Tidak beberapa lama karena memang sudah waktunya untuk makan siang, Alex ayahnya Vina datang dari ladang. Masuk melalui pintu belakang rumah yang memang seperti biasanya tidak pernah dikunci pada siang hari.
Vina menghampiri Alex karena mendengar pintu belakang di buka, sedangkan Shinta masih mengurung diri di kamar karena masih marah terhadap Vina yang akan melangkahinya menikah terlebih dahulu.
"Ayah, sudah pulang?", sapa Vina sambil menyalam Alex yang baru tiba dari ladang.
"Eh, kamu Vin. Sudah sejak kapan tiba di rumah. Oh iya. tiba-tiba sekali kamu pulang?, kabar Sari kakakmu baik-baik saja kan?", Alex bertanya terus menerus karena kepulangan Vina yang tiba-tiba, biasanya kalau Vina pulang itu karena bertepatan dengan hari raya.
"Kak Sari sehat pak, Vina baru sejam yang lalu tiba di rumah. Oh iya, memang ada sesuatu kabar yang ingin Vina beritahu kan, makanya Vina pulang kampung", Vina memberitahu maksud kedatangan nya.
"Begini pak, Bang Deni bermaksud menjodohkan Vina dengan temannya sesama supir. Dan kalau temannya setuju maka pernikahan kami akan segera di langsungkan", Vina langsung memberitahu maksud kedatangan nya.
"Mengapa begitu tiba-tiba Vin?, kamu sendiri apa menyetujui perjodohan ini?, secara kakak mu Shinta belum menikah, mungkin dia akan marah di langkahi kamu menikah duluan", Alex merasa kurang setuju.
"Awalnya Vina sudah menolak di jodohkan dan ingin mencari kerja terlebih dahulu. Tetapi bang Deni memaksa ingin terus menyuruh Vina menikah.
Dengan dalih kalau menikah masa depan Vina akan terjamin. Karena temannya bang Deni orang kaya dan anak satu-satunya dari orangtuanya.
Vina terpaksa menyetujui pernikahan ini, karena takut bang Deni dan kak Sari akan bertengkar terus dan berselisih paham.
Sebenarnya kak Sari sudah berusaha menolak perjodohan ini, tetapi bang Deni begitu ngotot dan malah terus memarahi kak Sari, karena dianggap tidak menghormati keputusan bang Deni", Vina memberi pembelaan.
"Apakah kamu mengenal laki-laki yang bakal calon suami kamu Vin?", tanya Alex penasaran.
"Vina belum mengenalnya ayah, bahkan Vina tidak pernah melihatnya", Vina berterus-terang.
"Vin, ayah tidak bisa memaksa kamu. Semua terserah kamu saja.", Alex pasrah pada keputusan Vina.
"Vina tidak bisa menolak ayah, karena kak Sari terus di marahi bang Deni karena tidak sependapat dengannya. Vina hanya memikirkan kebahagiaan dan keutuhan keluarga kak Sari saja ayah. Vina pun terpaksa harus menyetujui pernikahan ini", Vina pasrah.
"Mungkin kamu yang paling tahu bagaimana kondisi rumah tangga kakak mu Sari. Dan kamu mungkin tahu banyak mengenai watak Abang ipar mu.
Ayah pun tidak bisa banyak bicara. Ayah hanya bisa berdoa mudah-mudahan kamu menjadi pasangan yang berbahagia ya, Vin", Alex pasrah pada keputusan Vina.
"Sekarang yang Vina khawatirkan bagaimana dengan kak Shinta ayah. Setelah kak Shinta tahu aku akan segera menikah. Kak Shinta marah dan tidak terima akan di langkahi. Sedari tadi kak Shinta hanya mengurung diri di kamar dan tidak mau menyapa Vina", Vina merasa sedih atas kondisi Shinta.
"Iya sih. Pastilah dia akan marah dan malu kalau di langkahi adeknya duluan menikah. Karena mitosnya, dia akan susah ketemu dengan jodohnya.
Tetapi kita doa kan saja, mudah-mudahan setelah kamu menikah Shinta bisa langsung segera menyusul menikah.
Nanti ayah yang akan membujuk dan memberi penjelasan kepada nya", Alex menyakinkan Vina, agar tidak terlalu merasa bersalah terhadap Shinta.
"Baiklah kalau begitu ayah, sekarang Vina merasa lega. Ayah makan ya, nanti Vina yang akan menggantikan pekerjaan ayah di ladang.
Setelah makan ayah istirahat saja", Vina langsung menyendok nasi ke piring Alex yang sudah selesai membersihkan tangan dan membasuh mukanya. Karena penuh dengan keringat setelah bekerja di ladang dan sekarang bersiap untuk makan siang.
"Baiklah Vin, sebenarnya ayah sedari tadi hendak panen ubi. Ubinya sudah ayah cangkul. Ada beberapa batang lagi yang belum sempat ayah cabuti ubinya. Nanti tolong kamu selesaikan saja mencabuti ubinya. Lalu masukkan dalam karung.
Ibu Vani yang tukang gorengan di sekolah SD minta Ubi itu di antar ke rumah nya sore ini. Sekalian saja nanti kamu antar ya, ubinya ke rumah ibu Vani!", perintah Alex kepada Vina untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai tadi pagi.
"Baik ayah. Segera Vina akan ke ladang dan langsung mengantar ubi tersebut ke rumah ibu Vani", Vina meninggalkan Alex yang masih duduk di meja makan.
Tiba-tiba Shinta keluar dari kamar untuk makan siang. Setelah mengetahui Vina sudah keluar dari pintu belakang dapur.
"Duduk disini dekat ayah Shinta!", pinta Alex kepada Shinta karena hendak membawa makan siangnya ke kamarnya.
Shinta tidak berani menolak dan langsung mengambil tempat duduk di samping Alex.
"Shinta, kamu jangan marahnya kalau Vina terlebih dahulu menikah. Mungkin ini adalah berkat baik, jodohnya duluan datang. Mudah-mudahan kamu segera menyusul", Alex berkata dengan lembut agar Shinta tidak emosi.
"Shinta malu ayah, tetangga pasti akan menggunjingkan Shinta. Mereka pasti akan meledek Shinta dengan sebutan perempuan tua yang tidak laku", Shinta menangis.
"Kamu jangan dengarkan apa kata tetangga, kalau kamu malu di kampung ini. Kamu tinggal lah bersama kakak mu Sari. Tidak apa-apa kok, ayah sendirian di kampung ini", Alex pasrah.
"Benar ayah, tidak apa-apa tinggal sendirian di kampung?", Shinta penasaran.
"Tidak apa-apa Shinta. Demi kebaikan kamu", Alex menyakinkan Shinta.
"Baiklah kalau begitu ayah. Kalau Vina memang harus terlebih dahulu menikah. Aku akan tinggal bersama kak Sari saja untuk menghindari gunjingan tetangga di kampung.
Kalau sudah beberapa lama, aku akan kembali tinggal di kampung untuk menemani ayah", Shinta memeluk Alex.
Shinta pun segera membereskan meja makan. Karena Alex pun telah meninggalkan meja makan dan bermaksud pergi ke kamar nya bermaksud untuk istirahat sebentar.
Sebelum rebahan di tempat tidurnya. Alex duduk termenung di salah satu sisi tempat tidurnya sambil menghisap sebatang rokok.
Sebenarnya Alex ingin ada yang menemani nya di kampung, karena usia nya sudah terlalu tua dan lelah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Biarlah sementara Shinta tinggal di kota, agar tidak terlalu sedih atas gunjingan tetangga nantinya", pikir Alex dalam hatinya.
Alex senang Shinta tidak marah lagi. "Tidak apa-apa lah Vina menikah di usia muda. Mudah-mudahan ini jodoh yang baik baginya, kehidupan rumah tangganya langgeng dan bahagia. Usiaku sudah tua, tetapi aku belum menimang cucu.
Tidak penting Sari atau Vina yang duluan memberikan cucu baginya. Siapapun yang terlebih dahulu, yang pasti aku sudah memiliki cucu. Lebih baik lagi kalau Vina dan Sari sama-sama melahirkan. Aku akan langsung mendapatkan dua cucu sekaligus", pikir Alex senyum-senyum dalam lamunannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments