Vina menarik tangan Sari setelah keluarga Radit pulang.
"Kak, Bagaimana mungkin pesta pernikahan nya di langsungkan 3 hari lagi, secara Vina belum mempunyai baju pengantin", Vina merasa panik dan kebingungan.
"Kamu tenang saja. Baju kebaya kamu yang terakhir kamu pakai pas lebaran. Kakak beri payet ketika kamu pulang kampung kemarin.
Karena kan kakak tidak ada kerjaan dan teman mengobrol, sehingga kakak berinisiatif untuk memberi payet pada baju kebaya kamu itu.
Coba deh kamu lihat, pasti kamu suka. Tetapi kalau kamu tidak suka, nanti akan kakak beli kebaya jadi saja", ucap Sari sambil berlalu meninggalkan Vina pergi menuju kamarnya untuk mengambil baju kebaya Vina hasil payetan Sari.
Tidak beberapa lama Sari kembali dengan membawa sebuah kebaya berwarna cream di tangannya.
"Ini dia kebaya nya Vin", Sari menyerahkannya kepada Vina.
"Wah, cantik banget kak. Vina tidak menyangka kalau kakak pintar mempayet kebaya. Vina suka banget kak. Keliatan mewah dan seperti kebaya baru, Terimakasih banyak kak!", Vina memeluk Sari dengan erat.
"Benar kamu suka Vin?, kamu tidak hanya sekedar menyenangkan hati kakak kan?", Sari ingin tahu.
"Benaran bagus banget kak, Vina suka. Ukurannya juga masih pas di badan Vina. Vina pakai kebaya ini saja kak", Vina menyakinkan Sari.
"Baiklah kalau begitu Vin, kalau untuk kain sarung dan selendangnya, apa kamu mau pake yang ini?", sambil menunjukkan kain sarung milik Sari.
"Bukankah ini kain sarung milik kakak, yang kakak beli dengan harga yang lumayan ketika gadis?", Vina mengingatkan Sari.
"Maksud kakak begini Vin, Uang yang diberi pihak Radit sebagai pengganti mahar untuk biaya pembelian baju pengantin kamu.
Kakak mau mengganti nya dengan berupa perhiasan, tidak berat memang. Tetapi itu untuk jaga-jaga mana tahu suatu hari nanti ada kebutuhan yang sangat mendesak. Tidak apa-apa ya, kain sarungnya bekas punya kakak?", Sari berbicara dengan lembut.
Sejenak Vina terdiam, "Kak, sebenarnya Vina tidak apa-apa memakai kain sarung bekas kakak. Vina hanya tidak enak, ini kan kain sarung kesayangan kakak.
Tidak diberi perhiasan pun Vina juga tidak apa-apa kak. Kakak pakai saja uangnya untuk keperluan kakak.
Vina belum bisa membalas kebaikan kakak, sebenarnya Vina ingin sekali bisa membalas kebaikan kakak. Doain Vina kak, mudah-mudahan bisa membalas walaupun sedikit kebaikan kakak", Vina meneteskan air mata.
"Vin, Kamu tidak usah memikirkan kebahagiaan kakak. Kamu bahagia kakak sebenarnya sudah senang. Kamu tahukan bagaimana sifat kak.
Kakak rela tidak sekolah dan membanting tulang, agar kalian bisa sekolah dan tercukupi kebutuhan nya. Itu sudah suatu kewajiban kakak, untuk bertanggungjawab sekaligus sebagai ibu pengganti buat kalian", Sari memeluk erat Vina.
"Kak, kakak sehat-sehat ya, jaga kesehatan. Vina juga akan sangat sedih bila kakak sakit. Kalau bang Deni marah-marah, jangan bawain ke hati dan jadi beban pikiran kakak ya.
Pokoknya kakak harus jaga kesehatan", Vina memohon kepada Sari, karena Sari kalau lagi di marahi Deni suaminya. Sari jadi frustasi dan tidak bersemangat.
"Iya", Sari menyakinkan Vina dan tersenyum.
"Sekarang kamu siap-siapin mental dan fisik kamu ya. Mertua kamu itu kayaknya pelit banget. Kamu tidak usah banyak protes dan melawan. Kerjakan saja apa yang bisa kamu kerjakan.
Kalau kamu bagus, tidak mungkin kamu akan dimarahi. Satu lagi yang paling utama dan sangat penting, harus hemat dan tidak boros. Kamu harus pandai-pandai menyimpan uang", Sari menasihati Vina.
"Baik kak. Aku akan selalu ingat pesan kakak", Vina mengangguk setuju atas nasihat Sari.
***
Keesokan harinya. Sari memberikan perhiasan berupa kalung kepada Vina.
"Vin, ini kalung yang kakak janjikan untuk kamu, hanya seberat 5 gr saja, kakak tidak ada tabungan banyak. Kamu simpan baik-baik ya. Mana tahu ada keperluan mendadak bisa kamu gunakan sebaik-baiknya", Sari menyerahkan perhiasan itu beserta surat-surat nya.
"Kak, Vina tidak enak menerima ini. Kakak pasti sangat bersusah payah untuk mengumpulkan uang, untuk membeli semua ini", Vina menolak.
"Tidak apa-apa Vin, justru kakak tidak enak, hanya bisa memberi seberat 5 gr saja. Harusnya lebih dari itu, Vin. Kakak marah kalau kamu tidak mau terima", Sari memaksa agar Vina menerimanya.
Vina pun dengan sangat terpaksa harus mengambil perhiasan yang diberikan Sari.
"Terima kasih banyak kak", Vina memeluk Sari.
"Sudah deh, kita jangan terus-terusan acara nangis-nangisan. Harusnya kamu bahagia karena sebentar lagi akan menikah", Sari berusaha tersenyum.
Sebenarnya Sari merasa berat melepaskan Vina menikah terlalu dini dan harus di jodohkan.
Karena Sari pun dulu dijodohkan dengan Deni.
Deni yang anak pertama, dipaksa harus membayari kembali hutang orangtuanya untuk modal nikah mereka kemarin.
Deni pun harus sembunyi tangan memberi nafkah kepada orang tuanya tanpa sepengetahuan Sari. Belakangan Deni keceplosan bicara kalau dia baru saja memberi kepada orangtuanya.
Tetapi Sari tidak protes karena sifat Deni yang tempramental, takut malah jadi timbul perkelahian. Sehingga Sari sering memendam kesedihan nya.
Mau tidak mau Sari pasrah dan ikhlas menerima dan menjalani rumah tangga nya.
Untung nya Deni tidak pernah menanyakan uang belanja yang diberikan ada sisa atau tidak.
Selama Deni dalam perjalanan 14 hari keluar kota Sari selalu mengirit makan seadanya, sehingga sisa uang belanja per 14 hari bisa di simpan.
Apabila Deni datang lagi dan berangkat akan meninggalkan uang belanja lagi. Deni juga tidak memperhitungkan bila adik-adik Sari berada di depan Sari yang menjadi tanggungjawabnya.
Sari tahu diri dan tidak pernah mengeluh mengenai uang belanja yang diberi Deni kurang, Sari mengantisipasi nya dengan irit dan makan seadanya ketika Deni tidak di rumah.
Itulah sedikit kelebihan Deni, yang membuat Sari harus terus mempertahankan rumah tangga nya. Lagian Sari pun harus memikirkan keluarga dan orangtuanya, tidak seenaknya meminta untuk bercerai.
Sari merasa bila Radit yang seprofesi dengan Deni, memberikan uang belanja seperti yang Deni berikan kepada Sari.
Vina pun pasti bisa menabung sedikit demi sedikit. Apalagi kalau Radit memberikan semua uang gajinya kepada Vina. Maka akan lebih banyak yang disimpan Vina daripada Sari. Sari sedikit lega dan tidak terlalu khawatir melepaskan Vina menikah dengan Radit.
"Kak, Terimakasih sudah menjadi kakak terbaik untuk ku. Aku akan selalu ingat semua pesan dan nasihat yang kakak berikan. Aku juga mendoakan semoga keluarga kakak dan Abang ipar selalu langgeng dan diberikan secepatnya anak", Vina membuyarkan lamunan Sari.
"Amin. Tidak usah merasa seperti segan-segan begitu Vin!, biasanya saja. Kakak juga mendoakan supaya keluarga kamu bahagia dan langgeng terus, dan cepat di beri momongan.
Senang banget ya, kalau kita misalnya sama-sama hamil dan sama-sama melahirkan", Sari meledek Vina, mereka pun tertawa terbahak-bahak.
"Kalian ini, seperti tidak ada lagi yang dipikirkan besok. Tertawa sekencang itu", Deni tiba-tiba lewat dan meledek Sari dan Vina.
Keduanya jadi salah tingkah dan segera bergegas mengambil kesibukan masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments