Naina / Mitsy yang berada di luar bangunan gudang seakan ikut merasakan apa yang tengah dilihat oleh kucing orange yang tadi ia utus. Naina tersenyum tipis. Ternyata targetnya benar berada di dalam sana. Naina / Mitsy langsung berjalan mengendap untuk melihat secara langsung targetnya berada. Namun sebelum Naina melangkah jauh tiba-tiba pintu depan gedung itu terbuka dari dalam. Tampak dua orang pria keluar dari dalam sana dalam keadaan setengah mabuk.
"Heh... apa kau percaya dengan omongan Regi tadi?" tanya salah satu diantara mereka.
"Tentu saja tidak... kau tahu kan, kata Jono si Regi itu memang penakut..." sahut yang lain.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kita segera membeli makanan agar kita tidak kelaparan karena harus berjaga hingga pagi"
"Salah siapa yang tadi malah mengajak langsung minum sebelum sempat makan malam..."
"Iya-iya... aku salah, tapi bukannya kalian juga tadi tidak keberatan?"
"Ck... sudahlah, lebih baik sekarang saja kita pergi dari pada nanti keburu bos datang"
Keduanya pun langsung pergi dengan menggunakan sepeda motor. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Naina / Mitsy yang memang hanya mengincar Regi. Dengan langkah cepat Naina / Mitsy pun masuk ke dalam. Setepah melewati beberapa ruangan kosong, akhirnya ia menemukan Regi yang tengah tertidur di lantai karena mabuk. Meski sangat dendam pada pria itu, namun Naina / Mitsy tidak akan membunuh pria itu dalam keadaaan tidak sadar. Baginya membunuh pria itu dalam keadaan tudak sadar tidak akan memuaskan. Karena ia tidak akan melihat wajah ketakutan dan penyesalan dari orang itu. Sedang baginya, melihat wajah takut dan penyesalan korbannya adalah suatu kepuasan tersendiri dalam balas dendamnya.
Naina / Mitsy pun mencari sesuatu untuk menyadarkan Regi yang tengah mabuk. Setelah beberapa saat mencari akhirnya ia menemukan sebuah ember berisi air yang ada di pojok ruangan. Entah air apa yang ada di dalam sana, Naina / Mitsy tidak perduli. Yang terpenting Regi bisa tersadar. Dengan membawa ember berisi air, Mitsy / Naina pun mendekati Regi. Dan tanpa aba-aba ia langsung menyiramkan air itu ke kepala Regi. Sontak Regi pun terbangun dengan wajah gelagapan.
"Huaah... berengsek! siapa yang berani melakukan hal ini padaku hah!" teriak nya sambil mencoba mengambil nafas karena tadi tersedak air yang menyiramnya.
Dengan kasar ia langsung membersihkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Setelahnya ia pun mulai mengerjapkan matanya mencoba melihat kesekelilingnya. Regi langsung terkejut saat mendapati Naina yang sudah berdiri dihapannya dengan ember yang masih berada ditangannya.
"Kau? kau yang menyiramku tadi?" tanyanya dengan wajah memerah.
"Iya..." sahut Naina / Mitsy dingin.
"Apa masalahmu heh? tiba-tiba saja mengangguku seperti itu?" tanya Regi kesal.
Namun Naina sama sekali tidak menjawab pertanyaan pria itu. Dia hanya memberikan tatapan tajam padanya yang membuat pria itu mulai merasa penasaran. Sementara Regi masih setengah sadar hingga belum menyadari siapa yang sedang berada dihadapannya saat ini. Setelah berhasih menenangkan dirinya yang tadi kaget karena disiram air, Regi pun mulai menyadari keadaan sekelilingnya.
"Hei! kenapa kau bisa ada disini?" tanya Regi saat menyadari jika yang ada dihadapannya bukanlah salah satu dari temannya.
Bahkan dia seorang perempuan.
"Tentu saja untuk menyelesaikan urusan diantara kita..." sahut Naina dengan mengantung.
"Urusan? urusan apa... aku tidak pernah merasa ada urusan dengan perempuan sepertimu!"
"Benarkah? coba kau ingat-ingat lagi... karena kita memang mempunyai urusan yang harus segera diselesaikan..."
Regi kembali mengerjapkan matanya dan mencoba untuk mengingat siapa perempuan yang tengah berada dihadapannya itu. Perlahan Regi mengerutkan dahinya dan seketika ia pun membelalakkan matanya saat menyadari siapa yang ada dihadapannya saat ini.
"Ka... kau!" serunya tertahan.
"Ya... ini aku... kau sudah ingat? jadi... bisa sekarang kita selesaikan urusan kita?" tanya Naina dengan wajah datar.
Regi sontak menggelengkan kepalanya keras. Ia benar-benar tak menyangka jika ketakutannya benar-benar terbukti. Meski sedikit melenceng, namun intinya tetap sama... yaitu kematian kedua temannya adalah ulah dari mahluk tak biasa atau monster. Tapi ia tak menyangka jika itu adalah perbuatan gadis yang pernah dibunuh oleh Jack beberapa waktu yang lalu.
"Ja... jadi kau i... itu... hantu?"
"Ha... ha... ha... ternyata benar apa kata kawan-kawanmu tadi... kau memang penakut... terutama bila berhubungan dengan hal-hal mistis... tapi memang benar... aku hantu gadis yang kalian bunuh dan ingin membalas dendam!" terang Naina.
Regi semakin ketakutan... ia pun langsung melakukan perlawanan demi menyelamatkan diri dari maut. Dengan cepat Regi langsung menyerang Naina. Ia tak ingin mati seperti Miko dan Beni. Meski peluangnya kecil, tapi ia masih ingin mencoba untuk bertahan hidup. Regi mengeluarkan sebilah pisau dari balik saku celananya dan langsung menyerang Naina. Membabi buta... itulah yang dilakukan oleh Regi karena terlanjur ketakutan. Sementara Naina dengan tenang melayani serangan dari Regi. Berkali-kali pria itu hanya bisa menyentuh angin kosong tanpa sedikit pun bisa membuat Naina terpojok.
Sebaliknya... kini Naina mulai serius membalas serangan Regi setelah tadi untuk beberapa saat ia membiarkan pria itu untuk menyerangnya terkebih dahulu dan menjadikannya untuk dirinya sedikit bermain-main. Dengan tangkas Naina menangkis serangan Regi yang menggunakan pisau lalu ia melakukan tendangan berturut-turut ke arah perut pria itu yang membuat Regi langsung melesak ke belakang. Regi merasakan sakit pada perutnya, namun ia berusaha menahannya dan berusaha untuk kembali bangkit.
"Cuih!" Regi meludahkan salivanya yang kini sudah bercampur dengan darah akibat tadi wajahnya sempat terkena pukulan dari Naina.
"Ternyata kau tangguh juga... dan aku rasa kau bukan hantu... karena aku bisa merasakan panas tubuhmu..." ujar Regi sambil tersenyum tipis saat menyadari jika yang dihadapinya adalah manusia.
"Sedikit salah... aku memang manusia... tapi cuma setengah... karena setengahnya..." kata Naina kembali mengantung.
Tapi ia menunjukkan kedua telapak tangannya dimana kuku-kukunya kini mulai meruncing. Bisa Regi lihat jika bentuk kuku Naina berubah... dan menjadi mirip kuku cakar hewan buas. Ia juga dapat melihat pada ujung kuku-kuku itu seperti ada cairan yang menempel.
"Bagaimana? apa kau masih menganggapku sebagai manusia biasa?" tanya Naina sambil tersenyum dingin.
Kali ini Regi kembali bergetar, ia sadar dihadapannya bukan gadis yang telah ia dan teman-temannya sekap dulu. Gadis yang ada dihadapannya ini lebih mirip seperti manusia jadi-jadian...
"Ka... kau siluman?"
Naina hanya terkekeh lalu tersenyum dingin saat melihat kilat ketakutan dari kedua mata Regi. Seringai menakutkan juga mulai terbit saat melihat Regi kembali mencoba melawan demi bertahan hidup. Tapi Naina kali ini tidak akan membuang-buang waktu lagi hingga ia langsung mencakar tubuh Regi di beberapa bagian. Luka cakaran yang cukup dalam membuat darah Regi mulai menetes keluar dari tubuhnya. Untuk beberapa saat Regi masih bisa berdiri tegak namun itu hanya sebentar karena sedetik kemudian ia mulai merasakan sesak, dan panas pada tenggorokannya.
Mata pria itu pun langsung mendelik karena merasakan sakit karena mulai meregang nyawa. Bahkan Regi sudah tidak sempat lagi mengeluarkan suaranya karena ia juga sudah tidak bisa lagi mengeluarkan suara. Tubuh Regi pun ambruk ke lantai dan kemudian kejang-kejang sebelum akhirnya pria itu pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Naina tersenyum miris, air matanya kembali turun. Kepedihan karena kematian Naina asli ternyata tak juga berkurang di hatinya.
Sementara itu para kucing mulai mengerumuninya, dan beberapa menggosokkan tubuh mereka dikaki Naina / Mitsy. Mereka seakan kembali memberikan kekuatan pada Naina/ Mitsy untuk meneruskan balas dendamnya. Naina / Mitsy pun segera menghapus air matanya dengan punggung telapak tangannya.
"Kalian benar... masih ada yang lain lagi yang harus kita lenyapkan..." ucap Mitsy.
"Ayo kita pergi sekarang..." sambungnya sambil melangkah keluar dari ruangan itu meninggalkan tubuh Regi yang tergeletak di lantai.
Para kucing pun langsung mengikuti Mitsy / Naina dan mereka langsung keluar dari tempat itu. Baru saja Mitsy dan yang lainnya masuk ke semak terdengar suara sepeda motor mendekat ke gedung tua itu. Ternyata dua teman Regi sudah kembali. Mereka pun tanpa curiga langsung masuk ke dalam dan akan membangunkan Regi karena sebentar lagi bos mereka Jack akan datang.
Sementara itu...
Mitsy tidak memperdulikan lagi apa yang sedang terjadi dibelakang sana. Ia kini berlari bebas bersama para kucing. Ia bahkan mengikuti teman-teman berkaki empatnya itu bergerak, melompat dan bahkan memanjat gedung dan atap rumah. Ia seakan kembali ke masa dimana dirinya masih seekor kucing. Tak ada yang memperhatikan perbuatannya, karena sebagian dari para manusia sudah terlelap dalam tidurnya. Dan sebagian lagi sibuk dalam dunia malam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments