Penyebab Utama

Beni tampak ketakutan saat melihat Naina berdiri dihadapannya dengan senyuman sinis. Pria itu berusaha untuk berfikir logis.

"Ini pasti halusinasi karena pengaruh alkohol tadi" gumamnya sambil menggelengkan kepalanya cepat.

"Kenapa? kau fikir aku hanya halusinasimu saja heh?" kata Naina dengan suara dingin.

Tiba-tiba Naina langsung menyerang Beni dengan tangan kosong. Beni yang tak siap langsung merasakan pukulan dan tendangan dari Naina pada tubuhnya. Gerakan gadis itu yang sangat lincah dan cepat membuat Beni kuwalahan. Alhasil kini ia telah mendapatkan luka dan lebam dibeberapa bagian tubuhnya, termasuk wajahnya.

"Apa kau masih merasa jika aku hanyalah halusinasimu saja hah?" tukas Naina saat ia berhenti memukuli Beni.

Beni menyeka sudut bibirnya yang robek akibat terkena pukulan dari Naina. Kesadarannya mulai terkumpul. Tadi memang dia sedikit dalam pengaruh alkohol akibat sempat minum di club sebelum ia kemari.

"Jadi kau selamat gadis manis? dan kau fikir bisa nakutiku lalu bisa membalas dendam?" ucap Beni yang mengira jika Naina berhasil selamat dan kini ingin membalas dendam.

"Ha... ha... ha... anggap saja begitu..." sahut Naina sarkas.

"Dasar bodoh! kau fikir sudah berapa nyawa yang sudah kami habisi tanpa jejak hah? kau sangat beruntung bisa selamat malam itu... seharusnya kau melarikan diri untuk menyelamatkan nyawamu dan bukannya malah sok ingin membalas dendam..."

"Oh ya? kau fikir aku begitu lemah dan belum mulai melakukannya?" tanya Naina misterius.

Beni mengerutkan dahinya tak mengerti.

"Kau fikir kenapa temanmu Miko itu tidak menjawab panggilan kalian sampai saat ini hah?" sambung Naina sambil tersenyum jahat.

" Ka... kau?"

"Ya Beni... temanmu itu sudah menjadi mayat... dan sayangnya sampai saat ini belum ada yang menemukannya... padahal aku sengaja meninggalkannya di tempat yang mudah ditemukan, agar kalian bisa cepat mengetahuinya" ucap Naina sambil terkekeh merasa lucu akan nasib Miko yang terbuang saat menjadi mayat.

"Sepertinya aku juga harus menghabisimu agar bisa menarik perhatian bosmu, Jack... bukan begitu?"

"Dasar gila! apa yang sudah kau lakukan pada Miko hah?"

"Ck... ck... ck... benar-benar bebal! bukankah sudah aku katakan jika aku sudah membunuhnya hem? apa kau tidak percaya?"

Rahang Beni mengeras saat sadar jika Naina mengatakan hal yang sebenarnya, meski ia belum melihat keadaan Miko dengan mata kepalanya sendiri. Jadi kini pria itu mau tidak mau harus menghabisi gadis itu baru kemudian ia akan membuktikan ucapan Naina barusan. Dengan cepat pria itu langsung mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku belakang celananya dan mengarahkannya pada Naina.

"Bagus... kamu sudah menganggapku serius rupanya..." ujar Naina sambil tersenyum saat melihat pisau yang ada pada genggaman tangan Beni.

Meski remang, namun kilatan pisau ditangan Beni dapat terlihat jelas akibat pantulan cahaya lampu jalan. Tak mau membuang waktu, Naina pun mengambil ancang-ancang untuk melawan Beni. Tak lama keduanya pun terlibat dalam perkelahian yang sangat sengit. Beberapa kali Beni berusaha menusukkan pisaunya ke tubuh Naina. Tapi sayang... gadis itu bergerak sangat cepat sehingga Beni selalu saja mengenai angin kosong. Pria sangar itu pun mulai merasa geram karena sedari tadi ia selalu meleset saat akan melukai Naina.

Setelah bermain-main sebentar, Naina mulai melancarkan serangan balik. Gadis itu mulai menyerang titik lemah Beni. Dan tak butuh waktu lama, beberapa bagian tubuh pria itu sudah mendapatkan luka dari tendangan dan pukulan Naina. Bahkan gadis itu juga meninggalkan luka cakar. Beni pun mulai merasa ada yang aneh pada tubuhnya saat mendapatkan luka cakar dari Naina. Dadanya terasa sesak begitu juga dengan tenggorokannya yang tercekik.

"A... apa... yang... kau... lakukan padaku?"

"Itu hanya siksaan kecil sebelum kau bertemu dengan temanmu Miko..." sahut Naina dengan suara sinis.

"Itu tidak seberapa dengan rasa sakit yang aku rasakan malam itu...." sambungnya.

Tubuh Beni mengejang... mulutnya pun mulai mengeluarkan busa...

Naina memandang Beni dengan tatapan tajam dan seringai sinis saat pria bertubuh kekar itu mulai terhuyung sambil memegangi tenggorokannya dengan kedua tangannya. Matanya pun tampak mendelik, tapi Naina malah tertawa dengan berurai air mata. Karena saat ini di dalam hatinya teringat saat kematian Naina asli yang begitu tragis. Ternyata meski ada kepuasan saat menghabisi orang-orang yang telah menyakiti Naina, namun tetap saja Naina / Mitsy masih tidak bisa mengembalikan nyawa majikannya itu. Cepat ia menghapus air mata yang tadi sempat meleleh di pipinya saat melihat Beni yang kini terbujur kaku.

Baginya kini tidak ada kata berhenti setelah ia memulai balas dendamnya untuk sang majikan. Dan dia pastikan jika dalam waktu 90 hari ia akan menuntaskan dendamnya. Setelahnya ia rela menyusul sang majikan ke alam baka...

"Aku harus bergerak cepat... karena waktu yang tersisa tidak banyak, sedang aku masih harus mencari keberadaan ketiga bajingan yang lainnya..." batin Mitsy / Naina.

Setelah memastikan jika Beni sudah benar-benar tewas, ia pun segera beranjak dari tempat itu. Dengan lincah ia kembali bergerak diantara rumah dan gedung untuk kembali ke tempat kosnya. Sesampainya di tempat kosnya Mitsy/Naina pun segera membuka pakaiannya dan memasukkannya ke tempat kotor. Setelah itu ia pun segera membersihkan dirinya sebelum akhirnya ia menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Tak lama ia pun langsung tertidur.

Keesokan harinya...

Hari ini terjadi kehebohan karena ditemukan sesosok mayat di dalam sebuah gang sempit di tengah kota dekat daerah hiburan malam. Polisi yang menyelidiki kasus itu belum bisa memastikan apa motif dari pembunuhan tersebut. Namun mereka menerka jika itu merupakan motif balas dendam. Pasalnya tidak ada barang yang diambil dari korban termasuk dompet yang berisi sejumlah uang yang cukup banyak. Semua masih dalam keadaam utuh. Dan inilah yang membuat polisi menyimpulkan motif balas dendam sebagai penyebab kematian pria yang diketahui bernama Benyamin Adam atau yang dikenal dengan panggilan Beni.

Apa lagi profesi pria itu yang merupakan kriminal kambuhan semakin membuat para polisi yakin dengan dugaan sementara mereka. Sedang di dalam kamarnya, Mitsy / Naina tampak menyunggingkan senyumnya saat melihat berita di televisi yang memberitakan kematian Beni.

"Sebentar lagi mereka juga pasti akan menemukan mayat Miko... itu berarti komplotan mereka yang lain pasti akan berkumpul. Aku harus cepat membuat rencana agar bisa menghabisi mereka satu per satu tanpa tersisa..." gumamnya.

Hari ini Mitsu / Naina berangkat ke tempatnya bekerja dengan lebih bersemangat. Dua buruannya sudah tewas ditangannya... kini tinggal mencari ketiga bajingan lainnya. Setelah itu maka giliran Johan dan Tasya... otak dari segala kemalangan yang menimpa Naina. Saat memasuki pantry, ia dikejutkan dengan kedatangan bu Hana.

"Nai... mulai hari ini tugasmu yang harus membuatkan kopi untuk pak Adrian. Kemarin beliau sendiri yang memerintahkan padaku untuk menyampaikannya padamu... kau mengerti?"

"Mengerti bu..."

"Baiklah... setelah membersihkan ruangan, kau harus segera membuatkannya untuk pak Adrian. Sebab sebentar lagi beliau akan tiba di kantor ini" terang bu Hana.

"Iya bu... saya mengerti" sahut Naina patuh, yang membuat bu Hana tersenyum puas.

Setelah mengerjakan tugasnya membersihkan ruangan, ia pun segera membuatkan kopi untuk Adrian sesuai dengan perintah bu Hana. Setelah membuatkan kopi, Naina pun segera pergi ke ruangan Adrian untuk mengantarkannya.

Tok... tok... tok...

"Masuk!"

"Permisi tuan... ini saya mengantarkan kopi untuk tuan..." ucap Naina sambil membawakan kopi di atas nampan dan meletakkannya di atas meja Adrian.

"Hem..." sahut Adrian tanpa menoleh ke arah Naina.

"Permisi tuan..." ucap Naina saat akan keluar dari ruangan Adrian.

Pria itu pun kembali hanya berdehem untuk menjawab perkataan Naina. Tahu jika atasannya itu tengah sibuk, Naina pun sama sekali tidak mempermasalahkan sikap Adrian yang terkesan dingin dan sedikit arogan. Dengan cepat gadis itu pun keluar dari ruangan Adrian. Tepat saat pintu ruangan Adrian ditutup oleh Naina, Adrian langsung menoleh ke arah pintu ruangannya itu. Bayangan Naina masih tertangkap oleh mata Adrian yang tajam meski hanya sekilas. Dan pria itu pun langsung tersenyum samar saat melihat gadis yang mulai mencuri perhatiannya sejak ia mencicipi kopi buatan gadis itu yang terasa berbeda dari kopi buatan orang lain.

Ia pun segera menutup laptopnya dan mengambil gelas kopi yang tadi dibawa oleh Naina. Dengan perlahan dan penuh perasaan ia pun menyesap kopi buatan Naina. Kembali Adrian tersenyum saat cairan kopi itu masuk ke tenggorokannya.

"Benar-benar rasa yang sangat berbeda dengan kopi buatan orang kebanyakan..." batinnya.

Sementara Naina tampak tengah berjalan kembali ke ruang pantri. Saat itulah ia kembali melihat Johan berjalan tergesa keluar dari ruangannya sambil menerima telfon dari ponselnya. Pria itu tampak marah dengan lawan bicaranya. Mitsy /Naina tampak tersenyum tipis. Meski tak begitu mendengarkan apa yang sedang Johan bicarakan karena jarak mereka yang cukup jauh, tapi bisa ia rasakan jika apa yang membuat pria itu marah adalah masalah ditemukannya mayat Beni.

"Ini baru permulaan Johan... akan aku buat kamu kebakaran jenggot terlebih dahulu sebelum aku habisi nyawamu..." batinnya.

Kali ini ia sengaja membiarkan mangsa utamanya itu berlalu begitu saja dihadapannya. Karena seperti saat menyantap makanan, saat ini ia tengah menikmati hidangan pembuka sebelum ia melanjutkan pada hidangan utama dan kemudian hidangan penutup. Sesampainya di depan pintu pantry, ia dapat melihat Rika tengah berbincang dengan salah satu rekannya.

"Aku tidak menyangka jika gadis culun itu sekarang sudah berubah..." terdengar suara Rika yang berapi-api.

Naina pun urung memasuki ruangan pantry dan memutuskan untuk bersembunyi sambil mencuri dengar apa yang tengah mereka katakan.

"Iya mbak... mungkin pelajaran kita waktu itu saat mengurungnya di toilet belum membuatnya jera..." sahut teman Rika yang bernama Mirna.

Naina menggeretakkan giginya geram. Ternyata majikannya dulu pernah dikurung di dalam toilet oleh kedua orang itu. Dan saat menggali ingatan masa lalunya ia menyadari jika karena kejadian ia dikurung di toilet itulah akhirnya Naina asli bisa terlibat dalam permasalahan Johan hingga berakhir menewaskan Naina asli.

"Brengsek! jadi kalian penyebab Naina terseret dalam permasalahan Johan dan yang lainnya..." batin Naina / Mitsy geram.

"Tunggu saja... kali ini aku akan membuat kalian membayar mahal atas apa yang telah kalian lakukan..." sambungnya sambil meninggalkan ruangan pantry.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!