Pertolongan

Mitsy terus berlari mencari keberadaan Naina. Sesekali kucing itu terpaksa berhenti, mencoba mengerahkan instingnya demi mencari arah yang benar untuk menemukan Naina. Berkali-kali kucing itu hampir saja tertabrak oleh manusia atau pun kendaraan yang berlalu lalang. Meski sempat tertabrak mobil tapi kucing itu tidak gentar atau pun takut. Ia bahkan berani meloncat diatas atap mobil yang berjejer terparkir di tepi jalan demi mendapatkan jalan mulus mencari majikannya. Dia juga tak segan melompat pada atap mobil yang masih melaju demi bisa cepat menemukan Naina. Tak diperdulikannya rasa lelah dan juga sakit akibat luka yang dideritanya. Hanya Naina... Naina... dan Naina saja yang ada dalam fikirannya.

Setelah perjalanan panjang akhirnya kucing hitam itu pun sampai di pinggiran kota dengan menumpang dan bertengger di atas atap mobil yang kebetulan melaju ke arah yang dituju oleh Mitsy. Begitu mendekati area pinggiran kota, kucing itu pun langsung meloncat dari atas atap mobil yang ditumpanginya. Tak ada rasa takut dan dengan mulus kucing itu pun mendarat dengan tepat di atas trotoar jalan yang hampir berakhir karena kini sudah batas kota. Kembali ia mengendus udara dan mencoba mencari keberadaan sang majikan dengan menggunakan instingnya. Tak lama kucing hitam itu pun langsung berlari ke arah semak-semak dimana tak jauh dari disana terdapat hutan kota.

Sementara Naina kini tengah dilanda ketakutan. Bagaimana tidak, ia yang terluka tak bisa mempercepat langkahnya. Sedangkan orang-orang yang memburunya sudah semakin dekat. Itu terlihat dari berkas sinar yang berasal dari lampu senter mereka yang semakin dekat. Dengan tergesa Naina mencoba untuk bersembunyi diantara rimbunnya semak dan pepohonan. Tak lama derap langkah para pemburunya pun terdengar mendekat.

"S**l! dimana gadis b***g**k itu?" seru salah seorang diantara mereka.

Bahkan salah satu diantaranya juga mulai menebas-nebaskan senjata tajam yang dibawanya ke arah semak-semak di sekitarnya seolah tahu jika Naina akan bersembunyi disana. Naina memekik lirih saat salah satu kaki pria itu menginjak telapak tangannya yang berada di samping semak-semak. Naina langsung menutup mulutnya dengan tangannya yang lain agar tidak mengeluarkan suara yang membuat tempat persembunyianya diketahui. Cukup lama pria itu berdiri diatas telapak tangan Naina, hingga akhirnya ia pun melangkah pergi. Naina langsung menarik tangannya dan meniupnya pelan demi menghilangkan rasa sakit akibat tadi terinjak. Namun baru saja Naina merasakan sakitnya sedikit berkurang tiba-tiba saja...

"Hah... ternyata kamu disini rupanya!" seru salah seorang pria yang tadi mengejarnya.

Pria itu tampak tersenyum bengis saat melihat Naina yang meringkuk disemak-semak. Dengan kasar pria itu langsung menarik tangan Naina dan menyeret gadis itu ke tempat teman-temannya.

"Dasar gadis s**l! berani sekali kamu melarikan diri dari kami!" omelnya sambil menarik lengan Naina kasar.

Dengan terseok Naina terpaksa mengikuti langkah pria itu.

"Aku sudah menemukannya bos!" seru orang yang menemukan Naina saat sampai di tempat komplotannya berkumpul.

Dengan kasar ia pun menyentakkan Naina hingga tubuh gadis itu pun jatuh didepan pimpinan mereka.

"Ck... kamu memang cantik nona... tapi kamu juga sangat menyusahkan! pantas saja kalau kamu itu harus disingkirkan!" seru pemimpin komplotan itu sambil meraih dagu Naina lalu mencengkramnya dan mengangkatnya sehingga gadis itu berdiri sambil mendongakkan wajahnya pada orang itu.

"Cepat bawa ke markas!" titahnya pada anak buahnya.

Dua pria anak buah orang itu pun langsung menyeret Naina. Mereka kemudian kembali ke gedung tempat mereka tadi menyekap Naina. Tak lama mereka pun sampai, dan dengan kasar mereka menjatuhkan tubuh Naina ke lantai. Keadaan Naina yang menyedihkan karena pakaiannya yang kini kotor dan robek sana sini karena terkena ranting pohon bukannya membuat para pria itu merasa kasihan, tapi malah sebaliknya. Mereka semakin b**g****h melihat beberapa bagian tubuh gadis itu terekspose.

"Ternyata tubuhmu itu tidak kalah indahnya dengan wajahmu sayang..." ucap pimpinan komplotan itu sambil menyeringai.

"A... apa yang akan kalian lakukan?" tanya Naina takut.

Dalam hatinya Naina sudah mulai memikirkan hal terburuk yang akan mereka lakukan padanya.

"Tenang saja... kami akan membuatmu bahagia terlebih dahulu sebelum kami mengirimmu pada Tuhanmu" sahut orang itu masih dengan senyum menyeringai.

Naina berusaha untuk bangun dan berdiri meski tubuhnya masih bergetar karena menahan sakit dikakinya dan ketakutan.

"Jangan... aku mohon... lepaskan aku... aku janji tidak akan mengatakan apa pun pada orang lain tentang hal ini..." ucap Naina ketakutan dengan mata yang sudah mengembun.

Kedua tangan gadis itu pun ditangkupkannya di depan dadanya pertanda jika gadis itu putus asa dan memohon belas kasihan pada kelima pria yang ada disana agar mau mengampuninya dan melepaskannya.

"Ha... ha... lihatlah Jon! betapa menggemaskannya kelinci yang sedang ketakutan itu..." seru salah seorang diantara mereka.

"Benar sekali Mik..." sahut orang yang bernama Jono.

"Sayang sekali nona... permohonanmu itu malah membuat kami semakin b**g***h dan ingin segera mencicipimu" sambung Jono.

"Heh... kalian jangan berani-berani mendahuluiku! aku yang berhak menikmatinya sebelum kalian!" seru sang pimpinan tak terima.

"Maaf mereka bos, kami hanya main-main..." kata Beni mencoba meredakan kemarahan bosnya.

"Sudah... kalian tunggu diluar! setelah aku selesai dengan gadis ini baru giliran kalian..." sergah pria yang menjadi bos mereka itu.

Keempat pria lainnya pun segera keluar dari dalam ruangan itu, memberikan akses bagi bos mereka untuk menikmati gadis itu terlebih dahulu. Demi membunuh waktu keempatnya pun berdiri diluar sambil menghisap rokok dan melanjutkan acara minum-minum mereka. Sementara di dalam sana, Naina melangkah mundur saat pria yang dipanggil bos oleh keempat pria tadi itu mendekat kearahnya.

"Ja... jangan mendekat!" teriak Naina ketakutan.

"Kenapa? aku hanya akan mengajakmu untuk bersenang-senang sayang..." sahut pria itu sambil menyeringai.

Beberapa bagian tubuh Naina yang terekspos dan memperlihatkan kulit mulus dibalik pakaiannya itu membuat pria itu tidak bisa menahan n**s*nya dan fikiran liar sudah menari-nari dalam kepala pria yang berwajah sangar itu. Pria itu dengan mudah mendekati Naina yang tidak bisa bergerak cepat karena terluka. Dan...

Sreek!

Dalam sekali gerakan pria itu berhasil merobek baju kemeja Naina bagian depan, sehingga kini tampak dengan jelas kaos singlet yang menutupi tubuh dan pakaian dalamnya. Naina memang selugu itu. Ia masih saja merangkap pakaiannya seperti anak SD yang mengenakan seragam sekolahnya. Dan hal ini sungguh merupakan hal yang patut disyukurinya karena hal ini membuat tubuhnya tidak langsung terekspos setelah perbuatan pria bejat tadi.

"Ha... ha... ha... kau ternyata cukup cerdik untuk menutupi tubuh molekmu itu gadis manis... tapi percuma saja karena sebentar lagi tubuhmu itu akan aku lihat seluruhnya setelah aku berhasil membuka semuanya..."

"Tidak! jangan..." seru Naina frustasi.

Pria itu kembali menarik kemeja Naina yang sudah terkoyak bagian depannya... dan...

Sreekk!

Kembali kemeja itu terkoyak hingga kini tak ada yang tersisa. Dan kini terlihat Naina yang hanya mengenakan kaos singlet dan celana panjangnya. Melihat hal itu pria itu pun semakin b**n**s* untuk m***g***h* gadis itu. Naina tak dapat lagi bergerak karena kini tubuhnya sudah mentok pada dinding yang ada dibelakangnya. Dengan mudah pria itu mengungkung tubuh Naina, nafas pria itu yang berbau alkohol pun dapat tercium dengan jelas oleh Naina karena jarak mereka sangat dekat.

Naina menejamkan matanya dengan air mata yang mulai berjatuhan. Dalam hatinya ia berdo'a agar ada keajaiban sehingga ia bisa terlepas dari pria yang ada dihadapannya itu. Baru saja pria itu mendekatkan wajahnya hendak menyentuh bibir pucat Naina yang bergetar tiba-tiba...

Praang!

Pria itu pun terkejut saat mendengar suara pecahan kaca. Seketika ia pun menoleh ke arah suara. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat seekor kucing hitam sudah berada di dalam ruangan itu. Tampak tubuh kucing itu terluka dan berdiri tepat diatas pecahan dari kaca jendela yang pecah tadi. Bisa dipastikan jika kaca jendela tadi pecah adalah akibat perbuatan kucing hitam itu. Jendela gudang itu memang sudah ditutupi dengan palang kayu yang membentuk huruf X, namun tetap saja masih ada celah disana yang memungkinkan kucing itu untuk menerobos masuk.

"Kucing s**l*n!" mengganggu orang saja..." sungut pria itu jengkel.

"Hush! hush!" pria itu pun berusaha mengusir sang kucing yang terlihat diam dan menatap tajam padanya.

Naina yang kembali membuka matanya tampak terkejut saat melihat kucing hitam itu. Apa lagi saat ia dapat mengenalinya.

"Mitsy!" seru Naina yang langsung merasa bahagia karena Mitsy sudah berada disana.

Tak ia fikirkan bagaimana caranya kucing itu bisa sampai di tempat itu. Yang ia tahu ia merasa aman saat tahu Mitsy sudah berada disana.

"Hush! dasar kucing g**a!" sentak orang itu marah karena Mitsy tidak bergerak dari tempatnya dan malah kini menggeram galak.

Orang itu pun kaget saat tiba-tiba Mitsy menyerangnya dengan membabi buta.

"Arrgghh! b***g**k!" jerit orang itu saat merasakan kuku-kuku tajam Mitsy menembus kulitnya.

Mitsy semakin menjadi dengan menggigit tangan pria yang baru saja berusaha untuk m**p**k**a Naina. Pria itu kembali berteriak kencang membuat teman-temannya yang berada diluar bergegas masuk ke dalam. Naina yang melihat itu langsung mencari sesuatu untuk membantu Mitsy. Saat melihat sebuah balok kayu yang cukup besar ia pun mengambilnya. Dan saat para pria itu masuk Naina langsung menghantam mereka satu persatu menggunakan balok yang ada ditangannya. Tak menduga mendapat serangan dari Naina para pria itu pun terkejut dan mengaduh saat balok sebesar lengan orang dewasa itu menghantam tubuh mereka.

Melihat lawannya tumbang Naina langsung mengambil kesempatan untuk melarikan diri.

"Mitsy!" panggilnya agar kucing kesayangannya itu mengikutinya.

Benar saja setelah mendengar panggilan Naina kucing itu langsung melepaskan gigitannya dan melompat menyusul Naina yang telah berlari keluar terlebih dahulu. Keduanya pun langsung berlari beriringan. Mitsy pun mempercepat larinya dan memimpin didepan Naina sebagai penunjuk jalan. Meski bulu tubuhnya berwarna hitam namun tak menyulitkan Naina untuk bisa melihat tubuh kucingnya itu melesat di depannya dan mengikuti langkah Mitsy dibawah cahaya bulan. Mereka pun berlari menembus malam demi menuju jalan raya.

Sementara para pria yang ada di dalam gudang itu pun mengumpat kesal saat menyadari jika Naina bisa kembali kabur atas bantuan seekor kucing hitam. Hal ini membuat salah satu diantara mereka yang bernama Regi menjadi takut. Ia pun mengatakan pada teman-temannya untuk tidak lagi mengejar Naina karena ia sangat percaya dan takut atas mitos kutukan kucing hitam yang sangat populer di daerah asalnya.

"Kau itu seorang kriminal yang sudah sering menyiksa dan membunuh orang, tapi kenapa kau bisa-bisanya malah percaya pada mitos bodoh itu hah?" seru Jack yang merupakan pimpinan mereka.

Pria itu tampak marah karena luka yang diperbuat Mitsy cukup dalam. Ia bukan pria yang takut sakit dan juga luka, tapi ia tidak mau mengambil resiko jika hewan itu memiliki penyakit. Karena jujur saja meski ia seorang penjahat kejam yang ditakuti oleh lawan-lawannya, ia memiliki fobia akan rumah sakit dan juga jarum suntik. Selama ini ia sudah berhasil menutupi kelemahannya itu dari semua orang termasuk juga anak buahnya. Dan ia tidak ingin jika saat ini kelemahannya itu diketahui orang lain, terutama anak buahnya sendiri.

Terpopuler

Comments

Dian Rezki Lestari

Dian Rezki Lestari

waah Mitsy hebat

2023-02-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!