Bab 7

Bab 7

Suara tamparan itu menggema di ruang tengah kediaman Damian Klopper, tatapan tajam terus tertuju pada gadis yang kini sedang memegangi pipinya. Gadis itu menunduk, rasa perih dipipi tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya. Tidak ada air mata yang keluar dari kedua mata bulat itu. Hal ini sudah biasa dia rasakan ketika melakukan kesalahan yang sebenarnya dia sendiri tidak tahu apa salahnya.

Sementara pemuda yang usianya sama seperti gadis itu hanya memandang dengan tatapan entah. Hatinya juga terasa sakit, tapi dia tidak tahu harus bagaimana. Ingin membela tapi dia tidak mau jika ikut dimusuhi keluarganya.

Plak!

Lagi, tamparan itu terdengar. Damian belum puas jika kedua pipi gadis itu tidak merasakan tamparannya.

"Bodoh! Bisa-bisanya kamu mendapatkan nilai lima dipelajaran matematika! Rean saja selalu mendapatkan nilai sempurna!" Damian menoyor kening gadis itu dengan telunjuknya.

"Gadis macam apa kamu ini. Dasar pembawa sial!" Damian menjambak rambut Rain sekuat tenaga.

Rain hanya diam saja, tidak ada lagi perlawanan dan bahkan sepatah katapun darinya. Dia menikmati setiap hukuman yang diberikan Damian. Sementara Rean hanya menatap di ujung tangga. Di belakang Rean ada lelaki yang lebih tua darinya. Dia malah sibuk memakan kripik kentang, seolah pemandangan di ruang depan itu adalah sebuah tontonan.

"Mampus kan lu, Rain! Punya adik bikin malu aja kerjaannya!" ujarnya.

Rean menoleh dan hanya menghela napas saja. Hatinya sudah tidak kuat lagi, dia ingin marah dan mengajak Rain pergi dari sini saat ini juga. Rean juga bisa merasakan apa yang Rain rasakan. Mereka ini kembar meski tidak identik.

"Urusin tuh sodara kembar Lo! Jangan bisanya nyusahin aja. Gara-gara dia juga nyokap meninggal!"

"Bang, dia juga adek Lo!" gumam Rean.

"Adek gue cuma Lo ya! Gue nggak pernah anggap dia adek. Mati aja gitu, daripada hidup nyusahin. Kenapa nggak dia aja yang mati sih. Kenapa harus nyokap!" Lelaki itu terlihat sangat kesal dan menyimpan dendam kepada Rain.

Puas memberi hukuman pada Rain, Damian pun pergi keluar rumah dan kembali ke kantor. Sementara Rain berjalan ke kamar dengan langkah tertatih. Kedua kakak lelaki itu menatapnya dengan tatapan berbeda-beda. Rain melewati mereka begitu saja, hatinya sudah terlanjur sakit. Tidak ada tempat bersandar untuk sekadar mendengarkan keluh kesahnya.

Dia hidup dengan keluarganya, tapi dia merasa sendiri. Bahkan saudara kembarnya pun sangat cuek padanya.

Rain sangat lelah menjalani kehidupannya. Dia ingin pergi bersama mamanya. Dia rindu belaian lembut seorang mama. Hidupnya telah berubah saat Kimberly tiada.

"Aku nggak kuat, Ma. Aku mau ikut mama. Biarkan Rain mengakhiri ini semua!"

Sebuah pisau kecil dia goreskan di pergelangan tangannya.

"Rain!"

"Rain!"

"Rain, bangun!"

Gelap, semua gelap. Kegelapan berganti sebuah cahaya yang menyilaukan, dia tidak lagi mendengarkan apapun. Hati Rain terasa sakit, dadanya sesak dan air mata menetes telah membasahi wajahnya.

"Rain!" Panggilan itu terdengar sangat jelas, bahkan lebih lembut dari yang dia dengar tadi.

"Rain, bangun!" Tepukan lembut dipipinya terasa nyata.

Rain membuka mata, kesadarannya pulih tapi rasa sakit itu belum hilang dari hatinya.

"Abang!" Rain memeluk Rean sangat erat, entah kenapa dia sangat ketakutan.

Rean merasakan itu, tubuh Rain bergetar. Dia membiarkan Rain menangis. Entah kenapa sejak tadi Rean merasa hatinya sakit. Saat ke kamar Rain, dia melihat adiknya sedang terpejam tapi air mata menetes dengan wajah yang pucat. Rean berkali-kali mencoba membangunkannya, tapi Rain tidak kunjung sadar.

Kalimat yang sempat Rean dengar saat Rain terpejam benar-benar menyayat hatinya.

"Kamu mimpi buruk?" tanya Rean sambil mengelus punggung Rain.

"Abang, kenapa dulu jahat sama gue?" tanya Rain dengan suara parau.

Rain mengalami mimpi buruk, tidak itu sebenarnya adalah kilasan ingatan Rain yang dulu. Agar Lea yang kini telah menjadi Rain tahu apa penyebab Rain asli ingin bunuh diri. Entah mengapa dimimpi itu Lea juga merasakan sakit, hatinya sakit melihat Rain asli mengalami kekerasan. Tidak ada yang perduli padanya. Bahkan Lea yang mengira Rean sangat perduli, ternyata dulunya sangat cuek.

"Maafin gue, Rain. Maafin gue!" Rean pun meneteskan air mata.

Rain yang sudah tenang, melepaskan pelukan Rean. Dia menatap lekat wajah yang mirip dengannya. Rain bertanya-tanya dalam hati.

"Kenapa Rean diam saja saat Rain disakiti?"

Rean yang ditatap seperti itu pun menyadarinya. Rean pikir jika ingatan Rain sedikit demi sedikit kembali. Hal yang sangat dia takutkan jika Rain kembali membencinya.

"Gue bisa jelasin semua ke elo! Gue bukan nggak mau nolongin Lo, Rain. Semua ini karena gue...." Rean menggantung ucapannya. Dia tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya lagi.

"Gue apa?" Rain sudah tidak sabar menunggu penjelasan Rean.

Dia penasaran dengan kehidupan Rain asli yang dulu. Kehidupan seperti apa yang Rain jalani dulunya. Mendapatkan perlakuan buruk, selalu dirundung dan diancam. Ah, sungguh sulit membayangkannya. Bahkan siapapun yang diposisi Rain pasti tidak akan kuat.

"Lo hebat, Rain. Bisa hadapi ini semua sendiri. Gue bakal berjuang dapetin keadilan buat Lo! Gue janji bakal buat semua yang nyakitin Lo bertekuk lutut!" batin Rain.

Lea yang ada ditubuh Rain benar-benar takjub dengan sosok gadis yang dia temui saat dimimpi. Senyum yang terlihat bahagia itu rupanya menyimpan banyak luka. Sekarang Lea tahu, kenapa Rain tersenyum saat melepas tubuhnya untuk Lea, karena dia sudah tidak akan lagi merasakan sakit yang teramat dalam. Baik fisik maupun mentalnya.

"Gue diancam, Rain. Gue nggak bisa nolongin Lo. Gue juga nggak mau kita jadi gelandangan dan putus sekolah. Gue bertahan demi Lo, demi masa depan kita. Lo juga belum tahu darimana gue dapetin ini semua. Sebenarnya gue belum cerita ke elo saat Lo tinggal di sini."

Rupanya ada banya teka-teki yang harus Rain pecahkan. Rumit, ini sangat rumit. Ah, kepala Rain terasa pusing jika memikirkannya.

"Bang, gue laper!" kata Rain dengan polosnya.

"Hah?" Rean terkejut, disaat dirinya sedang serius, Rain malah berkata seperti itu. Entah mau tertawa atau marah.

"Nanti ngomongnya. Gue laper, buatin gue mie instan kek. Baru deh Lo cerita!" usul Rain yang diangguki oleh Rean.

Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Mereka belum memejamkan mata kembali. Malah sekarang rasa kantuk itu hilang dan berganti rasa entah. Rean yang sibuk dengan peralatan dapur, membuatkan mie instan untuk Rain. Sementara gadis itu hanya duduk di sofa sambil bermain game di ponsel barunya.

Aroma mie instan menusuk indera penciumannya, membuat perut Rain semakin meronta-ronta untuk diisi.

"Bang, cepetan kek! Gue laper nih!" teriak Rain sambil tersenyum.

Mengerjai seorang kakak itu wajar kan ya? Sesekali mungkin tidak apa-apa. Hidup itu kan harus ada hiburan, meski sebanyak apapun masalah yang harus dihadapi.

Rean datang membawa nampan berisi dua mangkuk mie instan dan dua gelas air putih. Dia meletakkannya di meja.

"Silahkan, tuan putri!" ujarnya.

"Air putih doang? ck, apa kek soda atau susu. Gemes banget punya abang kaga pengertian sekali!" protes Rain sambil meniup kuah mie agar dingin.

"Ngimpi apa gue tadi!" Rean menggeleng. Dia kembali ke dapur untuk membuatkan segelas susu.

"Nih, masih panas tapi!" Rean menyodorkan segelas susu untuk Rain.

Rain hanya mengangguk, menikmati mie instannya. Rean hanya menggeleng lemah. Dia duduk di sebelah Rain sambil menikmati mie instan miliknya. Mereka makan dalam keheningan.

"Ah, kenyang!" gumam Rain.

Segelas susu dan mie telah habis.

"Lo banyak juga makan!"

"Cerita sekarang!" Rain menepuk p

undak Rean.

"Gue minta maaf, Rain. Gue udah nyakitin Lo. Gue___"

"Belum lebaran, Bang. Tar aja minta maafnya. Mending Lo cerita deh sama gue biar bisa tidur nyenyak nih!"

Rean terkekeh. Ada saja tingkah Rain yang membuatnya geleng kepala. Rain yang sekarang memang lebih menyenangkan. Rean sangat bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan segala doanya untuk merubah Rain.

"Gue dipaksa benci sama lo oleh Bang Ando saat kematian mama. Bang Ando selalu nyalahin Lo kalau Lo itu penyebab kematian mama. Gara-gara mama nolongin Lo mama jadi meninggal. Rain, gue sebenernya selalu bantu Lo kalau habis dihajar papa. Gue selalu diam-diam ngasih makanan ke elo, gue selalu diam-diam ngobatin luka Lo, gue selalu minta maaf sama Lo, tapi Lo nggak pernah mau dengerin gue. Lo nggak perduli dan memilih ngusir gue. Lo selalu diam nggak pernah bicara lagi sama gue sejak kejadian itu. Maafin gue, Rain." Rean menyesali perbuatannya dimasa lalu.

Melihat Rain yang mengalami depresi dan mencoba bunuh diri membuat Rean terpukul. Dia ingin Rainnya kembali, saat itu juga papa dan abangnya itu tidak pernah menjenguk Rain di rumah sakit. Bahkan untuk sekadar bertanya kabar saja tidak pernah. Rean pun akhirnya pergi dari rumah dan ingin hidup bersama Rain saja entah sampai kapan. Rean ingin papanya sadar, bahwa semua yang menimpa mama adalah takdir.

"Andai mama masih hidup, pasti mama akan menasehati papa. Mama pasti sangat sakit hati jika anaknya terlantar seperti ini. Entah kenapa saat aku menjenguk mama disaat Bang Ando dan papa pergi, mama menyuruhku untuk mencari berkas-berkas apartemen, rumah dan berkas-berkas penting lainnya. Mama juga memberi kita tabungan yang tidak akan habis. Mama sudah menyiapkan semuanya saat kita dalam kandungan tanpa sepengetahuan papa. Gue juga nggak ngerti kenapa mama menyiapkan itu semua. Bahkan sampai sekarang semua berkas itu belum gue buka. Hanya apartemen ini yang baru gue cari. Itupun atas suruhan orang kepercayaan mama. Dia datang secara diam-diam bahkan dia tahu semua yang menimpa Lo."

Rain mendengarkan dengan seksama penjelasan Rean. Memang sangat sulit, pasti ada alasan mengapa mamanya menyiapkan semua itu. Bahkan tanpa sepengetahuan papanya. Ah, mungkin saja memang untuk masa depan anaknya agar tidak mendapatkan kesusahan. Seorang ibu pasti sudah memikirkan masa depan anaknya saat dalam kandungan. Tentu saja dia menyiapkan sebaik mungkin kan?

Meski terlahir dari orang berada tetap saja yang namanya kehidupan seperti roda berputar. Kadang dibawa dan kadang diatas.

"Emang nyokap itu orang kaya ya? Rumah peninggalan nyokap di mana? Gue pengen lihat!" Rain terlihat sangat antusias.

"Lo nggak marah sama gue?" tanya Rean. Lelaki itu sejak tadi takut jika Rain kembali memusuhinya seperti dulu.

Rain tersenyum tulus. "Buat apa, Bang? Lo udah mengakui kesalahan Lo. Jadi buat apa gue marah? Toh sekarang Lo perduli sama gue." Rain memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tertata rapih.

Rean merasa lega karena semuanya baik-baik saja. Rain masih Rain yang sama saat keluar dari rumah sakit.

"Jujur gue kaget saat Lo panggil gue Abang. Saat Lo meluk gue, saat Lo pegang tangan gue. Semua itu bikin gue terkejut. Itu pertama kali buat gue sejak meninggalnya mama."

"Udah lupain aja. Gue yang makasih sama Lo karena Lo masih mau jagain gue saat gue nggak sadar." Rain menepuk pundak Rean pelan.

Gadis itu menjadi penasaran dengan kabar Damian. Selama ini kenapa dia tidak mencarinya. Bahkan dia tidak menemukan keanehan di sekolah. Rain jadi merasa ada yang aneh atau mungkin saja ada mata-mata Damian di sekolah.

Damian memang bukan orang sembarangan. Rain sudah menyusun rencana yang ada di kepalanya. Sebenarnya sebelum Rean bercerita, Rain sudah mencari informasi tentang Kimberly dan Damian. Pencariannya belum selesai karena dia terlalu sibuk. Mendengar cerita Rean, Rain ingin sekali melanjutkan pekerjaannya itu.

Dia juga sudah meretas profil Damian. Soal retas Rain sudah sangat mahir. Saat menjadi Lea dulu dia adalah seorang hacker, dia belajar dari salah satu teman kampusnya. Jadi keahliannya tidak perlu diragukan lagi. Meski memang sulit meretas semua yang berkaitan dengan Damian, akhirnya Rain berhasil. Orang yang melindungi Damian tidak sebanding kepandaiannya dengan Lea yang ada ditubuh Rain.

"Lo jangan pernah bolos lagi ya, Lo harus berjuang dapetin nilai bagus. Gue yakin Lo pasti bisa!" Rean merapikan anak rambut Rain dan menyelipkan di belakang telinga.

"Gue pinter kok, Bang. Hanya saja gue males. Gue begitu karena biar Lo selalu dibanggain papa!" Rain berucap asal. Menurut cerita dan mimpi yang dia tangkap Rain asli pura-pura bodoh agar saudara kembarnya lebig unggul dan tidak merasakan amukan Damian.

"Lo selalu bilang gitu!" sahut Rean.

Rain tentu saja terkejut, dia hanya bicara asal tapi rupanya kata itu pernah Rain asli katakan. Ah, memang sebuah kebetulan yang pas.

"Bang, ngantuk. Gue tidur dulu ya. Lumayan besok libur!" Rain bangkit dan menuju kamarnya.

Sementara Rean memberesi piring dan gelas bekas makan mereka. Dia tidak pernah mengeluh jika Rain malas. Rean selalu memanjakan Rain demi menebus kesalahannya dimasa lalu.

Bersambung....

Terpopuler

Comments

fitri

fitri

fiuuuuu......ada bang macam ni beruntung nya hidup

2024-08-05

0

Fifid Dwi Ariyani

Fifid Dwi Ariyani

trussabar

2024-02-07

1

Naraa 🌻

Naraa 🌻

Rain jgn lupaiin Si Ella ambil video yg dia ambil balas lebih kejam bisa²nya melakukan pelecehan di area sekolah sampe kecelakaan

2023-07-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!