Firasat

Hari sudah mulai gelap dan Naina belum juga sampai di kosannya. Mitsy yang sudah menunggunya sedari tadi mulai merasa gelisah. Perasaannya pun tidak tenang seakan merasakan jika sesuatu yang buruk akan menimpa majikannya itu. Kucing itu pun mulai bergerak mengitari kamar kos Naina. Sesekali ia mengeong sedih. Ia bahkan mulai mencakar-cakar pintu berusaha untuk keluar dari dalam sana. Mitsy semakin merasakan tanda bahaya pada majikannya saat matahari sudah tenggelam. Kucing itu pun mulai mencari jalan keluar lain. Dengan cepat ia menuju kamar Naina da mencoba mencari celah pada jendela di sana agar bisa keluar. Naas, semua jendela terkunci rapat jadi tidak ada jalan keluar bagi Mitsy.

Sementara di tempat lain...

Naina yang tengah menunggu angkot tiba-tiba di bekap dari belakang dengan sapu tangan oleh orang tak dikenal. Gadis itu berusaha untuk memberontak tapi tenaganya kurang kuat apa lagi dirinya tengah terluka akibat terjatuh tadi. Bahkan tak lama gadis itu langsung tidak sadarkan diri karena ternyata saputangan yang digunakan untuk membekapnya telah dibubuhi dengan obat tidur. Setelah Naina tak berdaya dua orang pria langsung membopong tubuhnya dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil yang sudah disiapkan sebelumnya. Di dalam mobil itu sudah ada tiga orang pria lain yang menunggu. Setelah Naina dimasukkan ke dalam, mobil itu pun langsung melaju meninggalkan tempat itu. Suasana yang sepi membuat aksi itu berjalan dengan lancar.

Sedangkan Mitsy masih berusaha untuk mencari jalan keluar. Akhirnya dengan usaha keras kucing itu berusaha untuk membuka kunci pada jendela kamar yang menggunakan gerendel. Cakar kecilnya berulang kali berusaha memindahkan engsel kunci agar jendela bisa terbuka. Setelah cukup lama berusaha, akhirnya jendela itu pun terbuka. Dengan secepat kilat Mitsy melesat melalui teralis besi yang ada di jendela kamar Naina. Dengan gerakan lincah kucing hitam itu berlari dan sesekali meloncati genting rumah demi bisa mencapai dimana sekarang Naina berada. Dengan mengandalkan instingnya kucing itu mencari keberadaan Naina yang kini dalam bahaya.

Orang-orang yang menculik Naina itu membawa gadis itu ke sebuah bangunan terbengkalai yang berada di pinggiran kota. Tempat dimana mereka sering mengeksekusi orang-orang atas suruhan majikan mereka. Dan kali ini adalah giliran Naina. Para pria itu tak tahu dan tak mau tahu apa alasan majikan mereka menyuruh untuk menghabisi gadis itu. Tapi memang itu tak akan menjadi urusan mereka. Karena yang terpenting adalah upah besar yang akan menanti mereka setelah berhasil melaksanakan tugas.

"Akan kita apakan gadis ini bos?" tanya seorang pria pada pimpinan kelompok mereka itu.

"Tentu saja kita habisi bodoh! bukankah itu adalah perintahnya..." sahut temannya yang lain sambil menoyor kepala pria yang tadi bertanya.

"Tapi bukankah gadis ini cukup cantik? apa tidak sia-sia jika langsung kita habisi?" ujar pria yang pertama tak mau dianggap bodoh.

"Maksud kamu?"

"Yah... mungkin saja kita bisa bersenang-senang dulu sebelum kita habisi..." usulnya sambil menampilkan senyum mesumnya.

"Kau pintar juga jika sudah menyangkut masalah seperti ini!" seru sang pemimpin sambil tertawa lebar.

"Tapi kita tunggu sampai gadis ini sadar dulu sebelum kita bersenang-senang dengannya, tidak asyik rasanya jika gadis ini juga tidak ikut merasakan apa yang kita lakukan padanya" sambungnya sambil membayangkan apa yang akan ia lakukan pada Naina.

Sementara anak buahnya langsung saling pandang dan menampakkan wajah senang karena sebentar lagi mereka akan mendapatkan kesenangan dengan kenikmati tubuh Naina.

"Sekarang letakkan gadis itu di ruangan sana!" titah sang pimpinan pada anak buahnya ketika mereka menggotong tubuh gadis itu ke dalam.

Tak lama ponsel sang pemimpin komplotan berbunyi.

"Halo tuan..."

"Bagaimana?"

"Beres tuan... ini tinggal kami eksekusi" jawab sang pemimpin komplotan berbohong.

"Bagus... sebentar lagi akan aku transfer upah untuk kalian"

"Terima kasih tuan..."

Tuut....

Ponsel pun langsung dimatikan dari sebrang.

"Bagaimana bos?"

"Beres... sebentar lagi upah kita akan ditransfer dan setelah bersenang-senang kita tinggal habisi gadis itu"

Kelima pria itu pun langsung tertawa senang. Sementara Mitsy kini sudah berlari di jalanan. Firasatnya semakin buruk. Dengan menggunakan instingnya ia mencari arah untuk menemukan Naina. Ia tak perduli dengan lalu lalang orang dan juga kendaraan di jalan. Tanpa melihat sekeliling Mitsy langsung berlari menyeberang jalan saat instingnya mengarah ke pinggiran kota. Dan benar saja...

Braak!

Tubuh Mitsy tertabrak sebuah mobil yang melaju kencang dari arah kanannya. Mengemudi mobil pun kaget dan langsung mengerem mobilnya. Sementara tubuh Mitsy terlempar ke tepi jalan. Melihat yang ditabrakanya adalah seekor kucing berwarna hitam, sang sopir pun langsung tampak ketakutan dan segera turun dari mobilnya untuk memeriksa keadaan kucing yang telah ditabraknya itu. Tapi keajaiban terjadi kucing hitam itu langsung bangun setelah sempat tergeletak beberapa saat. Dan begitu bangun makhluk kecil itu pun langsung kembali berlari menerjang kerumunan orang yang tadi berhenti untuk melihat kejadian barusan. Meski terdapat luka ditubuhnya akibat tabrakan tadi dan bahkan mulutnya sempat mengeluarkan darah, tapi Mitsy tidak mau menyerah. Ia tahu Naina saat ini membutuhkan bantuannya.

Di tempat Naina disekap...

Naina melenguh pelan saat dirinya mulai sadar dari pengaruh obat biusnya. Dengan perlahan gadis itu melihat ke arah sekelilingnya. Ia pun tersadar jika saat ini ia berada di tempat yang asing. Naina pun mulai mengingat kejadian saat sebelum ia tak sadarkan diri. Seketika gadis itu pun merasa ketakutan. Ia sadar jika saat ini ia tengah disekap. Apa lagi saat melihat tempatnya berada seperti ada di sebuah gudang atau gedung terlantar yang membuatnya sadar jika ia kini dalam bahaya. Naina berusaha untuk bangun dan mencoba mencari jalan keluar untuk melarikan diri dari tempat itu.

Dalam hatinya ia menduga jika orang yang menyekapnya ada hubungannya dengan Johan dan juga Tasya. Dengan terseok Naina mencoba mencari celah untuk bisa melarikan diri. Ia pun sempat kecewa saat mendapati jika jendela yang ada di ruangan tempatnyab disekap telah ditutup dengan palang kayu. Tapi gadis itu tidak mau menyerah. Ia tidak ingin mati malam ini. Ia harus hidup, demi Mitsy dan juga Adrian. Ya... pria itu harus tahu kejahatan Tasya tunangannya dan juga Johan. Meski ia tak mengenal dekat Adrian tapi sebagai sesama manusia ia merasa memiliki kewajiban untuk menolong pria itu dari kejahatan Tasya dan Johan.

Naina tidak mau menyerah. Dengan teliti ia mengamati setiap sudut ruangan. Dan tiba-tiba matanya tertuju pada dinding yang terlihat sedikit retak. Dengan sedikit bersemangat ia pun segera mendekati dinding itu dan mencoba untuk menjebol dinding tersebut. Meski sedikit sulit namun setelah beberapa kali mencoba ia pun berhasil menjebol dinding tersebut dengan menggunakan batang kayu yang ia temukan di sudut ruangan. Segera Naina membuat lubang seukuran dirinya agar ia bisa melewati dinding itu. Setelah berhasil keluar gadis itu langsung berusaha berlari menjauh dari tempat itu meski ia harus kenahan rasa sakit di kakinya yang terluka.

Di sisi lain Mitsy masih berusaha berlari sekencang mungkin untuk menemukan Naina. Tapi sekali lagi kucing hitam itu mendapatkan hambatan. Seekor anjing liar bertemu dengannya di sebuah gang sempit. Tadi Mitsy memang memotong jalan demi cepat menemukan Naina. Anjing itu tampak tidak suka menemukan Mitsy di wilayah kekuasaannya. Tanpa aba-aba, anjing liar itu pun langsung menyerang Mitsy. Tubuhnya yang besar membuat anjing itu dengan mudah menggigit tubuh Mitsy. Tapi kucing itu tidak mau menyerah. Dengan mengeong keras Mitsy berusaha melepaskan dirinya dari gigitan si anjing liar. Ia mencakar dan membalas menggigit anjing itu. Dan tak berapa lama anjing itu pun mulai kuwalahan menghadapi perlawanan Mitsy. Saat bisa melepaskan diri, Mitsy langsung balik menyerang anjing liar itu.

Tak tanggung-tanggung kucing itu bahkan langsung menyerang leher anjing itu dan tidak melepaskan gigitannya walau anjing itu sudah berusaha untuk melepaskan diri dengan cara menggelengkan kepalanya dengan keras. Tapi Mitsy sama sekali tidak melepaskan gigitannya. Hingga anjing itu terkulai lemas karena kini darah sudah mengucur deras dari lehernya. Mengetahui lawannya terkulai lemas Mitsy langsung berlari meninggalkan anjing liar itu kembali mencari keberadaan Naina.

Didalam gedung terbengkalai tampak sekelompok pria tengah menikmati minuman keras yang memang sudah mereka persiapkan. Mereka tampak menghabiskan beberapa botol minuman sambil berbincang dan tertawa lepas.

"Eh... apa gadis itu belum juga sadar?" tanya salah satu diantara mereka setelah cukup lama mereka tak kunjung mendengar suara gadis yang mereka sekap di ruangan sebelah.

Bukan apa-apa... pasalnya selama ini setiap orang yang mereka sekap pasti akan berteriak minta tolong begitu mereka sadar dari pingsannya.

"Coba kau periksa gadis itu Ben!" perintah pimpinan komplotan itu pada salah satu anak buahnya.

Laki-laki bernama Ben itu pun segera mengerjakan perintah pimpinannya itu dan berjalan ke ruangan di mana Naina tadi disekap. Laki-laki itu pun mengintip dari kaca yang ada di bagian atas pintu ruangan itu. Setelah memeriksa ia tak menemukan keberadaan gadis yang mereka sekap. Terkejut, ia pun segera membuka kunci ruangan itu dan kembali memeriksanya. Alangkah terkejutnya ia saat tak melihat keberadaan Naina di dalam ruangan tersebut. Apa lagi saat ia melihat sebuah lubang yang cukup besar di salah satu sisi ruangan itu yabg mengarah keluar.

"Sial!" serunya sambil menarik rambutnya dengan kasar.

Ia pun segera berlari ke tempat teman-temanya berada dan langsung melaporkan apa yang baru saja ia lihat. Pimpinan komplotan itu pun langsung murka mengetahui jika tawanannya berhasil melarikan diri.

"Cepat cari gadis itu sampai ketemu!" perintahnya dengan marah.

Keempat anak buahnya pun langsung keluar dari tempat itu dan segera menyisir sekeliling untuk menemukan Naina. Sementara Naina masih terseok berusaha menjauh dari tempatnya disekap tadi tanpa memikirkan kemana arah yang sedang ia tuju. Saat merasa kelelahan gadis itu pun mengistirahatkan dirinya dengan duduk di bawah sebuah pohon besar. Sambil beristirahat ia pun mengamati keadaan sekitarnya. Ia baru sadar jika saat ini bukannya menuju jalan raya, justru ia kini malah tersesat ke dalam hutan yang berada tak jauh dari tempatnya disekap tadi. Naina menghembuskan nafasnya pelan. Keadaan yang gelap karena hari sudah malam memang membuat Naina gampang tersesat.

Namun untuk mengambil arah dimana tadi ia berasal Naina malah semakin takut. Pasalnya di sana pasti orang-orang yang menyekapnya kini sudah menyadari dirinya yang telah melarikan diri dan tengah mencarinya. Hanya bermodalkan cahaya bulan yang saat ini tengah purnama Naina kembali melangkahkan kakinya semakin jauh ke dalam hutan. Ia berfikir lebih baik bertemu binatang buas dari pada harus kembali tertangkap oleh orang-orang yang menyekapnya tadi. Setelah berjalan jauh akhirnya Naina melihat titik-titik cahaya lampu yang menandakan jika ia sudah semakin dekat dengan pemukiman penduduk.

Dengan panduan titik cahaya lampu Naina pun kembali melangkahkan kakinya untuk mencari pertolongan. Sedangkan komplotan yang tadi menyekap Naina juga sudah berada tak jauh dari tempat gadis itu berada. Dengan menggunakan cahaya senter membuat para pria itu bisa dengan mudah menembus hutan yang tidak terlalu lebat itu. Mereka juga sudah melihat titik cahaya rumah penduduk dan tanpa ragu mereka juga langsung menuju ke sana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!