Langkah Pertama

"Kenapa kau selalu mengikutiku sih Jo... kau tahu gara-gara sikapmu ini kemarin gadis itu memergoki kita..." terdengar suara Tasya yang kesal.

"Aku hanya ingin memastikan jika kau tidak berubah fikiran Sya..." sahut Johan tak mau kalah.

"Aku tidak akan berubah fikiran Jo... kau tahu itu" sungut Tasya.

Johan menghela nafasnya kasar.

"Baiklah... aku minta maaf karena sudah meragukanmu... tapi kau tahukan Adrian dengan ketampanan dan kekayaannya bisa membuat wanita mana saja bertekuk lutut dihadapannya... itu membuatku merasa tidak percaya diri Sya..." terang Johan terdengar frustasi.

"Dengar Jo... ide mendekati Adrian adalah idemu... jadi kau harus bisa menahan dirimu agar semua rencana kita berjalan dengan lancar... dan kau harus yakin, jika yang aku cintai itu hanya kamu... untung saja Adrian sedang pergi ke Brussel bersama keluarganya, kalau tidak maka tingkahmu ini pasti sudah akan diketahuinya!" sungut Tasya.

"Maafkan aku Sya..." ucap Johan lirih sambil memeluk tubuh Tasya dengan erat.

Saat ini keduanya tengah berada di parkiran basement yang telah sepi karena seluruh karyawan kantor telah pulang. Mobil Tasya yang diparkir disana pun berada di luar jangkauan cctv, sehingga keduanya merasa aman jika saling berdekatan. Namun tanpa mereka sadari jika perbuatan mereka telah disaksikan oleh Naina. Ya saat melihat keduanya berjalan beriringan ke parkiran, Naina / Mitsy memutuskan untuk mengikuti mereka. Karena mungkin saja dari situ ia bisa mencari informasi tentang orang-orang yang telah mencelakai Naina.

Setelah saling berpelukan keduanya pun langsung masuk ke dalam mobil masing-masing dan meninggalkan basement tersebut. Mitsy memandangi mobil yang dikendarai oleh Johan dan Tasya dengan tajam. Sayang sekali ia tidak bisa mengikuti kedua orang itu karena Naina tidak memiliki alat transportasi pribadi apa pun, sehingga selama ini ia selalu menggunakan angkutan umum. Mitsy mendesah pelan, ia bingung memikirkan bagaimana mana caranya mendapatkan informasi tentang para b*j****n itu, yang telah menghabisi nyawa Naina. Karena tak juga mendapatkan ide, akhirnya Mitsy pun pergi keluar untuk mencari angkot pulang ke kosan. Kali ini setelah turun dari angkot ia langsung membeli makanan di warung langganan Naina sesuai dengan ingatan yang diterimanya.

Selesai makan Mitsy langsung tertidur karena kelelahan. Menjadi manusia ternyata sangat melelahkan untuk Mitsy yang sedari dulu hanya bisa bersenang-senang setelah kenyang. Memang sejak dipelihara oleh Naina, Mitsy merasakan hidup yang enak. Meski Naina bukanlah orang yang kaya, tapi Naina memperlakukannya dengan sangat baik karena Misty merupakan kesayangannya. Hampir tengah malam Mitsy terbangun. Alarm alaminya saat menjadi kucing membuatnya selalu terbangun pada saat-saat seperti itu.

Mitsy merenggangkan tubuhnya, jika dulu ia akan segera menyelinap keluar untuk sekedar berjalan-jalan menikmati malam maka kali ini dia tidak melakukannya. Dengan tubuh manusianya Mitsy belum terbiasa dan ia masih memiliki misi yang harus diselesaikannya. Tak tahu harus nerbuat apa... sedang matanya tak jua mau kembali tertutup. Akhirnya Mitsy memutuskan untuk keluar dari kamar kosnya sekedar untuk menenangkan fikirannya.

Setelah mengenakan setelan celana jins panjang dan kaos longgar dipadukan dengan jaket hoodie milik Naina, ia pun keluar dari tempat kosnya. Setelah mengunci kamar kosnya, Mitsy tidak langsung pergi, tapi ia justru termangu di depan balkon depan kamar kosnya sambil menatap ke arah luar. Nalurinya sebagai kucing membuatnya ingin segera melompat ke atas genting dan berlarian ringan. Namun otak manusianya membuatnya sedikit takut. Apa lagi ia belum begitu mahir dalam menyesuaikan dirinya dengan tubuh barunya.

Ting!

Tiba-tiba sebuah ide muncul dikepala Mitsy, kenapa ia tidak mencoba untuk melatih keseimbangan tubuhnya? bukankah itu akan berguna jika nanti menghadapi para penjahat itu nantinya... Mitsy pun langsung tersenyum. Tanpa fikir panjang ia pun menaiki pagar pembatas balkon depan kamar kos Naina. Untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, Mitsy merentangkan tangannya. Ah... ternyata keseimbangan tubuh barunya ini tidak buruk. Bahkan bisa dikatakan cukup baik untuk ukuran manusia.

Kemudian dengan hati-hati ia pun mulai berjalan diatas pinggiran pagar pembatas yang hanya berupa pipa besi sebesar lengan orang dewasa. Untung saja tadi saat akan menaiki pagar itu ia sempat membuka alas kakinya sehingga telapak kakinya bisa menapak dengan mudah diatas pipa besi itu tanpa tergelincir. Tak puas dengan itu, Mitsy pun mencoba melompat ke atap rumah tetangga kosan seperti saat ketika ia masih seekor kucing dulu. Dan...

Hap!

Sreek!

Hampir saja ia terpeleset, namun kakinya masih bisa menahan tubuhnya diatas geting. Entah kenapa berat tubuh manusianya tak menyebabkan suara yang berarti saat ia menapak diatas genting itu. Tapi ini malah membuatnya semakin senang. Bagaimana tidak? kini ia berwujud manusia... tapi ia madih memiliki kelincahan dan keseimbangan sebagaimana seekor kucing. Begitu juga dengan indra penciumannya dan juga instingnya.

Akhirnya semalaman Mitsy berkeliling seperti saat dulu ia seekor kucing. Melompat dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya. Melenggang dengan mudah di tembok pagar rumah lain tanpa takut akan ketinggian dan terjatuh. Sungguh ia kini merasa bak pahlawan yang ada dalam komik yang pernah dibaca oleh Naina. Ya... karena ingatan Naina juga ia ingat, maka semua kenangan yang ada dalam otak gadis itu secara otomatis juga menjadi ingatannya. Subuh mulai menjelang saat Mitsy memutuskan untuk kembali ke kosan dan tidur.

Keesokan harinya...

Kali ini Mitsy bangun lebih pagi... meski semalam ia hanya tidur sebentar. Sepertinya ia sudah bisa menyesuaikan dirinya dengan tubuh Naina yang terbiasa bangun pagi. Setelah melakukan ritual pagi yang biasa Naina lakukan, Mitsy pun segera pergi bekerja. Dan pagi ini ia masih sempat untuk sarapan di warung depan gang kosannya. Sesampainya di tempat kerjanya ia langsung melaksanakan tugasnya. Meski terlihat serius saat mengerjakan tugasnya, Naina mencoba untuk mencari kesempatan untuk bisa menyelinap di ruangan Johan untuk mencari bukti kejahatan pria itu dan juga informasi tentang para preman yang disewanya untuk menghabisi Naina.

Tapi tampaknya hari ini ia belum beruntung, karena seharian ini ia malah dipindahkan ke lantai atas tempat ruangan CEO berada, untuk menggantikan CS yang biasa bertugas disana karena sedang cuti. Meski agak kecewa namun Mitsy tetap melaksanakan tugasnya dengan baik. Tanpa ia sadari justru ini merupakan suatu keberuntungan baginya. Bagaimana tidak... saat ini ia berada di lantai yang sama dengan Adrian yang merupakan CEO di perusahaan itu. Dan bukan tidak mungkin ia malah bisa bertemu langsung dengan CEO itu dan bisa memberitahukan tentang kejahatan Johan dan Tasya.

Tapi saat ini Mitsy masih belum menyadarinya... apa lagi ia juga belum bertemu dengan Adrian seharian ini sehingga ia masih saja memikirkan cara untuk masuk ke ruangan Johan tanpa ketahuan. Saat jam makan siang, Desi mengajak Naina untuk makan siang bersama di warung depan kantor mereka bekerja. Kejadian kemarin saat ia tidak sengaja memergoki Naina yang sedang makan makanan kucing membuat gadis itu khawatir jika Naina sedang kehabisan uangnya. Karena itulah ia mengajak Naina makan siang bersama bermaksud untuk mentraktirnya meski hanya di warung makan sederhana.

Naina / Mitsy pun sangat terharu pada sikap sahabat Naina asli itu. Karenanya ia berusaha menolak tawaran traktiran gadis itu karena ia memang masih memiliki uang untuk makan. Sedang ia tahu jika nasib Desi tak jauh beda dengan Naina berdasarkan ingatan dari Naina yang sebelumnya. Akhirnya setelah Desi terus memaksa akhirnya Mitsy pun luluh dan mau ditraktir oleh gadis itu.

Selepas makan siang tidak sengaja keduanya berpapasan dengan Johan. Namun karena ia tengah sibuk menerima panggilan dari ponselnya pria itu tak memperhatikan Naina yang lewat didepannya dengan Desi. Apa lagi penampilan Naina yang kini tidak lagi mengenakan kacamata membuatnya tampil berbeda. Sehingga Johan yang tidak pernah memperhatikan para CS di sana pun tidak mengenalinya. Naina pun sebenarnya sedikit cemas jika Johan keburu mengenalinya sebelum ia mendapatkan bukti kejahan pria itu dengan Tasya. Tapi ia bisa merasa lega karena ternyata Johan tidak mengenalinya sebagai gadis yang kemarin hendak dihabisinya karena mengetahui rahasianya.

Saat tadi melewati Johan, Naina sempat mendengar jika pria itu menyebut tentang nama sebuah club ternama di kota. Ia langsung menyadari jika pria itu pasti akan ke tempat itu. Pendengarannya yang kini juga semakin tajam membuatnya bisa mendengar jika pria itu berjanji pada seseorang di ponselnya untuk bertemu di club itu nanti malam. Naina tersenyum tipis... tampaknya keberuntungannya mulai mendekat. Nanti malam ia akan pergi juga ke club itu. Dan ia berharap segera mengetahui identitas para penjahat itu dan dimana bisa menemukan mereka semua agar ia bisa segera membalas dendam.

"Kamu kenapa Nai? kok dari tadi melamun?" tanya Desi yang melihat Naina sedari tadi diam.

"Ga... ga pa-pa kok Des... aku cuma agak capek aja..." sahut Naina beralasan.

"Ya sudah... nanti pulang kerja langsung istirahat saja Nai... soalnya hari ini kamu memang terlihat agak pucat..." kata Desi.

"Iya Des..."

Tak terasa malam pun tiba...

Mitsy sudah bersiap untuk pergi ke club yang akan didatangi oleh Johan. Dengan menggunakan taksi ia pun segera menuju kesana. Hari ini sebelum ia pulang ke kosan ia sempat mengambil uang tabungan Naina di ATM, sehingga ia memiliki uang untuk pergi ke club. Sesampainya di sana Mitsy tampak agak linglung karena mendengar suara musik yang begitu keras di club itu. Tampak orang-orang yang tengah asyik berjoget dan minum minuman keras. Mata Mitsy terus memindai setiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan Johan. Penampilan Mitsy yang malam ini terlihat sedikit seksi dengan mengenakan rok hitam ketat dibawah lutut namun tanpa lengan membuatnya menjadi perhatian para pria di sana.

Tapi Mitsy sama sekali tidak menghiraukan rayuan para hidung belang tersebut dan tetap fokus mencari targetnya. Untuk mengelabuhi apa yang sedang dilakukannya Mitsy pun turun ke lantai dansa dan ikut bergoyang disana. Tak butuh waktu lama, Mitsy yang semula turun sendirian langsung dihampiri oleh para pria yang begitu tertarik pada penampilannya. Tapi Mitsy tetap tidak menghiraukan para pria itu selama mereka tidak bertindak kurang ajar. Tapi keributan malah terjadi karena para pria itu memperebutkan Mitsy. Hal itu membuat suasana menjadi heboh. Dan saat itulah Mitsy melihat keberadaan Johan yang berada dilantai atas.

Tak menghiraukan para pria yang kini adu jotos demi memperebutkannya, Mitsy malah meninggalkan lantai dansa dan langsung menuju ke lantai atas tempat Johan berada. Ternyata pria itu telah menyewa satu kamar privat untuk bersenang-senang. Mitsy agak ragu untuk masuk ke dalam karena ia tidak yakin jika Johan akan bertemu dengan para preman sewaannya itu. Tapi saat Mitsy tengah menimbang keputusannya, dari arah bawah ia melihat salah satu dari para penjahat itu tengah menuju kearahnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!