Jono menghentikan motornya di depan rumah kosnya. Sebelum motor Jono benar-benar berhenti, kucing yang menumpang di jok belakang motor Jono sudah meloncat turun terlebih dulu. Sehingga Jono sama sekali tidak menyadari jika sedari tadi ada penumpang gelap di jok belakang motornya. Begitu Jono membuka pintu kosannya, sang kucing pun segera menyelinap masuk. Jono yang baru saja membeli beberapa mie instan untuk persediaan pun segera memasak satu bungkus untuknya makan siang ini. Sebab ia sedang malas makan di luar.
Tak lama ia sudah duduk di depan meja dan berhadapan dengan televisi bersiap untuk makan siang. Saat itulah, terdengar suara ponselnya berbunyi.
" Ya?"
"Bagaimana... apa kau sudah mengirimkan foto gadis itu pada temanmu?" terdengar suara seorang pria di seberang sana.
"Sudah... tapi saat ini dia sedang sibuk, jadi mungkin baru lusa ia akan mengerjakannya..." sahut Jono sambil mulai menyuapkan mie instan ke dalam mulutnya.
"Syukurlah... tapi apa kau yakin jika gadis yang kau lihat itu adalah gadis yang sama dengan gadis waktu itu?" tanya pria diseberang yang ternyata adalah Johan.
"Hem... tentu saja... kau fikir aku ini sudah rabun dan pelupa hah?"
"Bukan begitu... hanya saja tidak mungkin jika dia adalah gadis yang sama dengan gadis yang ada di dalam foto itu... secara melihat lukanya tidak mungkin gadis itu bisa selamat... jika aku fikir mungkin saja itu saudara kembarnya yang sedang mencari gadis itu..." terang Johan.
Jono langsung menghentikan makannya dan mulai berfikir.
"Mungkin kau benar... dan jika apa yang kau katakan itu memang benar maka kita juga harus membungkam gadis itu seperti yang kita lakukan pada saudarinya..." kata Jono yang langsung disetujui oleh Johan.
Jono sama sekali tidak menyadari jika sedari tadi ia tengah diawasi oleh sepasang mata tajam dari sudut ruangan. Setelah menutup telfonnya dengan Johan, Jono pun kembali melanjutkan makannya. Selesai makan ia pun memilih untuk duduk di teras kosannya sambil memghisap rokoknya. Sepasang mata yang merupakan milik kucing liar yang tadi mengikuti Jono pun tak lelah untuk tetap memperhatikan pria itu. Baru saja setengah batang rokok ia habiskan tiba-tiba Jono menepuk kepalanya ringan.
"Arggh! kenapa aku tidak kepikiran dari tadi sih?" gerutunya sambil tergesa masuk ke dalam kosannya.
Tak lama ia pun keluar sudah dengan mengenakan jaketnya, pertanda ia akan pergi keluar. Benar saja, ia tampak menutup pintu kosnya dan menguncinya. Serta mengeluarkan motornya dan bersiap menaikinya. Kucing itu pun kembali meloncat ke jok belakang motor Johan begitu pria itu menstater motornya. Kemudian mereka pun pergi dari tempat itu.
Hampir 15 menit perjalanan akhirnya Johan sampai ditempat yang ia tuju. Ternyata itu adalah sebuah rumah yang tampak sudah lama tidak berpenghuni. Dengan cepat Johan mengeluarkan kunci dan membuka pintu rumah itu. Ia pun lalu masuk ke dalam. Sementara itu sang kucing berusaha mengikuti pergerakan Jono dengan hati-hati agar tidak diketahui oleh Jono. Dengan memanjat atap rumah, kucing itu pun menyusup melalui sela eternit yang berlubang. Tampak olehnya Jono tengah memeriksa lemari yang ada di dalam sebuah kamar.
Setelah beberapa saat mencari akhirnya Jono terlihat tertawa senang sambil membawa sesuatu. Ternyata itu adalah sebuah kotak yang entah berisi apa. Jono lalu membawa kotak itu ke ruang depan untuk memeriksanya. Dikeluarkannya beberapa benda yang berupa lembaran foto.
"Hah... tidak sia-sia aku mencarinya kemari, ternyata memang benar jika Miko memang sempat mengabadikan wajah gadis itu dalam kamera polaroidnya..." ucap Jono sambil tertawa senang.
Sementara itu dari atas plafon sepasang mata masih setia mengawasi setiap tindakan Jono. Setelah tahu apa yang dilakukan oleh pria itu sang kucing segera melesat keluar dari tempat itu. Dengan menggunakan instingnya ia pun segera berlari untuk mencari Mitsy / Naina... sedangkan Jono dengan santai memeriksa foto-foto yang dikoleksi oleh Miko.
"Gadis itu sebenarnya memang sangat cantik... sayang tertutup dengan penampilan cupunya, ah sayang sekali aku tidak sempat mencicipinya karena keburu mati" ucap Jono sambil memandangi foto Naina yang diambil saat gadis itu dalam keadaan tidak sadar di dalam mobil ketika baru saja diculik.
"Tapi jika benar kalau kembaran gadis itu sedang mencarinya maka aku bisa mencicipi saudaranya itu... he... he... he... paling tidak rasanya pasti hampir sama... karena mereka kembar dan berwajah sama. Ha... ha... ha... Jono, sebentar lagi kamu akan mendapatkan jackpot yang besar... bisa mendapatkan perawan..." sambung Jono dengan pemikiran mesumnya.
Jono pun berniat untuk tidak memberitahukan informasi ini pada Jack. Ia ingin sesekali menjadi orang yang pertama mencicipi mangsanya. Memang selama ini sang boslah yang berhak lebih dulu mencicipi setiap mangsa mereka. Sedang dia dan temannya yang lain hanya mendapat sisa setelah menunggu giliran. Jack dan kelompoknya memang terkenal mesum dan suka m**p**k** korbannya. Bahkan mereka juga tak jarang membunuh korbannya setelah mereka puas.
Jono pun kemudian mengambil motornya dan berniat untuk pulang ke kosannya. Kini ia memilih untuk mencaritahu sendiri dimana alamat gadis yang ia perkirakan merupakan saudara kembar gadis yang sudah mereka bunuh beberapa bulan lalu. Sepanjang perjalanan Jono tersenyum-senyum mesum membayangkan rencananya jika berhasil. Sementara itu kucing liar yang tadi mengikuti Jono sudah berjalan mencari keberadaan Mitsy / Naina. Beberapa kali ia bertemu dengan kucing liar lainnya, dan dari mereka ia pun bisa menemukan alamat Naina / Mitsy dengan lebih mudah. Karena kebaikan Naina di masa lalu yang sering memberi makan pada kucing liar membuat gadis itu terkenal diantara para kucing liar.
Tidak sampai tengah malam, kucing liar itu pun akhirnya berhasil menemukan alamat Mitsy / Naina. Meski merasa lelah karena menempuh perjalanan jauh, namun itu setimpal dengan tekadnya yang ingin membalas budi dengan menolong Mitsy membalas dendam pada para pembunuh Naina asli. Mitsy / Naina yang belum juga tidur karena menunggu kedatangan kucing liar tadi siang pun merasa senang dan lega saat mendengar meongan kucing itu dari luar kosannya.
Cepat Mitsy / Naina membuka pintu dan membiarkan kucing itu untuk masuk ke dalam kosannya. Segera ia menyiapkan air minum dan juga makanan kaleng untuk menyambut kucing itu setelah menyelesaikan tugasnya. Ia memang sengaja membiarkan agar kucing itu makan dan minum terlebih dahulu karena ia tahu jarak yang di tempuh sang kucing sangat jauh untuk bisa sampai ke tempat kosnya.
Kucing liar itu pun merasa senang dengan perlakuan Mitsy / Naina yang memberinya makan terlebih dahulu sebelum menanyakan hasil dari tugasnya hari ini. Selesai makan dan minum, kucing itu pun mulai menceritakan semua penemuannya hari ini. Mitsy / Naina cukup terkejut saat tahu jika penjahat itu memiliki foto Naina yang dalam keadaan tidak sadar. Hal ini tentu saja membuatnya semakin geram. Bisa-bisanya mereka mendokumentasikan perbuatan keji mereka dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.
"Bisakah kau mengantarkan aku ke tempat bajingan itu sekarang? karena aku tidak bisa membiarkan bajingan itu untuk menghirup udara segar lagi esok hari..." kata Mitsy penuh dendam.
"Tentu saja..." sahut kucing itu singkat.
Ia yang sudah segar dan bisa mencari jalan pintas pun segera membimbing Mitsy untuk pergi ke tempat kos Jono. Keduanya memilih jalan singkat dengan melompat diatas atap rumah dan gedung. Keduanya bergerak lincah di dalam kegelapan malam. Mitsy mengenakan pakaian serba hitam tampak kontras dengan suasana malam. Selang 25 menit kemudian mereka pun telah tiba di depan kosan Jono. Tampak lampu kamar kos itu masih menyala. Sepertinya Jono masih belum tidur dan berada di dalam kosan. Dengan tenang Naina / Mitsy pun mengetuk pintu kosan Jono.
Tok... tok... tok...
Tak terdengar sahutan dari dalam.
Tok... tok... tok...
Sekali lagi Mitsy / Naina mengetuk pintu kosan Jono. Tak lama terdengar suara sahutan dari dalam.
"Siapa?"
Bukannya menjawab, Naina / Mitsy kembali mengetuk pintu. Terdengar gerutuan dari dalam kosan dan kemudian suara langkah kaki orang pun terdengar mendekat.
Kreeek!
Pintu kosan pun dibuka dari dalam. Jono melongokkan kepalanya ke depan. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat seseorang yang telah berdiri di depan pintu. Ia pun langsung tersenyum lebar, tak menyangka jika mangsa justru malah mendatanginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments