Dijebak

Naina baru saja turun dari dalam angkot yang membawanya pulang ke kontrakannya. Ia pun mampir sejenak ke sebuah warung makan sederhana yang berada di depan mini market dekat gang tempat kontrakannya untuk membeli nasi bungkus untuk makan malam. Setelah mengantri sebentar ia pun akhirnya pulang dengan membawa sebungkus nasi dengan lauk sederhana yang akan menjadi makan malamnya saat ini. Tapi Naina tidak merasa keberatan karena ia memang sudah terbiasa makan dengan menu sederhana seperti itu. Yang terpenting perutnya masih bisa terisi dan tidak kelaparan.

Saat membuka pintu kamar kosnya gadis itu langsung tersenyum lebar saat melihat Mitsy sudah duduk manis menunggunya di depan pintu.

"Meouw..." kucing itu pun langsung mendekat ke arah Naina dan menggesekkan tubuhnya di kaki Naina sambil mengeong manja.

Dengan gemas Naina langsung mengangkat tubuh kucing itu dan menggendongnya masuk ke dalam kosan.

"Hemm... pasti kau sudah lapar ya..." ucap gadis itu sambil menciumi kepala Mitsy dengan sayang.

"Grrr..." kucing imut itu pun menggeram manja saat mendapatkan perlakuan sayang dari majikannya.

Naina pun langsung menyiapkan makanan untuk kucing kesayangannya itu baru kemudian ia membersihkan dirinya sebelum makan malam. Hari-hari Naina berlalu dengan tenang dan hanya saat berada di tempat kerjanya saja gadis itu sedikit merasa tertekan akibat bullyan dari beberapa rekan kerjanya. Tapi gadis itu hanya bisa pasrah karena ia tak ingin kehilangan pekerjaan yang selama ini bisa menghidupi dirinya yang yatim piatu. Sebab saat ini untuk mencari pekerjaan baru sangat sulit apa lagi bagi dirinya yang hanya lulusan SMU.

Setelah makan malam dan membersihkan sisa makan malamnya, Naina pun bersiap untuk tidur. Seperti biasa gadis itu akan membaca salah satu bukunya terlebih dahulu sebelum tidur. Mitsy pun tampak menyukai kegiatan majikannya itu dan akan ikut bergelung di pangkuan Naina saat gadis itu tengah asyik membaca bukunya. Saat sudah mulai merasa mengantuk Naina pun menutup bukunya dan bersiap untuk tidur. Kemudian ia memindahkan Mitsy dari pangkuannya dan meletakkannya di sampingnya. Lalu ia pun mulai tertidur. Ketika Naina sudah terlelap dalam tidurnya, Mitsy langsung terjaga. Kucing itu lalu mengendus wajah majikannya itu seakan tengah memastikan jika Naina benar sudah tertidur pulas. Setelahnya, kucing berwarna hitam itu pun melangkah dengan sangat ringan meninggalkan Naina dan menyelinap keluar dari dalam kamar melalui jendela kamar yang terbuka lebar.

Naina memang tidak pernah menutup jendela kamarnya agar ia tidak merasa gerah saat tidur. Karena di kamar kosnya tidak terdapat AC sedang dia belum memiliki uang lebih untuk membeli kipas angin baru. Sebab kipas anginnya yang lama sudah rusak dan tidak dapat digunakan lagi. Naina juga tidak khawatir membuka jendela kamarnya karena jendela kamar itu dipasangi teralis besi. Lagi pula kamar kosnya berada di lantai dua. Meski disana hanya ada tangga untuk naik ke lantai dua tempatnya tinggal, tapi Naina malah merasa senang karena di lantai atas dia bisa melihat pemandangan kota yang cukup menghiburnya di saat malam hari.

Setelah berhasil keluar dari dalam kamar Naina, Mitsy langsung melenggang lincah menyusuri dinding pembatas antara rumah kos dan rumah yang berada di sampingnya. Saat sampai di depan ia langsung meloncat turun dan mendarat dengan mulus di jalan kampung yang sudah mulai sepi karena hari sudah larut. Mitsy memang senang sekali mengeksplor tempat dimana ia tinggal bersama Naina. Terkadang ia bertemu dengan sesama kucing. Entah kucing rumahan atau pun kucing liar. Meski betina namun Misty termasuk kucing yang pemberani. Ia tak segan melawan kucing lain jika ia merasa terganggu. Tapi ia juga bisa bersikap lembut dengan yang lainnya jika ia merasa nyaman.

Kegiatan Mitsy di malam hari yang sering berkeliaran di sekitar tempat tinggalnya adalah favoritnya, dan hal ini tak pernah sekali pun diketahui oleh Naina. Sebab kucing itu akan segera kembali sebelum Naina bangun dari tidurnya pada keesokan harinya. Ia juga tidak akan pergi keluar dari kosan jika Naina belum pulang dari tempatnya bekerja. Setelah puas bermain di luar bersama teman kucingnya yang lain Mitsy pun segera kembali ke kosan Naina sebelum gadis itu terbangun dari tidurnya. Ia tak ingin Naina mengkhawatirkan dirinya.

Pagi menjelang...

Naina bangun dengan perasaan bahagia. Sebab semalam ia bermimpi bertemu dengan kedua orangtuanya. Ya... sesederhana itu kebahagiaan Naina. Hanya dengan bermimpi bertemu dengan kedua orangtuanya sudah membuat gadis itu amat bahagia. Dan kebahagiaan itu juga dirasakan oleh Mitsy. Kucing sedari tadi terus saja menggesekkan tubuhnya pada Naina. Dan Naina sama sekali tidak keberatan.

"Mitsy sayang... kau baik-baik di sini ya... jangan menyelinap keluar saat aku tidak ada..." ucapnya seakan kucing hitam itu memahami perkataannya.

Sedang yang sedang ia ajak bicara tampak memiringkan kepalanya dengan posisi duduk dan punggung tegak. Kucing itu seolah berkata...

"Tenanglah... aku tidak akan melakukannya ok!"

Naina tersenyum gemas dengan kelakuan Mitsy dan langsung mengusak kepala kucing itu pelan. Setelah itu Naina menyiapkan makanan Mitsy pada tempat makan otomatis agar kucing itu bisa makan saat lapar ketika dirinya tidak berada di kosan. Sebenarnya alat makan itu Naina buat sendiri dengan menggunakan barang bekas yang ia temukan di sekitarnya. Ia sengaja mempelajari tutorialnya dalam salah satu laman yu tub. Dan hasilnya sangat memuaskan. Karena meski dari bahan bekas namun bisa digunakan dengan sempurna. Bahkan Mitsy tampak sangat menyukainya. Hal ini terjadi karena memang sejak masa SD nya Naina sudah terampil dalam hasta karya. Ia bahkan sering dimintai tolong oleh teman-temannya jika mereka kesulitan jika harus mengerjakan tugas dari guru ketrampilan mereka.

Saat sampai di tempatnya bekerja Naina tampak langsung mengerjakan tugasnya. Gadis itu sanagt trampil dalam mengerjakan tugasnya sehingga ia bisa cepat menyelesaikan pekerjaannya. Namun baru saja ia meletakkan peralatan pel di tempat penyimpanan tiba-tiba bu Hana sudah menghampirinya.

"Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu Nai?" tanya wanita berperawakan besar itu.

"Iya bu... baru saja..." sahut Naina.

"Kalau begitu bantu saya untuk membersihkan ruang rapat ya... soalnya Rika yang seharusnya bertugas membersihkannya belum juga datang" kata bu Hana.

"Baik bu..." sahut Naina patuh.

Gadis itu pun kembali mengambil peralatannya dan langsung pergi ke ruangan yang bu Hana suruh. Setibanya di sana gadis itu langsung mengerjakan tugasnya. Setelah semua selesai ia pun kembali ke ruang pantry. Di sana sudah ada Rika yang menatapnya dengan marah.

"Apa maksud kamu menggantikanku membersihkan ruang rapat hah? mau menjilat pada bu Hana kamu!" serunya sambil menarik lengan Naina dan menghempaskannya ke lemari loker.

"Ga mbak... bukan begitu ceritanya... bu Hana sendiri yang menyuruh saya karena mbak Rika yang belum juga datang..." sanggah Naina.

"Halaah alasan saja kamu! kamu fikir aku ga tahu kalau kamu memang sedang mencari alasan untuk menyingkirkanku"

"Ga mbak aku berani sumpah!" sahut Naina dengan suara bergetar.

"Ga usah pakai sumpah- sumpahan segala kamu!" sergah Rika sambil menggangkat tangannya untuk melayangkan tamparan pada wajah Naina.

"Berhenti!" teriak seseorang yang membuat gerakan tangan Rika terhenti di udara.

Keduanya pun menoleh ke arah suara. Dan alangkah terkejutnya keduanya saat melihat bu Hana sudah berkacak pinggang dihadapan mereka. Wajah wanita itu pun tampak gusar saat melihat kejadian yang ada di hadapannya itu.

"Berani kamu melakukan kekerasan di belakang saya! kamu fikir kamu itu siapa hah? cuma OG sudah berani sombong kamu..." ucapnya dengan nafas tersengal karena emosi.

Bu Hana memang seorang yang bertindak adil dalam pekerjaannya. Tugasnya sebagai supervisor membuatnya selalu bertindak tegas dan tidak mentolerir adanya pelanggaran.

"Naina memang saya yang menyuruhnya menggantikan tugas kamu karena kamu yang! datang terlambat, jadi jangan salahkan orang lain karena sikap kamu sendiri! Kamu sekarang juga pergi ke ruang HRD! saya akan memberikan surat peringatan karena kelakuan kamu barusan... " sambungnya sambil meninggalkan tempat itu.

Rika terdiam. Ia tak menyangka jika kelakuannya sudah diketahui oleh pihak HRD. Memang selama ini wanita yang berusia 25 tahun itu sudah sering melakukan pelanggaran. Mulai dari sering terlambat masuk, hingga sering membully OG lain yang dianggap junior. Rika tampak tidak bisa membela dirinya kali ini karena bu Hana menyaksikan langsung perbuatannya yang akan melakukan kekerasan pada Naina. Ruangan pantry tampak senyap meski disana sudah ada beberapa OB dan OG yang sudah kembali dari menyelesaikan tugas pagi mereka. Mereka tadi juga sempat menyaksikan apa yang terjadi saat bu Hana ada disana.

Sebenarnya sebagian besar diantara mereka merasa lega dengan apa yang dikatakan oleh bu Hana. Sebab tak sedikit yang memang sudah lama tidak menyukai Rika karena kelakuannya. Mau tidak mau akhirnya Rika pun melangkahkan kakinya menuju ruang HRD. Sementara setelah Rika pergi suasana di pantry pun kembali ramai.

"Hah syukurlah perempuan g**a itu sudah mendapatkan hukumannya..." seru Desi senang.

Sementara Naina tampak malah merasa tidak nyaman. Entah mengapa ia merasa justru kini ia akan mendapatkan balasan dari Rika karena sakit hati.

"Kamu kenapa Nai? kok malah melamun..."

"Ga pa-pa kok Des... ayo kita kerja lagi..." sahut Naina mengalihkan pembicaraan.

Sore harinya...

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Itu artinya sudah waktunya bagi Naina untuk pulang. Gadis itu pun bergegas membereskan barangnya dan bersiap untuk pulang. Namun saat menuju keluar bersama Desi tiba-tiba saja ia merasa ingin buang air kecil dan ia sudah tidak bisa menahannya.

"Des... kamu pulang aja duluan... aku mau ke toilet sebentar.. " ucap Naina.

"Aku tungguin ya..." tawar Desi.

"Ga usah Des... kan cuma sebentar..."

"Baiklah..." sahut Desi pasrah, sebab ia juga sedang buru-buru pulang karena tadi sang ibu menelfon jika kakak perempuannya masuk rumah sakit hendak melahirkan.

Keduanya pun berpisah, Naina langsung pergi ke toilet yang ada sebelah ruang pantry. Saat berada di dalam sana Naina tidak menyadari jika sudah ada seseorang yang mengawasinya sejak tadi. Dan saat gadis itu masuk ke dalam salah satu bilik orang itu pun langsung mengunci ruang toilet dari luar. Merasa berhasil mengunci Naina di dalam, orang itu pun langsung menghubungi seseorang.

"Beres mbak... dia pasti akan terkurung di dalam sana semalaman dan tidak akan ada yang akan membantunya...." kata orang itu pada seseorang diseberang sana.

"Bagus..." seru orang itu sambil terkekeh karena rencananya berhasil berjalan dengan mulus.

"Rasakan kau gadis jelek! sekarang tidak akan ada orang akan membantumu... silahkan menikmati malam panjang di dalam toilet! ha...ha... ha..." cetusnya sambil tertawa jahat setelah mematikan ponselnya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!