"Baiklah kalau begitu dek, Abang akan sebrang kan kamu", Salah satu petugas polisi menawarkan diri untuk membantu Vina untuk mencari angkutan menuju kampung Selok. Karena pak polisi itu merasa takut, kalau Vina masih shock dan bingung, Takut Vina salah angkutan lagi.
"Tidak apa-apa pak, saya bisa ambil angkutan sendiri", Vina merasa tidak enak hati, menolak tawaran salah satu petugas polisi tersebut.
"Tidak apa-apa dek, ini sudah kewajiban kami. Saya takut adek masih shock dan bingung, malah salah angkutan lagi!", pak polisi itu memaksa.
Vina pun tidak enak hati menolak dan menerima bantuan dari pak polisi tersebut untuk menyebrang kan dan sekalian menunggu angkutan ke desa Selok lewat.
Tidak beberapa lama kemudian ada angkutan mini bus lewat. pak polisi tersebut pun segera memberhentikan angkutan tersebut dan menanyakan jurusan desa Selok.
"Bang, apa angkutan ini melintasi desa Selok?", tanya pak polisi setelah angkutan itu berhenti di depan.
"Benar pak, tapi sampai di simpang saja. Nanti ada ojek atau becak masuk lagi ke dalam, tidak ada angkutan yang langsung ke desa Selok Pak", Bang supir memberitahu.
Vina pun langsung mengangguk mengiyakan perkataan supir, setelah pak polisi melirik Vina atas penjelasan bang supir.
Bahwasanya Vina nantinya di turunkan di simpang, dan Vina masih harus naik ojek atau becak lagi ke dalam menuju desa Selok.
"Terimakasih banyak ya, pak sudah repot-repot mengantar saya", Vina pamit, dan langsung naik dan masuk ke dalam angkutan mini bus tersebut.
Petugas polisi itupun merasa lega, akhirnya Vina bisa melanjutkan perjalanannya ke desa Selok. Dalam hati pak polisi tersebut merasa iba dan kasihan melihat Vina yang masih shock dengan apa yang dialaminya. "Kalau aku yang mengalami ini mungkin aku sudah pingsan atau menangis histeris", pikirnya dalam hatinya.
"Vina masih bisa mengendalikan ke panikan nya dan berusaha tegar", petugas itu menambahi.
****
Vina pun akhirnya sampai di kampungnya. Pada tengah hari.
Tok..tok..tok .
Vina mengetuk pintu,
"Hai Vin, Kamu kok tidak kasih tahu kalau mau pulang?", sapa Shinta.
"Iya kak, aku memang niatnya mau ziarah ke makam ibu", balas Vina seadanya.
"Kak Sari tidak ikut pulang kampung juga?", Shinta bingung mengapa hanya Vina yang pulang kampung.
Sebelum menanyakan kabar Vina selanjutnya, Vina pun buru-buru memotong perkataan Shinta. "Oh iya kak, sebentar aku pinjam handphone kakak, karena aku mau menelepon kak Sari.
Mau bilang kalau aku sudah sampai di kampung. Takut kak Sari khawatir Kondisi aku, karena belum mengabari", Shinta pun langsung menyerahkan handphone nya kepada Vina. Langsung Vina menghubungi Sari melalui handphone Shinta.
Tut....Tut ...Tut.
"Hai Shinta, apakah Vina sudah sampai di kampung?", sapa Sari karena Vina sudah kesiangan sampai di kampung.
Mengetahui kalau Sari sudah terhubung dan mengkhawatirkan dirinya, Vina langsung mengambil handphone Shinta dan segera memberitahukan kondisinya, "Iya kak, Vina sudah sampai. Kemarin itu ada sedikit masalah pada bis yang aku tumpangi".
"Masalah apa Vin, kakak sangat khawatir sekali tadi, seharusnya jam 07:00 pagi tadi Kamu sudah sampai di kampung, sekarang sudah siang hari. Memangnya kamu ada masalah apa Vin?", Sari terus bertanya karena khawatir telah terjadi sesuatu pada Vina.
"Bus yang Vina tumpangi kak, tiba-tiba menghilang setelah berhenti di restoran untuk istirahat sekedar makan dan minum.
Vina sempat menanyakan kepada beberapa pengunjung yang ada di restoran itu, malah mereka semua tidak melihat ada bus yang aku tumpangi parkir di halaman restoran.
Aku pun bingung dan mencoba bertanya kepada petugas kepolisian. Ternyata bus tersebut 3hari yang lalu mengalami kecelakaan, jatuh ke jurang dan seluruh penumpang dinyatakan tewas.
Aku shock ternyata aku menumpangi bus astral dan aku pun tidak tahu kenapa bisa masuk kedalam bus tersebut.
Setelah mengetahui masalahnya aku pun harus menunggu angkutan menuju ke kampung kak", Vina menceritakan masalah yang dialaminya semalam sehingga sampai terlambat di kampung.
"Benar begitu Vin?, terus kamu sekarang tidak kenapa-kenapa kan?, Kalau kakak mengalami apa yang kamu alami mungkin kakak akan pingsan dan menangis menjerit-jerit karena shock.
Sekarang bagaimana kondisi kamu, kamu baik-baik saja kan?", Sari terus bertanya kondisi Vina karena tidak menyangka apa yang telah dialami Vina.
"Vina baik-baik saja kak, kakak tidak usah khawatir sekali dengan kondisi ku", Vina menyakinkan Sari.
"Syukurlah kalau begitu, oh iya ayah bagaimana kondisinya. Apakah baik-baik saja?. Boleh tidak kakak bicara kepada ayah sebentar".
"Ayah sedang tidak di rumah kak, Vina tidak melihat ayah di rumah. Mungkin sedang ke ladang", ucap Vina seadanya.
"Baiklah kalau begitu, kamu istirahat saja dulu, mana tahu kamu merasa lelah dan letih. nanti kalau ayah sudah pulang kamu ceritakan saja pelan-pelan mengenai rencana kita", pinta Sari kepada Vina.
"Baiklah kak, nanti saya sampaikan kepada ayah. Sudah dulu teleponnya ya kak", Vina memutuskan sambungan telepon.
"Benaran kamu menaiki bus yang sudah terjatuh 3 hari yang lalu?", tanya Shinta penasaran dan ingin tahu, antara percaya dan tidak percaya, tetapi melihat Vina yang adiknya sendiri telah mengalami nya sendiri. Shinta pun merasa ngeri dan ketakutan mendengar pengalaman Vina.
"Syukurlah bukan kakak yang mengalaminya. Kalau kakak yang mengalaminya, mungkin kakak akan pingsan dan menangis menjerit-jerit karena shock.
Oh iya, kakak masih bingung dan penasaran dengan maksud kepulangan mu yang tiba-tiba ini, Kamu seperti ada menyembunyikan sesuatu?", tanya Shinta penasaran atas kepulangan Vina.
Sesungguhnya Vina merasa segan membicarakan tentang perkawinannya, karena Shinta adalah kakak Vina, mungkin Shinta akan merasa marah kalau di langkahi.
Pasti Shinta tidak akan setuju kalau Vina yang duluan menikah. Vina hanya diam saja tidak langsung menjawab apa yang menjadi pertanyaan Shinta. Tetapi karena Shinta terus memaksa, akhirnya Vina memberitahu maksud kepulangan nya ke kampung yang secara tiba-tiba.
"Begini kak, sebenarnya maksud kepulangan Vina ini, adalah untuk memberitahu kepada ayah dan semua keluarga. Kalau Vina akan di jodohkan kepada teman Bang Deni, dan kalau temannya bang Deni setuju, maka pernikahan kami akan segera di langsungkan", Vina memberitahu.
Shinta langsung cemberut mendengar kalau Vina akan segera menikah. "Itu berarti Vina akan melangkahi ku", pikir Shinta dalam hatinya.
Vina mencoba meluruskan kalau itu bukan kemauan nya, "Kak, jangan salah paham dulu, sebenarnya aku pun ingin langsung bekerja.
Padahal ada temanku juga mengajak aku ke luar kota untuk melamar pekerjaan. Tetapi Bang Deni terus memaksa untuk menikahkan aku dengan temannya sesama supir.
Dengan dalih hidupku akan terjamin. Karena temannya bang Deni ini anak satu-satunya dari orangtuanya yang kaya raya.
Aku takut kalau aku menolaknya. Kak Sari dan Bang Deni akan terus bertengkar dan berselisih paham. Makanya dengan keadaan terpaksa aku menyetujui keinginan dari bang Deni", Vina berusaha memberi penjelasan.
Tetap saja Shinta tidak terima di langkahi. Shinta pun lalu meninggalkan Vina di ruang tamu dengan perasaan merasa bersalah dan tidak enak hati. Tetapi Vina lebih memikirkan perasaan dan hubungan Sari dengan suaminya Deni. Sehingga menyetujui perjodohannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments