Cecilion memandang nanar ke depan kelas, tetapi tidak menyimak pelajaran yang sedang diterangkan oleh Pak Guru.
Pikiran pemuda itu melayang tak pada tempatnya, air mukanya pun nampak khawatir seperti sedang memikirkan sesuatu.
Sejak pelajaran pertama hari ini, Cecilion sama sekali tidak fokus mengikuti pelajaran.
Dia hanya diam, menatap lurus ke papan tulis seolah sedang memperhatikan membuat Pak Guru merasa bahwa Cecilion sedang memperhatikan apa yang sedang beliau terangkan.
"Kees, serius tidak tahu kenapa Mawar absen hari ini?" tanya Cecilion dengan suara berbisik kepada Kees yang duduk di belakangnya.
Kees menggeleng lesu. "andai aku tahu, aku pasti akan memberitahu kamu tanpa perlu kamu tanya."
Baru kali ini putri keluarga De Haas itu tidak masuk sekolah, membuat para guru dan beberapa sahabat Mawar merasa khawatir terlebih hal ini terasa sangat janggal mengingat tidak ada kabar sama sekali terkait alasan absennya Mawar hari ini. Meski itu hal yang dianggap melegakan bagi mereka yang suka merundung Mawar, tetapi perasaan Cecilion merasa khawatir.
Intuisi pemuda tampan itu seperti memberitahu bahwa Mawar sedang tidak baik-baik saja dan ia harus segera melakukan sesuatu.
"Sepertinya aku harus memastikan sendiri bagaimana keadaan Mawar di rumahnya," ucap Cecilion lagi.
"Apa kamu sudah gila?! Kamu mau datang ke rumah keluarga De Haas seorang diri?! Kamu sudah bosan hidup, hah?!" pekik Kees tertahan.
Pemuda itu cemas, dia tahu betul jika keluarga Van Der Linen dan keluarga De Haas adalah musuh bebuyutan bahkan semenjak kedua Meneer itu masih sama-sama belum menikah.
Hal itu masih belum jelas penyebabnya, tetapi yang jelas Kees tahu bahwa akan sangat bahaya jika Cecilion datang ke rumah keluarga De Haas seorang diri.
Meski Kees tidak tahu apa yang menyebabkan kedua kepala keluarga terpandang itu menjadi musuh bebuyutan sejak masih muda yang jelas itu bukan hal yang menguntungkan bagi Cecilion jika dia nekat pergi sendiri ke kediaman keluarga De Haas. Salah sedikit saja, bisa-bisanya terjadi pertumpahan darah yang mengerikan apalagi Meneer Van Der Linen terkenal tak segan-segan menyakiti orang lain secara fisik semenjak berkuasa sebagai gubernur di Batavia.
"Tidak boleh, mari kita susun rencana yang lebih matang setelah jam istirahat, Cecilion. Ingat, kamu harus mendengarkan aku sepenuhnya," bisik Kees dengan air muka tegas.
"Baiklah, apa boleh buat."
...****************...
Setelah beberapa jam berlalu, waktu istirahat akhirnya tiba. Saat semua teman sekelas mereka keluar dari kelas, Kees dan Cecilion masih berada di dalam kelas hendak berdiskusi dengan serius seperti sedang menyusun strategi perang.
Kees membuka kotak bekalnya, menunjukkan beberapa potong Ontbijtkoek kepada Cecilion agar ia turut memakannya.
Cecilion juga membuka kotak bekal miliknya, dia membawa sandwich yang berisi sayuran dan keju.
"Jadi, rencana apa yang kamu punya?" tanya Cecilion serius setelah menelan sandwich yang sudah ia kunyah.
"Kita akan datang berdua. Aku akan mengajak orang tua Mawar atau siapa pun yang ada di sana berbicara lalu kamu bisa menyelinap ke jendela kamar Mawar untuk memastikan kondisinya," jawab Kees sambil memotong Ontbijtkoek miliknya.
"Bagaimana kalau aku ketahuan oleh Babu atau Jongos di rumah Mawar?" Cecilion kembali bertanya, takut-takut kalau rencana mereka akan berakhir sia-sia.
"Ini adalah hari Jum'at di akhir bulan, banyak Babu dan Jongos yang bekerja pada keluarga De Haas mengambil libur mereka pada hari ini. Hanya ada tidak sampai lima orang yang masih bekerja, tetapi untuk pencegahan agar rencana ini tidak gagal aku sudah menyiapkan rencana B," terang Kees serius, dia sudah memperhitungkan dengan matang rencana mereka.
"Bagaimana kamu bisa tahu detail seperti itu?" tanya Cecilion tak habis pikir, membuat Kees terkekeh geli.
"Aku sering datang ke rumah Mawar dan lagi kami adalah teman sejak kecil jadi aku tahu betul bagaimana kebiasaan di rumah itu," papar Kees.
"Sebenarnya aku pun tak mengerti kenapa Papa dan Meneer De Haas jadi bermusuhan seperti itu," kata Cecilion sedih.
"Entahlah, padahal meski memiliki perangai yang dingin Meneer De Haas tetaplah seorang pria yang baik," balas Kees yang sudah sangat sering bertemu kepala keluarga De Haas.
"Ah sudahlah, bagaimana dengan rencana B?" tanya Cecilion tak sabaran.
"Kita sogok saja kalau yang ada di rumah itu hanya seorang Jongos atau Babu. Bukankah kamu punya banyak uang?"
Rencana yang disusun oleh Kees boleh juga, membuat Cecilion mengangguk setuju.
Mereka berdua lalu sepakat untuk pergi ke rumah Mawar setelah pulang sekolah.
...****************...
Bermodalkan uang saku mereka berdua yang terbilang banyak, Kees dan Cecilion memulai misi mereka untuk menjenguk Mawar siang itu sepulang sekolah. Kedua pemuda itu berjalan kaki setelah mengatakan pada sopir mereka masing-masing bahwa mereka akan belajar bersama selama beberapa jam ke depan.
Para sopir itu tidak memiliki pilihan lain selain tetap menunggu kedua pemuda itu pulang di depan gerbang sekolah menuruti perintah sang Tuan muda, takut menghadap Tuan dan Nyonya mereka kalau pulang tanpa membawa Tuan muda mereka.
"Aku lupa kalau sopir selalu menjemput setiap hari," keluh Cecilion.
"Ya, aku juga sampai tak memperhitungkan hal itu. Untung saja mereka tak berani melawan perintah," timpal Kees sambil menendang kerikil kecil di ujung sepatunya.
Langkah mereka lantas terhenti di depan sebuah rumah megah dengan halaman yang begitu luas serta memiliki beberapa pohon rimbun itu.
Rumah keluarga De Haas yang nampak lebih sepi siang ini, hanya ada dua orang Jongos yang sedang menyapu halaman depan rumah.
"Ayo kita coba memastikan keadaan," ajak Kees sambil melangkah masuk ke dalam area pekarangan rumah mewah itu.
Seiring dengan kesuksesan yang berhasil dihimpun oleh pasangan suami istri De Haas, mereka juga terus membangun rumah itu dengan semakin megah. Tak lupa, mereka juga sering mengadakan acara perjamuan atau pesta di setiap kesuksesan bisnis yang mereka berhasil raih.
"Permisi, Paman. Saya Kees dan ini teman saya Lio. Apa Mawar ada di rumah? Kami teman Mawar," sapa Kees santun, tak peduli bahwa lawan bicaranya adalah seorang pribumi.
Kees menyapa lebih ramah karena dia tahu bahwa kedua Jongos itu baru bekerja di rumah keluarga De Haas.
"Nona ada di rumah. Tapi apa keperluan Anda berdua, Meneer?"
"Kami harus mengerjakan tugas sekolah bersama-sama. Bolehkah kami masuk?" tanya Cecilion yang kini berusaha keras untuk bersikap santun kepada para Jongos itu seperti Kees.
Maklum, Cecilion yang biasa hidup bersama orang-orang berstatus sosial tinggi agak bingung bagaimana cara menghadapi para Jongos seperti ini dengan baik.
Kedua pria yang lebih tua itu nampak menimbang sejenak, berdiskusi kecil mengenai keputusan apa yang sebaiknya mereka ambil untuk kedua Tuan muda Belanda yang tengah berdiri di hadapan mereka berdua.
"Baiklah, tapi hanya satu jam. Karena sebenarnya Tuan tidak mengizinkan siapa pun bertemu Nona Mawar apalagi orang dari luar."
Cecilion dan Kees saling bertukar pandangan bingung kemudian.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments