Percakapan antara Steven dan Maria di dalam kamar mereka.
"Lihat itu Vina, ma. Tidak kamu suruh-suruhpun Vina pasti tahu apa yang telah menjadi tugas dan kewajibannya sebagai istri dan kewajiban apabila tinggal hidup bersama satu atap dengan mertuanya.
Sudahlah ma!, jangan membentak dan menyuruh Vina seperti seorang pembantu di rumah ini. Anggap lah Vina seperti anakmu sendiri, dan memang kenyataannya Vina kan menantu mu.
Papa lihat Vina anaknya baik, sopan dan jujur", Steven memuji Vina. Maria, bukannya menyadari Vina memang anak yang baik. Malah sebaliknya Maria menjadi sangat cemburu karena selalu memuji Vina. Kebencian Maria kepada Vina semakin memuncak.
"Maksud papa apa sih?, Mama harus membiarkan Vina bermalas-malasan, begitu maksud papa?", Maria bicara dengan keras sambil melotot kepada Steven.
Steven tidak suka merasa disepelekan oleh Maria, Steven pun ikut bicara dengan keras.
"Malas bagaimana maksud mama, yang mengerjakan pekerjaan di rumah semua Vina kok", Steven berbicara tegas.
"Itu karena mama suruh pa, coba kalau tidak mama suruh. Vina pasti kerjaan nya tidur dan bermalas-malasan.
"Susah ya berdebat dengan kamu, keras kepala dan tidak pernah melihat sisi baik orang. Bawaannya selalu berprasangka buruk terhadap orang lain", Steven bicara seadanya.
"Iya memang pa, Vina baru kita kenal belum lama, Jelas mama belum tahu sifatnya. Makanya mama perlu waspada. Mama harus kerasin Vina dari awal, agar Vina tidak sesuka hatinya di rumah ini.
Mama juga tidak mau Vina yang memegang gaji Radit. Enak saja dia, nanti malah mengirim uang kepada kakak dan orang tuanya. Padahal anakku Radit sudah capek-capek kerja. Mama juga tidak suka Vina menikmati kerja keras kita selama ini yang dari nol, hingga bisa seperti sekarang ini. Enak saja dia, sekarang hanya tinggal menikmati", Maria bicara seolah-olah dirinya benar.
"Ya ampun ma, janganlah membenci orang segitu nya. Lagian Vina tidak ada melakukan kesalahan mama sudah membencinya.
Kekayaan mama saat ini tidak bisa mama bawa ke dalam liang lahat. Apa mama tahu kapan ajal mama?. Kalau Tuhan mau, sekarang pun nyawa mama bisa di ambil.
Kalau seandainya mama di panggil Tuhan sekarang, mau bagaimana lagi, memang harta mama harus dinikmati Radit dan Vina ", Steven mengingatkan Maria.
"Pa, papa ingin mendoakan mama cepat mati ya!. Udah deh pa, Ini sebagai bentuk antisipasi pa, dikerasin dari awal agar nantinya Vina tidak berbuat yang macam-macam", Maria merasa cerdik.
"Ma, Istighfar. Manusia yang paling susah di dunia ini adalah manusia yang selalu membenci. Karena kesehariannya selalu membenci orang lain. Tidak pernah menikmati hidup. Tobat ma, papa tidak ingin mama sakit hanya karena rasa kebencian mama yang selalu di pendam", Steven menasihati.
"Sudahlah pa, mama tahu apa yang harus mama lakukan. Ini untuk kebaikan keluarga kita nantinya", Maria tidak mau kalah.
"Untuk kebaikan keluarga kita mama bilang!, Coba mama pikirkan kalau kita yang duluan dipanggil oleh Tuhan.
Bagaimana Radit menjalani hidupnya, letak pakaiannya saja mungkin dia tidak tahu dimana. Radit akan menjadi orang yang rapuh dan gampang putus asa. Karena Radit tidak terbiasa mandiri", Steven mencoba memberi gambaran.
"Sudahlah papa, justru selama hidup mama, mama harus gunakan sisa hidup mama untuk membahagiakan anak", Maria ngotot.
"Sekarang bahagia, besok setelah kita meninggalkan Radit, pasti Radit akan menderita", Steven begitu kesal, Maria tidak bisa di beri pendapat.
"Begini saja pa, papa duduk manis dan lihat. Pasti mama yang benar. Mungkin sekarang Vina sedang menertawakan kita, karena telah berhasil membuat kita terus bertengkar", Maria semakin berprasangka buruk kepada Vina.
Steven pun geleng-geleng kepala tidak menyangka kebencian Maria kepada Vina begitu luar biasa. Padahal sewaktu lamaran Maria begitu ramah dan sopan berbicara kepada Vina.
****
Vina ketiduran di kamarnya karena kelelahan dari tadi sibuk memberesi rumah. Vina tersentak di kagetkan oleh seorang perempuan paruh baya, yang selama ini belum pernah di lihatnya, "Tolong pergilah aku sedang tidak ingin diganggu", Vina mengusir wanita paruh baya tersebut.
"Lho, kamu bisa melihat aku?", tanya wanita perempuan paruh baya tersebut.
"Iya, aku bisa melihat mahkluk astral dan berbicara kepadanya. Kemarin-kemarin sih aku juga ada melihat anak kecil sering berlarian di rumah ini.
Aku pura-pura tidak melihat saja. Dulu para mahkluk astral yang penasaran ingin aku membantu mereka. Menyampaikan pesan kepada keluarganya. Kemarin itu ada seorang anak gadis korban diperkosa ingin aku bicara kepada ibunya.
Ada juga yang suruh aku bicara kepada tunangannya ketika masa hidupnya, agar tidak selalu bersedih dan mau bersemangat untuk hidup.
Tetapi setelah nya tidak lagi mengurusi para hantu karena aku capek. Boro-boro mengurusi masalah-masalah para hantu, sedangkan aku sendiri dalam dunia nyatapun mempunyai banyak masalah", Vina bercerita mengenai dimintai tolong oleh para hantu.
"Tetapi tidak apalah berteman dengan para hantu di rumah ini, itung-itung sebagai teman mengobrol. Agar tidak terlalu bosan dan stress dengan sikap Maria", pikir Vina dalam benaknya.
"Oh iya, nama kamu siapa?, mengapa ada disini?", Vina ingin mengenal lebih dekat lagi, karena Vina pun merasa kesepian tidak ada teman.
"Aku Mala, dulu aku adalah pemilik rumah ini. Aku dan suamiku tinggal di rumah ini. Kami sudah Dua puluh tahun menikah belum mempunyai anak.
Tiba-tiba Maria datang melamar jadi pembantu di rumah ini. Dan memang karena kami program untuk mendapatkan keturunan. Jadi suami setuju untuk mengambil Maria sebagai pembantu.
Entah sudah merencanakan nya, sayapun kurang begitu tahu maksud dan tujuannya. Maria telah menggoda suamiku dan selingkuh di belakang ku. Akupun di racuni oleh Maria, dan akhirnya suamiku menikah dengan Maria. Tetapi suamiku tidak tahu kalau aku di racuni.
Karena Maria memberikan obat setiap hari yang katanya untuk segera mendapatkan keturunan. Ternyata obat itu membuat aku jadi lemah setiap hari dan akhirnya aku meninggal dunia.
Suamiku beranggapan kalau aku meninggal karena sakit. Setelah aku meninggal dunia Maria menikah dengan suamiku dan mereka mempunyai seorang anak laki-laki", Mala menceritakan kisah hidupnya.
"Benarkah Maria pembantu di rumah ini, berarti pak Steven adalah suami kamu sebelumnya, dan anak Maria dan Steven adalah Radit?", Vina mengulang kembali pertanyaannya dan bertanya bertubi-tubi karena masih kurang percaya atas cerita si hantu Mala.
"Iya, Maria adalah pembantu di rumah ini dan telah merebut Steven dari aku. Iya Radit adalah buah hati dari Maria dan Steven", hantu Mala menyakinkan Vina.
"Mengapa kamu begitu yakin kalau Maria yang telah meracuni kamu?", Vina ingin tahu.
"Setelah aku meninggal, aku mengikuti Maria. Dan ternyata awalnya karena aku ingin mendapatkan keturunan, dari situlah Maria mempunyai kesempatan untuk menaruh racun sedikit demi sedikit setiap hari di minumanku.
Maria bertemu dengan perawat di salah satu rumah sakit yang kebetulan adalah teman dekatnya. Obat itu didapat dari temannya tersebut. Obat yang membuat aku semakin lemah, karena Maria rutin mencampurnya ke minuman ku setiap hari", hantu Mala memberitahu.
"Aku turut bersedih, atas apa yang kamu alami Mala. Sebagai menantu dari Maria. Aku minta maaf ya atas apa yang telah di perbuat Maria", Vina meminta maaf.
"Terimakasih Vin. Aku juga kasihan melihat kamu dibentak-bentak begitu, seperti seorang pembantu padahal kamu menantunya sendiri", hantu Mala prihatin kondisi Vina yang selalu dimarahi Maria.
"Iya, tetapi aku masih bersyukur pak steven masih mendukung aku", Vina memberitahu.
"Iya Vin, Mas Steven memang baik. Aku juga merasa kasihan kepada mas Steven yang terkadang di marahi Maria", hantu Mala kesal.
"Vin, bagaimana kalau kita usilin Maria sekali-kali, agar kapok", hantu Mala memberitahu rencananya.
"Aku takut, ujung-ujungnya aku juga yang disalahin", Vina tidak setuju.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments