"Bagaimana? Kamu suka nggak tempat ini?" tanya Radit.
"Sukaaa bangeeet," jawab Rain antusias.
Dia duduk di dekat jendela kecil rumah pohon itu. Menghirup dalam-dalam udara siang menjelang sore. Suasananya sangat menenangkan, membuat Rain betah berlama-lama di sana.
Akhirnya setelah melewati perdebatan panjang dengan Rean dia bisa dengan bebas menikmati hari bersama kekasihnya itu.
"Sayang," panggil Radit.
Membuat Rain seakan terhipnotis dengan panggilan tersebut. Rain menoleh ke arah lelaki yang duduk dibelakangnya.
"Ini ... Buat kamu." Radit memberikan sebuah kotak berwarna hitam.
Rain dengan ragu menerima kotak itu dan membukanya. Sebuah kalung berwarna perak dengan liontin berbentuk hati. Di dalam liontin itu ada foto dirinya dengan Radit.
"Ini ... Bagus banget!"
"Aku pakein ya?"
Radit memakaikan kalung itu di leher Rain. Membuat gadis itu semakin cantik.
"Rain, setelah lulus nanti aku harus melanjutkan pendidikan di luar negeri. Aku harap kamu selalu jaga hati ya. Aku akan sering-sering kembali kok pas liburan."
Hati Rain merasa sedih, meski hal itu masih lama tapi tetap saja perpisahan membuatnya sedih. Cukup dia dulu kehilangan Aldi sebelum menjawab pernyataan cinta lelaki itu. Kini di saat Rain merasa sesuatu yang berbeda ketika bersama Radit, kembali Rain harus merasakan perpisahan.
"Aku janji setelah kamu lulus sekolah aku akan menikahimu dan membawamu ketempat dimana aku menimba ilmu."
Rain terkekeh, lelaki ini, lelaki dihadapannya ini benar-benar mencintainya.
"Iya, Kak. Aku nggak akan berpaling darimu. Hanya saja ... Izinkan aku untuk menyelesaikan masalaluku."
Radit mengangguk. Lalu memeluk Rain erat. Dia seperti mimpi, mendapatkan Rain dengan mudah.
Berkali-kali Radit mencium kening Rain. Hingga ciuman itu berpindah ke bibir tipis Rain yang berwarna merah muda. Radit mengecupnya lalu kembali menyesap bibir Rain. Gadis itu malah tertunduk.
Radit menarik dagu Rain dan kembali ******* bibir gadis itu. Tidak ada penolakan dari Rain membuat Radit semakin memperdalam ciumannya. Memaksa Rain untuk membuka bibirnya. Radit menekan tengkuk Rain untuk memperdalam ciumannya. Mengabsen deretan gigi Rain yang putih.
Keduanya hanyut dalam ciuman itu. Meski bukan yang pertama untuk Radit maupun Rain. Radit melepaskan ciumannya dibibir Rain yang terasa manis dan sekarang menjadi candu. Radit beralih ke leher jenjang Rain yang menggoda. Dia mencium leher Rain, membuat gadis itu melenguh.
Rain sangat sadar ini tidak akan benar, hanya saja tubuhnya berbanding terbalik dengan pikirannya yang waras.
"Kaaaaak."
"Hmmm."
Radit kembali menyesap bibir Rain yang manis. Dia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Kini satu tangan Radit membelai pipi, leher dan berhenti di area dada yang berukuran pas ditangannya.
Rain segera mendorong dada Radit supaya mereka tidak melakukan hal yang lebih gila dari sekadar ciuman.
"Maaf, Rain. Aku ...."
Rain menundukkan kepalanya. Radit hampir saja kelepasan kalau saja Rain tidak mendorongnya. Siapa yang harus disalahkan? Sementara Rain juga menikmati ciuman itu.
"Jangan lagi," gumam Rain.
Radit menarik lengan Rain dan membawanya ke dalam pelukan.
"Maaf ya, aku hampir saja tidak bisa mengontrol."
Rain mengangguk, meski sebenarnya dia juga menikmati setiap sentuhan itu. Pertama kalinya dia mendapatkan sentuhan lembut dari seorang lelaki. Jantungnya sudah hampir lepas karena merasakan ciuman pertama. Meski Rain asli sudah melepaskan ciuman pertamanya kepada Rean.
Lelaki yang berstatus sebagai kembarannya itulah yang telah mengambil ciuman pertamanya. Hanya karena mama yang selalu mengecup bibir Rean dan Rain saat hendak tidur. Rean melakukan hal yang sama ketika mama Kimberley sudah tiada.
Demi menenangkan sang adik yang rindu diberi kecupan hangat oleh sosok mama sebelum tidur.
Ya, sebelum pergi bersama Radit, Rain terus memakai Rean. Mencubit dan memukuli lelaki itu saat menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dia juga tidak tahu kenapa bisa sepolos itu. Mereka dulu masih kelas 6 sekolah dasar. Jadi tidak paham jika ciuman bibir lawan jenis itu sangat berbahaya.
Hingga saat duduk di bangku SMP, Rean penasaran dengan apa itu ciuman. Bersama Rain dia mencobanya. Hanya sebatas ciuman pengantar sebelum tidur.
Rean juga tahu batasan lainnya karena mereka sedarah. Hubungan mereka dulunya dekat sebelum papa sangat membenci Rain.
***
Rain duduk bersandar di dada bidang Radit. Mereka menikmati sore hari di rumah pohon milik Radit. Sementara lelaki itu sedang sibuk dengan ponselnya. Entah sedang berkirim pesan kepada siapa. Rain tidak ingin ikut campur. Pemandangan di luar sana telah memanjakan matanya.
Radit memeluk gemas kekasihnya itu. Setelah meletakkan ponselnya Radit kembali mencium pipi Rain.
"Kamu boleh datang kemari jika ingin menenangkan diri."
"Serius?"
"Hmm, sesuka hatimu. Ini juga nantinya buat kamu. Dulu saat aku kecil dan sering dimarahi papa aku kabur ke sini. Lalu menginap di sini. Tidur beralaskan tikar. Setelah aku besar dan memiliki tabungan yang banyak, aku memperbaiki rumah pohon ini dan mengisinya dengan peralatan yang dibutuhkan."
Di dalam rumah pohon itu memang ada kasur yang bisa digunakan untuk dua orang. Tidak terlalu besar maupun kecil. Ukurannya sedang. Lalu ada lampu tidur di samping kasur.
Ada meja untuk makan dan kulkas kecil.
Radit juga meletakkan kompor listrik dan teko listrik. Semua dia rakit dan menghubungkan listrik itu pada rumah yang ada di sebelahnya. Rumah sederhana yang selalu Radit tinggali ketika ingin menyendiri.
Rumah penuh kenangan sebelum kedua orangtua Radit menjadi pengusaha sukses seperti sekarang.
"Apa kakak nggak takut jika tidur di sini sendiri?"
"Tentu saja tidak. Kamu lihat kan rumah tadi? Itu adalah rumahku dulu."
Rain terkejut, rumah itu sederhana. Lantainya juga dari papan. Meski sederhana tapi terkesan bagus. Bahkan banyak tanaman bunga yang tumbuh di sekitar rumah itu.
"Sebelum papa sukses kami pernah susah, Rain."
Rain semakin bangga dengan Radit. Dia memang belum mengenal Radit begit jauh. Bahkan Rain tidak tahu masalalu Radit seperti apa.
"Nanti main ke rumah ya. Aku akan mengenalkan kamu sama mama. Sudah lama mama pengen ketemu."
"Apa kakak sering cerita ke mama?"
"Iya, kalau kamu sekarang jadi calon istri aku."
Radit juga menyelipkan sebuah cincin di jari manis Rain.
"Apa ini?" Rain memperlihatkan jemarinya.
"Tanda jika kamu adalah milik aku. Nanti aku akan melamar kamu secara resmi."
Rain tersenyum, "Romantis banget!" katanya, "Jadi ini adalah cincin tunangan?" tanya Rain.
"Bisa jadi. Sekarang kamu nggak boleh macem-macem!"
Rain mengangguk bersama dengan Radit yang menarik dagunya. Rain menyandarkan kepalanya di lengan Radit yang bertumpu dikaki lelaki itu.
Rain menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh lelaki itu.
***
"Rain? Kemana saja kamu?" tanya Rean yang sudah duduk di ruang tengah.
Suasana sepi karena kakek dan nenek sudah terlelap dalam tidurnya.
"Belanja!" Rain mengangkat paper bag yang dibawanya.
"Jam sembilan lewat lima belas menit. Abang bilang__"
Rain menarik bibir lelaki itu. "Capek, Bang! Aku mau mandi terus tidur!" Rain melepaskan tangannya yang menarik bibir Rean.
"Sakit! Bibir gue bisa-bisa makin maju!"
Rain terkekeh. "Udah ah aku mau mandi!"
"Ikut dong!"
Rain melotot tajam. Rean malah terkekeh melihat adiknya seperti itu.
Rain menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Ingatan tentang kejadian tadi di rumah pohon membuat Rain tersenyum malu. Dia menutup wajahnya meski tidak ada siapapun di sana.
Selesai mandi dan memakai baju tidurnya Rain meraih ponsel yang ada di meja. Ada sebuah pesan dari Radit.
[Selamat tidur, sayang.]
"Aaaah, manis banget!" pekik Rain. Wajahnya sudah memerah.
[Iya, selamat tidur juga!] balas Rain.
Baru saja Rain hendak merebahkan tubuhnya, suara ketukan pintu terdengar.
"Ck, ngapain sih!" gerutu Rain saat membuka pintu. Menampilkan lelaki menyebalkan itu.
Lelaki itu dengan santainya masuk ke kamar Rain dan berbaring di ranjangnya. Dia memeluk guling dan terpejam.
"Reandra Gabriel Klopper!" teriak Rain dan menarik tangan lelaki itu untuk pergi dari tempat tidurnya.
"Rain, gue pengen curhat. Lo bisa nggak sih jangan galak-galak!"
Rain menghela napas panjang, dia pasrah saja jika harus berbagi tempat tidur lagi dengan Rean.
"Apa?"
"Menurut Lo kalau nembak cewek itu harus pake bunga apa boneka?"
"Pake hati!"
Rain terkejut dengan pertanyaan Rean. Dia segera membalikkan tubuhnya dan menatap lelaki itu yang kini terpejam.
"Lo mau nembak cewek?" Rain menutup mulutnya. Dia tidak percaya jika Rean sedang jatuh cinta.
"Apaan sih! Males ah gue cerita!" Rean memunggungi Rain. Gadis itu menarik bahu Rean untuk berbalik kembali.
"Siapa cewek yang udah bikin si kulkas dua belas pintu ini mencair?"
Pletak!
Rean menjitak kepala Rain. "Lo pikir gue es batu? Segala mencair?"
"Emang Lo itu kutub utara, gue nggak bisa bayangin cewek yang bakal jadi pacar Lo! Dia bisa setia nggak ya? Secara Lo ini kaku dan nggak ada romantis-romantisnya sama sekali."
Rean mendengus kesal, tujuannya kemari buat mendapatkan ide nembak cewek malah mendapatkan ledekan dari adik kembarnya.
"Salah gue nanya ke elo!" Rean kembali memejamkan matanya.
Ponsel Rain bergetar tanda pesan masuk. Rain menatap layar benda pipih itu.
[I love you, Rain. Terima kasih buat hari ini]
Rean membaca pesan itu. Membuat Rain melotot tajam.
"Abang!" pekik Rean. Lelaki itu terkekeh.
"Lo ngelakuin apa aja tadi?" tanya Rean.
"Jalan-jalan aja. Emang kenapa?"
"Jangan bohong! Lo ciuman kan sama dia, bibir Lo aja bengkak!" Ucapan frontal Rean itu membuat Rain malu dan langsung menutup wajah Rean dengan bantal.
"Rain, gue bisa mati!" Rain tidak perduli. Dia terus saja menutup wajah Rean dengan bantal. Sementara Rain duduk di kedua kaki Rean agar lelaki itu tidak bisa berkutik.
"Lo mau bunuh gue, hah!"
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
HNF G
mereka beneran kembar gak sih? apa jgn2 yg satu anak angkat?
2024-06-09
1
Zanzan
hubungan bersaudara yg aneh...jadi curiga...
2024-05-24
0
Fifid Dwi Ariyani
trussukses
2024-02-08
0