Bab 10

"Jadi gimana hubungan kita?" tanya Radit. Saat ini Radit sedang duduk dan menyandarkan tubuhnya di bahu ranjang.

Rain menatap layar ponsel yang menampilkan wajah lelaki tampan itu.

"Pacaran, kenapa?"

"Calon istri, tapi Lo harus putusin Kenan!" tegas Radit.

Wajah Rain memerah saat Radit mengatakan 'calon istri' dia segera menjauhkan ponselnya agar Radit tidak melihat wajahnya yang sudah memerah.

"Iya, Lo tenang aja. Lagian dia juga pacaran sama Ella."

"Lo udah tahu? Kenapa nggak dari dulu Lo sadar, Rain?"

Radit berjalan ke arah balkon, begitu juga dengan Rain. Mereka tidak sengaja menuju ke area balkon.

Terdengar helaan napas dari Rain. "Lo ngapain bahas yang lalu! Jadi gimana besok malem?" Rain mengalihkan topik.

Radit mengernyit saat melihat layar belakang tempat Rain duduk. Seperti tidak asing baginya. Radit menoleh ke arah seberang, menatap balkon rumah milik tetangganya.

"Lo coba tengok deh ke seberang. Sebelah kiri!"

Rain mengikuti arahan Radit. Dimana dia bisa dengan jelas melihat Radit yang juga sedang duduk di balkon. Jarak rumah mereka berdekatan. Hanya berbatas tembok saja.

"Kak Radit?" pekik Rain.

Radit pun mematikan panggilan ponselnya. Dia berusaha untuk keluar dari balkon dan beralih ke balkon Rain. Bermodalkan sebuah papan yang ada di samping balkonnya. Radit menyebrangi papan itu dan meraih besi pembatas balkon kamar Rain. Dia memanjat besi itu dan memeluk tubuh Rain saat sudah sampai di sana.

"Gue kangen banget," ucap Radit.

Rain membalas pelukannya dan mengangguk. Gadis itu juga merasakan hal yang sama karena selama tiga hari ini tidak bertemu.

"Ini bukannya rumah kakek Albert?" tanya Radit saat melepas pelukannya.

"Iya, dia kakek gue. Itu rumah Kakak?"

Radit mengangguk, "Iya, sayang. Itu rumah aku, jadi nanti setiap hari kita bisa ketemu."

Rain menenggelamkan wajahnya di dada bidang Radit karena lelaki itu memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Dulu saat menjadi Lea, gadis itu belum pernah merasakan jatuh cinta. Semasa hidupnya dia habiskan untuk berlatih bela diri, membaca novel dan balapan. Maka dari itu dia sekarang merasa sangat malu ketika ada lelaki memanggilnya dengan sebutan 'sayang', wajahnya sudah sangat merah.

"Ehm ... Ehm ..." Suara deheman itu terdengar dari dalam kamar Rain.

Gadis bermata bulat itu segera menjauhkan tubuhnya dan menoleh.

"Enak ya pelukan?" kata Rean yang sudah berdiri di ambang pintu penghubung balkon dan kamar.

"Hay," sapa Radit.

"Jadi ... Lo udah tahu kita di sini? Dengan seenaknya Lo bertamu langsung ke sini?"

Radit mengusap tengkuknya, "Sorry, gue reflek kemari karena nggak sengaja liat Rain."

"Oh, gitu ya?" Rean melipat kedua tangannya di dada.

"Kalau sampai Lo macem-macem gue yang akan maju lebih dulu!" Rean mendorong bahu Radit.

"Rain, masuk! Nenek mau bicara sama Lo!" Rean menarik tangan Rain secara paksa.

Radit hanya santai saja dan melambaikan tangan pada Rain.

"Dada, sayang! Nanti kita bicara lagi ya!" ujar Radit yang di hadiahi tatapan tajam.

Rain membalas lambaian tangan itu.

"Jangan bolehin dia masuk kamar Lo lagi! Jangan sampai berbuat macam-macam!"

"Abang, siapa juga yang aneh-aneh! Tadi aku hanya ngobrol biasa saja!" Rain menggembungkan pipinya.

Rean menatap gemas adiknya itu dan mencubit hidungnya.

"Jangan pernah memasang wajah seperti ini di depan Radit maupun Kenan!"

"Kenapa?" Rain mengernyit.

"Pokoknya jangan. Biar gue aja yang lihat!"

Rean dengan santainya meninggalkan Rain yang masih menggerutu.

"Rean! Lo nggak bisa gitu!" teriak Rain yang masih saja mengikuti langkah Rean.

Hingga langkah Rain berhenti saat Rean hendak menutup pintu.

"Lo mau nemenin gue di dalem?" ujar Rean yang hendak menutup pintu kamar mandi.

Sementara Rain mengedarkan pandangan. Dia sudah berada di dalam kamar Rean.

"Ish! Nyebelin!" Rain menghentakkan satu kakinya.

Rean tertawa puas mengerjai adiknya itu.

***

"Sayang, kenapa kamu diam saja?" tanya seorang lelaki yang sedang memainkan rambut panjang gadis yang ada di pangkuannya.

Gadis itu menggeleng lemah, "Aku takut jika Daddy pergi ninggalin aku," ucapnya sambil menundukkan kepala.

Lelaki itu memeluk erat tubuh gadis yang ada di pangkuannya. Menghirup dalam-dalam aroma yang sangat dia sukai. Sesekali lelaki itu mencium leher jenjang gadis yang menjadi kekasihnya.

"Tidak akan, kamu tenang saja. Apa yang membuatmu seperti ini?" Dia memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada gadisnya.

"Eungh ... Aku ... Tidaaak ... Aaah, Dady ..." Gerutunya.

Gadis itu tidak bisa melanjutkan ucapannya karena sensasi sentuhan yang memabukkan. Sentuhan yang selalu membuatnya candu.

"Yes, sayang," bisiknya.

"Jangan pernah berpikir macam-macam, Ella. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Ucapan manis dari bibir lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya itu selalu membuat Ella terbuai.

Senyum terukir di bibir tipisnya. Ella pun mengubah posisinya menjadi menyamping. Dia memeluk leher lelaki itu erat sambil memberikan kecupan di bibir lelaki yang menjadi kekasih Ella.

Lelaki itu adalah Hans Rajasa yang tidak lain adalah Kenan Rajasa.

"Daddy ... Tidak akan mencari wanita lain untuk jadi simpanan lagi kan?"

Hans mengangguk, "Ya, jika kamu selalu memberikan kebahagiaan untuk Daddy."

Mereka pun menikmati siang hari yang panas di atas ranjang apartemen milik Ella. Apartemen pemberian Hans tentunya.

Ella sudah tujuh bulan menjadi simpanan Hans. Saat itu Hans tidak sengaja melihat Ella yang duduk seorang diri di sebuah taman sambil menangis. Dia dikeluarkan dari sekolah karena tidak bisa membayar. Ella juga dipecat dari pekerjaannya karena sering terlambat. Nasib Ella yang malang, hidup sebatang kara dan membuatnya putus asa.

Hans datang dan menawarkan sebuah pekerjaan. Ella juga di sekolahan di tempat anaknya bersekolah. Saat itu Ella yang polos dan membutuhkan uang pun menurut saja. Entah mengapa Hans langsung tertarik saat pertama kali bertemu dengan Ella. Semua fasilitas Hans berikan. Bahkan Ella sampai rela melakukan apa saja demi uang jajan yang besar. Hingga dia tidak perduli jika Hans merenggut mahkota yang selama ini dia jaga. Ella menjadi gadis yang liar, juga dia tidak menyukai Rain karena dekat dengan lelaki yang sangat dia sukai. Meski dia tahu lelaki itu adalah anak Hans, dia tetap mendekatinya. Ella haus akan kekayaan. Ella bukan lagi Ella yang dulu, Ella yang baik hati dan polos.

Kini Ella menjelma menjadi gadis yang tidak mau tersaingi. Ella juga tidak mau kalah dengan Rain. Hans memang lebih suka gadis yang liar. Hanya saja Ella tidak tahu jika Hans seperti itu karena ada maksud tertentu.

Ella telah lelah melayani Hans hingga sore menjelang. Gadis itu pun terlelap, Hans memakai pakaiannya kembali dan bersiap untuk pulang ke rumahnya. Tidak lupa Hans mentransfer uang pada Ella karena telah memuaskannya.

"Terima kasih, sayang." Hans mengecup bibir Ella yang rupanya telah menjadi candu.

Dia tidak akan melepaskan Ella begitu saja.

Hans adalah sosok lelaki yang dikenal disiplin, dingin dan sangat menyayangi keluarganya. Namun, siapa sangka jika dibalik itu semua Hans adalah lelaki yang suka berselingkuh secara diam-diam. Hans selalu memperlihatkan keharmonisan dengan istrinya di depan semua orang. Dia adalah pengusaha yang sukses. Tidak ada yang tahu tentang siapa Hans yang sebenarnya. Lelaki itu memang pandai memakai topeng. Bahkan kedua anaknya dan sang istri tidak tahu belangnya Hans.

***

Rain sedang menikmati secangkir cappucino hangat sambil menatap layar laptopnya. Dia kini sudah tinggal di kediaman Albert Mahendra. Dia lebih nyaman di sana. Rain sedang berkutat dengan tugasnya yang kini menjadi seorang penulis. Melanjutkan hobinya saat menjadi Lea.

Selesai menulis Rain kembali membuka aplikasi berwarna hitam itu. Dia melihat data ponsel milik Ella yang sudah dia retas waktu itu. Ada percakapan dengan nomor yang diberi nama 'sugar Daddy'.

[Terima kasih, Daddy, atas transfernya. Aku akan selalu membuatmu puas.]

[Jangan lupa beli baju kesukaan Daddy, cantik!]

Rain tersenyum miring, "Dasar lelaki hidung belang, sudah punya istri cantik saja masih mencari yang lain!" umpat Rain.

Rain juga mengambil beberapa foto yang ada di galeri Ella. Dia mengirimkan ke ponsel milik Rain satu lagi.

Gadis itu pun mengirimkan pesan pada Ella dengan nomor yang sudah dia atur agar tidak bisa dilacak oleh siapapun.

"Kita bermain-main, cantik! Lo bakal gue bikin menderita!" ucap Rain pada foto Ella.

Rain pun menutup aplikasi itu, dia sudah menyerah untuk meretas data milik Damian karena ada yang melindunginya. Meski Rain adalah seorang Hacker tapi dia belum begitu mahir. Rain akan meminta bantuan pada seseorang untuk membongkar kebusukan Damian. Gadis itu sangat yakin jika Damianlah dalang dari kematian mamanya.

Rain juga mencari informasi tentang Shely, siapa sebenarnya wanita itu. Kenapa juga langsung masuk kedalam kehidupan Damian di saat Kimberley baru beberapa bulan meninggal.

Ponsel Rain sejak tadi terus berdering panjang, tanda ada sebuah panggilan masuk. Rain melirik layar ponsel yang berada di samping laptop itu. Ada nomor yang tidak ada di kontaknya menelpon.

"Siapa?" Rain mengerutkan keningnya.

Rain mencoba mengangkat telepon dari nomor itu. Rain hanya diam saja, di seberang sana juga tidak ada suara apapun.

Hening.

Rain memilih mematikan ponselnya, dia berpikir jika itu hanya orang iseng saja. Ponsel Rain kembali menyala, kali ini bukan telepon masuk melainkan peringatan tanda bahaya. Ada seseorang yang ingin membobol datanya.

Rain tersenyum miring, dia tetap dengan santai mencari tahu siapa orang yang berusaha membobol datanya itu. Rain sudah ahli jadi siapapun yang mencoba mencari dirinya tidak akan pernah bisa. Sistem keamanannya sudah sangat ketat jadi tidak bisa dibobol dengan mudah.

"Lo pikir gue bodoh, hah!" gumam Rain.

Satu jam sudah berlalu. Rain masih berkutat dengan laptopnya dan kini jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

Rain sudah mengetahui siapa orang yang ingin membobol datanya itu. Rupanya orang tersebut adalah orang yang menelponnya.

"Ini siapa sih!"

Lagi dan lagi orang itu kembali menghubunginya. Mungkin orang tersebut juga belum terpejam karena terus berusaha meretas data milik Rain.

"Lo siapa sih!" tanya Rain saat menjawab panggilan tersebut.

"Temuin gue di kafe Denia sepulang sekolah!"

Tut...

Panggilan terputus, membuat Rain merasa heran. Siapa lelaki misterius yang telah menghubunginya barusan. Kenapa dia juga berusaha untuk meretas datanya?

Rain yakin jika orang itu pasti ada kaitannya dengan Damian dan Shely. Rain memilih memejamkan mata sebentar karena rasa kantuk yang menyerang. Rain mematikan layar laptopnya. Dia merebahkan tubuh di atas ranjang, sesaat kemudian dia mendengar suara pintu dibuka dan kembali di tutup.

Seseorang melempar jaket dengan asal dan kemudian memeluknya. Wajah dan tangan yang dingin menyentuh kulit putih Rain.

"Abang!" pekik Rain.

Lelaki itu hanya tersenyum, lalu kembali memejamkan matanya dan memeluk Rain.

"Lo baru balik?"

Rean hanya mengangguk, dia juga enggan membuka kedua matanya.

***

"Rain, ayo sini sama nenek," ajak Sania. Dia menarik kursi di sebelahnya.

"Terima kasih, Nek. Padahal aku bisa menarik kursiku sendiri."

"Ah, manis sekali," puji Sania sambil mengurai rambut panjang Rain yang tergerai.

Rean baru saja turun dan sudah rapih dengan seragam juga tas ransel yang bertengger di punggungnya.

"Pagi, nenek!" sapanya sambil mencium pipi sang nenek.

"Pagi, Rean. Ayo sarapan. Kakek sebentar lagi datang."

Rean mengangguk dan mengambil roti milik Rain.

"Abang!" gerutu Rain. Gadis itu mengerucutkan bibirnya.

"Rean!"

Lelaki itu hanya tersenyum santai. Dia menggigit roti dengan selai strawberry dan kacang.

"Nenek, lihat sendiri kan kalau dia itu kakak yang kejam!" Rain mengambil roti lagi dan mengolesinya dengan selai kesukaan.

Sania hanya menggeleng lemah. Melihat tingkah anak kembar itu yang kini membuat kediaman Albert ceria.

"Ada apa nih kok pagi-pagi cucu kakek yang cantik cemberut?" Albert melangkah dengan tongkatnya dan duduk di sebelah Rean.

Rean sudah menarik kursi untuk Albert dan membantunya untuk duduk.

"Roti milikku di ambil Rean!" adu Rain.

"Rean? Kenapa kamu jahil sekali?" tanya Albert.

"Sebagai adik yang baik memang harus begitu, Kek! Menyiapkan sarapan untuk sang kakak."

"Kita ini kembar! Harus di ingat itu!"

"Aku tiga menit lebih dulu lahir setelah itu kamu, jadilah adik yang baik!"

"Sudah-sudah jangan ribut!" Sania menengahi perdebatan kecil kedua cucunya itu.

Albert tertawa karena ini pagi pertama mereka tinggal di sini dan sudah membuat rumah yang semula sepi menjadi ceria.

Selesai sarapan mereka berangkat bersama seperti biasa, Rain hanya membonceng saja. Padahal sang Kakek sudah membelikan motor seperti yang Rain mau. Hanya saja Rean tidak mengizinkan jika Rain membawa motor sendiri.

"Gue kesel banget sama Lo!" Rain terus mengomel dan memukul helm yang Rean kenakan.

Di rumah Albert memang diterapkan untuk berbicara sopan. Tidak boleh berkata kasar seperti anak remaja pada umumnya. Oleh sebab itu saat bersama kakek dan neneknya Rean dan Rain memakai aku dan kamu.

Rean hanya tertawa. Dia suka sekali mengerjai adiknya. Membuat Rain kesal justru kebahagiaan untuk Rean.

"Rean! Gue kesel!" Rain mencubit pinggang Rean.

"Aduh, sakit!" Rean merintih kesakitan.

Sesampainya di sekolah, Rean melepaskan helm milik Rain.

"Gue nggak mau balik sama Lo kalau Lo nggak izinin gue yang bawa ini motor!"

"Iya, sayang. Nanti kamu yang depan ya. Sekarang jangan manyun gitu dong." Rean mencoba merayu adiknya.

Dia tidak mau ada lelaki lain lagi yang menyukai Rain, karena di saat cemberut gadis itu sangat menggemaskan.

"Anjir! Sayang, sayang! Pala Lo botak!"

Rean menarik bibir Rain yang manyun.

"Jangan gitu lagi, gue nggak mau ada cowok yang ngejar-ngejar Lo lagi! Satu Radit sudah cukup!"

"Bodo amat!"

"Hih, mau Abang cium, hmm?" Rean mendekatkan wajahnya dan langsung di dorong oleh Rain.

Gadis itu langsung lari begitu saja. Tanpa mereka sadari sejak tadi Ella melihat tingkah mereka di dekat gerbang. Wajahnya sudah memerah seperti menahan emosi. Ella menghentakkan kakinya dan melangkah dengan wajah yang cemberut. Dia mendekati Kenan yang baru saja memarkirkan motornya.

"Pagi, sayang," sapa Ella.

"Hmmm."Kenan hanya membalasnya dengan gumaman. Dia juga tidak menoleh ke arah Ella.

"Kamu kenapa sih?"

"Nggak, ayo masuk." Kenan merangkul pinggang Ella. Gadis itu tersenyum puas. Dia mengira jika Kenan sudah mulai menjauh.

Seperti biasa pagi ini selalu saja ada kehebohan dari para murid perempuan jika melihat geng Aksara yang datang. Kelas Rain pun juga menjadi heboh karena kedatangan Kenan.

Ella bergelayut manja di lengan Kenan. Dia ingin membuat Rain cemburu. Sayangnya Rain tidak perduli bahkan tidak menoleh ke arah mereka.

"Sayang, anterin ke kelas," rajuk Ella.

"Ya udah ayo."

Kenan menatap keempat temannya. "Ikut gue ke kelas Ella," ucapnya.

Rean memutar kedua bola mata malas, Kenan masih saja sama. Meratukan Ella yang selalu saja mengganggu adiknya. Rean mau tidak mau akhirnya mengikuti perintah Kenan.

"Heran gue, ke kelas aja sampe dikawal!" celetuk Rain.

Mia yang duduk di sebelahnya pun takut saat Kenan menghentikan langkahnya dan menatap tajam Rain.

"Situ syirik banget jadi orang!" ujar Ella tidak terima.

"Sorry ya! Gue nggak syirik sama Lo!"

Ella mengepalkan kedua tangannya, dia sangat geram dengan Rain. Apalagi tadi pagi Ella melihat Rain dekat dengan Rean.

"Ayo," ajak Kenan. Dia tidak mau ada keributan.

Namun, tatapannya masih saja ke arah Rain. Gadis itu juga membalas tatapan tajam Kenan. Tatapan Rain penuh dengan kebencian.

Bersambung ...

Terpopuler

Comments

Fitrian

Fitrian

hahhh termakan kata kata buaya budukk🤣🤣🤮

2024-06-06

2

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trussehat

2024-02-07

1

Diii

Diii

belum tau rean yg sekarang badgirl,..hati2 aja tuh ella

2023-06-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!