Ella sengaja menabrakkan dirinya ke tubuh Rain saat gadis itu berpapasan dengannya. Ella terjatuh dan pura-pura merintih kesakitan. Rain memutar kedua bola matanya malas. Dia sudah paham dengan sikap Ella seperti ini. Mengundang perhatian Kenan yang tentu saja akan menyalahkan dirinya.
Heran, sampai kapan Ella akan terus mengganggunya dan membuat Kenan membenci dirinya? Bukankah apa yang Ella mau sudah terpenuhi? Rain sudah menjauhi Kenan dan sekarang apalagi?
"Sakit ...," Rintihan gadis itu disertai isak tangis.
"Lo apa-apaan sih, El?" gerutu Rain.
"Aku ... Minta maaf, Rain. Aku nggak sengaja!"
Rain memilih pergi daripada harus bertemu dengan Kenan. Dia tidak perduli dengan Ella yang menangis. Dia tidak perduli jika Kenan akan marah padanya. Juga dia tidak lagi perduli jika Kenan terus memaksanya untuk minta maaf pada gadis sialan itu.
"Ella, kenapa?" Tepat sekali Kenan datang. Dia juga baru saja beriringan dengan Rain.
Kenan melihat ada darah di kaki Ella. Kenan membopong gadis itu menuju UKS untuk mengobati lukanya.
"Apa yang Rain lakukan?" tanyanya.
Luka Ella sudah di bersihkan dan kini dibalut handyplas.
"Aku yang salah, Ken. Aku jalan nggak lihat-lihat," jawab Ella.
Kenan mendengkus kesal. Kenan tidak percaya jika Rain tidak bersalah. Dia selalu melihat Rain melukai Ella dan gadis itu menjadi ketakutan. Kenan tidak percaya jika Rain berubah dan tidak mengganggu Ella lagi. Kenan tahu jika Rain cemburu padanya karena memilih Ella untuk menjadi kekasihnya. Bukankah ini wajar? Meski pada akhirnya nanti Kenan harus menikahi Rain.
"Lo istirahat aja ya di sini. Jangan kemana-mana. Gue bakal balik lagi ke sini!"
Ella mengangguk. Senyum mengembang saat Kenan pergi dengan wajah penuh emosi. Dia puas karena bisa membuat Rain semakin dibenci Kenan. Misinya memang selalu berhasil. Kini Ella akan menyusun rencana untuk menjauhkan Rain dengan Rean.
Sementara di taman belakang sekolah Kenan melihat Rain sedang duduk seorang diri. Rain menatap kosong rerumputan yang sudah mulai tinggi. Sejak tadi Kenan mencarinya dan berakhir di taman belakang sekolah. Tempat favorit Rain sejak dulu.
"Lo apain Ella, hah!" bentak Kenan tiba-tiba.
Rain mencebik, datang-datang langsung marah-marah. Rain sendi juga tidak tahu apa kesalahannya. "Gue nggak ngapa-ngapain dia!" jawab Rain tidak terima.
Ada perasaan yang dulu pernah Rain asli rasakan, kini kembali hadir bersama dengan rasa sakit yang teramat dalam dan berubah menjadi kebencian. Tatapan itu selalu sama ketika tidak sengaja mereka saling menatap.
Menenangkan!
Rain segera menepis semua yang ada di dalam pikirannya. Rain harus mengalah dan membiarkan Ella menjadi pemenangnya. Dia sudah tidak membutuhkan Kenan. Dia juga sudah tidak lagi mengejar Kenan.
"Lo cemburu karena gue lebih milih Ella?" Kenan mencengkeram rahang Rain.
Gadis itu menghentakkan tangan Kenan.
"Buat apa gue cemburu? Gue nggak pernah cemburu sama Lo! Asal Lo tahu gue nggak bakal mau lanjutin perjodohan ini!" Rain mendorong bahu Kenan.
"Lo kalau mau nyuruh gue minta maaf sama pacar Lo yang cengeng itu, gue nggak akan pernah mau! Inget itu!" ucap Rain sebelum dia pergi.
"Lo nggak bakal bisa batalin gitu aja, Rain!" Kedua tangan Kenan mengepal.
"Gue udah muak sama Lo! Gue benci banget sama Lo. Jadi tolong nggak usah cari gue lagi ketika cewek Lo nangis! Gue nggak ada hubungannya sama cewek Lo tadi! Dia jatuh sendiri pas gue mau ke kantin. Asal Lo tahu itu! Tapi terserah Lo mau percaya apa enggak pun gue nggak perduli!" Susah payah Rain menahan gejolak kesedihan. Dia tidak mau membuat Kenan besar kepala.
"Rain, Lo nggak akan pernah bisa batalin ini semua. Lo milik gue sampai kapanpun!" ujar Kenan yang menarik tangan Rain.
Hampir saja Rain terjatuh kalau saja Kenan tidak sigap menangkap tubuh Rain. Gadis itu segera bangkit berdiri.
"Kenapa Lo bisa bilang gitu? Disaat gue udah nyerah, Ken? Gue udah nggak ada rasa apapun lagi sama Lo. Gue bukan Rain yang dulu, yang selalu lo abaikan dan yang selalu Lo suruh ini dan itu. Gue udah capek jadi gue mau Lo putusin pertunangan itu dan jangan pernah ganggu lagi kehidupan gue!"
Rain pun pergi, membuat Kenan mematung. Ada rasa nyeri di hati yang paling dalam. Kenapa? Kenapa dia baru sadar jika Rain berharga. Jika dulu perhatiannya di sia-siakan dan selalu dipermalukan, kini Kenan merasa hatinya kosong meski ada Ella di sisinya. Kenan kehilangan sosok Rain yang cerewet. Sosok Rain dengan mata teduhnya dan sosok Rain yang penuh perhatian yang selalu mengejarnya. Kenan rindu, tapi dia baru menyadari itu ketika Rain semakin menjauh. Hati Kenan teriris bersama kedua matanya yang pedih. Seakan ada butiran bening yang memaksa ingin keluar.
Kenan mendongak untuk menghilangkan rasa itu, dia tidak mau terlihat sedih oleh siapapun. Kenan melangkah menuju UKS untuk menemui Ella. Memeluk gadis itu untuk menghilangkan semua perasaan sakitnya.
"Ada apa, Ken?" tanya Ella yang terkejut karena Kenan tiba-tiba memeluknya erat.
"Biarkan seperti ini dulu," ujarnya.
Ella membiarkan Kenan memeluk tubuhnya erat. Ella bisa mendengar detak jantung Kenan yang menenangkan untuknya. Rasa yang cinta dulu sangat dalam mungkin sudah semakin terkikis ketika dia mengingat Rean. Ella sangat mengagumi lelaki itu ketika dia berkeringat. Ella juga tahu jika Rean lebih kaya dari Kenan. Ella tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan Rean.
Ketika kedua matanya menangkap sosok yang kini ada dipikirannya, berdiri di dekat tirai UKS dan menatap Ella yang sedang berpelukan, gadis itu segera melepaskan pelukan Kenan.
"Kenapa?" tanya Kenan.
Kedua mata Ella melirik ke samping. Kenan pun mengikuti arah mata Ella.
"Rean?"
"Sorry ganggu!"
"Ada apa?"
"Pergi ke rooftop!"
Rean pun melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. Kenan menangkup wajah Ella. Memberikan kecupan pada bibirnya yang selalu menggemaskan bagi Kenan.
"Gue pergi dulu ya."
"Aku ikut," katanya manja.
"Jangan, istirahat aja di sini. Nanti gue balik lagi."
Ella mengangguk pasrah. Dia menatap punggung Kenan hingga menghilang dari balik tirai dan terdengar pintu dibuka lalu tertutup kembali. Ella meraih ponselnya dan bermain game untuk menghilangkan suntuk.
Panggilan video call dari kontak bernama Daddy itu masuk. Ella segera menggeser tombol hijau. Terpampang nyata wajah tampan meski tidak lagi muda.
"Daddy?"
"Hay, sayang. Apa yang terjadi, hmm?"
Ella memainkan rambutnya yang panjang. Memelintir dan menatap lelaki yang dia panggil Daddy itu manja.
"Aku terjatuh."
"Pantas saja perasaan Daddy tidak tenang. Apa parah lukanya? Bagaimana bisa cintaku ini terjatuh?"
"Rain mendorongku!" sungutnya kesal.
Ella mengarahkan kamera pada kakinya yang terluka. Dia menjatuhkan diri tanpa melihat jika ada pecahan kaca di sana. Jadi kakinya tergores pecahan kaca itu.
"Dia lagi, kenapa nggak kamu lawan sih?"
Ella memanyunkan bibirnya.
"Jangan begitu, Daddy tidak bisa konsentrasi bekerja jika bibirmu seperti itu!"
"Ih, Daddy!"
Lelaki itu terkekeh. Dia sangat senang jika menggoda gadis simpanannya.
Ella mendengar pintu UKS terbuka, dia segera mematikan ponselnya dan mengirim pesan pada lelaki yang berstatus kekasihnya itu.
[Daddy, ada yang datang. Kita sambung nanti ya.]
[Daddy sedang mengirim orang untuk menjemputmu!]
Kedua mata Ella membulat sempurna. Dia tidak menyangka jika kekasihnya itu akan menyuruh pulang lebih cepat. Senyum tercetak dibibirnya karena dia akan bertemu dengan orang yang selama ini memberikan banyak fasilitas mewah.
"Kenapa senyum sendiri?" Kenan sejak tadi melihat gadisnya sedang asyik bermain ponsel sambil tersenyum.
"Aku akan pulang. Malam ini aku libur bekerja jadi aku pengen jalan sama kamu."
Kenan mengelus rambut Ella dan mengecup keningnya.
"Ya, beristirahatlah di rumah, sayang. Nanti malam aku akan menjemputmu."
"Terima kasih, Ken."
***
Rain terus meninju samsak miliknya. Dia meluapkan segala emosi yang sejak tadi di tahan di sekolah. Dia benci bertemu Kenan, dia ingin membunuh lelaki itu yang sudah meninggalkan luka teramat dalam. Dengan santainya Kenan mengatakan akan menikahi dirinya meski dia menjalin hubungan dengan Ella. Enteng sekali ucapannya itu.
Rain tidak perduli pengaruh apa jika pertunangan itu gagal. Dia akan meminta bantuan pada Rean untuk mengatakan hal ini pada papanya. Sejak keluar dari rumah sakit Rain belum bertemu dengan Damian. Rean tidak pernah mau mengantarkannya. Selalu saja banyak alasan jika Rain meminta ke rumah Damian.
Rean sedari tadi menyaksikan Rain yang memukuli samsak dengan penuh emosi. Biasanya samsak itu hanya Rean yang menggunakannya. Sekarang Rain juga menggunakan itu. Rean menatap takjub adiknya yang rupanya jago beladiri. Banyak perubahan terjadi setelah kecelakaan yang menimpanya.
Wajah Rain sudah dipenuhi oleh keringat. Rean segera mendekati dan memberikan botol air mineral yang dingin.
"Makasih!"
Rean mengangguk.
"Besok kita akan menginap di rumah Papa. Livia mau ulangtahun jadi semua keluarga akan berkumpul."
"Bagus!" Rain tersenyum miring setelah meneguk air itu hingga setengah.
"Apanya?"
"Gue mau bilang kalau gue nggak mau nikah sama Kenan."
"Lo yakin?"
"Iya, buat apa nikah sama lelaki yang nggak punya perasaan!"
Rean tersenyum, "Itu baru adik gue!" pujinya.
Selama ini Rean memang tidak setuju jika Rain dijodohkan dengan Kenan.
"Gue harap Lo jangan sedih ya kalau pulang ke rumah papa."
"Lo tenang aja!"
Rain meraih handuk kecil dan mengelap keringatnya. Dia berlalu meninggalkan Rean. Lelaki itu takut jika Rain kembali terluka karena sikap papanya yang tidak perduli dan lebih sayang pada Livia. Bahkan ulangtahunnya dengan Rain saja tidak pernah dirayakan. Ingat pun tidak.
Tanpa Rean tahu, Rain sudah menyusun banyak rencana ketika dia akan pergi ke rumah Damian.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Ahsin
perempuan bangke
2024-07-13
0
Fitrian
baguss mantaap kalo perlu noh rumangsamu brengsekk bakar sampe habis perusahaan nya bangkrut ini supaya noh brengsekkk dan keluarga bunga bangke itu jadi gelandang busuuukkkk 🐽🐽🐽🐽
2024-06-06
1
Fitrian
cuiiiiiihhhhh dasar jalang beraccuuunn🤮🤮🤮
2024-06-06
0