Vina bingung, mengapa sifat mertuanya begitu aneh dan asing. Ketika waktu datang saat lamaran, sikapnya begitu baik, sopan dan ramah. Tetapi sekarang seperti berputar 180°, Sangat bertolak belakang.
"Apa mertuaku itu, kesambet atau kerasukan roh jahat ya", pikir Vina dalam hati. "Uss, mengapa aku jadi beranggapan yang tidak-tidak ya, kepada mertuaku?", pikir Vina dalam hati.
"Apa sesungguhnya aku ini hanya di perdaya. Modusnya mencari istri, padahal maksudnya agar mendapat pembantu yang tidak di gaji", Vina jadi berprasangka yang tidak-tidak.
"Harusnya aku pengantin baru yang harus mesra dan berdua dengan suami, malah dari tadi seperti kerja rodi saja.
Bukannya tidak mau memberesi rumah, tetapi apa tidak bisa istirahat dulu. Suami malah enak-enakan tidur di kamar mertua lagi. Bukannya tidur di kamarnya sendiri", Vina mencoba mendalami apa sebenarnya maksud dari mertuanya.
Vina sebenarnya ingin memanggil suaminya Radit untuk tidur bersamanya, tetapi Vina takut akan di marahi oleh Maria.
Terdengar suara mertua laki-laki yang sedang marah dan berteriak-teriak.
"Radit, bangun kamu. Kamu itu sudah punya istri. Mengapa masih tidur di kamar Ibu kamu. Pergi sana tidur bersama istri kamu", bentak Steven sambil berusaha menarik badan Radit, agar beranjak dari tempat tidur.
Vina terbangun langsung menuju kamar mertuanya.
"Vina, bawa ini suami kamu tidur ke kamar kalian. Sudah besar malah tidur di kamar orang tuanya", Steven menarik badan Radit keluar dari kamar dan menyuruh Vina yang membopongnya.
"Bangun Radit, Vina tidak kuat membopong kamu. Karena Vina badannya kecil, besaran badan kamu. Ayo jalan sendiri nanti malah Vina jadi jatuh", Steven membentak Radit.
Kalau sifat ayah mertua Vina sangat bertolak belakang dengan ibu mertua, kelihatannya saja seperti garang dan tidak banyak bicara. Ternyata sifatnya malah mendukung Vina dan tidak berpihak pada Radit.
Sungguh sangat berbeda jauh dari ibu mertua malah cenderung memanjakan Radit. Radit seperti anak mami, menurut Vina. Karena Deni selalu ingin tidur dan dekat-dekat dengan ibunya.
Akhirnya Radit tidur bareng dengan Vina. Radit langsung tergeletak di tempat tidur dengan posisi telungkup.
Vina pun berusaha mengubah posisi Radit menjadi terlentang. Dengan sekuat tenaga Vina memutar tubuh Radit "Satu..dua...tiga.", Ternyata posisi Vina jadi tertindih oleh tubuh besar Radit.
"Bang, bangun", Vina mengusap-usap rambut Radit dan pipinya dengan lembut. Dan napas mereka pun saling bertemu.
Radit pun bangun dan sangat bernafsu untuk menikmati malam pertamanya. Ini kali pertama Radit melakukan hubungan suami-istri, begitu juga Vina.
Tetapi karena mungkin terlalu bernafsu dan menggebu-gebu. Radit langsung saja memasukkan terong besarnya ke lubang milik Vina. Vina pun hanya bisa pasrah padahal Vina belum merasakan belaian dan kecupan dari tangan nakal Radit.
Radit merasa puas, padahal Vina belum menikmati nya sama sekali.
"Mungkin lain kali saja, bisa di ulangi kembali. Radit mungkin masih malu-malu", pikir Vina dalam benaknya, begitu juga Vina, merasa malu untuk meminta dan mencurahkan hasratnya.
Vina mencoba berkomitmen dengan Radit, karena sedari tadi Radit banyak diam, entah pemalu atau tidak tahu apa yang harus diucapkan.
Vina bingung, untuk menciptakan komunikasi Vina berusaha bertanya kepada Radit, "Bang, benar Abang besok berangkat kerja?".
"Iya, Karenakan aku sudah menganggur tidak kerja selama 2 minggu. Nanti perusahaan malah memecatku. Aku mau kerja apa nanti?", Radit memberitahu alasannya.
"Oh, apa tidak boleh cuti sehari lagi, kita kan baru menikah", Vina berterus terang.
"Tidak boleh, 2 mingggu libur sudah waktu yang panjang", Radit memberi penjelasan.
Vina pun tidak berani lagi tawar menawar. "Oh iya Bang, di rumah ini apa tidak ada pembantu?", tanya Vina menyelidiki.
"Pembantu, untuk apa. Ibu biasanya yang mengerjakan nya sendiri. Lagian tidak ada juga yang dikerjakan.
Ibu pesan makanan catering dari tetangga, dan bila mencuci ibu ada mesin cuci sekalian mengeringkan, itupun jarang di gunakan.
Digunakan kalau aku sudah pulang kerja selama 14 hari, karena membawa beberapa potong pakaian kotor. Kalau untuk menyetrika pakaian, ibu jarang menyetrika, paling langsung di lipat bagus dan rapi lalu dimasukkan ke lemari.
Karena ibu prinsip nya tidak mau rugi dengan alasan hemat listrik", Radit memberitahu kebiasaan ibu mertua nya.
"Santai saja, disini tidak terlalu banyak kerjaan kok", Radit menambahi.
"Oh itu memang karena sehabis resepsi pernikahan piring kotor banyak dan menumpuk, Rumah juga kotor, Makanya ibu mertua bawaan emosional karena kondisi rumah yang berserakan membuat ibu mertua tidak merasa nyaman.
Mudah-mudahan besok ibu mertua tidak menyuruhnya seperti seorang pembantu saja", pikir Vina dalam benaknya.
"Bang, Bagaimana dengan makan Vina ketika Abang nanti di luar kota?. Bagaimana pengeluaran kita nanti?. Apakah kita harus membayar untuk ibu?, atau kita yang mengeluarkan biaya keperluan makan untuk ibu?", tanya Vina ingin tahu tanggapan dari Radit.
"Semua sudah ibu yang mengatur nya", Radit dengan entengnya berbicara.
"Maksudnya apa, Bang?", Vina semakin bingung.
"Maksudnya, semua hasil kerjaku kuserahkan untuk ibu, biar ibu yang mengatur segala pengeluaran dapur dan semuanya", Radit dengan polosnya memberitahu.
"Apa, jadi aku fungsinya sebagai apa bang", Vina merasa kesal.
"Vin, sejak dulu memang seperti itu. Ibu kemarin mengatakan, kalau gajiku tetap diberikan kepada ibu, biar ibu saja yang mengaturnya" ucap Radit Tanpa merasa bersalah kepada Vina, dan sepertinya lebih menghargai ibu mertua daripada istrinya sendiri.
"Bang, sebenarnya yang jadi istrimu itu, aku atau ibumu sih", Vina semakin kesal dengan sikap Radit yang lebih peduli perasaan ibunya.
"Vin, jangan kurang ajar kamu. Biarkan saja ibu yang mengatur nya. Sudah lah tidak usah berdebat lagi, besok aku mau kerja. Jadi aku perlu istirahat yang cukup", Radit langsung menutupi badannya dengan selimut.
Vina semakin kesal, belum tingkah laku ibu mertua yang selalu menyuruhnya dan menganggapnya seperti pembantu, sekarang malah seluruh gaji Radit diberikan kepada ibunya. "Apa gunanya aku, aku malah tidak dianggap sebagai istri", Vina begitu kesal dan merasa sedih.
Keesokan harinya Vina malas sekali bangun, Vina bangun agak siangan. Karena kesal dengan sikap Radit dan perkataan Radit mengenai, "bahwa ibu mertua yang mengatur semuanya".
Vina bangun langsung menuju dapur, dengan tidak bersemangat.
"Pagi Bu", sapa Vina berusaha tersenyum.
"Ini bukan pagi lagi. Ini sudah siang", Maria langsung ketus.
"Apa yang bisa Vina kerjakan, Bu?", Vina berusaha mengobrol baik dengan Maria.
"Mulai sekarang kamu harus bangun pagi jam 5:30. Pertama sekali kamu menyapu dan mengepel, Mencuci piring selalu ketika selesai makan dan masak.
Jam 6 masak. Itu untuk makan pagi , siang dan malam. Agar irit gas. Masak seadanya saja, lihat stok apa yang ada di dalam kulkas. Dan bila stok habis kamu harus belanja ke pasar jam 6:30.
Mencuci sekali 3 hari saja. Pakaian yang kamu kenakan jangan terlalu boros. Pakaian bisa dipakai untuk 3 hari. Jangan mencuci terlalu sering, agar hemat sabun dan air. Karena Air pun di bayar", ucap Maria panjang lebar mengenai rutinitas dan apa yang harus dilakukan.
"Ya ampun, Sampai pakaian yang dikenakanpun harus ganti sekali 3 hari, luar biasa pelit dan itung-itungan, ibu mertua", pikir Vina dalam hati.
"Untuk apa semua kekayaan ibu mertua, apa mau di bawa mati?", Vina tidak habis pikir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments