"Dari mana kamu Vin?, Mengapa baru jam segini kamu pulang?", Sari kesal Vina pulang sekolah kesorean, tidak seperti biasanya.
"Menjumpai Philip kekasihnya si hantu Clara kak dan sekalian menyampaikan pesan hantu Clara kepada Philip", Vina menjelaskan alasan keterlambatan pulang dari sekolah.
"Oh. Ini yang terakhir ya Vin!, kakak tidak mau lagi kamu berurusan dengan para hantu. Sekarang kamu waktunya fokus terhadap sekolah dan masa depan kamu", Sari mengingatkan Vina.
"Iya kak. Vina janji tidak akan mengurusi para hantu lagi dan fokus untuk sekolah dan masa depan Vina", Vina mengulangi nasihat Sari.
"Baiklah kalau kamu sudah paham maksud kakak. Sekarang kamu sana pergilah mandi. Setelah itu kita makan malam bersama", Sari menunggu di meja makan.
******
"Vin, Sebentar lagi kamu akan lulus dari SMA, apa rencana kamu selanjutnya?", Sari berharap Vina bisa segera mandiri.
"Sementara aku akan pulang ke kampung kak, kasihan juga ayah sudah tua tidak ada yang menemani", Vina bercerita mengenai kondisi ayahnya yang tinggal seorang diri di kampung tidak ada yang menemani.
"Iya juga ya, terserah kamu saja lah. Mana yang terbaik saja. Kakak tetap menginginkan kamu pikirkan baik-baik rencana kamu kedepannya", Sari memberi nasihat.
"Iya kak", Vina sibuk belajar dan mengerjakan soal-soal untuk Ujian Nasional nanti.
Tiba-tiba pintu diketuk, Sari pun bergegas ke arah pintu meninggalkan kamar Vina, dan melihat siapa kah gerangan yang telah mengetuk pintu. Sari terlebih dahulu menilik lewat jendela, ternyata Deni, suaminya Sari telah datang dari luar kota.
Sari pun segera membukakan pintu dan menghampiri Deni sekalian mengambil tas Deni yang berisi kain kotor selama dalam perjalanan menuju luar kota.
"Gimana kabar kamu Sari?, apa ada masalah ketika Abang pergi kerja?", tanya Deni membuka percakapan mereka.
"Baik-baik saja, bang. Tidak ada masalah bang, semua baik dan lancar", Sari memberitahu Deni.
"Syukurlah kalau begitu", Deni senang mendengarnya.
"Oh iya, Sari!. Bukan kah Vina sebentar lagi akan tamat SMA?", tanya Deni ingin tahu.
"Iya bang, memangnya kenapa?", Sari bingung dan penasaran.
"Begini Sari, ada teman Abang sesama supir namanya Radit, tetapi ini beda. Radit adalah anak orang kaya dan anak satu-satunya dari orang tua nya", Deni sejenak diam tidak meneruskan perkataannya.
"Maksud Abang apa sih?", Sari makin bingung.
"Maksud Abang. Setelah Vina tamat dari SMA, bagusnya Vina kita jodohkan kepada Radit. Aku yakin mereka akan jadi keluarga yang mapan, karena Radit adalah anak satu-satunya dari ayah dan ibunya dan orang tua Radit adalah orang kaya pula", Deni sangat antusias menjodohkan Vina dengan Radit.
"Aku tidak mau menjodohkan Vina bang, biarlah Vina memilih pasangan hidupnya sendiri sesuai keinginannya. Karena yang menjalani pernikahan nya nanti kan dia sendiri", Sari menyerahkan keputusan semua hanya pada Vina.
"Aku yakin Radit adalah pasangan yang cocok untuk Vina, karena Radit juga orangnya baik, tidak merokok dan hemat tidak suka berjudi dan menghambur-hamburkan uang", Deni menyakinkan Sari.
"Iya bang, aku tahu Abang menginginkan yang terbaik untuk Vina. Tetapi semua tergantung kepada pilihan Vina, apakah dia mau dijodohkan atau tidak", Sari kokoh pada pendapat nya.
Deni tidak suka, Sari terlalu banyak protes, "Aku sudah memilihkan pasangan yang cocok untuk Vina, aku sudah bilang, pasti Vina akan bahagia karena orang tua Radit adalah orang kaya", Deni sedikit emosi dan bicara dengan nada tinggi.
Sari pun ketakutan dan tidak berani lagi untuk bicara atau memberikan tanggapan yang bertentangan dengan Deni. Agar Deni melunak Sari pun mencoba membujuk Deni agar tidak marah dan emosi.
"Baiklah, nanti aku akan memberitahukan maksud baik kamu ini kepada Vina", Sari menenangkan Deni
Mendengar perkataan Sari yang mendukungnya, Deni pun sedikit lega.
"Pasti dengan menikah nya Radit dan Vina, kamu tidak akan menyesal. Vina pasti bahagia hidupnya dan rumah tangga nya pun pasti bahagia. Abang sangat yakin itu", Deni sangat yakin.
Sari pun hanya manggut-manggut saja, tidak berani lagi menentang atau memberi saran yang tidak sesuai dengan pikiran Deni, "Iya, mudah-mudahan ya bang", ucap Sari lembut.
"Memang pasti bahagia Vina bila menikah dengan Radit", Deni sangat yakin dengan pilihannya.
Sari pun langsung meninggalkan Deni, karena Deni terlalu yakin dengan pilihannya.
*****
Setelah Vina tamat, Sari mengungkapkan keinginan Deni.
"Vin, sekarang kamu kan sudah tamat. Abang ipar kamu Deni menginginkan kamu menikah dan ingin di jodohkan dengan temannya, yang bernama Radit", Sari dengan lembut berbicara dengan Vina.
"Kak, mengapa Vina secepat itu disuruh menikah?", Vina berusaha menolak pelan takut menyinggung perasaan Sari atau membuat Sari marah.
"Sebenarnya yang paling ngotot itu kakak ipar kamu, kakak sudah mengatakan semua tergantung dari pilihan kamu, tetapi Abang ipar mu malah marah dan emosi", Sari mengatakan yang sebenarnya.
"Mengapa Abang ipar begitu ngotot dan yakin untuk segera menikahkan Vina kak?", Vina penasaran dan ingin tahu alasannya.
"Menurut Abang iparmu, teman nya Radit ini sudah pasangan yang cocok untuk kamu karena, Radit orangnya baik, tidak merokok dan tidak berjudi dan sangat berhemat, lagi pula Radit adalah anak satu-satunya dari orangtuanya yang kaya raya", Sari menceritakan mengenai Radit.
"Abang ipar kamu yakin, pasti hidup kamu akan bahagia mempunyai ekonomi yang mapan", Sari menambahi tanggapan Deni.
"Apa kakak setuju dengan usul bang Deni?", Vina ingin tahu tanggapan Sari.
"Sebenarnya kakak sudah berulang kali mengatakan. Semua keputusan ada ditangan Vina, dan menyerahkan semuanya kepada Vina saja, tetapi Abang ipar mu malah marah-marah dan tetap ngotot ingin menjodohkan kamu dengan Radit", Sari takut Vina menolak.
"Terus, apa yang harus Vina lakukan kak. Apakah Vina harus pasrah dan menerima perjodohan ini", Vina pasrah, karena takut Sari akan terus dibentak-bentak oleh Deni, dan malah membuat rumah tangga Sari akan berantakan, karena selalu berselisih paham akibat Vina.
Vina tidak mau hal itu terjadi. Sebenarnya hati kecil Vina belum ingin menikah, ingin bekerja agar bisa memberi atau membantu ekonomi Sari. Karena sejak kecil Sari terus membanting tulang untuk menghidupi kebutuhan keluarga, sampai harus rela tidak sekolah. Vina ingin membalas semua kebaikan Sari.
Tetapi dengan kondisi sekarang, Deni ngotot ingin menjodohkan Vina dengan temannya Radit. Vina tidak berani menolak.
Vina lama diam, tidak berkata apa-apa. "Bagaimana Vin, apakah kamu setuju, atas perjodohan ini?", Sari kembali mengulangi pertanyaannya.
Vina pun sadar dari lamunannya dan berkata.
"Vina setuju kak, terserah kakak saja. Kakak yang atur semuanya. Vina pasrah dan ikut saja apa kata kak Sari dan bang Deni", Vina pasrah pada perjodohan ini.
"Memangnya kapan Vina melangsungkan pernikahan nya kak?", tanya Vina ingin tahu.
"Kalau kamu setuju, kakak akan kasih tahu kepada Abang kamu. Mungkin Abang kamu yang mengatur semuanya. Kamu tinggal melakukan saja apa yang diperintahkan oleh Abang kamu", Sari memberitahukan Vina.
Vina pun hanya mengangguk dan segera meninggalkan Sari. Sari pun memberitahukan kepada Deni bahwa Vina menyetujui perjodohannya dengan Radit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments