Bu Hana ternyata menyuruh Naina untuk ke ruangan Adrian, karena pria itu menginginkan Naina untuk membersihkan ruangannya. Meski merasa aneh, namun Naina tetap melaksanakan perintah bu Hana. Padahal tadi pagi ia juga yang sudah membersihkan ruangan itu sampai bersih. Alangkah terkejutnya Naina saat memasuki ruangan Adrian yang kini sudah seperti kapal pecah. Dimana beberapa perabotan berserakan begitu juga dengan beberapa kertas dokumen.
"Tuan?" panggilnya pelan saat tak mendapati pria itu di ruangannya.
"Apa itu kau Naina?" terdengar suara Adrian dari dalam kamar mandi yang ada di ruangan itu.
"Iya tuan..."
"Tolong bersihkan ruangan dan periksa apa masih ada tikus disana!" titah Adrian masih dari dalam kamar mandi.
"Tikus?" batin Naina bingung.
"Masak ada tikus di ruangan CEO? apa lagi ini di lantai 10..." batinnya lagi.
Namun tiba-tiba ia mendengar sesuatu. Suara yang begitu ia kenali bahkan sejak ia menjadi seekor kucing. Ya... ia bisa mendengar suara binatang pengerat itu di sana. Sepertinya hewan itu tengah mengerat sesuatu di salah satu pojok ruangan. Bahkan hidung Naina / Mitsy juga bisa mencium bau dari hewan itu. Tak lagi memikirkan bagaimana caranya hewan itu bisa sampai ke ruangan Adrian, Mitsy / Naina pun mulai mencari keberadaan hewan yang sudah membuat ruangan Adrian berantakan. Bisa diduga jika pria itu fobia dengan hewan satu itu. Oleh karenanya ia kini bersembunyi di dalam kamar mandi.
Dengan mengendap-endap, Naina / Mitsy pun berusaha mendekat ke arah hewan itu berada. Perlahan ia mendekat ke arah sudut ruangan di mana ia mendengar asal suara hewan pengerat itu. Banyaknya benda yang berserakan membuat Mitsy / Naina harus bergerak hati-hati agar tidak membuat tikus itu melarikan diri sebelum ia sempat menangkapnya. Perlahan, Naina / Mitsy menyingkirkan barang-barang yang menutupi tempat persembunyian tikus itu. Benar saja... setelah Mitsy / Naina menyingkirkan lembaran kertas dan pecahan toples, ia bisa melihat tikus itu tengah meringkuk di pojok ruangan sambil mengerat potongan roti. Mungkin saja itu cemilan milik Adrian yang terjatuh saat pria itu tak sengaja melemparkan toples berisi cemilan tersebut.
Melihat kehadiran Naina / Mitsy, tikus itu untuk sesaat membeku. Sepertinya ia memiliki insting jika yang ada dihadapannya adalah predator alaminya meski dengan wujud yang berbeda. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Naina / Mitsy. Dengan secepat kilat ia langsung menerkam tikus itu dengan kedua tangannya. Gerakannya yang cepat membuat tikus itu langsung berada di dalam genggamannya. Meski ia dulu seekor kucing, namun sejak dulu ia tidak suka menyantap hewan pengerat itu. Justru ia hanya suka untuk membuat hewan itu sebagai mainannya saja. Sang tikus pun hanya pasrah saat Naina / Mitsy memasukkannya ke dalam kantong plastik sebelum Mitsy / Naina membuangnya keluar.
Setelah memasukkan tikus itu ke dalam kantong kresek hitam, Naina / Mitsy pun mulai membersihkan ruangan Adrian. Dengan cekatan Naina / Mitsy membersihkan ruangan Adrian dan dalam waktu setengah jam ruangan itu pun kembali rapi seperti semula. Naina / Mitsy pun memanggil Adrian agar keluar dari dalam kamar mandi.
"Tuan silahkan keluar... tikusnya sudah saya tangkap dan ruangan tuan juga sudah rapi..." kata Naina.
Tak lama, Adrian pun keluar dari dalam kamar mandi sambil memindai seluruh ruangan. Benar, ruangannya yang tadi sempat berantakan akibat ulahnya sendiri saat melempari tikus sudah kembali rapi seperti semula.
"La... lalu dimana hewan itu?" tanya Adrian dengan ekspresi ngeri.
"Ada di dalam sini tuan..." sahut Naina / Mitsy sambil menunjukkan kantong kresek berwarna hitam dihadapan Adrian.
Dapat pria itu lihat jika kantong kresek yang dipegang oleh Naina bergerak-gerak memperlihatkan jika ada sesuatu yang hidup di dalam sana. Wajah Adrian bertambah pucat.
"Cepat bawa hewan itu keluar dari dalam sini! setelah itu kau bawakan aku kopi seperti biasa... jangan lupa cuci dulu tanganmu sebelum membuatkanku kopi..." titah Adrian yang langsung diangguki oleh Naina.
Setelah Naina keluar dari dalam ruangannya, Adrian langsung menghempaskan dirinya keatas kursi kerjanya. Pria itu pun mengendurkan dasinya, agar ia merasa lebih lega. Bagaimana tidak... sudah hampir dua jam ia terjebak bersama mahluk yang sangat ia takuti itu. Untuk meminta bantuan pada orang lain ia malu karena takut jika mereka malah akan meledeknya dan membicarakannya di belakang. Hingga akhirnya di saat ia akan menyerah terlintas olehnya nama Naina. Entah mengapa ia sangat yakin jika gadis itu bisa mengatasi hewan pengerat yang sangat ditakutinya itu.
Benar saja... dalam waktu singkat gadis itu sudah bisa menangkap hewan itu dan sekaligus membersihkan ruangannya hingga bersih seperti semula. Kini ia mulai berfikir siapa yang telah berani mengerjainya dengan meletakkan tikus di ruangannya, karena tidak mungkin tikus itu bisa sampai disana tanpa sengaja.
"Cepat kirimkan rekaman cctv di ruanganku sekarang juga!" titah Adrian pada asistennya melalui ponselnya.
Adrian benar-benar berang dengan apa yang baru saja terjadi. Untung saja meski ia sempat ketakutan, namun tidak berakibat fatal pada dirinya akibat fobia yang dialaminya tadi. Tak lama Naina membawakan kopi pesanan Adrian. Segera pria itu meneguknya demi menenangkan dirinya. Melihat Adrian yang sudah tenang, Naina pun pamit undur diri. Setelah kepergian Naina, sang asisten pun datang dengan membawa laptopnya. Ia pun lalu menunjukkan rekaman cctv yang diminta oleh Adrian. Keduanya pun lalu memeriksa rekaman itu bersama.
"Tuan... ini?" tanya sang asisten terkejut saat melihat rekaman cctv di ruangan Adrian.
"Ya... ada yang tahu tentang kelemahanku dan mencoba untuk bermain-main denganku..." sahut Adrian setelah keduanya selesai melihat hasil rekaman ccctv di ruangan Adrian.
"Maafkan saya tuan karena tidak berada disamping anda saat hal itu terjadi..." ucap Raka sang asisten penuh penyesalan.
Bagaimana tidak... jika saja Adrian tidak bisa mengendalikan fobianya saat itu, bisa saja pria itu mendapatkan serangan jantung yang bisa berakibat fatal.
"Tidak apa-apa... lagi pula saat itu kau juga masih berada diluar untuk mengurusi proyek baru kita... hanya saja aku ingin kau segera menemukan orang itu dan mencari tahu bagaimana ia bisa mengetahui kelemahanku dan mengapa ia melakukannya... karena aku yakin jika orang itu hanya suruhan dan aku ingin tahu siapa yang sudah mengirimnya"
"Baik tuan..." sahut Raka yang kemudian undur diri untuk melaksanakan tugasnya.
Setelah Raka keluar Adrian kembali menyesap kopi buatan Naina. Kali ini wajah pria itu sudah kembali tenang dan bahkan kini sudah menyunggingkan senyuman.
"Kau benar-benar gadis yang sangat berbeda..." gumamnya.
Sementara Naina sudah kembali ke ruang pantry. Di sana ia bertemu dengan temannya Desi. Gadis itu tengah membujuk Naina agar mau ikut piknik tahunan perusahaan yang diadakan untuk seluruh karyawan. Namun Naina / Mitsy masih enggan karena ia masih harus menyelesaikan misinya untuk membalas dendam. Apa lagi Jono sudah mulai mencurigainya begitu juga dengan Johan. Namun bukan Desi namanya jika ia tidak bisa membujuk seseorang termasuk Naina. Akhirnya setelah berbagai macam bujukan, Naina pun akhirnya luluh dan mau ikut piknik bersama. Ia akui jika saat ini mungkin ia juga butuh liburan agar ia bisa menjernihkan fikirannya sehingga bisa melanjutkan balas dendamnya.
Desi langsung bersorak gembira saat akhirnya Naina mau ikut dalam piknik perusahaan. Desi memang ingin sekali mengajak Naina refresing karena ia tahu jika sejak dulu gadis itu selalu saja berhemat dan sering kali lupa untuk bersenang-senang. Acara piknik perusahaan akan diadakan tiga hari lagi, sehingga Naina / Mitsy memiliki cukup waktu untuk membungkam Jono terlebih dahulu agar tidak menjadi penghalang untuk balas dendamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments