Vina sudah seminggu lamanya di kampung. "Vina pun merasa senang, Lumayan bisa membantu ayah di ladang", pikirnya penuh kepuasan.
Banyak sekali yang Vina kerjakan tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sebenarnya Vina masih ingin berlama-lama tinggal di kampung. Tetapi situasi dan kondisi mengharuskan Vina harus kembali ke kota.
Kegiatan Vina di kampung adalah membantu Alex membuka lahan pertanian baru dan memanen serta sekaligus menanam kembali. "Lumayan untuk panennya nanti sudah bisa untuk menutupi kebutuhan Alex sehari-hari nya", pikir Vina dalam hatinya.
Vina pun tidak khawatir meninggalkan Alex di kampung, karena hasil panen ladang nantinya cukup menutupi kebutuhan Alex sehari-hari nya, selain dari berladang, karena hasil penjual dari hasil panen tidak bisa di harapkan setiap bulan.
Jadi sebagai uang tambahan menutupi kebutuhan mendesak. Alex biasanya mengambil air nira setiap sabtu untuk dijual sebagai minuman di warungnya Bu Tio.
"Oh iya, ayah. Vina lupa memberi tahu ayah. 5 bulan yang lalu, Vina tiba-tiba hilang selama 3 hari.
Vina tidak mengerti ayah, siapa yang menuntun dan mengarahkan Vina untuk melewati jalan itu.
Setahu Vina. Vina hanya berjalan ke sekolah, sesuai jalan yang Vina tempuh sehari-hari bila pergi ke sekolah.
Entah mengapa setelah berjalan terlalu jauh tiba-tiba Vina tersadar sudah berada di hutan yang asing. Vina bertemu dengan ibu dan adik, ayah!.
Ternyata ketika kecelakaan maut terbakarnya kapal yang di tumpangi ibu. Kondisi ibu saat itu sedang mengandung dan ketika di dunia asing tersebut adik telah lahir.
Sebenarnya Vina mempunyai adik laki-laki, ayah!. Vina ingin sekali tinggal bersama ibu, tetapi ibu melarang nya.
Ibu mengatakan kalau kak Sari sedang mengkhawatirkan Vina dan menyuruh agar kami selalu rukun dan tidak berkelahi", Vina menceritakan pengalaman nya ketika bertransmigrasi ke dunia asing, dan memang Alex baru mengetahuinya sekarang setelah Vina beritahu.
"Apa!, Kamu hilang selama 3 hari!, Mengapa kamu tidak memberitahu ayah?", Alex sedikit kesal.
"Bukan seperti itu maksudnya ayah. Kami tidak mau ayah kepikiran dan malah berakibat kepada kesehatan ayah. Untung Vina tidak kenapa-kenapa, makanya tidak memberi tahu ayah", Vina memberikan pembelaan.
Alex hanya diam saja dan tiba-tiba menangis "Benarkah ibu mu ketika itu sedang hamil. Ayah sungguh tidak tahu. Berarti ayah kehilangan istri dan anak ketika kecelakaan maut tersebut", Alex terisak.
"Sudahlah ayah, tidak usah mengungkit masa lalu. Ibu pun sekarang pasti telah berbahagia", Vina terus membujuk Alex.
Alex berhenti menangis. "Ayah hanya tidak bisa membayangkan. Ternyata ibu kamu lagi hamil dan bagaimana ibumu mungkin berusaha untuk menyelamatkan diri ditengah danau dengan kondisi kapal terbakar", Alex mencoba membayangkan peristiwa kecelakaan itu.
"Iya ayah. Vina mengerti. Ini mungkin sudah takdir dan ayah harus mengikhlaskan kepergian ibu", Vina memeluk Alex dengan erat sambil mengusap-usap punggung nya.
"Oh iya, ayah. Setelah ziarah ke makam ibu kemarin. Malamnya Vina bermimpi ketemu ibu. Tetapi ibu hanya diam dan langsung pergi dengan wajah cemberut. Apa mungkin ibu tidak menyetujui perjodohan ku ayah?", Vina mencoba menebak arti dari mimpinya.
"Tidak mungkin ibumu, tidak senang kalau putrinya telah menemukan jodohnya. Pastilah ibu senang tahu kalau kamu akan segera menikah. Mimpi Itu mungkin hanya sebagai bunga tidur saja. Jangan terlalu di pikir kan. Doakan semoga pernikahan kamu langgeng dan bahagia selalu", Alex menyakinkan Vina.
"Amin, Oh iya. Besok Vina balik ke kota ya ayah. Bang Deni sebentar lagi akan tiba, Vina juga harus menyiapkan berbagai keperluan. Bagaimana keputusannya nanti Vina kabari ayah",
"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa kamu kemasi dan bawalah sedikit hasil ladang kita ke kakak kamu. Lumayan sekali untuk mengurangi pengeluaran nya, karena di kota semua kebutuhan harus serba di beli", Alex mengingatkan Vina.
"Iya ayah", Vina mengangguk.
"Jam berapa kamu berangkat besok?", Alex ingin tahu.
"Vina akan berangkat pagi-pagi sekali ayah, agar bisa disana tiba tidak terlalu malam".
"Itu sangat baik, karena kalau terlalu malam tiba disana akan sangat susah mencari ojek, yang langsung mengantar ke rumah. Manalah yang terbaik, lakukan saja Vin", ucap Alex dengan lembut.
"Iya ayah".
****
Vina sampai di kota.
Denienelpon ke Sari, bahwasanya Radit setuju untuk di jodohkan dengan Vina.
"Sari, Abang sudah menanyakan Radit, apakah mau dijodohkan dengan Vina.
Radit menjawab bersedia dan mau di jodohkan. Orang tua Radit pun sangat senang Radit menikah. Karena usia Radit sendiri sudah cocok untuk berumah tangga yakni 30 tahun", Deni mengabari perihal perjodohan Vina dengan Radit.
"Syukurlah kalau begitu bang, untuk pihak keluarga Radit kapan kira-kira datang ke rumah kita untuk melamar Vina, Bang?", tanya Sari penasaran dan ingin tahu.
"Seminggu lagi Abang tiba, mungkin pihak keluarga Radit akan datang ketika Abang sudah tiba di Pekanbaru.
Kalau Radit sendiri sudah berada di rumah dan sudah bicara kepada keluarga nya. Tinggal menunggu kepulangan Abang saya. Kalau Vina sendiri sudah di pekan baru kan, artinya Vina sudah balik kan dari kampung kan?", tanya Deni ingin tahu.
"Iya, Bang. Vina sekarang sudah di rumah kita", Sari menyakinkan Deni.
"Baguslah kalau begitu. Artinya kalau pihak Radit datang. Mereka pun bisa melihat dan bertanya langsung kepada Vina. Baiklah mungkin seminggu lagi Abang akan tiba di pekan baru. kalian baik-baik ya di rumah", Deni berpesan.
"Iya, bang. Abang juga hati-hati di jalan", Sari memberi perhatian.
***
"Vin, bagaimana tanggapan Shinta setelah tahu kamu akan di jodohkan?", tanya Sari ingin tahu.
"Awalnya kak Shinta tidak terima kalau dia dilangkahi. Kak Shinta marah besar", Vina memberitahu ekspresi Shinta ketika tahu akan di langkahi Vina.
"Terus, bagaimana akhirnya Shinta mau menerima kamu terlebih dahulu menikah?", Sari merasa sangat penasaran.
"Alasan kak Shinta tidak mau dilangkahi, takut di gunjingkan tetangga malah dibilang perempuan tua yang tidak laku. Ayah pun membujuk, kalau Shinta malu di gunjingkan tetangga. Tidak apa-apa kalau Shinta tinggal di kota bersama kak Sari. Akhirnya kak Shinta setuju atas perjodohan ku, tetapi kak Shinta akan menggantikan aku untuk menemani kakak disini", Vina memberitahu.
"Oh tidak apa-apa juga kalau memang begitu, kakak pikir Shinta masih belum terima atas kamu yang terlebih dahulu menikah. Malah marahan tidak mau menegur kamu", Sari berprasangka buruk terhadap Shinta.
"Tidak kak, kak Shinta tidak marah lagi kepada ku. Dan sikapnya juga baik, malah kak Shinta ikut membantu aku mengemasi semua barang-barang bawaan ku", Vina memberitahu situasi yang sebenarnya.
"Syukurlah kalau begitu. Karena tidak bagus rasanya, kakak beradik tidak bertegur sapa satu dengan yang lain. Kakak sangat mengharapkan kita semua akur dan tidak berselisih", Sari sangat berharap.
"Baiklah. Kamu siapin mental dan fisik kamu ya. Dalam menghadapi pernikahan kamu. Orang tua Radit kamu anggaplah sebagai orang tua kandung kamu. Agar sikap orang tuanya juga bisa baik kepada kamu", Sari menasihati Vina.
"Iya, kak. Itu pasti. Lagian Vina juga belum pernah merasakan kasih sayang dari sosok seorang ibu. Mertua Vina pasti akan ku anggap seperti orang tua kandung ku sendiri", Vina antusias dan sangat bersemangat.
"Baiklah kalau begitu, kakak senang kamu berpikiran seperti itu. Ternyata adik kakak sudah berpikiran dewasa sekarang", ledek Sari kepada Vina.
Vina pun merasa malu dan tersipu-sipu. "Iih, apaan sih kak".
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Daliffa
knp gak djdohkn saja dlu sama Shinta
2025-01-22
1