Janji

Naina terus berlari mengikuti Misty meski dengan langkah terseok. Namun semakin lama ia semakin tertinggal jauh karena kelelahan dan luka di tubuhnya mulai mengeluarkan darah. Ya... tadi saat hendak melarikan diri tidak sengaja tubuh dan lengannya tergores oleh ranting-ranting pohon yang tajam dan menyebabkan Naina terluka cukup dalam. Dan pada akhirnya gadis itu pun tersungkur karena sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya sendiri. Sementara itu para penjagat itu kini sudah kembali mengejar Naina. Mereka bahkan menggunakan sepeda motor untuk mengejar gadis itu. Di gudang tempat mereka tadi menyekap Naina memang terdapat tiga motor milik Beni, Jono dan juga Regi. Hutan yang tidak terlalu lebat membuat mereka bisa mengendarai motor mereka dengan mudah. Mereka sengaja berbagi motor dengan dua motor berboncengan sedang satu orang mengendarai sendiri.

Mitsy yang telah mencapai pingggir jalan menoleh ke arah belakang, dan ia tak menemui sosok Naina yang tadi mengikutinya. Ia pun langsung mengeong keras seolah memanggil Naina. Dan seruannya pun menggema hingga terdengar oleh kucing lainnya yang memiliki pendengaran yang tajam melebihi manusia. Kucing-kucing liar itu pun seolah mengerti jika Mitsy tengah membutuhkan pertolongan begitu juga dengan Naina. Sikap Naina yang sering memberi makan pada kucing liar membuat hampir seluruh kucing di daerah itu mengenalinya. Dan saat mendengar meongan Mitsy mereka pun langsung bergerak ke arahnya.

Tidak mendapatkan respon dari Naina, Mitsy pun kembali berlari ke arah hutan. Firasatnya mengatakan jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada majikannya itu. Tak butuh waktu lama ia pun dapat segera menemukan Naina yang tergeletak tak berdaya tidak sadarkan diri. Mitsy pun langsung mencoba untuk membangunkan gadis itu dengan berbagai cara. Mulai dari mengeong disamping telinga gadis itu hingga ia pun menjatuhkan tubuhnya ke atas dada gadis itu. Namun Naina belum juga sadar. Hingga kucing itu pun melakukan hal ekstrim dengan menggigit salah satu jari Naina yang membuat gadis itu merasakan sakit dan akhirnya tersadar.

"Mitsy!" serunya lirih sambil memeluk kucingnya itu.

"Terima kasih karena sudah menolongku..." ucapnya dengan nafas sedikit tersengal.

"Meow..." sahut Mitsy seolah mengatakan jika mereka harus kembali berjalan.

Naina pun mengangguk pelan dan menurunkan Misty. Kemudian ia pun berusaha untuk berdiri. Lalu mereka kembali berjalan, kali ini Mitsy tidak memimpin di depan tapi berjalan disamping majikannya itu. Baru saja mereka sampai di tepi jalan raya tiba-tiba gerombolan bermotor sudah mengepung keduanya. Ternyata itu adalah Jack dan keempat anak buahnya. Setelah mematikan motornya mereka pun mendekati Naina. Naina pun kini bersikap waspada. Begitu juga dengan Mitsy.

"Ha... ha... ha... apa kau sekarang ingin melawan kami hah? itu percuma saja gadis bodoh! siapa yang akan membantumu sekarang? kucing kecil itu hem?" sergah Jack meremehkan.

"Setidaknya aku tidak akan membiarkan kalian untuk melecehkanku!" sahut Naina yang kini memiliki keberanian karena ada Mitsy di sampingnya.

Dengan memberi kode Jack langsung menyuruh anak buahnya untuk membekuk Naina. Melihat itu Naina pun langsung melakukan perlawanan. Begitu juga dengan Mitsy, kucing itu langsung menyerang orang yang ingin mendekati Naina. Naina berusaha untuk melayangkan pukulan dan tendangan pada siapa pun yang mencoba untuk meringkusnya. Tapi tenaganya kalah apa lagi yang dilawannya bukan hanya satu dua orang saja. Mitsy pun kuwalahan karena pria yang diserangnya menggunakan senjata tajam untuk melukainya.

Crasshh!

Tubuh Mitsy terkena sabetan senjata tajam yang langsung melukai perutnya dan membuat kucing itu tergeletak bersimbah darah.

"Mitsy!" seru Naina saat melihat tubuh kucingnya yang terluka dan tergeletak tak berdaya.

Tak terima melihat keadaan kucing kesayangannya terluka parah membuat Naina kesetanan. Gadis itu dengan cepat merebut parang yang tadi digunakan untuk melukai Mitsy dari tangan Jack. Dan dengan secepat kilat gadis itu pun menyabetkannya ke tubuh Jack.

Sreet!

"Arrggh! s**l! dasar j****g... berani sekali kau melukaiku!" seru Jack marah.

Tanpa ampun pria itu pun langsung menampar Naina berkali-kali hingga gadis itu pun jatuh tersungkur dan mulutnya mengeluarkan darah. Bahkan parang yang tadi sempat direbutnya dari Jack pun sudah terlepas dari tangannya. Tak sampai di situ, Jack pun kembali menghadiahkan tendangan pada tubuh Naina yang tergeletak tak berdaya diatas tanah. Saat Jack masih ingin melampiaskan amarahnya dengan kembali ingin menginjak kepala Naina tapi langsung ditahan oleh Regi dan juga Beni.

"Jangan bos... apa kau sudah tidak ingin menikmati tubuhnya? jika kau memukulnya lagi maka dia sudah tidak akan menarik lagi..." bujuk Regi yang memang masih menginginkan tubuh Naina yang sejak tadi sangat menggodanya.

"Benar bos... jika kau membunuhnya sekarang, keinginan gadis itu akan tercapai karena berhasil mempertahankan kehormatannya meski nyawa taruhannya..." timpal Jono tak mau kalah.

Akhirnya mereka pun membawa tubuh Naina ke semak-semak di tepi jalan dan berniat melakukan perbuatan bejatnya dibalik semak-semak. Namun ternyata Naina masih tersadar, dan gadis itu pun berontak dengan menendang bagian vital salah satu diantara mereka, yang membuat orang itu mengaduh dan Naina kembali berusaha untuk melarikan diri. Jack yang geram langsung saja melemparkan parang yang tadi dibawanya. Dan...

Jleb!

Parang itu menancap tepat di punggung Naina dan tembus ke dadanya. Semua orang tersentak kaget saat melihat kejadian itu. Naina membelalakkan matanya dan melihat kearah dadanya yang kini tertembus parang. Sakit... itu yang dirasakan Naina... darahnya pun menetes dengan deras disela-sela lukanya. Gadis itu pun terjatuh dengan lututnya sebagai tumpuan. Nafasnya tersengal... bahkan darah kini juga keluar dari mulutnya. Tak berapa lama ia pun jatuh ke samping dengan mata terpejam.

"Bos?"

"Biar saja... toh memang dia akhirnya juga harus mati... tak perduli kita sempat mencicipinya atau belum" sergah Jack yang masih emosi.

"Lalu mayatnya?" tanya Rudi.

"Biarkan saja... sudah lebih baik kita ke club dan mencari wanita lain disana..." sahut Jack lalu berbalik menuju ke arah motornya.

Keempat anak buahnya pun mengikutinya. Dan mereka pun segera meninggalkan tempat itu.

Tak lama...

Mitsy menggerakkan kakinya perlahan, kucing itu membuka matanya dan langsung mencari keberadaan Naina. Ia pun bangkit dan mencoba mencari majikannya saat tak melihat siapa pun di sana. Mitsy langsung gelisah saat ia mencium bau amis darah. Darah manusia...

Dengan tertatih karena lukanya terus saja mengeluarkan darah, Mitsy mencoba mencari sumber bau amis darah yang diciumnya. Dan alangkah terkejutnya kucing itu saat mendapati bahwa sang majikan telah meregang nyawa dengan parang yang masih menancap ditubuhnya. Dengan cepat Mitsy berusaha mendekat ke tubuh Naina yang kini sudah mulai dingin. Bahkan Mitsy juga sudah melihat roh gadis itu yang mulai keluar dari jasadnya.

Mitsy mengeong... menangis, mencoba meminta pada roh Naina untuk kembali masuk ke dalam tubuhnya. Namun gadis itu tidak bergeming dan bahkan seakan rohnya itu semakin tertarik keluar dengan lembut. Mitsy kembali mengeong menangisi majikannya. Saat itulah bermunculan puluhan kucing liar dari segala arah. Mereka langsung mengerubungi tubuh Naina yang sudah dingin. Mereka juga melihat roh Naina yang sudah keluar dari jasadnya dan kini ada seseorang berpakaian putih sudah berada disampingnya. Para kucing mengeong meminta belas kasihan pada orang berbaju putih itu agar membiarkan Naina kembali ke dalam tubuhnya. Tapi orang itu menolak.

"Aku tidak bisa mengabulkan permintaan kalian karena ini sudah takdirnya mati pada malam ini..." ungkap orang itu.

"Aku mohon tuan... setidaknya biarkan aku membalas budi padanya dengan membalaskan dendamnya pada orang-orang yang telah membuatnya seperti ini..." ucap Mitsy dalam meongannya.

"Apa kau tahu, apa yang kau minta itu adalah hal yang sulit?" tanya orang berbaju putih itu.

"Aku mohon... karena setidaknya orang-orang itu harus mendapatkan hukumannya setelah apa yang mereka lakukan pada gadis baik ini..." sambung Mitsy.

Apa yang dikatakannya juga mendapatkan dukungan dari para kucing yang berada di sana karena mereka juga berhutang budi atas kebaikan Naina yang sering memberi mereka makanan. Orang berbaju putih itu tampak terdiam. Tak lama terlihat sinar putih turun dari langit dan menyorot tepat diatas pria berbaju putih itu dan juga Naina.

"Baiklah... kau akan diberi kesempatan untuk membalaskan perbuatan orang-orang yang telah menyakiti majikanmu..." ucap orang berbaju putih itu pada Mitsy.

"Rohmu akan masuk ke dalam tubuh gadis ini dan hiduplah sebagai dirinya selama kau menjalankan misimu... tapi ingat... kau tidak bisa berlama-lama berada di dalam tubuh majikanmu karena walau bagaimana pun dia sudah meninggal..." ucapnya lagi.

"Kau hanya punya waktu selama 90 hari untuk membalas perbuatan orang-orang itu" lanjutnya.

"Baik... aku mengerti... dan terima kasih atas kesempatan yang sudah kau berikan..." sahut Mitsy senang.

Kemudian terlihat roh Naina ikut bersama orang berbaju putih itu menghilang ke dalam cahaya yang semakin menyilaukan mata. Dan setelah itu Mitsy pun kembali tak sadarkan diri.

Pagi hari....

Cahaya matahari bersinar malu-malu menyinari bumi. Namun berkas sinar itu masih sempat menyusup ke dalam sebuah kamar. Sang penghuni kamar pun tampak mulai mengerjapkan matanya saat sinar matahari menimpa matanya dan menyilaukannya. Ia pun merenggangkan tubuhnya yang terasa sedikit kaku masih dengan memejamkan matanya.

"Aaah ternyata hanya mimpi..." batinnya dengan perasaan lega.

"Tapi mengapa rasanya begitu sangat nyata..." sambungnya sambil kembali mengerjapkan matanya memandangi ruangan dimana kini ia berada.

"Aneh... mengapa semua terasa lebih kecil ya?" batinnya lagi.

Ia pun bangun dan berjalan dengan keempat kakinya. Namun ia langsung terkejut saat menyadari jika kakinya sudah berubah.

"A... apa ini!" serunya tertahan saat melihat kaki depannya yang berbulu sudah berubah menjadi sepasang tangan manusia.

Mitsy memandangi kedua tangan manusia yang kini merupakan tangannya sendiri. Ia pun beralih memandangi kaki belakangnya. Lagi-lagi ia pun terkejut... karena kakinya itu juga sudah berubah menjadi sepasang kaki manusia. Bahkan ia saat tangannya meraba bagian belakang tubuhnya, ia tak menemukan ekornya. Setelah menenangkan diri sejenak, ia pun berusaha berjalan merangkak seperti biasa, tapi tangan dan kakinya tidak bisa bergerak bebas. Hingga ia teringat dengan majikannya... Naina. Ia pun berusaha meniru cara gadis itu untuk berjalan. Perlahan ia pun berusaha untuk berdiri diatas kedua kakinya. Mitsy sedikit linglung saat ia berusaha untuk menyeimbangkan tubuh barunya.

"Aku harus mencari Naina... hanya dia yang bisa membantuku..." batinnya.

Dengan tertatih ia berusaha mencari keberadaan Naina di kamar itu. Tapi ia tak menemukan gadis majikannya itu. Dan saat tanpa sengaja ia melewati cermin besar yang berada di kamar Naina ia pun kembali terkejut. Disana... di dalam cermin, ia melihat sosok Naina yang dalam keadaan polos tengah menatapnya.

"Na...Nai?" ucapnya terbata, dan ia kembali terkejut saat mendengar suaranya menjadi suara Naina saat berbicara... bukan suara meongannya.

Mitsy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu ia pun kembali memandangi kedua tangannya dan melihat ke arah cermin. Ia pun kini yakin jika yang ada di dalam cermin adalah pantulan tubuhnya. Tidak... tepatnya tubuh Naina dan kini rohnya ada dalamnya. Jadi benar... yang semalam itu bukanlah mimpi, tapi kenyataan. Dan kini ia ada di dalam tubuh majikannya. Tapi ada yang terasa aneh, tubuh Naina kini tampak mulus tanpa luka sedikit pun akibat kejadian malam tadi. Bahkan luka akibat tertusuk parang pun tidak terlihat bekasnya. Saat itulah Mitsy mendengar suara yang berbicara padanya.

"Pergunakanlah tubuh tuanmu itu untuk membalaskan dendamnya... ingatan dalam otaknya akan menuntunmu membalaskan dendamnya pada orang yang telah menyebabkan semuanya ini terjadi..."

Mitsy termenung... ingatannya kembali pada saat ingatan Naina tengah merasa ketakutan saat di sekap... lalu berpindah pada saat merasakan sakit ketika parang penjahat itu menancap dipunggungnya hingga tembus ke dada. Mitsy memegangi dadanya yang terasa sangat sakit... persis seperti apa yang dirasakan oleh Naina saat itu. Perlahan air matanya turun dari kedua matanya yang kini merupakan mata Naina.

"Aku berjanji Nai... aku akan berusaha secepatnya membalaskan dendammu pada mereka yang telah membuatmu menderita dan meregang nyawa..." gumam Mitsy menahan sakit sambil mengeratkan kepalan tangannya dan menatap nyalang ke arah pantulan bayangannya di dalam cermin.

Terpopuler

Comments

Frando Kanan

Frando Kanan

3 bln pass atau 2 bln hampir 3 bln kh?

2023-06-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!