Bab 17
Ini kali pertamanya Rain bertemu dengan Damian. Semenjak keluar dari rumah sakit, Rain sama sekali belum bertemu. Tatapan Rain terhadap Damian begitu dingin dan bukan tatapan mengiba seperti dulu. Tidak ada lagi kesedihan dikedua matanya.
Rean? Dia baru saja turun bersama dengan Livia. Wajah mereka terlihat lebih segar bahkan rambut mereka masih basah. Livia memeluk lengan Rean.
"Anak lelakimu seperti pengantin baru saja ya," ucap Arya sambil melirik ke arah Rean.
"Livia memang sangat manja kepada Rean. Juga Rean sangat menyayangi Livia. Jadi kalau sudah ketemu lengket banget," ujar Shely sambil melirik ke arah Rain.
Shely sudah berniat mempermalukan Rain malam ini.
"Kenapa tidak nikahkan mereka saja? Tante tidak takut jika Rean melakukan hubungan badan kepada Livia?" Ucapan itu terlontar dari mulut Rain.
Ini ... Sungguh mengejutkan. Semua orang yang ada di meja makan itu menatap Rain dengan pemikiran masing-masing.
"Ada yang salah dengan ucapanku?"
Rean juga mendengar itu. Bahkan Rain juga tidak menatapnya sejak tadi.
"Ah, maaf. Rain memang suka berbicara asal. Lebih baik kita makan saja." Damian mencairkan suasana.
Tentu saja orang beranggapan jika Rean dan Livia melakukan sebuah hubungan. Orang lain hanya tahu jika mereka sepasang kakak adik tiri yang tentu saja bisa saling menyukai. Sementara Damian tahu jika Livia adalah anak kandungnya. Tentu saja itu belum dia umumkan dahulu.
Mereka berdua keluar dengan rambut yang basah seperti pengantin baru. Lalu Livia yang bergelayut manja dilengan Rean. Hubungan kakak dan adik tidak akan seperti itu. Ini terlalu berlebihan.
Acara makan malam pun berjalan dengan hening. Tidak ada obrolan karena memang dalam keluarga Damian maupun Kenan tidak diperbolehkan bicara disaat makan. Setelah selesai barulah mereka berbincang-bincang sambil menikmati menu penutup.
"Jadi ... Bagaimana dengan rencana pernikahan Kenan dan Rain?" tanya Damian.
Pernikahan? Rain sama sekali tidak menginginkan ini. Hanya saja dia belum mau bicara sekarang. Dia akan berbicara pada Damian nanti ketika mereka hanya berdua. Rain menikmati buah apelnya dengan santai. Dia tidak perduli dan pura-pura tidak mendengar apapun.
Ando menatap adiknya itu. Banyak sekali perubahan setelah beberapa bulan tidak bertemu. Rain bisanya akan makan di dapur bersama para pelayan. Berhubung ada keluarga Kenan maka dia di perbolehkan makan bersama di meja yang sama.
Biasanya Rain akan sangat antusias jika membahas Kenan. Gadis itu akan selalu duduk di samping Kenan jika sedang makan bersama. Juga Rain akan selalu bercerita apa saja meski tidak ditanggapi oleh siapapun. Kecuali Tante Gina yang akan senang hati menanggapi semua ucapan Rain. Dia sangat menyayangi Rain.
"Mereka akan kuliah di negara yang sama. Jadi setelah lulu sekolah langsung saja pernikahan itu. Agar Rain ada yang menjaga. Toh kalau Rain hamil kan tidak akan dikeluarkan dari universitas?" usul Arya.
"Ide bagus. Jika begitu semua sudah pasti ya. Hanya menunggu kapan mereka lulus saja dan tetapkan tanggalnya." Damian menimpali.
"Kamu setuju kan, Rain?" Shely berpura-pura baik. Dia pernah ketus terhadap Rain di depan keluarga Arya tapi Damian segera menegurnya.
Rain hanya diam sambil menikmati puding miliknya.
"Sepertinya Rain sangat lapar," ujar Gina sambil terkekeh.
Damian, Arya dan Shely juga ikut tertawa. Tentu saja hanya pura-pura. Eh si Arya tidak pura-pura, dia memang tertawa mendengar ucapan istrinya itu.
"Aku sudah selesai. Aku permisi dulu." Rain bangkit dari kursinya.
Membuat orang yang ada di sana menatap ke arahnya dengan berbagai pertanyaan.
"Rain ... Kenapa dia berubah sejak dinyatakan amnesia?" gumam Gina.
"Jangan bersedih. Nanti Rain akan kembali seperti Rain yang dulu." Arya mengusap punggung istrinya. Agar dia tidak sedih.
Ando tentu saja heran dengan sikap Rain. Gadis itu jauh berbeda. Ando juga bangkit dari duduknya. Dia segera ke lantai dua dan menemui Rain.
"Rain!" panggil Ando yang kebetulan melihat Rain hendak membuka pintu kamarnya.
Rain hanya menoleh saja tanpa mengatakan apapun.
"Lo jadi anak nggak sopan banget ya! Di tanya diem aja terus pergi gitu aja!" Ando sangat geram dengan sikap adiknya itu.
Rain tidak perduli dan memilih masuk ke kamarnya.
"Anak sialan. Mati aja Lo daripada di sini, hah!" teriak Ando.
Rain menghela napas panjang, dia membuka kembali pintu kamarnya. Dengan terpaksa meladeni kakak pertamanya itu.
"Lo kenapa? Tiba-tiba nyalahin gue? Sementara Lo sendiri pergi dari acara itu buat maki-maki gue!"
Ando terdiam sesaat. Gaya bicara Rain juga berbeda. Dia juga berani padanya.
"Lo mau nyoba lawan gue, hah! Gue cuma ngasih tahu sama Lo. Papa pasti malu setelah ini karena sikap Lo!"
Rain mengangkat kedua bahunya dan memilih mengabaikan Ando. Energinya akan terkuras habis jika meladeni kakaknya itu.
Baru saja Rain hendak merebahkan tubuhnya di ranjang, pintu kembali terbuka. Kali ini bukan Ando apalagi Rean. Itu Dion.
"Hai, cantik!" Dion kembali menutup pintu Rain dan menguncinya. Kunci itu dia simpan ke dalam saku celananya.
"Ngapain Lo!"
"Galak banget, tenang aja, cantik. Gue mau main-main sama Lo!" Dion mencolek dagu Rain.
Gadis itu segera menjauhkan tangan Dion dari wajahnya.
"Pergi dari kamar gue!" teriak Rain sambil menunjuk ke arah pintu.
"Tenang, sayang. Kita akan menikmati malam ini berdua. Nggak usah jual mahal!"
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Dion.
"Wow, gue suka Lo yang galak seperti ini!" Dion menarik dagu Rain.
Saat Dion hendak menciumnya, Rain segera mendorong lelaki itu. Dion yang tidak terima segera mendorong tubuh Rain hingga jatuh ke ranjang. Bukan Rain namanya jika tidak bisa melawan. Gadis itu menendang tepat dimasa depan Dion. Lelaki itu merintih kesakitan. Rain juga memberikan bogeman di perut dan wajah Dion. Lelaki itu sudah tidak berdaya. Pukulan Rain benar-benar menyakitkan.
"Lo bakal dapetin balesannya, Rain! Sebentar lagi gue bakal dapetin video telanjang Lo dan Lo bakal ngemis ke gue!" ancam Dion yang kemudian pergi dari kamar Rain.
Rain menyeringai, "Mimpi Lo!"
Rain menendang kembali tubuh Dion saat lelaki itu melangkah keluar. Alhasil tubuhnya jatuh terjerembab karena belum siap menerima serangan.
"Kak, tidur sama aku ya. Kita kayak tadi lagi. Aku kangen banget," ucap Livia manja.
Rain mendengar itu samar saat dia hendak menutup pintunya.
"Lo apa-apaan sih! Nggak usah begini juga! Gue risih!" kata Rean.
Rain tersenyum miring. Rupanya Rean malas meladeni sikap Livia yang manja. Mungkin Rain salah paham saja soal pemandangan tadi. Entah mengapa dia menjadi sangat kesal saat Rean memeluk Livia.
"Kak Rean!" Livia masih saja merengek.
"Gue mau ketemu Rain. Lo mending jauh-jauh dari gue. Sana!" Rean mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir sesuatu.
Rain berlari menuju tempat tidur dan membaca pesan balasan dari Radit. Hatinya menghangat saat membaca pesan tersebut.
"Kak, buka dulu pintunya!" Livia menggedor-gedor pintu kamar Rain.
Rupanya Rean sudah berada di dalam kamar Rain dan mengunci pintu tersebut.
"Rain, Lo marah ya sama gue?" Rean tidak perlu lagi basa-basi. Sejak tadi dicuekin oleh Rain membuatnya uring-uringan.
Apalagi Livia terus saja mengekorinya dan bergelayut manja di lengannya. Dia juga genit sekali terhadap Kenan. Entah sikap seperti itu keturunan dari siapa. Setiap kali ada lelaki tampan selalu Livia dekati.
"Hmmm," jawab Rain dengan gumaman. Gadis itu meraih headsetnya dan mendengarkan musik. "Gue ngantuk!" ucapnya berbohong.
Rean segera merebahkan diri di sebelah Rain. Memeluk gadis itu erat. Menghirup dalam-dalam aroma vanila yang sangat Rean sukai.
"Gue nggak ada hubungan apapun sama Livia. Gue nggak sayang sama dia. Adik gue cuma elo, Rain. Sejak tadi gue udah coba buat jauhin dia tapi dia tuh kayak setan tahu nggak!" keluh Rean sambil bergidik ngeri mengingat kejadian tadi.
Rain menahan tawanya. "Oh, ya?" Hanya itu sahutan dari Rain. Dalam hatinya dia tertawa mendengarkan ucapan Rean.
"Gue udah bilang sama bokap kalau Lo batalin perjodohan itu karena Kenan pernah mau nampar Lo."
Ucapan itu berhasil menarik atensi Rain. Gadis itu melepas headset dan mematikan musik yang dia dengar. Dia membalikkan tubuhnya untuk menatap ke arah Rean. Lelaki itu tersenyum.
"Hai!" sapanya.
"Abang!" Rain mencubit tangan Rean cukup keras. Membuat lelaki itu merintih kesakitan. "Lo bohongin gue, hah?" protesnya.
"Sakit, Rain!" Rain belum puas mencubit tangan Rean. Dia kemudian menjitak kepalanya beberapa kali.
"Iya, ampun. Gue nggak bohong. Ini serius." Membuat Rain menghentikan penyerangannya.
"Katakan!" Rain melepas pelukan Rean. Namun, lelaki itu semakin erat memeluknya. "Lepasin, gue lagi males sama Lo!" Rain kembali memberi cubitan kecil di dada Rean.
"Cium dulu baru gue jelasin!" Rean memegang pipinya.
"Males! Minta cium Livia sana!" ketusnya.
"Cemburu nih ceritanya?" Rean sengaja menggoda adiknya itu. Jika sedang kesal Rain sangat menggemaskan.
"Ngapain? Sorry ya!" Rain hendak berbalik badan tapi di cegah oleh Rean.
"Kata Tante Gina ... Lo tetep harus nikah sama Kenan. Tante Gina akan memberi hukuman pada Kenan," ucapnya kemudian.
Rain menatap manik mata Rean. Tidak ada kebohongan di sana. Rain meniup wajah Rean sebagai pelampiasan kekesalan. Sudah tahu Kenan ringan tangan tapi tetap saja perjodohan itu harus berjalan.
"Papa juga bilang jika pernikahan kalian harus tetap terjadi. Pasti Kenan ada alasan kenapa seperti itu." Rean menjeda ucapannya. Dia membelai lembut rambut Rain dan menyelipkannya ditelinga Rain.
"Gue juga bilang kalau pernikahan itu hanya sekali seumur hidup. Jangan pernah memaksa Rain lagi." Rain masih mendengarkan dengan seksama. "Tante Gina juga bilang kalau semua tergantung Rain sekarang. Jika Kenan pernah mau menampar dan itu membuat Rain membenci Kenan, Tante Gina nggak akan memaksa."
Rean sedikit mengendurkan pelukannya. "Rain, Lo punya kesempatan buat ambil bukti kalau Kenan punya kekasih. Gue nggak bisa lakuin itu karena Kenan sahabat gue. Itu juga gue tadi bicara saat Kenan pergi!"
"Kemana?"
"Ke kamar mandi. Livia yang mengantarkannya. Lama banget mereka di sana."
"Lo nggak usah khawatir, gue bakal selalu bantuin Lo." Rean mengecup kening Rain.
"Terus kenapa Lo tadi tidur pelukan sama Livia. Habis itu Lo ngapain bisa mandi basah bareng?" cecar Rain.
Rean mengulum senyum, "Cemburu ya?" Rean mencubit hidung Rain. " Gue nggak ada apapun sama Livia. Gue juga nggak tahu kenapa dia tidur sama gue. Ya gue pikir itu elo!"
"Pas gue kelar mandi dia udah nongol depan pintu. Posisi habis mandi dengan rambut basah pula."
Rean tidak habis pikir dengan kelakuan Livia yang sangat ajaib. Dia juga suka terkejut karena Livia yang bisa datang kapan saja.
"Sekarang Lo tidur ya. Gue temenin."
Rain mengangguk. Dia kemudian memeluk Rean. Menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Rean. Lelaki itu tersenyum penuh lega. Akhirnya Rain tidak lagi marah padanya. Dia akan selalu berusaha membahagiakan Rain.
***
Di ruang kerja, Damian tengah sibuk dengan tumpukan pekerjaan yang sengaja dia bawa pulang. Kalau saja tidak ada acara makan malam dia sudah menginap di kantor. Akhir-akhir ini perusahaannya sedang sibuk-sibuknya. Meski sempat mengalami penurunan kini Damian bisa bernapas lega karena perusahaan kembali merasakan kejayaannya berkat usaha keras Damian.
Shely datang dengan secangkir kopi di nampan dan meletakkan pada meja kerja Damian. Wanita itu melingkarkan tangannya dileher Damian.
"Sayang, aku kangen!" bisiknya sensual.
Damian tidak peduli. Jemarinya terus menari di atas keyboard.
"Kamu kenapa sih sibuk terus. Kapan sama akunya!" Shely mulai kesal karena Damian tidak tergoda. Dulu lelaki itu akan menyerah jika Shely melakukan sentuhan kecil.
"Sayang, aku sibuk sekali. Ini demi kalian juga. Bisa tidak? Jangan ganggu aku sebentar saja?" protes Damian yang tidak bisa berkonsentrasi jika ada Shely.
"Nggak bisa! Kamu udah dua Minggu lho mengabaikan aku! Alasannya sibuk dan sibuk. Apa jangan-jangan kamu ada wanita lain?" tuduh Shely.
Damian menghela napas berat, dia melepas kacamatanya dan menatap Shely lagi. Dia juga merasa bersalah karena terlalu sibuk bekerja dan mengabaikan istrinya itu.
"Baiklah, apa yang perempuan seksi di hadapanku ini inginkan?" Damian membawa Shely ke dalam pangkuannya.
"Bagaimana jika malam ini kita bersenang-senang. Sudah lama lho." Shely mencium pipi Damian.
Damian pun mengabaikan pekerjaannya dan memilih menuruti apa yang Shely inginkan. Memang sudah lama dia tidak menikmati tubuh istrinya itu. Dia terlalu lelah bekerja dan banyak begadang karena pekerjaan yang menumpuk. Mereka saling memberi kepuasan di ruang kerja tersebut. Kebetulan di sana ada ranjang kecil yang hanya muat satu orang saja. Damian juga membawa Shely ke balkon untuk bermain sambil menikmati udara malam. Menambah hawa napsu diantara mereka.
*
"Sayang, apa tidak sebaiknya percepat saja pernikahan anak sialan itu dengan Kenan?" tanya Shely yang kini sedang bersandar di dada bidang suaminya itu. Mereka hanya terbalut selimut saja.
Damian memainkan rambut Shely. Sesekali memberikan sentuhan kecil. Dia tidak akan berhenti pada satu permainan saja.
"Ini sangat menguntungkan. Aku tidak perlu membiayai kuliahnya. Ide yang bagus!" Damian mengecup kepala Shely.
"Jadikan Rean bodyguard Livia. Anak itu selalu saja pulang malam."
"Apa kau gila? Mempekerjakan dia? Rean masih sekolah!"
"Setelah lulus jangan kuliahkan dia. Biarkan saja. Juga jangan berikan warisan padanya. Dion dan Livia itu anak kandung kamu yang sebenarnya!"
"Iya, apapun yang kamu mau akan aku turuti." Damian kembali membelai wajah Shely. Satu tangannya bermain di area yang menjadi favoritnya.
Damian kembali menikmati malam yang panas bersama lenguhan Shely yang memabukkan. Ini adalah hal yang paling Damian sukai. Shely terlihat sangat cantik dan menarik, itu sebabnya dia tidak mau berpaling dari Shely. Wanita itu pandai memanjakan Damian. Siapa coba yang akan menyia-nyiakan wanita seperti Shely ini?
Meski wanita itu sangat licik dan gila harta.
***
Radit uring-uringan tidak jelas karena tidak bisa bertemu dengan Rain selama dua hari. Gadis itu juga sulit dihubungi. Radit menghabiskan waktu liburnya di dalam kamar saja. Biasanya dia akan pergi keluar dan berkumpul dengan teman-temannya. Sejak Rain pamit padanya, hati Radit selalu dihantui rasa gelisah. Dia takut jika Rain gagal membujuk Damian untuk membatalkan pertunangannya dengan Kenan.
Radit takut kehilangan Rain. Susah payah dia mendapatkan Rain, jika harus melepaskannya begitu saja, Radit bisa menjadi gila. Dua hari tidak bertemu dengan Rain saja Radit sudah uring-uringan nggak jelas.
"Kak, mama nyuruh makan! Buruan deh!" Itu suara adiknya di ambang pintu.
Hanna namanya, dia memang jarang terlihat karena bersekolah di luar negeri. Dia masih kelas satu SMA dan memang sejak usia 8 tahun ikut dengan sang nenek. Dulu keluarga Radit tinggal di luar negeri, ketika sang Kakek sudah tidak lagi muda, posisinya digantikan oleh papa Radit pada akhirnya mereka kembali ke Indonesia. Tidak dengan Hanna. Dia enggan pindah karena sudah nyaman di sana. Anak itu memang sangat introvert.
Jadi kakek dan nenek Radit memilih tinggal di luar negeri bersama cucunya. Menikmati masa tua mereka.
Papa Radit yang bernama Hans Dirgantara itu tidak memiliki adik maupun kakak. Dia adalah anak tunggal. Jadi Radit dan Hanna adalah cucu kesayangan kakek Angga Dirgantara.
"Kakak! Ayo!" Hanna menarik tangan kakaknya itu yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
"Ck, iya. Bawel banget sih!" ketusnya.
"Mama .... Kakak nih marah terus!" teriak Hanna.
"Dasar pengadu! Anak cerewet!" Radit mencubit gemas pipi Hanna yang gembil itu.
"Kakak!" pekik Hanna. Namun, Radit sudah berlari keluar kamar.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Fania--mama Radit dan Hanna.
Fania sedang membantu pelayan menyiapkan makan siang.
"Itu, Ma! Kakak marah terus. Aku juga di cubit," adu Hanna.
Radit dan Hanna jika bertemu mereka selalu saja ribut tidak ada akurnya sama sekali. Radit yang usil selalu membuat Hanna kesal. Suasana rumah menjadi rame ketika Hanna pulang disaat libur sekolah.
"Dasar pengadu!"
"Tuh, kan? Kak Radit ngeselin!"
"Udah dong, Kak. Jangan gangguin adikmu terus!" omel Fania.
Fania memang seorang ibu yang sabar. Ibu yang bisa membuat kedua anaknya merasa nyaman ketika bercerita. Meski begitu Fania juga tegas. Radit dan Hanna sangat dekat dengan Fania. Mereka juga sering curhat kepada Fania jika memiliki masalah.
"Ma, boleh ya aku sekolah di sini. Aku juga sudah izin kakek sama nenek!" tanya Hanna disela-sela makan siang mereka.
"Memang kenapa di sana?" tanya Fania.
"Aku pengen deket sama mama. Aku juga mau nanti kak Radit antar jemput aku!"
"Enak aja, nggak bisa!" protes Radit.
Hanna dan Fania terkekeh melihat ekspresi wajah Radit. Tentu saja bukan itu tujuan Hanna. Dia hanya ingin dekat dengan kedua orangtuanya. Dia ingin tinggal bersama mereka.
"Kak Radit ... Udah punya pacar lho, Han!" celetuk Fania.
"Oh, ya?" Hanna merasa senang karena kakaknya ini akhirnya tidak jomblo lagi. "Pantes dari tadi marah terus. Kayaknya lagi berantem!" celetuk Hanna.
"Bener, Kak?" tanya Fania.
"Enggak, Ma. Dia lagi di tempat papanya. Nggak ada kabar dari tadi!" gerutu Radit.
"Pft." Hanna terkekeh, "Baru sehari nggak ada kabar udah kayak cacing kepanasan!" ledek Hanna.
"Udah diem aja deh anak kecil!"
Fania diam saja menikmati pemandangan yang sangat jarang terjadi ini. Dimana Hanna akan terus meledek sang kakak dan Radit yang jail pada adiknya. Fania hanya menggeleng kepala sambil menikmati makan siangnya. Membiarkan mereka berdebat hingga lelah. Herannya mereka masih bisa menikmati makan siang sampai habis.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Ahsin
terlalu bertele2.. bongkar semua jgn hny bacot
2024-07-13
0
Fitrian
pelacuuurrr receeehhh🤮🤮🤮🤮🤮🐽
2024-06-06
1
Fifid Dwi Ariyani
trusberkarya
2024-02-08
0