Meski masih agak linglung dengan keadaannya saat ini, Mitsy tetap berusaha tenang. Dan dengan kepingan ingatan pada otak Naina ia mencoba menggali apa yang sebenarnya terjadi hingga Naina bisa berada ditangan para penjahat itu. Meski agak sedikit pusing namun ia sedikit demi sedikit bisa merangkai kenangan Naina di malam naas itu. Dan kini ia bisa memahami bagaimana gadis polos seperti Naina bisa terlibat dengan orang-orang jahat itu.
"Ternyata karena kau mengetahui rahasia kejahatan mereka hingga kau akhirnya meregang nyawa..." gumam Nitsy sambil menyentuh wajah Naina yang kini menjadi wajahnya.
Ada sorot kerinduan terhadap gadis yang wajahnya kini ada di dalam cermin. Padahal baru semalam ia kehilangan majikannya itu. Tapi rasa rindunya akan kehangatan dan kelembutan Naina pada dirinya dan hewan lain terutama kucing membuatnya tak bisa menahan rasa sedihnya karena kini gadis itu sudah tiada. Seketika terlihat kilatan amarah berkelebat di bola mata yang kini memandang balik padanya. Kini bola mata itu bukan lagi milik Naina... tapi Mitsy... begitu juga dengan seluruh tubuh gadis itu. Sepenuhnya dalam kendali Mitsy. Karena roh yang ada di dalamnya adalah roh Mitsy.
"Baiklah Mitsy... mulai hari ini kau adalah Naina... Naina yang baru bukan Naina polos dan baik hati, tapi Naina yang akan membalaskan dendam pada orang-orang jahat itu dan menggagalkan rencana mereka untuk mencelakai bos Adrian..." ucap Mitsy tegas di depan cermin.
Tiba-tiba alarm jam Naina berbunyi menandakan jika hari sudah pukul 7 pagi. Mitsy / Naina pun berdecak. Ia tahu jika saat ini ia sudah terlambat untuk berangkat kerja karena Naina selalu berangkat dari rumah saat alarm itu berbunyi. Sedang saat ini ia belum siap apa-apa.
"Ck! saatnya menjalani kehidupan baru sebagai manusia... ayo Mitsy... ups! Naina... semangat!" ucap Mitsy / Naina menirukan Naina asli yang jika akan berangkat bekerja selalu mengucapkan kata-kata semangat untuk dirinya sendiri.
Dengan agak kikuk Naina / Mitsy berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena sering melihat apa yang dilakukan oleh Naina setiap harinya Mitsy / Naina pun berusaha meniru apa yang dilakukan gadis itu setiap hari.
"Heeerrr... dingin sekali air ini... kenapa Naina bisa betah berlama-lama melakukan ritual mandi ini setiap hari? aku saja dulu yang seminggu sekali sangat tidak nyaman melakukannya andai tidak dipaksa olehnya..." gerutu Naina / Mitsy sambil menggosok tubuhnya dengan sabun.
"Tapi dengan ini tubuhku jadi terasa nyaman dan wangi..." gumamnya lagi saat merasakan sensasi sabun yang membuat permukaan kulitnya terasa kesat dan wangi.
Tanpa ia sadari jika saat ini ia sudah hampir lima belas menit ia berada di kamar mandi hanya karena menikmati sensasi mandi pertamanya sebagai manusia. Selesai mandi ia pun bersiap untuk mengganti pakaiannya. Dan saat melihat koleksi pakaian Naina asli Mitsy / Naina pun merasa kasihan. Meski dulu ia seekor kucing tapi ia juga bisa membandingkan jika nonanya dulu selalu mengenakan pakaian yang sudah ketinggalan zaman karena menghemat uang. Kini ia akan merubahnya. Ia pun mulai memilih baju yang sekiranya masih bisa ia padu padankan agar tidak terlihat kuno.
Untuk itu ia pun mengingat beberapa model pakaian yang sempat ia lihat di televisi saat dulu menontonnya bersama Naina asli. Dengan ingatannya yang tajam ia perhasil memadu padankan baju Naina yang ketinggalan zaman menjadi trendy dan sangat cocok untuk ia kenakan hari ini. Setelah itu ia pun mulai memoles wajahnya agar terlihat segar seperti para wanita yang sering ia lihat diluar sana. Karena ia juga sudah sering melihat Naina juga melakukannya, ia tidak lagi merasa canggung. Apa lagi kosmetik milik gadis itu cukup sederhana hanya merupakan bedak tabur dan lip gloss.
Tanpa butuh waktu lama Naina / Mitsy pun siap untuk menjalani hari pertamanya sebagai Naina. Ia yang tak bisa memasak pun memutuskan untuk membeli sarapan di luar seperti yang dilakukan oleh Naina asli jika dirinya kesiangan saat akan berangkat kerja berdasarkan pada ingatan Naina. Saat berjalan keluar dari kamar kosnya, Naina / Mitsy tampak agak kaku. Maklum ini pertama kalinya ia berjalan dengan dua kaki dan mengenakan sepatu. Untung saja itu hanya sepatu flat yang datar hingga tidak terlalu menyulitkan Mitsy untuk beradaptasi.
Dengan bermodalkan ingatan Naina, Mitsy pun mencegat angkutan umum yang akan membawanya ke tempat kerja. Penampilannya saat ini yang terlihat lebih modis membuat banyak mata memandang takjub kearahnya. Apa lagi kini Mitsy / Naina tidak lagi mengenakan kacamatanya. Karena matanya sudah kembali normal bahkan lebih tajam dari penglihatan manusia biasa. Sehingga tidak memerlukan bantuan kaca mata. Dan hal ini membuat kecantikannya yang selama ini tersembunyi pun langsung keluar dan membuat semua orang yang melihatnya jadi terpana.
Saat hendak memasuki gedung tempatnya bekerja, ingatan tentang malam naas itu kembali terbayang dibenaknya. Membuat Naina / Mitsy memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hatinya yang bergemuruh karena ingin segera membalas dendam. Kembali dengan menggunakan ingatan Naina, Mitsy masuk ke ruang ganti untuk memakai seragamnya dan memulai mengerjakan tugasnya pagi itu. Namun baru saja ia keluar dari ruang ganti, Rika sudah menghadangnya.
"Bagus ya... datang terlambat dan sekarang malah santai baru mau mengerjakan tugasmu... kau tahu, gara-gara ulahmu aku harus menggantikanmu membersihkan seluruh ruangan di lantai tempat bagianmu bertugas. Kamu sengaja balas dendamkan?" serunya sambil berkacak pinggang.
"Aku memang terlambat... tapi itu tidak sengaja... dan aku belum berniat balas dendam padamu, karena jika itu terjadi, kamu bukan hanya akan menggantikan tugasku saja tapi akan lebih parah dari itu! jadi jangan membuat moodku semakin rusak pagi ini!" sahut Naina sarkas.
Rika tampak terkejut dengan perubahan sikap Naina yang kini berani membalasnya.
"Apa kau bilang?" serunya tak terima.
Baru saja Naina akan membalas ucapan Rika, bu Hana sudah berada disana.
"Rika... Naina... apa yang kalian lakukan?"
"Ma... maaf bu..." sahut keduanya bersamaan.
"Rika... anggap saja kali ini kamu membayar hutang kamu karena sudah sering memanfaatkan Naina selama ini... jadi sekarang kembali ke tempatmu!" kata bu Hana yang membuat Rika mendengus kesal namun tidak mampu melawan.
Akhirnya dengan perasaan kesal ia pun meninggalkan Naina dan bu Hana disana dan kembali ke tempat tugasnya.
"Kamu kenapa tumben hari ini bisa sangat terlambat Nai? apa kamu ada masalah?" tanya bu Hana lembut, sebab baru kali ini gadis itu melakukan kesalahan.
"Maaf bu... kemarin saya pulang larut karena sempat terkunci di toilet... dan baru bisa pulang saat pak satpam menemukan saya dan membukakan kuncinya, jadi tadi saya bangun kesiangan..." terang Naina dengan alasan yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Apa? jadi kamu terkunci di dalam toilet?" tanya bu Hana kaget.
"Iya bu... saya tidak tahu bagaimana hingga bisa terkunci di dalam sana... padahal kata pak satpam kunci itu tidak rusak... jadi mungkin saja memang ada yang sengaja ingin mengunci saya disana" terang Naina lagi.
"Apa kamu tahu siapa pelakunya?" tanya bu Hana penuh selidik.
Pasalnya ia sudah bisa menduga-duga siapa pelakunya, namun Naina malah menggelengkan kepalanya. Meski ia sudah bisa menduga siapa tapi Naina memilih untuk tetap diam dan akan membalas orang itu lain waktu. Akhirnya bu Hana hanya bisa menghembuskan nafasnya berat.
"Saya harap masalah ini tidak usah diperpanjang bu... yang terpenting saya semalam sudah bisa pulang meski sudah sangat larut..." ucap Naina pada bu Hana.
Hal ini tentu saja membuat wanita itu tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
"Baiklah jika itu mau kamu... sekarang kamu kembalilah bekerja... dan berhati-hatilah, jangan sampai hal ini terulang lagi" nasehatnya.
"Baik bu... terima kasih... kalau begitu saya permisi" ucap Naina.
"Ya..." sahut bu Hana.
Kemudian Naina pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Selama melakukan pekerjaannya Naina / Mitsy memasang mata dan telinganya untuk mengetahui orang-orang yang telah menyakiti Naina yang asli dan mencari cara agar bisa menemui Adrian, pria yang hendak diselamatkan oleh Naina hingga mengorbankan nyawanya sendiri. Tapi sayang hingga saat istirahat siang tak satu pun orang yang ingin ditemuinya itu terlihat di kantor.
"Heh! ternyata pekerjaan nona Naina selama ini sangat berat..." batin Mitsy.
Kini ia merasa bersalah saat mengingat dulu betapa Naina selalu saja mengutamakannya dari pada dirinya sendiri. Tak terasa air matanya pun meleleh.
Krruyuukkk!
Tiba-tiba bunyi perutnya menghentikan tangisannya. Ya... sejak pagi ia belum sempat makan, kini ia pun bingung dimana ia bisa mendapatkan makanan. Saat itulah ia teringat jika Naina yang asli selalu saja menyimpan makanan kucing baik di tas mau pun lokernya. Tadi pagi karena tergesa ia tak sempat memasukkan makanan kucing ke dalam tasnya. Jadi Mitsy kini mencoba mencarinya di dalam loker Naina. Dan benar saja, ia pun menemukan sebungkus makanan kering untuk kucing, lalu ia pun berusaha membukanya dan mencoba untuk memakannya. Ia berfikir jika dulu ia sangat menyukai makanan itu, maka sekarang pun pasti akan sama.
Tapi apa yang ia fikirkan itu sangat salah. Lidahnya kini tidak bisa merasakan kelezatan makanan itu seperti saat ia menjadi kucing dulu. Bahkan kini ia merasa mau muntah saat mengunyah makanan itu. Saat itulah sahabat Naina datang.
"Kau sedang apa Nai?" tanya Desi saat melihat Naina yang seperti mau muntah.
"Ti... tidak apa-apa... hanya saja aku salah mengambil makanan..." sahut Naina pelan.
Desi pun langsung melihat apa yang tengah di pegang oleh Naina dan langsung terkejut.
"Kau ini kenapa Nai? masak makanan kucing kau makan? apa dari pagi kau belum makan, sehingga makanan kucing ingin kau makan?" cecarnya.
Naina hanya bisa tersenyum kecut. Sesungguhnya sejak kemarin sore ia belum sempat makan. Sehingga saat ini perutnya sangat keroncongan.
"Ini... ambillah!" kata Desi sambil menyodorkan satu bungkus roti yang tadi ia beli di kantin.
"I... ini..."
"Makanlah! itu lebih baik dari pada kau harus makan makanan kucing... setidaknya ini makanan manusia dan bukan kucing..." ucap Desi tak mau dibantah.
Dengan tangan bergetar Naina pun menerima pemberian Desi dan mencoba untuk memakannya. Benar saja... jika dulu ia tidak menyukai roti, tapi kini terbalik... ia malah sangat menyukainya. Ini kah yang dirasakan oleh manusia saat memakan makanan mereka? apa lagi saat ini dirinya yang sangat lapar. Rasanya sungguh sangat enak dilidahnya.
"Apa kau masih lapar Nai?" tanya Desi saat melihat Naina seperti masih kurang.
"Gak kok Des... terima kasih ya..." sahut Naina.
Ia yang mengenali Desi karena ingatan Naina dulu membuat Mitsy sangat berterima kasih sekaligus bersyukur karena Naina ternyata memiliki seorang sahabat yang perduli padanya. Hingga sore pada harinya saat pulang, Naina tak sengaja melihat Johan dan Tasya yang sedang berjalan keluar dari dalam lift. Segera Naina bersembunyi agar kedua orang itu tidak melihatnya. Otaknya langsung berfikir jika dia ingin mencari orang-orang yang telah membunuh Naina asli, maka ia harus menyelidiki kedua orang itu terlebih dahulu. Dan jika ia sudah bisa membalaskan dendam pada para penjahat yang telah membunuh nonanya, maka akan tiba giliran bagi kedua orang itu untuk merasakan kemarahannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments