Jack sangat murka saat mendapatkan kabar dari dua anak buahnya jika Regi sudah meregang nyawa di markas mereka. Keduanya tidak mengetahui pasti siapa yang menyebabkan kematian Regi, karena keduanya meninggalkan pria itu dalam keadaan mabuk.
"B**g**t! orang itu memang benar-benar mengincar kami rupanya..." seru Jack dengan geram.
Entah mengapa feelingnya mengatakan jika hanya ia dan keempat anak buahnya yang diincar. Terbukti dengan kematian Miko disusul Beni dan sekarang Regi. Sepertinya ada seseorang yang hendak membalas dendam pada mereka. Tapi siapa? selama ini mereka telah banyak melakukan kejahatan dan entah sudah berapa banyak korban dari kejahatan mereka. Mungkinkah salah satu dari keluarga korban mereka itulah yang kini membalas dendam?
"Arrghh!" Jack berteriak frustasi.
Dalam kepalanya tidak terbersit sedikit pun ide tentang siapa yang tengah mengincarnya dan anak buahnya itu. Saat itulah Jono datang padanya dan memberikan informasi yang baru saja didapatkannya.
"Bos... sepertinya aku mencurigai seseorang yang mungkin melakukan hal ini pada kita..." ucapnya.
"Katakan... jangan bertele-tele..."
"Aku fikir mungkin saja orang yang tengah mengincar kita itu adalah keluarga gadis yang beberapa bulan lalu kita habisi itu bos..."
"Maksudmu... gadis culun itu?" tanya Jack penasaran.
"Iya bos... sebab aku melihat seseorang yang mirip dengannya di jalan kemarin siang... dan gadis itu juga mengenakan seragam yang sama dengan gadis culun itu bos" terang Jono serius.
"Itu berarti jika gadis itu juga bekerja di kantor Johan?"
"Benar sekali bos..." sahut Jono sambil mengangguk tegas.
"Apa Johan tidak mengenali gadis itu? sehingga gadis itu bisa leluasa berada di kantornya?" tanya Jack yang tidak habis fikir dengan Johan yang tampak tidak memperhatikan sekelilingnya.
"Sepertinya begitu bos... apa lagi penampilannya memang sangat berbeda... hanya wajahnya saja yang sama dengan gadis culun itu, sepertinya mereka berdua itu kembar..." terang Jono lagi.
"Apa kau tahu namanya?"
"Tidak bos... tapi aku bisa cari tahu..." sahut Jono.
"S**l! apa mungkin gadis culun itu memang lolos dari maut dan kini tengah membalas dendam pada kita? karena tidak mungkin gadis itu bisa berkeliaran bekerja di kantor itu tanpa identitas yang jelas... meski mereka saudara kembar, pasti ada perbedaannya... dan gadis culun itu tidak akan dengan mudah memanipulasi identitasnya"
"Biar aku selidiki lagi bos... aku juga akan mencari tahu apakah ada yang sudah menemukan mayat gadis culun itu sehingga kita bisa memastikan identitas gadis yang mirip dengan si culun itu..."
"Baiklah... terserah kau saja... tapi aku harap kau berhati-hati, karena kita belum tahu siapa yang kita hadapi sekarang... meski ada dugaan gadis itu pelakunya... tapi tidak menutup kemungkinan jika ada orang lain yang menjadi pelakunya"
"Iya bos... kalau begitu aku pergi dulu..."
"Hemmm..."
Setelah berpamitan pada Jack, Jono pun segera meluncur ke kantor Johan. Tujuannya satu, yaitu untuk memberitahu pada Johan tentang gadis yang dulu pernah ia suruh untuk dilenyapkan. Tak butuh waktu lama Jono sudah sampai di depan kantor tempat Johan bekerja. Pria itu langsung menghubungi Johan untuk bertemu. Untung saja Johan mau menemui Jono tanpa banyak bertanya, hingga pria itu bisa langsung masuk ke dalam gedung kantor itu untuk menemui Johan. Jono yang terburu-buru hendak menemui Johan di ruangannya tak menyadari jika keberadaannya dilihat oleh Naina / Mitsy.
Seolah memiliki firasat, Naina / Mitsy langsung mengikuti kemana Jono pergi. Melihat raut wajahnya, Naina / Mitsy menduga jika Jono hendak mengatakan sesuatu pada Johan. Dan Naina / Mitsy harus mengetahui apa itu. Saat Jono masuk ke ruangan Johan, pria itu bahkan tidak sempat menutup rapat pintu ruangan Johan sebelum ia mulai bicara. Sehingga Naina / Mitsy bisa dengan mudah mencuri dengar pembicaraan keduanya.
"Ada apa kau menemuiku di kantor seperti ini? sebaiknya itu hal yang penting, karena aku tidak ingin waktuku terbuang sia-sia..." kata Johan langsung saat Jono baru saja mendudukkan dirinya di kursi depan meja kerja Johan.
"Ini tentang gadis waktu itu..."
"Maksudmu?"
"Ya... gadis yang kau suruh kami untuk melenyapkannya beberapa bulan yang lalu... apa ada yang sudah mencari keberadaannya?"
Johan memandang Jono tajam, ia mulai merasa ada yang tidak beres.
"Jangan bertele-tele... katakan dengan jelas apa maksud perkataanmu tadi..."
"Hemmm... begini, apa selama ini tidak ada yang curiga jika gadis itu tidak muncul di kantor ini? secara dia terdaftar sebagai karyawan... apa tidak ada yang curiga sama sekali?"
"Entahlah... aku tidak pernah mengurusi hal seperti itu..." ucap Johan enteng yang membuat Jono mendengus kesal.
"Apa mungkin jika gadis itu masih hidup?" gumam Jono yang masih bisa didengar oleh Johan.
"Bukannya kalian dulu sudah memastikan jika gadis itu sudah benar-benar mati dan kalian bahkan mengirimkan fotonya padaku... apa kalian selama ini sudah menipuku?" tanya Johan berang.
"Tidak... bukan begitu... hanya saja aneh jika tidak ada yang curiga tentang keberadaan gadis itu... jika dia tidak lagi bekerja... lagi pula kemarin aku melihat ada seseorang yang mirip dengannya bekerja di kantor ini, dan mengenakan seragam OG sama seperti gadis itu..." terang Jono.
"Jadi... apa kau tahu nama gadis itu?" tanya Jono lagi.
"Tidak... aku tidak sempat mengetahui nama gadis itu... saat aku tahu dia mendengar percakapanku dengan Tasya, aku langsung menghubungi kalian untuk melenyapkannya... tapi aku tidak tahu nama gadis itu, hanya seragam dan wajahnya saja yang kukenali dan kuberikan fotonya pada kalian..." terang Johan yang kini mulai frustasi.
Naina / Mitsy yang sedari tadi mendengarkan percakapan keduanya pun menggeram kesal. Kedua tangannya terkepal kuat membuat telapak tangannya memerah terkena cengkraman kuku tangannya sendiri.
"S**l! aku harus segera membereskan pria itu sebelum menyebarkan informasi tentangku pada bosnya..." batin Naina / Mitsy.
"Jadi bagaimana kita mencarinya? disini ada ribuan karyawan, dan bagian OG ada ratusan orang..." ujar Johan sambil mengusak rambutnya kasar.
"Apa kau masih menyimpan fotonya?" tanya Jono berusaha tenang.
"Hanya foto yang kalian kirimkan saat gadis itu sudah tewas... sedang rekaman cctv saat aku menyuruh kalian untuk menculiknya telah aku hapus agar tidak ada bukti..."
"Kalau begitu gunakan saja foto itu..."
"Tidak bisa... dalam foto itu wajah gadis itu tertutup darah dan sulit untuk dikenali..."
Kali ini Jono pun ikut jadi frustasi. Bagai mana tidak... masalah ini bisa saja mengancam nyawanya.
"Baiklah... kirimkan saja foto itu padaku, nanti aku akan meminta temanku untuk membersihkannya hingga kita bisa mengetahui wajah aslinya dan mencocokkannya dengan data karyawan yang ada di sini..." lanjut Jono.
"Oke... tapi aku ingin masalah ini agar cepat selesai..."
"Kau bisa mengandalkan kami untuk itu..."
"Cih... bukannya saat ini masalah masih muncul akibat keteledoran kalian?" cibir Johan.
"Hal ini tidak akan terjadi lagi... aku jamin..." sahut Jono tegas.
Sementara Naina / Mitsy yang mendengar semuanya langsung bergegas bersembunyi agar bisa mengikuti Jono saat keluar dari dalam ruangan Johan. Tak lama Jono terlihat keluar dari ruangan Johan dan langsung berjalan menuju pintu keluar gedung. Naina / Mitsy langsung mengikuti pria itu diam-diam. Namun saat pria itu melewati loby kantor, Naina dipanggil oleh bu Hana yang membuat gadis itu tidak bisa mengikuti Jono. Meski kesal namun Naina / Mitsy tidak bisa berbuat apa-apa karena memang saat ini tengah jam kerja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments