Target Kedua

Mitsy sangat terkejut saat bu Hana menyuruhnya untuk menyiapkan kopi untuk Adrian di ruangannya. Bukan apa-apa... ia belum tahu bagaimana cara membuat kopi. Ini pertama kali ia melakukannya.

"Bagaimana ini?" batinnya panik.

"Tenang Mitsy... coba kau ingat-ingat... Naina pasti sudah pernah melakukannya..." batinnya lagi sambil menghembuskan nafasnya mencoba untuk tenang dan kembali menggali ingatan Naina.

Kemudian ia pun mulai meracik kopi yang diinginkan oleh atasannya itu dengan modal ingatan Naina. Dan akhirnya ia bisa menyiapkan kopi untuk atasannya itu dengan baik, meski masih agak cemas dengan hasil racikannya itu. Dengan sedikit gugup Mitsy mengantarkan kopi buatannya itu ke ruangan Adrian. Bukan apa-apa... ia hanya takut jika Tasya masih berada di ruangan Adrian saat ia mengantarkan kopi itu. Walau pun Tasya tadi tidak mengenalinya, tapi Mitsy tetap berusaha untuk menjaga jarak agar identitasnya tidak di ketahui oleh wanita itu dan juga Johan.

Tok... tok.. tok...

"Masuk!" terdengar suara yang mengizinkan Mitsy / Naina untuk masuk ke dalam ruangan Adrian.

Perlahan Naina membuka pintu itu dan masuk untuk mengantarkan kopi.

"Permisi... saya ingin mengantarkan kopi tuan..." ucap Naina sambil menundukkan kepalanya.

"Hem... taruh saja di situ..." sahut Adrian sambil menunjuk meja kerjanya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop didepannya.

Naina pun berjalan perlahan dan mencoba memindai sekilas ruangan atasannya itu. Sepertinya tidak ada orang lain di sana selain Adrian. Naina pun langsung merasa lega dan segera meletakkan kopi itu sesuai keinginan Adrian. Setelahnya ia pun segera pamit keluar dari dalam ruangan itu. Saat kembali ke ruang pantry Naina mendapati jika ruangan itu sedang sepi. Hal ini membuatnya merasa mendapat kesempatan untuk memeriksa ponsel Miko yang semalam sempat ia bawa. Saat membuka ponsel itu tampak puluhan pesan dan juga panggilan masuk ke dalam ponsel itu. Ketika ia memeriksanya ternyata itu pesan dari teman komplotan Miko yang sedang mencari pria itu karena tidak datang ke tempat pertemuan mereka.

Tiba-tiba Mitsy menyadari jika saat ini ia tengah melakukan kesalahan dengan membawa ponsel milik Miko itu. Bagaimana tidak... bisa saja kan, komplotan Miko akan melacak keberadaan pria itu melalui ponselnya?

"S**l! apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumamnya cemas.

Tapi saat melihat semua pesan yang ia baca dari ponsel Miko, tampaknya teman-teman pria itu belum menyadari jika Miko telah tewas.

"Mungkin sebaiknya aku mengembalikan ponsel ini ke rumahnya..." batin Mitsy.

"Tapi bagaimana caranya agar tidak ada yang mengetahui aku datang ke sana?"

"Ayo berfikir Mitsy!" gumamnya lirih.

Saat itulah terdengar suara bu Hana yang memanggilnya.

"Iya bu?" tanya Naina saat gadis itu sudah berdiri didepan atasannya itu.

"Pak Adrian memanggilmu ke ruangannya sekarang..." kata bu Hana.

"A... ada apa ya bu?" tanya Naina khawatir jika ia tadi telah melakukan kesalahan.

"Entahlah... saya juga tidak tahu... yang penting sekarang kamu temui saja beliau sekarang"

"Ba... baik bu..." sahut Naina lalu bergegas pergi ke ruangan Adrian.

Tok! tok! tok!

"Masuk!"

"Permisi tuan..." ucap Naina berusaha menahan rasa gugupnya.

"Hem... tadi kamu yang sudah membuatkan kopi untuk saya?" tanya Adrian yang kini sudah menatap Naina tajam.

"I... iya tuan..." sahut Naina gugup.

"Apa aku sudah salah dalam membuat kopi untuk tuan Adrian?" batinnya cemas.

"Mulai saat ini saya ingin kamu yang membuatkan saya kopi... mengerti?" ucap Adrian yang membuat Naina terkejut.

"I... iya... tuan... saya mengerti..."

"Bagus! sekarang kamu kembali ke tempatmu!"

"Baik tuan... permisi..."

"Hemm..."

Naina pun segera keluar dari ruangan Adrian dengan perasaan lega. Dan ketika ia melewati ruangan Johan, hatinya langsung tergelitik untuk menyelidiki apa yang direncanakan oleh pria itu sebenarnya. Saat melihat situasi yang sepi, ia pun masuk ke dalam ruangan Johan dengan berpura-pura untuk membersihkan ruangan pria itu. Naina memindai isi ruangan Johan dengan seksama. Ia harus menemukan bukti kecurangan pria itu dan juga Tasya. Meski sebenarnya ia juga ragu jika Johan akan menyimpan bukti kecurangannya di dalam sana. Tapi tidak ada salahnya juga jika ia mencoba peruntungannya.

Entah sudah berapa lama Naina berada di dalam ruangan Johan, saat tak sengaja ia melihat kamera cctv yang berada di dalam ruangan pria itu.

"S**l! ternyata di dalam ruangan ini ada kamera cctv juga... dan aku pasti juga sudah terekam di dalamnya..." batinnya cemas.

Dengan cepat ia pun segera keluar dari dalam ruangan Johan meski ia belum mendapatkan bukti apa pun.

"Bagaimana ini? aku harus menghapus rekaman cctv itu agar tidak ada yang mencurigaiku..."

Dengan segera ia pun mencoba mencari ruang pengawas cctv. Meski beresiko ia harus melakukannya agar ia tidak ketahuan oleh Johan jika ia telah memasuki ruangan pria itu. Setelah menemukan ruangan itu, Naina mencoba untuk mengalihkan perhatian petugas di sana agar ia bisa masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa ketahuan. Dengan membuat suara gaduh di luar ruangan pengawas cctv, Naina mencoba untuk membuat petugas di sana meninggalkan ruangan. Benar saja... tak lama dua orang security yang bertugas di sana pun keluar dan langsung mencari asal suara yang mencurigakan bagi mereka.

Setelah kedua orang itu keluar, Naina langsung masuk ke dalam dan memeriksa rekaman yang ada di dalam sana. Dan benar... disana terdapat rekaman saat ia masuk ke dalam ruangan Johan. Dengan segera ia pun menghapusnya. Saat ia akan meninggalkan ruangan, tanpa sengaja ia melihat Johan tengah berbincang dengan salah satu penjahat yang menyakiti Naina di tempat parkir. Saat sedang berfikir apa yang akan ia lakukan, terdengar suara langkah kaki mendekat disertai suara gerutuan yang membuat dengan cepat Mitsy / Naina segera keluar dari ruangan itu agar tidak terpergok penjaga ruangan yang sebentar lagi pasti kembali. Dan benar saja... baru saja Naina keluar dari ruangan cctv, ia sudah melihat kedua penjaga itu berjalan ke arah ruang cctv sambil mengumpat.

Naina tidak pergi ke parkiran untuk menyelidiki Johan dan salah satu penjahat itu karena ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Tapi keberuntungan ternyata tengah berpihak padanya. Karena saat kembali ke ruang pantry, dirinya langsung disuruh oleh bu Hana untuk membelikan makan siang untuk salah satu karyawan. Dengan senang hati ia pun menerimanya karena dengan begitu ia bisa sambil mencaritahu dimana penjahat itu tinggal. Namun saat sampai di parkiran, ia sudah tidak menemukan pria itu. Bahkan Johan juga tidak tampak batang hidungnya.

Meski kecewa, namun Naina tetap berfikir positif. Ia juga sudah berencana untuk kembali ke club tempat dimana ia melihat Johan dan juga Miko lagi malam ini. Dengan bergegas gadis itu segera pergi ke restoran yang berada tak jauh dari gedung tempatnya bekerja itu, sehingga Naina tak perlu menggunakan kendaraan cukup dengan berjalan kaki sepuluh menit ia pun sudah sampai pada tujuannya.

Malam harinya... setelah beristirahat sejenak, Naina langsung bersiap. Namun kali ini ia tidak mengenakan pakaian seksi dan juga berdandan. Sebab ia hanya akan mengembalikan ponsel Miko agar tidak menimbulkan kecurigaan. Kali ini ia mengenakan T-shirt dengan celana panjang yang akan memudahkannya bergerak. Karena kali ini ia akan menggunakan cara kucing bukannya manusia. Ya Naina memutuskan untuk melengang diatas atap rumah dan gedung dibanding menggunakan alat transportasi. Dengan begini ia juga merasakan sensasin kebebasan yang dulu selalu ia rasakan saat menjadi seekir kucing.

Dan untuk menunjang kelincahannya ia sengaja mengenakan sepatu kets yang cukup ringan namun aman. Tak lupa ia juga mengenakan jaket hoodie agar ia tak dikenali jika tanpa sengaja tertangkap kamera cctv. Setelah mengunci pintu kosannya ia pun mulai meloncat ke atas atap rumah di sebelah kosannya. Naina menarik nafasnya dalam. Menikmati udara malam masuk ke dalam kerongkongannya lalu ke paru-parunya. Sesaat ia memejamkan matanya sejenak, untuk meningkatkan instingnya. Dan saat ia membuka matanya perlahan, tampak kilatan pada matanya. Dendam harus segera dituntaskan...

Dengan cepat ia pun kembali melompat diatas atap baik itu rumah mau pun gedung yang bukan hanya membutuhkan keahlian melompat, tapi juga memanjat dan juga akrobatik. Tapi ia tak memikirkannya saat ini karena Naina hanya mengikuti nalurinya. Dengan cekatan ia berpindah dari satu gedung ke gedung yang lain saat ia mendekati pusat kota. Matanya yang kini tajam karena sejak rohnya berpindah kesehatannya pun ikut berpindah hingga ia tak lagi harus menggunakan kaca mata. Dan dengan ketajaman matanya saat ini ia tengah mengintai daerah tempat tinggal Miko. Dan saat sudah memastikan jika segalanya aman, ia pun langsung menyusup ke dalam rumah Miko. Di sana... mayat Miko masih tergeletak karena belum ada yang menyadari jika pria itu telah meninggal.

Naina menyungingkan senyuman sinis saat melihat betapa mengenaskannya pria itu saat ini. Mungkin karena kejahatannya yang banyak membuat pria itu kini dalam keadaan yang mengenaskan seakan menerima karma. Bahkan mayatnya tak ada yang menyadarinya, padahal terlihat jika luka ditubuh mayat Miko sudah mulai mengeluarkan bau. Naina meninggalkan ponsel Miko di dalam kamar pria itu. Kemudian ia pun segera pergi dari sana dan mengintai di depan club tempat ia menemukan Miko berharap jika ia juga akan menemukan teman Miko yang lainnya di sana.

Saat itulah ia melihat rekan Miko yang siang tadi terlihat bersama Johan. Naina tersenyum dingin. Ia tahu jika pria itu pasti tengah mencari Miko. Dan benar saja... tak lama pria itu tampak mulai berjalan ke arah rumah Miko. Naina tidak membuang kesempatan itu, dengan cepat ia pun mencegat pria itu di gang gelap dekat rumah Miko.

"Selamat malam Beni..." sapa Naina dengan suara dingin.

Beni tersentak saat mendengar suara seorang wanita yang memanggilnya. Pria itu pun langsung menoleh ke asal suara dan langsung terkejut saat melihat seseorang telah berdiri dibelakangnya.

"Siapa kau?" tanya Beni sambil menatap tajam orang yang ada dihadapnnya itu.

Penerangan yang minim membuat Beni kesulitan untuk mengenali orang yang ada dihadapannya saat ini. Perlahan Naina membuka penutup kepalanya yang membuat Beni langsung tersentak kaget.

"Ka... kau..." tunjuk Beni pada wajah Naina.

Ya... meski agak remang namun Beni masih bisa mengenali wajah Naina yang memang cukup dekat dengannya berdiri saat ini.

"Ti... tidak! ka... kau sudah mati! Jack sudah membunuhmu malam itu!" seru Beni dengan suara takut.

Bagaimana tidak? malam itu ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Naina tertembus parang milik Jack tepat di punggungnya hingga ke dada. Jadi bagaimana mungkin gadis itu masih bisa selamat? batin Beni. Atau mungkinkah yang ada dihadapannya saat ini adalah arwah gadis itu yang hendak menuntut balas? tidak... tidak mungkin pada zaman modern seperti saat ini ada arwah yang bergentayangan untuk membalas dendam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!