Ingin sekali Vina menanyakan perihal gaji Radit, mengapa harus diserahkan kepada Maria?. Tetapi Vina enggan untuk menanyakan nya, karena Vina masih satu hari menjadi menantu di rumah itu.
"Cukuplah dulu, melihat-lihat saja dulu. Nanti kedatangan Radit di 2 minggu berikutnya, Vina akan berusaha untuk membujuk Radit", pikir Vina dalam hati dengan penuh kesabaran.
"Sekarang aku harus menuruti dulu apa kata Maria. Mencoba mendalami lagi sifatnya", pikir Vina menambahi.
Selesai melakukan apa yang di perintahkan Maria, termasuk selesai memasak. Tiba waktunya untuk sarapan pagi, karena setelah sarapan Radit akan berangkat kerja ke luar kota.
"Vin, sana bangunin suami kamu, agar kita makan bersama. Karena jam 8, suamimu sudah harus berangkat ke luar kota", perintah Maria kepada Vina. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan.
"Bang bangun, ayo kita sarapan. Sebentar lagi kan Abang mau berangkat ke luar kota", Vina menggoyang-goyangkan tubuh Radit.
Radit pun langsung tersentak dari tidurnya dan langsung beranjak dari tempat tidur menuju meja makan.
"Pagi sayang mama, ayo makan yuk!, sini duduk dekat mama!", Suara Maria begitu manis dan lembut menyapa Radit yang bangun kesiangan, Radit pun duduk di samping Maria, bukannya duduk di samping Vina.
"Benar-benar Radit di perlukan seperti anak kecil", pikir Vina dalam hati dan merasa aneh sudah punya istri masih saja diperlakukan seperti anak kecil.
Ternyata Steven memperhatikan raut wajahku yang merasa risih melihat tingkah laku antara ibu dan Radit.
"Ma, jangan memperlakukan Radit seperti anak kecil lagi. Radit kan sudah punya istri. Apa tidak malu sifat Radit seperti anak kecil nantinya, tidak mandiri. Padahal sebentar lagi Radit akan mempunyai anak dan segera menjadi ayah", Steven menasihati Maria.
"Apaan sih pa, kan biasa saja sih. Lagian Radit juga akan 14 hari meninggalkan kita", Maria merasa biasa saja memperlakukan Radit.
Melihat Maria yang tidak menyadari kesalahannya, padahal sudah ditegur dan dibilangi. Tetap saja merasa benar. Steven jadi kesal dan marah.
"Sudahlah, Adanya kita akan berdebat terus. Kapan makannya", Steven pun langsung menyendok nasi ke piring nya dengan sedikit kesal. Maria selalu saja memanjakan Radit.
Mengetahui Steven selalu menyalahkan Maria yang selalu memanjakan Radit, dan Steven juga selalu membela Vina, bukannya mendukung anaknya sendiri. Maria semakin jengkel kepada Vina.
Vina ingin mengambil nasi bermaksud untuk menyendok nasi ke piring Radit, tetapi tiba-tiba langsung dipotong Maria.
Maria langsung memberi nasi pemberiannya sendiri kepada Radit yang sudah berisi lauk dan sayur. Radit langsung melahap habis nasi pemberian Maria. Vina hanya diam saja, nasi yang tadi sudah di sendoknya di nikmati untuk dirinya sendiri.
Selesai makan Radit, berkemas untuk mandi. Vina sudah menyiapkan pakaian yang akan di kenakan Radit di letakkan di atas ranjang mereka.
Tetapi begitu Radit keluar dari kamar mandi, Maria langsung menyerahkan pakaian ganti untuk dikenakan Radit selesai mandi "Pakai ini saja sayang, biar kelihatan lebih muda dan keren", ucap Maria senyum-senyum mengejek kepada Vina.
Radit langsung menerima pakaian itu dari Maria dan segera mengenakan nya di dalam kamar. Pakaian yang disediakan Vina di atas ranjang di biarkan saja tergeletak.
Radit pun langsung pamit hendak berangkat kerja "Ma, Radit pergi dulu ya", Vina mengikuti dari belakang membawa tas berisi pakaian bersih yang akan dikenakan Radit selama di perjalanan.
"Hati-hati di jalan ya sayang, jaga kesehatan. Jangan lupa sering-sering menelepon mama", Maria memeluk Radit erat-erat dan tidak lupa cipika cipiki.
"Ma, tidak usah berlebihan begitu. Vina jadi tidak tahu harus bersikap. Sebenarnya yang jadi istri Radit mama atau Vina sih", Steven kembali menegur Maria.
"Apaan sih pa, papa apanya yang salah sih", Maria kesal dan marah selalu ditegur. Begitu Radit keluar rumah, Maria pun langsung meninggalkan Vina dan Steven di halaman depan.
"Vin, kamu jelasin kepada Radit bagaimana harusnya sebagai suami. Suruh Radit mengurangi sifat ketergantungan nya kepada mamanya", nasihat Steven kepada Sari.
"Tidak apa-apa pak, itu suatu bentuk kasih sayang ibu kepada anaknya", Vina mencoba memberi tanggapan.
"Ibu mertuamu memang yang selalu memanjakan Radit, sehingga Radit tidak mandiri. Itu mungkin karena Radit dulu lama baru hadir di tengah-tengah keluarga kami. Dan memang karena Radit adalah anak semata wayang, makanya ibu mertuamu terlalu memanjakan nya.
Tetapi sekarang Radit sudah mempunyai istri, itu yang bapak salahkan kepada ibu mertua mu. Kamu jangan merasa tidak enak hati ya Vin?", Steven berbicara dengan lembut. Karena tidak enak kepada Vina terus berdebat dengan Maria.
"Tidak apa-apa pak, Vina mengerti kok. Kondisi ibu", Vina memaklumi, tetapi yang Vina tidak bisa maklumi kenapa gaji Radit harus diserahkan semua kepada Ibu. Vina belum bisa mengatakan itu kepada ayah mertua.
"Vina pamit ke dapur dulu ya pak", Vina langsung meninggalkan Steven. Takut Maria akan semakin marah, malah menyangka menjelek-jelekkan nya bila terus berlama-lama mengobrol dengan steven. Vina tidak mau Maria semakin membencinya.
Begitu Vina sampai di dapur. Maria langsung membentak Vina "Beresin dan cuci piring ini semua. Oh iya hari ini kamu waktunya mencuci pakaian.
Tidak usah memakai mesin cuci, jangan boros air dan sabun. Besok jangan lupa pergi ke pasar, karena stok ikan dan sayur di kulkas sudah habis", Maria memberi tahu pekerjaan Vina dengan ketus dan lantang.
Vina hanya diam saja mencoba menuruti dan patuh terhadap semua yang diperintahkan Maria.
Vina melakukan nya dengan sigap dan cepat. Karena memang sedari kecil Vina sudah terbiasa bekerja.
Vina Sebenarnya tahu apa yang harus dikerjakan. Vina juga tidak suka santai-santai hanya duduk dan bermalas-malasan.
Entah apa maksud Maria yang selalu membentaknya untuk melakukan segala pekerjaan rumah. "Apa karna sifat Maria yang angkuh dan sombong, atau sifatnya yang suka mengatur dan memerintah, atau memang Maria merasa itu suatu kebanggaan nya", Vina mencoba mendalami sifat Maria.
Setelah melakukan apa yang diperintahkan Maria. Vina menilik jam yang berdentang di dinding. Menunjukkan pukul 09:30. "Apa lagi yang harus kulakukan?, tidak mungkin aku tiduran jam segini", pikir Vina dalam hatinya.
Vina mengambil kesibukan di halaman depan. Vina merawat dan merapikan tanaman, bahkan menanam dan memindahkan apabila ada tunas tanaman baru.
Melihat jam juga belum menunjukkan waktu makan siang. Vina pun berusaha melihat apa saja yang perlu di bereskan. Vina pun berinisiatif untuk melap semua debu-debu yang menempel di perabot dan lemari hias.
Itu semua dikerjakan Vina tanpa di suruh Maria. Vina ihklas mengerjakan semua, karena Vina sudah menganggap rumah Radit adalah rumah nya juga.
Padahal Maria sedari tadi hanya mengurung diri di dalam kamarnya, Vina tidak tahu apakah sedang tidur atau mengerjakan sesuatu.
Vina berpikir, "sebenarnya kekayaan ibu dan ayah mertuanya darimana". Apakah dulunya mereka bekerja?, apakah sudah pensiun?, adakah usaha lain, tidak mungkin hanya mengandalkan dari gaji Radit yang hanya sebagai supir ekspedisi antar kota?", Vina memang belum sempat menanyakan nya kepada Radit.
Vina pun mencoba tidak terlalu memikirkan nya, dan kembali melakukan pekerjaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments