Hari ini Naina kembali membuatkan kopi untuk Adrian sesuai perintah pria itu. Saat ia mengantarkannya ke ruangan Adrian, ia terkejut saat melihat Tasya juga berada di dalam sana. Naina berusaha untuk bersikap tenang, namun ia juga harus waspada karena mungkin saja Tasya akan mengenalinya. Tasya yang sedang berusaha untuk merayu Adrian tampak sangat kesal saat melihat Naina masuk untuk membawakan kopi. Ia merasa jika OG itu telah mengganggu semua rencananya.
"Maaf tuan... ini minumannya..." ucap Naina yang merasa tidak nyaman dengan pandangan tajam Tasya padanya.
"Hem... taruh saja disitu!" tunjuk Adrian pada meja kerjanya.
"Silahkan tuan..." ucap Naina setelah meletakkan gelas kopi di meja kerja Adrian.
"Terima kasih..." sambil menampilkan senyumnya sekilas.
"Sama-sama tuan..." sahut Naina masih dengan menundukkan wajahnya.
Tasya tampak terkejut saat mendengar Adrian mengucapkan terima kasih pada OG yang ada di hadapannya itu. Karena tidak biasanya Adrian bersikap ramah seperti itu pada orang lain. Bahkan pada dirinya pun Adrian tak pernah mengatakannya. Dengan mata menyelidik, Tasya memperhatikan OG yang ada dihadapannya itu. Entah mengapa ia merasa familiar dengan wajah gadis itu... tapi dimana? batin Tasya yang mencoba mengingat dimana ia pernah melihat wajah gadis itu. Namun sayangnya ia tidak dapat mengingatnya. Naina pun segera berlalu saat menyadari jika Tasya tengah menatapnya dengan penuh selidik.
"Tunggu!" terdengar suara Tasya menghentikan langkah Naina.
"Iya nona?" Naina pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Tasya sambil menundukkan kepalanya.
"Kau! sudah berapa lama kamu bekerja disini?" tanya Tasya menginterogasi.
"Sudah hampir tiga tahun nona..." sahut Naina berusaha untuk tetap sopan.
"Hei! apa maksudmu menginterogasi karyawanku seperti itu heh?" sergah Adrian saat Tasya akan kembali bertanya pada Naina.
"Aku..."
"Aku apa? belum menjadi nyonya kamu sudah berani mengatur karyawanku..." potong Adrian dengan nada marah.
Adrian memang tidak suka jika ada orang yang senena-mena dengan orang lain yang lebih lemah. Apa lagi sebenarnya ia sejak dulu memang sudah tidak menyukai Tasya. Hanya saja keluarganya yang memaksakan perjodohan dengan gadis itu. Jika bukan karena permintaan sang bunda yang saat itu tengah sakit parah maka ia tidak akan pernah menerima perjodohan itu.
"Tapi sayang..."
"Tapi apa? sudah... kau kembalilah ke tempatmu!" titah Adrian pada Naina.
Gadis itu pun langsung mengangguk dan segera keluar dari dalam ruangan itu. Sementara Tasya tampak agak ketakutan saat melihat kilat kemarahan di mata Adrian.
"Dan kau! lebih baik kau pulang saja Tasya... tidak ada gunanya kamu berada di sini..." usir Adrian.
"Kamu mengusirku?"
"Memang kau tidak ada gunanya disini kan? lalu apa salahnya aku menyuruh kamu pergi?" sahut Adrian enteng.
Wajah Tasya sudah memerah karena marah merasa dipermalukan oleh Adrian. Jika bukan karena perintah papanya agar selalu menempel pada pria itu sudah tentu ia akan lebih senang menghabiskan waktu dengan teman-temannya bersenang-senang dengan berbelanja dan perawatan diri. Tasya menghembuskan nafasnya pelan.
"Tenang Tasya... kau harus sabar... Adrian itu masa depanmu... jadi jangan sampai ia terlepas dari genggaman tanganmu..." batin Tasya mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Hemm... baiklah sayang... maaf jika aku sedikit mengganggumu... kalau begitu aku pulang dulu ya..." ucapya lembut sambil mendekat ke arah Adrian untuk memberikan kecupan pada pria itu.
Namun Adrian langsung mengangkat telapak tangannya kemudian mengibaskannya sebagai tanda agar wanita itu tidak mendekat dan menyuruhnya untuk segera pergi. Meski merasa dongkol namun Tasya tetap berusaha tersenyum dan segera keluar dari ruangan Adrian. Dari sana ia langsung melangkah cepat ke ruangan Johan. Sebab ada sesuatu yang harus ia sampaikan pada pria itu terkait gadis OG yang ia lihat tadi. Meski samar tapi Tasya yakin jika ia pernah melihat wajah gadis itu. Dan ia juga merasa tidak nyaman saat melihat wajahnya. Seakan ada sesuatu yang buruk terkait dengan gadis itu.
Sementara di dalam ruangannya, Adrian tengah menikmati kopi buatan Naina. Entah sejak kapan ia menjadi candu dengan kopi buatan OG itu. Padahal dulu ia ingat bahwa ia juga pernah menyuruh gadis itu untuk membuatkannya kopi. Namun rasanya sungguh berbeda dengan yang kini ia rasakan. Apakah gadis itu sudah belajar membuat kopi hingga kini menjadi ahli? Adrian terkekeh sendiri dengan pemikirannya barusan.
Sedang di ruangan Johan tampak Tasya dan pria itu tengah berbincang serius.
"Kenapa kau kemari Sya? kau tahu ini akan membuat orang-orang curiga dengan hubungan kita..."
"Tapi ada hal yang harus aku bicarakan padamu Johan..."
"Apa tidak bisa lewat telfon saja? atau nanti malam kita bisa ketemuan di tempat biasa..."
"Tidak Jo... kali ini masalahnya genting..."
"Apa maksudmu?"
"Gadis itu... gadis OG yang memergoki kita dulu... apa kau yakin jika orang suruhanmu itu sudah menghabisinya?" tanya Tasya dengan tatapan menyelidik.
"Tentu saja... orang suruhanku itu mana mungkin akan berdusta... memangnya ada apa?" tanya Johan penasaran.
"Begini... tadi sewaktu aku berada di ruangan Adrian, ada seorang OG yang mengantarkan minuman. Dan OG itu mirip dengan gadis malam itu... hanya saja penampilannya sangat berbeda... tadi bahkan aku sempat tidak mengenalinya..." terang Tasya yang membuat Johan langsung terkejut.
"Tapi kita lihat sendirikan, saat orang suruhanku itu membawanya?"
"Iya... tapi apa mungkin gadis itu berhasil kabur... dan orang suruhanmu itu berbohong agar tidak disalahkan..."
"Itu tidak mungkin Sya... saat itu orang suruhanku bahkan mengirimkan foto gadis itu saat sudah mereka eksekusi..." ungkap Johan sambil meraih ponselnya dan segera mencari foto Naina yang dikirimkan oleh Jack.
"Sekarang lihatlah... apa dengan keadaan seperti ini gadis itu masih bisa hidup?" kata Johan sambil memperlihatkan foto Naina yang terkapar dengan parang yang menancap di punggung hingga menembus dadanya.
Meski wajah gadis itu tidak terlihat jelas karena terkena cipratan darahnya sendiri, tapi keduanya yakin jika itu adalah gadis yang mereka lihat malam itu. Tasya langsung menjerit lirih dan menutup kedua matanya saat melihat foto Naina yang sangat mengerikan baginya itu.
"Singkirkan foto itu Johan! apa kau tidak takut menyimpan foto itu di ponselmu?" seru Tasya tak mengerti dengan tingkah kekasihnya itu.
"Kenapa?" tanya Johan seolah itu bukan hal yang besar.
"Kau ini bodoh atau apa sih... bisa saja kan nanti ada orang lain yang akan melihatnya dan melaporkannya ke pihak kepolisian..." kata Tasya dengan geram karena kesal akan kecerobohan Johan.
"Kau tenang saja sayang... tidak akan ada yang berani melihat isi ponselku selain dirimu..." sahut Johan sambil mengerling nakal ke arah Tasya.
Tasya langsung memalingkan wajahnya karena masih kesal dengan ulah Johan yang masih menyimpan foto kematian gadis itu. Tapi setidaknya ia jadi merasa lega jika gadis itu sudah benar-benar mati. Mungkin memang OG tadi hanya mirip dengan gadis yang telah memergoki mereka malam itu. Setelah itu ia pun segera pergi dari ruangan Johan setelah sebelumnya ia berjanji pada pria itu untuk menemuinya nanti malam di cafe tempat mereka biasa bertemu.
Di tempat lain... tampak Jack baru saja duduk di sebuah cafe yang berada tak jauh dari kantor Johan. Ia saat ini tengah menunggu seseorang yang sudah ia tugaskan untuk menyelidiki kematian Miko dan Beni. Tak lama orang yang ia tunggu pun datang.
"Maaf terlambat... apa kau sudah menunggu lama?" tanya orang itu sambil mengambil tempat duduk di depan Jack.
"Tenang saja... aku juga baru saja datang..." sahut Jack.
"Baiklah... bagaimana hasilnya?" tanya Jack yang sudah tidak sabar.
"Ini... lihatlah sendiri..."
Jack mengambil berkas yang berikan oleh pria itu padanya dan langsung membaca isinya. Kening pria itu pun langsung mengerut saat membaca apa yang ada di dalam dokumen itu.
"Jadi kematian Miko dan Beni bukan ulah para musuh-musuhku?"
"Benar... dan ada yang aneh tentang penyebab kematian mereka berdua... keduanya mati karena terkena racun binatang... mirip bisa ular... tapi melihat luka yang mereka derita, itu tidak mungkin perbuatan seekor ular, karena tidak ada tanda gigitan hewan itu ditubuh keduanya..." terang orang itu.
"Tapi apa tidak mungkin jika keduanya disuntik racun oleh seseorang?" tanya Jack yang tidak ingin kecolongan.
"Aku sudah memeriksa seluruh tubuh keduanya... dan tidak ada tanda bekas suntikan di sana... apa lagi racun itu berasal dari luka cakaran yang ada di tubuh keduanya..."
"Jadi maksud kamu ada hewan yang mencakar kedua anak buahku itu dan cakar itu memiliki bisa racun?"
"Benar..."
"Heh kau fikir ini film fiksi? dimana ada monster seperti itu..." kata Jack dengan nada sedikit marah.
"Aku tahu... tapi itu bukti yang aku temukan..." sahut orang itu tidak mau disalahkan.
"Apa ada kemungkinan jika seseorang menggunakan kostum dan cakar palsu yang sudah diolesi dengan bisa racun untuk menghabisi kedua anak buahku itu?" tanya Jack memberikan pandangannya.
"Mungkin saja... tapi itu belum bisa dibuktikan Jack..."
Jack tampak menyugar rambutnya frustasi, masalah kematian kedua anak buahnya itu sungguh tidak sesederhana yang ia bayangkan. Jika saja benar keduanya dibunuh oleh jelompok saingan bisnisnya, maka akan dengan mudah Jack untuk membalas kematian keduanya. Tapi ini... semua seakan menjadi misteri baginya, dan dia sama sekali tidak suka. Karena Jack adalah pria yang selalu ingin cepat menyelesaikan masalahnya tanpa harus berputar-putar untuk mengungkap misteri terlebih dahulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments