Bab 19

Bab 19

Siang ini seluruh keluarga Damian berkumpul di ruang keluarga. Para saudara baru sampai beberapa jam yang lalu. Mereka berbincang-bincang untuk melepas rindu.

"Dimana Livia?" tanya Tante Diana yang tak lain adalah adik bungsu Damian.

Damian memiliki dua kakak dan satu adik. Damian anak nomor tiga. Satu kakak perempuan dan satu kakak laki-laki. Jadi di Diana ini paling bontot. Semua keluarga Damian tergolong sukses dalam bidang masing-masing.

"Mungkin sedang di kamar," jawab Shely.

"Dion juga belum kelihatan!" sahut Danis, kakak tertua Damian.

Rain dan Rean juga baru saja turun. Di sambut hangat oleh Paman, Bibi, Om dan Tante mereka juga para keponakan. Berbeda dengan Damian yang memasang wajah datar. Sementara Shely memasang wajah tidak suka yang sangat kentara.

"Eh, si kembar baru keliatan. Darimana nih kalian?" tanya Tante Diana yang langsung memeluk Rean dan Rain secara bergantian.

Mereka pun menjadi pusat perhatian dan berebut untuk memeluk si kembar.

"Rain, ayo duduk sama Bibi Melly!" Dia adalah istri Danis.

"Ini Bibi Melly. Dulu suka gemes sama Lo waktu kecil!" bisik Rean. Tentu saja Bibi Melly dengar.

"Rean, apa yang terjadi?" tanya Melly curiga.

Pantas saja sejak tadi Rain hanya senyum tanpa menyapa mereka semua. Ada yang terjadi ternyata. Batin Melly.

"Rain kecelakaan, Bi. Dia ... Hilang ingatan," jelas Rean sambil melirik takut ke arah Damian dan juga Ando.

"Apa?!" Semua orang yang ada di sana pun terkejut mendengar kabar ini.

"Damian, kenapa kau tidak bilang jika Rain kecelakaan?" hardik Jesy, kakak kedua Damian.

"Itu permintaan Rean supaya tidak khawatir, Bi," sahut Rean supaya tidak menyalahkan Damian.

"Seharusnya kamu bilang. Kita ini, 'kan keluarga!" kesal Melly.

"Iya kenapa harus disembunyikan!" sahut Jesy.

"Tidak seharusnya hal serius seperti ini di sembunyikan!" tegas Diana.

"Sudah ya, aku kan nggak apa-apa sekarang. Maaf jika tidak mengenali kalian semua." Rain buka suara untuk mengurangi ketegangan ini. Dia juga menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.

"Ya sudah lupakan saja, ayo duduk sini kita makan oleh-oleh dari kami!" Diana menuntun Rain untuk duduk di sebelahnya.

Sementara Rean memilih duduk bersama keponakannya yang juga seusia dirinya. Dia bernama Heru.

"Rain, bisa mama minta tolong?" ucap Shely yang merasa risih jika anak itu ada di tengah-tengah keluarga Damian. Pasti Livia akan kalah.

"Tolong ambilkan lagi minuman buat mereka. Tuh sudah pada habis!" perintah Shely penuh penekanan.

"Kamu gimana sih, Shel! Rain baru aja ikut gabung, kamu kan bisa nyuruh pelayan buat ambil minum!" Diana menatap tidak suka kepada Shely.

Memang sejak awal bertemu Diana tidak menyukai wanita itu. Kalau bukan paksaan kedua kakaknya, Diana enggan untuk datang ke acara yang menurutnya tidak penting ini.

"Mama, papa!" pekik Livia yang baru saja datang bersama Dion.

"Paman Danis, Bibi Melly, Paman Jhon, Bibi Jesy, Om Dewa dan Tante Diana." Livia mengabsen para orangtua di sana sambil memeluk dan mencium pipi mereka.

Lalu, "Halo, Kak Rangga, Kak Heru, Kak Kenzo, Kak Jihan, Kak Delvino, Kak Al dan Ailla. Aku kangen banget!" Livia sangat antusias melihat para keponakannya. Lalu dia duduk di sebelah Jihan dimana ada Rain yang duduk di sana bersebelahan dengan tante Diana.

Livia secara tidak langsung menggeser tubuh Rain. Gadis itu langsung bangkit karena tidak ada lagi tempat duduk. Mereka ini duduk di atas karpet yang besar. Sedangkan para orangtua di sofa.

"Rain, sini!" Alterio menepuk sebelahnya yang kosong.

Rain segera menghampiri lelaki yang biasa dipanggil Al itu.

"Livia, darimana saja kamu, sayang?" tanya Shely.

"Dandan dulu, biar terlihat cantik!" jawab Livia sambil melirik ke arah Dion. Gadis itu sangat takut. Sebenarnya bukan itu alasan kenapa dia terlambat turun ke ruang keluarga.

Dion memasang wajah datar. Sesekali melirik Rain yang berbincang-bincang dengan Al. Ada perasaan tidak suka, tanpa ada yang tahu kedua tangan Dion mengepal. Sementara Rean? Dia asyik menggoda Ailla. Gadis dengan pipi chubby yang sangat menggemaskan.

"Aku tidak suka dia ada di sini! Lihat itu semua keluargamu berpusat pada anak sialan itu!" bisik Shely pada Damian.

"Livia yang seharusnya menjadi pusat perhatian! Bukan anak haram itu! Sampai kapan kau akan menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya, Mas!"

Damian menghela napas panjang. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Sejak tadi Damian juga mencari alasan supaya Rain tidak bersama mereka. Livia yang seharusnya menjadi pusat perhatian karena yang sebentar lagi ulangtahun adalah gadis manis itu. Bukan Rain.

"Sudahlah! Biarkan saja dulu, aku pening!" ujar Damian tegas. Shely pun hanya bisa pasrah.

Setelah berkumpul semua mereka menuju ruang teater untuk menonton film.

"Lo beneran lupa ingatan ya?" tanya Al yang duduk bersebelahan dengan Rain.

Sejak tadi memang mereka mengobrol tapi Rain sama sekali belum tahu siapa nama lelaki tampan itu.

"Kalau gue nggak amnesia buat apa gue nanya nama Lo!" sungut Rain.

Al terkekeh, dia lebih suka berbicara pada Rain ketimbang menonton film yang membosankan itu. Awalnya Al terkejut dengan gaya bicara Rain yang berbeda. Bahkan gadis itu juga lebih asyik, jauh berbeda dengan Rain yang dulu.

"Iya sih, gue kan penasaran aja! Terus Lo sama Rean udah baikan?" Al juga tahu bagaimana kehidupan mereka dulunya.

"Seperti yang Lo lihat!" Rain meraih tangan Rean yang kebetulan duduk di sebelahnya. "Gue baik-baik aja sama dia." Rain menunjukkan tangannya yang menggenggam tangan Rean.

"Kenapa, Rain?" tanya Rean.

"Nggak apa-apa!" Rain meringis.

"Gue bosen di sini!" bisik Rain pada Al.

"Sama! Sayangnya kita nggak boleh keluar sebelum film ini selesai!"

Rain menghela napas panjang. Sungguh peraturan keluarga yang menyebalkan.

*

Selesai film semua keluarga besar Damian pun keluar dari ruangan teater. Rain belakangan karena memang dia duduk di bangku paling belakang. Saat hendak melangkah keluar tangan Rain ditarik oleh Dion.

"Lo apa-apaan sih!" Rain menghentakkan tangan Dion.

Dion menutup pintu ruangan tersebut dan menguncinya.

"Sekarang nggak ada siapapun lagi di sini. Kita main sebentar." Dion menyeringai. Dia menarik lengan Rain dan mendorongnya hingga tubuh Rain menabrak tembok.

Dion mengunci kedua tangan Rain dengan satu tangannya. Lelaki itu membelai lembut wajah Rain.

"Gue udah nggak sabar buat nyobain tubuh Lo ini. Lo selalu aja ganggu pikiran gue. Dulu Lo bisa kabur dari gue, sekarang Lo nggak bakal bisa!" Dion hendak mencium bibir Rain.

Gadis itu segera memberikan tendangan tepat di area yang sangat berbahaya. Membuat lelaki itu merintih kesakitan dan secara tidak langsung melepas cengkraman tangannya.

"Macem-macem sama gue!" Rain segera membuka pintu dan meninggalkan Dion yang kesakitan itu.

"Kurang ajar! Dasar gadis sialan! Gue nggak bakal lepasin Lo!" umpat Dion sambil susah payah untuk berjalan.

Area yang sangat sensitif itu benar-benar terasa linu. Dion susah payah meraih kenop pintu untuk keluar.

"Kak Dion, kamu kenapa?" tanya Livia khawatir.

"Ini gara-gara cewek sialan itu!" Sekarang bantuin gue ke kamar dan layani gue!" perintah Dion.

Dengan rasa takut Livia memapah Dion untuk pergi ke ruangan yang ada di dekat ruangan teater itu. Ruangan itu memang milik Dion. Biasanya di gunakan untuk tempat bekerjanya sebagai fotografer. Ada sebuah tempat tidur juga di sana.

"Kunci pintunya!" bentak Dion.

Livia pun menurut saja daripada Dion melakukan kekerasan lagi. Sebenarnya tubuh gadis itu masih terasa lelah dan juga sakit akibat Dion yang memaksanya untuk melakukan hubungan badan.

Livia dan Dion memang melakukan hubungan yang menyimpang. Itu berawal saat Dion memergoki Livia sedang memakai bathrobe selepas mandi dengan rambut yang basah. Lalu, memergoki gadis tersebut menonton adegan dewasa. Sejak saat itu Dion mempunyai ide licik. Memberikan minuman yang sudah dia campur dengan obat perangsang. Tidak mendapatkan Rain, Livia pun jadi. Tubuh gadis itu memang lebih berisi dan memiliki ukuran dada yang besar.

Dua kali mereka melakukan hubungan badan. Saat tadi mereka terlambat itu karena Dion meminta jatahnya.

"Kak, aku mohon jangan kasar. Tubuhku sakit semua!" keluh Livia.

Dion memang tidak pernah bisa lembut, dia selalu bermain dengan kasar.

"Gue bakal lembut sama Lo kalau Lo nurut sama gue! Gue nggak suka dibantah!"

Livia mengangguk. Lalu menuruti semua perintah Dion tanpa bantahan sedikit pun.

"Yaaa ... Begitu, sayang. Lo emang hebat!" puji Dion pada Livia yang memainkan miliknya dengan mulut gadis itu.

"Anak pintar!" Livia pun tersenyum puas.

Dia memang paling suka di puji.

Keduanya pun larut dalam kubangan dosa. Tidak ada orang lain yang tahu tentang hubungan terlarang ini.

"Makasih, sayang!" Dion mencium kening Livia. Lalu memeluk gadis itu yang sedang terlelap.

Meski sudah melakukannya tapi Dion tetap saja ingin menambah lagi. Tubuh adiknya memang sangat menggoda. Dia tidak akan pernah membiarkan adiknya itu di sentuh oleh orang lain. Tentu saja Dion melakukan ini karena sudah tahu jika Livia bukanlah adik kandungnya. Meski tetap saja mereka lahir dari rahim yang sama.

Dion terus menikmati setiap inci tubuh Livia dengan penuh damba. Dia tidak membiarkan sedikitpun tubuh Livia untuk tidak dia nikmati. Membuat gadis itu membuka mata meski tubuhnya terasa lelah.

Lagi dan lagi, meski Livia menolak tapi akal sehatnya akan hilang jika Dion memperlakukannya dengan lembut. Livia juga mengkonsumsi pil kontrasepsi agar tidak hamil karena Dion tidak pernah mau memakai pengaman. Livia pun kembali menikmati surga duniawi. Dia menyerahkan mahkotanya kepada kakaknya sendiri di usianya yang masih empat belas tahun.

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Rusmini Rusmini

Rusmini Rusmini

mengerikan /Puke//Puke/

2024-08-03

1

Ahsin

Ahsin

najis

2024-07-13

0

HNF G

HNF G

whaaaat???? bukannya dion n Livia kakak adek? makin bingung deh bacanya 🙄🤔

2024-06-09

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!