Bab 16
Anak kembar itu telah sampai di kediaman Damian. Lagi dan lagi Rain menatap takjub gedung yang mirip sekali dengan istana. Dia tidak menyangka jika papanya adalah seseorang yang kaya raya. Bahkan mansion milik Damian ini lebih besar dari mansion milik neneknya. Jika dilihat-lihat sepertinya memang Damian lebih kaya dari keluarga mamanya, lantas mengapa hubungan mereka tidak direstui?
Rain berpikir jika dulu hubungan Damian dengan Kimberley itu seperti di novel-novel. Tidak memiliki restu karena Damian orang yang miskin. Kehidupan para konglomerat itu biasanya kalau mencari pasangan harus dilihat dulu bibit, bebet dan bobotnya.
Sekali lagi Rain menatap takjub pemandangan yang ada dihadapannya. Dia benar-benar seperti mimpi. Mansion mewah bak istana itu rupanya benar adanya.
"Rain!" Gadis itu tersentak mendengar panggilan dari Rean.
"Ngagetin aja sih!"
"Ngelamun sih, ayo masuk!"
Rean melingkarkan tangannya di pinggang Rain. Gadis itu tidak menolak sama sekali, dia sibuk melihat-lihat halaman depan mansion Damian.
Beberapa pelayan pun sudah membukakan pintu untuk mereka.
"Selamat sore Tuan dan Nona muda," sapa para pelayan sembari membungkukkan badannya.
Rean mengangguk singkat sementara Rain sibuk menatap interior yang ada. Ruang utama sangat luas. Itu dijadikan sebagai aula, tempat acara pertemuan atau acara lainnya. Mampu menampung banyak orang. Jadi di ruang pertama ini tidak ada perabotan apapun. Hanya ada foto-foto keluarga. Rain menatap salah satu foto keluarga. Damian bersama istri pertama yang menggendong salah satu bayi dan Ando di depan mereka. Lalu ... Damian bersama Shely, Dion, Livia, Ando dan Rean. Tidak ada foto dirinya.
Hati kecil Rain merasa sedih sekaligus sakit. Rupanya memang Rain tidak pernah dianggap oleh keluarga ini. Entah apa yang terjadi sebenarnya selain dirinya dibenci akibat kecelakaan.
"Akhirnya pembantu kita datang juga!" ucap seorang gadis berambut panjang itu. Sekilas wajahnya mirip Shely.
Ah, jadi dia Livia?
Gadis itu menatap tidak suka ketika Rean menggandeng tangan Rain. Livia segera menarik tangan Rean agar melepaskan genggamannya.
"Apa-apaan sih!" celetuk Rain. Aura dingin itu seketika keluar.
"Lo yang apa-apaan! Sana pergi bantuin para pelayan nyiapin makan malam! Jangan bengong aja di situ!" teriak Livia.
"Livia! Dia kakak Lo!" Rean tidak terima jika Rain masih saja diperlakukan seperti ini.
"Ada apa sih ribut-ribut?" Shely yang sedang menuruni anak tangga pun segera menghampiri mereka.
"Rean, Rain, kalian dateng-dateng kok bikin keributan?"
"Ini sih Rain, bukannya pergi malah enak-enakan gandeng tangan Kak Rean, Ma!" Livia segera memeluk lengan Rean.
"Rain, ke dapur sana!"
"Bang, kamar gue dimana ya? Capek nih!" Rain tidak memperdulikan ucapan Shely dan juga Livia.
"Ayo, gue anter!" Rean melepas tangan Livia yang melingkar di lengannya.
"Kak, Rean!" Livia menghentakkan kakinya. "Mah, Rain tuh ngeselin banget! Kak Rean jadi nggak mau sama Livia!" adu gadis manja itu.
"Rean! Antar gadis sialan itu ke kamar pelayan yang ada di paviliun!" titah Shely.
"Kamar Rain di atas bukan di paviliun!" Rean terus saja melangkah menaiki anak tangga.
"Berani melawan saya?" Shely menarik tangan Rain dan segera melayangkan tangannya.
Rain segera menahan tangan itu dan berkata, "Sekali lagi tangan ini memukul saya maka saya tidak akan segan-segan memukul anak anda juga!" Tatapan tajam Rain membuat nyali Shely menciut.
Shely terkejut dengan sikap Rain yang berbeda. Jika dulu dia akan menjadi gadis penurut dan bisa Shely jadikan boneka juga melampiaskan kekesalan. Namun, sekarang Rain benar-benar mengerikan. Kedua mata itu menatap tajam dengan aura dingin dan mengerikan yang kentara.
"Mah, kok si Rain jadi serem gitu sih?" bisik Livia.
"Nggak tahu mama juga! Dia mulai berani, lihat saja nanti!" Shely pun beranjak pergi.
Sementara Livia menatap tidak suka jika Rean dekat dengan Rain. Dia kemudian menyusun rencana agar Rean mau menuruti semua keinginan Livia lagi.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Rean saat berada di kamar milik Rain.
"Kenapa memangnya?"
"Soal tadi, gue takut Lo nggak betah!"
Rain menepuk pundak Rean, " Lo tenang aja, gue baik-baik aja karena gue bukan Rain yang dulu!" jawabnya.
Rean tersenyum dan memeluk adiknya itu erat.
"Kalau ada apa-apa bilang ya. Sekarang Lo istirahat aja dulu. Nunggu papa pulang."
Rain mengangguk. Kemudian gadis itu membuka laptopnya dan mencoba meretas cctv di mansion Damian ini. Dia harus berhati-hati ketika nanti mencari bukti-bukti yang dia butuhkan.
Sementara Rean yang baru saja ingin merebahkan tubuhnya karena terlalu lelah, harus diganggu kembali oleh kehadiran Livia.
"Kak, aku kangen tahu sama kakak!" Livia datang dan langsung memeluk lelaki itu. Aroma parfum yang sangat Livia sukai.
"Kakak, kita nonton film yuk!"ajaknya.
Sementara Rean memberontak, lelaki itu berusaha melepaskan pelukan Livia.
"Liv, lepas! Gue capek pengen istirahat!"
Livia melepaskan pelukannya dan memasang wajah cemberut, "Kak Rean sekarang nggak sayang lagi sama aku!" Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Bukan begitu, Livia! Gue beneran lelah!" Rean menatap jengah.
Livia menatap wajah tampan Rean. Lalu mendaratkan sebuah kecupan di pipi lelaki itu.
"Kakak boleh istirahat, tapi aku mau peluk kakak sebentar aja!"
Rean pun pasrah dan memilih menuruti permintaan adik tirinya itu. Daripada terus menolak yang pasti tidak akan ada ujungnya.
Rean merebahkan tubuhnya di ranjang sementara gadis itu memeluk tubuh Rean.
"Kak, peluk!"
Rean memiringkan tubuhnya. Livia memeluk lelaki itu. Menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Rean. Gadis itu tersenyum puas. Keduanya memejamkan mata.
Rain masih berkutat dengan laptopnya. Sudah satu jam dia mencoba meretas cctv itu dan akhirnya berhasil. Dia terkejut karena di kamar miliknya itu ada dua cctv. Satu di kamar mandi dan satu lagi di depan tempat tidurnya. Rain menatap ke arah pigura foto dirinya. Lalu mencoba mendekat ke tepi ranjang. Kemudian kembali ke meja belajar. Menatap cctv itu dilayar laptopnya. Rupanya di dalam pigura itulah cctv terpasang. Entah untuk apa sebenarnya.
Lalu dia membuka pintu kamar mandi, memastikan dimana letak cctv itu berada. Setelah itu Rain kembali ke layar laptop. Tepat di shower dan bathtub ada cctv yang bisa memperlihatkan aktivitasnya yang sedang mandi. Entah siapa yang memasangnya. Ini sudah keterlaluan. Rain segera melepas semua cctv itu.
"Siapapun elo, gue nggak bakal bisa Lo jebak!" ucapnya di depan cctv tersebut dengan aura dingin yang terpancar.
Rain mengambil benda kecil itu dan memasukkannya ke dalam saku celana. Cctv yang ada di pigura itu dia letakkan pada tembok pembatas balkon dan mengarah ke luar.
Rain menuju sebuah kamar yang ternyata adalah ruang kerja milik Damian. Di sana ada sebuah laptop yang menyala. Rain perlahan mengedarkan pandangan keluar untuk memastikan tidak ada siapapun. Gadis itu melihat layar laptop itu dan ternyata tidak menemukan apapun. Mungkin itu laptop baru. Rain meletakkan cctv itu di bawah meja kerja Damian. Satu lagi dia letakkan pada rak buku.
Rain mengibaskan kedua tangannya yang seolah kotor itu.
"Tugas selesai!"
Gadis itu bergegas untuk keluar. Tepat di depan pintu kamar Rean yang sedikit terbuka itu dia mengintip. Melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Rean sedang tidur bersama Livia sambil berpelukan. Seperti yang sering mereka lakukan.
"Lo sayang banget ya sama Livia. Gue kira Lo sayangnya sama gue!" Rain menghela napas berat. Hatinya tersayat bersama tenggorokan yang sakit.
Dia benar-benar kecewa kepada Rean. Lelaki itu pernah bilang jika dia memang tidak perduli pada Livia. Bahkan menganggap adik saja tidak. Baginya dia hanya memiliki satu adik yaitu Rain. Melihat ini Rain yakin jika ucapan Rean waktu itu hanya untuk menenangkan dirinya.
Rain kembali ke kamar, tapi harus menghentikan langkahnya ketika bertemu dengan Shely yang menatapnya tidak suka. Rain tidak perduli jika ada Shely di hadapannya. Dia terus berjalan dan membuka pintu kamar Rain tanpa sepatah katapun.
"Anak sial! Sana temui calon mertua Lo, jangan sampe Lo berkata macam-macam ya!" Shely menarik rambut panjang Rain.
Dengan sigap gadis itu membalas jambakan Shely.
"Sudah gue peringatin sama elo jangan pernah tangan ini nyentuh gue! Kalau anak kesayangan Lo itu pengen selamat!" Rain melepas jambakannya pada rambut Shely.
Wanita itu meringis kesakitan. Jambakan Rain bukan main-main. Seakan kulit kepalanya hendak terlepas.
"Anak tidak tahu di untung! Sudah enak tinggal di rumah ini masih aja berani!" teriak Shely yang tidak di perdulikan oleh Rain.
Gadis itu sudah menjauh sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Di ruang tengah sudah ada kedua orangtua Kenan dan ... Lelaki yang sangat Kenan benci. Rain menatap dingin seorang lelaki yang duduk dengan santainya bersama seorang wanita. Dia adalah papa Kenan yang tidak lain sugar Daddy Ella.
Rain menyapa mereka dan menyalami keduanya. Tatapan Rain pada Tuan Arya seolah menyiratkan sesuatu.
"Rain, ya ampun. Tante kangen banget lho!" ucap Gina, mama Kenan.
Rain hanya menanggapi dengan senyuman.
"Rain, sekarang kamu banyak berubah ya?" ucap Arya, dia juga menatap Rain aneh.
"Eumm ... Ya begitulah, Om. Harus berubah biar nggak selalu di injek-injek sama orang lain!" Rain melirik ke arah Kenan . Lelaki itu membuang wajah.
"Memangnya siapa yang buat kamu kesal, Rain?" tanya Gina.
"Adalah, Tante. Maaf ya Rain nggak pernah main lagi ke rumah."
"Iya nggak apa-apa. Ngomong-ngomong gimana sekolah kamu lancar kan? Kenan masih suka buat kamu kesel nggak?"
Rain melirik sebentar ke arah Kenan, " Lancar, Tante. Kenan baik banget sama aku. Dia memang calon suami idaman!" Sambil berucap dia melirik ke arah Arya.
Lelaki itu berdehem dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Tatapan Rain seakan mengibarkan bendera peperangan.
"Ya, Kenan orang yang setia. Om dan Tante memang tidak salah memilih kamu buat jadi menantu!" kata Arya.
"Benarkah? Kalau begitu Rain bahagia banget dong ya nanti bisa nikah sama Kenan. Nggak perlu khawatir lagi kalau Kenan bakalan selingkuh!" Ucapan Rain memang santai tapi penuh penekanan pada kata 'selingkuh'.
"Tante paling nggak suka dengan perselingkuhan. Jadi Tante selalu memberi nasehat pada Kenan kalau jangan pernah menyakiti hati perempuan."
"Apalagi sama Om. Tante sangat senang memilik Om kamu ini. Dia memang lelaki setia. Jadi Tante selalu bilang untuk mencontoh papanya. Bagaimana dia mencintai Tante dan memperlakukan Tante dengan baik. Kamu jangan khawatir, Rain!" Gina memeluk pundak Rain. Kebetulan Rain duduk di sebelah Gina. Sementara kedua lelaki itu di sofa depan mereka.
Rain tersenyum, tentu saja senyum itu penuh arti. Bagaimana bisa Arya mengatakan jika Kenan itu setia. Anak lelakinya saja mempunyai selingkuhan apalagi dirinya. Ya, memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Memiliki hubungan pertunangan dengan orang lain tapi berpacaran dengan orang yang berbeda.
Sementara Tante Gina dengan bangganya mengatakan jika Arya itu sangat setia dan memperlakukannya seperti seorang ratu. Tidak tahu saja di belakang Gina, Arya memiliki simpanan yang usianya sama dengan putranya itu. Bahkan perempuan itu juga menjalin hubungan dengan putranya. Benar-benar lucu.
"Wah, senang ya, Tante. Punya suami seperti Om Arya. Aku juga berharap Kenan seperti itu!" Rain masih memasang senyumannya. Namun, saat menatap kedua lelaki itu senyum Rain pudar.
Arya yang merasa aneh dengan Rain itu terus menatap tajam gadis tersebut.
"Hanya saja Om tidak suka jika memiliki menantu kurang ajar!" Arya membuka suara. Aura dingin dan terkesan tegas itu terlihat. Rain merinding mendengar ucapan Arya itu.
Siapa yang kurang ajar? Andai saja Kenan tidak melukai hati Rain. Gadis itu tidak akan pernah mengusik kehidupan Kenan dan juga Ella. Siapa sangka sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Mencari informasi tentang Ella, tanpa sengaja dia mengetahui hubungan Arya dengan gadis itu.
Sangat menjijikan ketika mendengar obrolan mereka dengan panggilan baby dan Daddy. Sikap Arya yang bermanja dengan Ella begitu juga gadis itu. Sungguh muak Rain mengingat semua itu. Bahkan Rain juga melihat adegan ciuman Kenan dan Ella di dapur apartemennya. Juga di sebuah taman belakang sekolah saat dia berencana ingin membolos.
Rain sudah meretas cctv di apartemen milik Rean itu. Hatinya sudah sangat banyak terluka. Sekarang dia tidak mau percaya pada siapapun lagi termasuk Rean.
"Tuan, Nyonya, tuan dan nona muda mari ke ruang makan. Tuan Damian sudah menunggu," ucap seorang pelayan yang memakai seragam khas pelayan.
Mereka semua pergi ke ruang makan dengan perasaan yang berbeda-beda. Gina merasa tidak enak pada Rain atas ucapan suaminya itu. Entah apa maksudnya. Sementara Kenan sudah menahan emosinya dan ingin segera menemui Rain untuk berbicara empat mata. Arya? Dia sangat curiga dengan Rain. Tatapan dan ucapan Rain seakan menginterogasi dirinya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Me Ta
bertele tele
2024-06-23
1
Fitrian
karena loe cuma tiri busuuukkkk🐽🐽
2024-06-06
0
Fitrian
cuiiiiiihhhhh cuiiiiiihhhhh🧠 🐽🐽🐽
2024-06-06
0