya dari sebuah fentilasi. Di sana ada meja baca dan ada rak buku yang sudah penuh dengan berbagai macam novel.

Entah mengapa Rain jadi penasaran dengan laci meja itu. Di sana ada sebuah buku diary. Rain membuka perlahan. Ada tetesan darah di setiap lembarnya.

"Rain, Lo gila apa gimana sih! Setiap Lo nulis selalu Lo kasih tetesan darah!" gumam Rain.

Meski di ruangan itu hanya ada fentilasi udara tapi tidak membuatnya pengap. Ruangan itu dingin dan nyaman meski kecil. Ini hanya bisa untuk dua orang saja.

Katakan sekali lagi jika aku bukan putri kandungnya. Bagaimana bisa dia lebih menyayangi anak orang lain daripada aku. Mama sudah sangat tersakiti. Apa aku salah jika mengungkap kebusukan itu? Hanya lewat diary ini aku bisa menceritakan semuanya. Aku akan selalu bertahan meski luka semakin banyak.

Satu tetes darah ini sebagai bukti bagaimana sakitnya aku. Setiap lembar aku akan memberikan setetes darah, supaya ketika aku pergi nanti, entah siapapun yang akan menemukan benda ini, dia akan tahu bahwa aku sudah banyak lukanya.

Lembar pertama yang Rain baca benar-benar menyayat hati. Setiap kali Rain asli menulis diary itu, maka dia akan melukai tangannya untuk memberikan tetesan darah. Terkadang darah itu dia dapatkan dari sudut bibirnya akibat tamparan yang dia dapatkan dari Shely. Rain asli menyimpan banyak luka semasa hidupnya. Itu sebab dia menyerahkan hidupnya pada Lea yang dia yakini bisa memberikan keadilan untuknya.

Papa menamparku lagi, entah sudah keberapa kakinya. Ini karena nilaiku jelek. Aku sengaja menjadi bodoh agar Livia menang. Sejak kehadirannya, hidupku semakin tersiksa. Aku dijadikan pelayan di rumahku sendiri. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, justru memberikan banyak luka dan trauma yang mendalam. Setiap kali berangkat sekolah aku merasa lega karena terbebas dari teriakan mereka. Aku bertemu Kenan yang selalu bermesraan dengan Ella. Meski begitu aku tetap semangat mendekatinya, mengambil perhatian lelaki yang akan menjadi suamiku itu.

Lagi dan lagi ... Makan malam tidak aku dapatkan. Rean memberikanku makanan secara diam-diam. Meski sikapnya dingin, tapi dia tetap perhatian. Darah ini adalah sayatan dari tanganku yang entah keberapa kakinya.

Rain membaca lembar demi lembar buku itu. Rupanya diari ini ditulis ketika Rain tinggal di rumah ini. Pantas saja penuh tulisan hingga lembar terakhir. Berbeda dengan diary yang dia temukan di apartemen. Diary itu masih terlihat baru dan hanya beberapa lembar saja yang Rain asli gunakan.

Saking asyik membaca diary itu, jam makan siang tiba. Ponsel Rain bergetar.

"Rean?" gumam Rain.

"Buka pintunya. Gue capek ketok-ketok kamar Lo!"

Panggilan di putus Rean sepihak. Rain segera keluar dari ruangan itu. Dia menutup kembali dengan pakaian-pakaian yang menggantung di sana. Rain juga meletakkan penemuannya tadi di tempat rahasia itu.

"Lo ngapain aja sih!" protes Rean.

Rain hanya nyengir tanpa dosa. Wajah Rean juga sudah di tekuk. Rain membiarkan lelaki itu masuk dan Rain menutup kembali pintunya. Juga menguncinya.

Rean merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia menepuk sebelahnya yang kosong. Meminta Rain untuk di sana. Gadis itu menurut dan sudah paham apa yang Rean inginkan. Rain memunggunginya dan lelaki itu memeluknya dari belakang. Rain membiarkan Rean hingga suasana hatinya lega.

Tidak ada yang ingin membuka suara. Keduanya larut ke dalam pikiran masing-masing. Mereka sudah melewatkan jam makan siang.

Di ruang makan itu ada Shely, Damian, Dion, Ando dan Livia yang duduk di samping Dion. Gadis itu meminta Dion untuk menyuapinya. Livia memang kelewat manja. Apapun yang dia inginkan harus dituruti. Sementara Ando menatap datar kelakuan adik tirinya itu.

"Dimana Rean dan Rain?" tanya Damian. Sejak tadi hanya ada suara sendok dan piring yang saling beradu.

"Biarin aja sih mereka kelaparan. Ngapain juga papa nyariin mereka? Kalau perlu mati aja mereka!" jawab Shely kesal. Dia paling tidak suka jika suaminya menanyakan anak kembarnya itu.

Ando hanya menghela napas saja. Sebenarnya dia juga tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa keluarga ini sangat membenci Rean dan Rain. Damian memang tidak terlalu membenci Rean, mereka hanya selalu melampiaskan amarah pada Rain. Ando pun menjadi terbawa meluapkan emosi pada Rain. Dia akan selalu mengancam Rean jika anak itu membela Rain. Padahal dulu saat Kimberley masih ada hidup mereka sungguh harmonis. Entah apa yang terjadi, semua itu berawal di saat Rain dan Rean di ajak berbelanja oleh Kimberley.

***

"Ada apa?" tanya Rain. Dia yang akhirnya membuka suara.

Rain merasa heran karena baru pertama kalinya melihat Rean sefrustasi ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Rain terus bertanya-tanya sejak tadi, meski lelaki itu enggan buka suara. Helaan napas sesekali terdengar dari bibir Rean. Menyapu tengkuk Rain dan membuat tubuh gadis itu merinding.

Rean belum mau melepaskan pelukannya, sampai hati Rean benar-benar tenang dulu. Hanya dengan Rain dia bisa menumpahkan segala rasa tidak nyaman di hati.

"Rain, Lo percaya nggak kalau kita anak sial? Kalau kita juga bukan anak kandung papa?"

Pertanyaan itu berhasil membuat tubuh Rain menegang. Mengapa Rean berbicara seperti itu?

"M-maksud Lo?" Suara Rain seakan tercekat di tenggorokan.

Tentu saja jika ini benar, lantas siapa papa kandung mereka? Selama pencarian bukti Rain belum menemukan tentang perselingkuhan mamanya juga kabar tentang kehamilan Kimberley.

"Seandainya kalau kita bukan anak kandung papa, apa yang bakal Lo lakuin?" Suara Rain terdengar berat dan sedikit serak.

Apa itu artinya dia hendak menangis? Rain ingin mengubah posisinya menjadi menatap Rean, tapi lelaki itu mencegahnya untuk tetap di posisi itu. Membelakangi Rean dan dia memeluknya dari belakang agar Rain tidak melihat kedua matanya yang merah dan berkaca-kaca. Rean mati-matian menahan tangisnya.

"Lo ... Tahu darimana kalau kita bukan anak kandung?" Rain sangat penasaran.

"Gue kan bilang kalau seandainya!"

Rain menghela napas, dia tidak percaya jika itu hanya 'seandainya' saja. Kalau hanya berandai tidak mungkin Rean sefrustasi ini kan?

"Jangan bohongin gue!" tegas Rain.

Tubuh Rean bergetar, napasnya tersengal. Rain mengubah gestur tubuhnya dan mendapati Rean sedang menangis tanpa suara. Ini ... Terdengar menyakitkan.

Rain segera memeluk lelaki itu dengan erat. Menyalurkan kekuatan agar Rean lebih tenang. Membelai rambutnya dan membiarkan dia menangis di dadanya. Hati Rain ikut sakit tapi dia menahan untuk tidak menangis. Salah satu harus bisa terlihat kuat, bukan?

"Jangan lihatin gue!" ucap Rean setelah lebih tenang dari sebelumnya.

Kini mereka duduk saling berhadapan di atas ranjang. Tentu saja Rain bisa melihat wajah Rean setelah menangis. Itu ... Sangat lucu dan terlihat lebih tampan.

"Tampan!" tanpa sadar Rain memuji kakak kembarnya.

"Apa?"

"Lo kalau habis nangis keliatan tampan!"

Rean mengerucutkan bibirnya. Bisa-bisanya Rain memuji seperti itu di saat Rean menahan malu karena menangis. Ini untuk pertama kalinya Rean menangis di hadapan adiknya.

"Jangan lihatin gue gitu!" gerutu Rean sambil memalingkan wajahnya.

Rain justru tertawa. Piyama tidur yang dia kenakan juga basah karena Rean terus menangis.

"Iya deh iya. Cerita sama gue ada apa?" Rain bersandar di bahu ranjang. Membiarkan Rean yang terus membuang muka seperti itu.

"Lo kalau nutupin wajah Lo juga percuma! Gue udah liat!"

Rean mengambil bantal dan memukul wajah adiknya.

"Abang!" pekik Rain.

Rean terkekeh. Setidaknya Rain berhasil membuat Rean tersenyum dan tidak malu lagi memperlihatkan wajahnya sembab. Rean menyandarkan dagunya di pundak Rain. Kedua tangan itu memeluk pinggang Rain.

"Mereka bilang gitu, gue nggak sengaja denger!"

Rain mengerutkan keningnya. "Mereka siapa?" tanya Rain.

"Tante Shely dan papa!" jawab Rean.

Sudah Rain duga pasti ada yang tidak beres. Mana mungkin mereka bukan anak kandung Damian. Sementara Kimberley dulu mati-matian memperjuangkan cintanya demi menikah dengan Damian. Juga meyakinkan kedua orangtuanya bahwa Damian tidak seburuk yang mereka kira. Damian bukan lelaki temperamen. Hingga pada akhirnya Kimberley melakukan sebuah kesalahan dan itu membuat kedua orangtuanya mamanya pun menyetujui pernikahan mereka.

Bagaimana mungkin jika Kimberley selingkuh! Ini pasti ada yang tidak beres.

"Lo tenang aja, nggak usah perduli ucapan mereka. Kalau Lo pengen tahu yang sebenarnya. Lo ambil rambut papa terus kita lakukan tes DNA!" ucap Rain percaya diri.

Rean melepas pelukannya dan menatap Rain tidak percaya. Kenapa Rain lebih pintar darinya? batin Rean berkata.

Kenapa tidak sejak tadi dia berpikir seperti itu, bukan malah menangis. Ya, semua ucapan papa dan ibu tirinya itu memang menyakitkan.

"Mereka bakal menyingkirkan kita, Rain. Bahkan warisan papa jatuh ke tangan Dion dan Livia. Mereka anak kandung papa!"

Rain berdecih, "Cih, omong kosong apa itu? Lagipula kita nggak perlu dapetin warisan itu. Kita sudah lebih kaya dari papa!" Rain menepuk-nepuk kepala Rean.

"Lo bener juga!"

"Hanya karena itu Lo nangis?" sindir Rain.

"Lo ngeledek gue?" Rean menggelitik pinggang Rain. Gadis itu tertawa geli.

"Hahaha iya ampun, bang! Gue nggak ledek Lo lagi!"

"Rasain!"

Mereka terus tertawa dan akhirnya mereka merebahkan diri karena lelah tertawa. Terutama Rain yang sangat lelah karena Rean terus menggelitiknya tanya ampun.

Cup

Satu kecupan mendarat dipipi Rain.

"Makasih ya udah hibur gue!"

"Pipi satunya belum!"

"Ngelunjak!"

Rean pun mengecupi seluruh wajah Rain. Hingga gadis itu berusaha mendorong dada bidang Rean.

"Abang ih!"

Rean tertawa puas. Melihat adiknya yang kepayahan itu.

"Bibir Lo belum gue cium, Rain!" celetuknya.

Membuat wajah Rain memerah. Dia meraih bantal dan memukul wajah lelaki itu.

Bersambung....

Terpopuler

Comments

gun ting tang

gun ting tang

kok bisa yah sudah dewasa masih cium bibir kl pipi sih masih bisa di terima

2024-08-01

0

R yuyun Saribanon

R yuyun Saribanon

kelakuan cerita ga etis dlm hub kaka ade..cerminan isi otak lu ya thor..elu bikin cerita salah kamar bege

2024-07-29

0

Kaum Senyap

Kaum Senyap

keromntisan bersodra nya kurng sreg d baca nya ya kak gga segitu nya nya kali cerita seru minus di kemesraan nya aja kurang etis jadi nya

2024-07-09

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!