Setelah tanggal pernikahan Vina sudah di tetapkan dan sudah pasti.
Sari pun segera memberi tahu kabar gembira ini kepada Alex, ayahnya. Sari menghubungi via telepon. Tut...Tut..Tut...
"Halo", Shinta menjawab panggilan telepon Sari.
"Halo Shinta, ini kak Sari. Ayah ada tidak disitu?, tolong kamu berikan telepon ini, kakak ingin bicara kepada ayah", Sari membuka obrolannya.
"Oh iya kak, kebetulan sekali memang ayah baru saja tiba di rumah, sebentar ya kak. Ayah lagi ada di kamar nya", Shinta memanggil Alex yang sedang berada di kamarnya.
Alex pun keluar dari kamarnya. "Ayah, ini ada telepon dari kak Sari. Kak Sari ingin berbicara langsung kepada ayah", Shinta memberikan handphone nya kepada Alex.
"Iya, ada apa Sari?", ucap Alex menyapa Sari.
"Pak, 3 hari lagi Vina akan melangsungkan pernikahan di Tanjung Pinang. Ayah harus ikut. Ayah dan Shinta berangkat saja dari kampung hari ini.
Pernikahan nya hanya secara agama saja ayah. Untuk acara adatnya nanti setelah Vina sudah mapan. Mertua Vina mengatakan seperti itu. Untuk para undangan juga dibatasi hanya pihak keluarga saja.
Bagaimana menurut ayah?. Maaf kami telah mengambil keputusan sendiri. Seharusnya ayahlah yang mengambil keputusan ini, selaku sebagai orang tua Vina", Sari tidak merasa enak hati.
"Tetapi keputusan itu memang harus cepat di ambil karena terlalu mendesak", Sari pun menambahi.
"Tidak apa-apa Sari. Ayah setuju saja dengan keputusan yang kalian ambil. Baiklah ayah dan Shinta akan berangkat hari ini dari kampung", Alex pasrah pada keputusan yang telah diambil oleh Sari dan menantunya, karena memang Sari lah orang tua bagi Vina, karena Vina tinggal di depan Sari.
"Okelah kalau begitu ayah. Sari tutup teleponnya. Dan ayah dan Shinta segeralah berangkat. Hati-hati di jalan ya ayah" Sari pun mengakhiri obrolannya.
"Shinta segera kemasi barang-barangnyang akan kita bawa. Sekarang juga kita berangkat ke Pekanbaru. Karena 3 hari lagi Vina akan melangsungkan pernikahan nya", Alex memerintahkan Shinta untuk segera mengemasi barang bawaan.
"Mengapa secepat itu ayah?", tanya Shinta bingung.
"Itu yang sudah disepakatinya dan ditetapkan Shinta. Jangan banyak bertanya lagi. Segera dan cepat kerjakan. Karena ini memang sangat mendesak", Alex langsung meninggalkan Shinta untuk segera berganti pakaian dan mengambil beberapa pakaian dari lemari nya untuk di kemas Shinta ke dalam tas. Begitu juga Shinta dengan cepat langsung berlari ke kamarnya.
Alex dan Shinta pun segera naik ojek menuju simpang untuk menunggu angkutan yang lewat menuju Pekanbaru.
****
Rombongan dari keluarga Vina sudah sampai di tempat kediaman keluarga Radit.
Ternyata benar Radit adalah anak orang kaya. Rumah Radit mewah dan besar. "Mengapa orang tua Radit pelit sekali membuat pesta yang mewah buat anak semata wayangnya?", Vina tidak habis pikir memikirkan mertuanya begitu itung-itungan.
Rombongan dari keluarga Radit pun tidak ada. Hanya adik dari ibunya 1 orang dan adik lelaki dari ayahnya 1 orang. Selebihnya beberapa tetangga yang bisa di hitung dengan jari.
Tengah hari acara resepsi pernikahan telah selesai, karena tidak ada juga undangan yang akan di tunggu kedatangan nya. Kini Radit dan Vina sudah sah jadi suami istri.
Sari dan seluruh keluarga nya pun akan segera meninggalkan rumah kediaman Radit.
"Vin, kakak pamit ya. Kamu baik-baik ya tinggal disini. Hormati suami dan mertua mu. Kakak percaya kamu sudah tahu apa sebaiknya yang kamu lakukan.
Semoga kamu berbahagia ya", Sari memeluk Vina dengan meneteskan air mata, karena Vina akan selama nya tinggal bersama suami dan mertua nya.
Begitu juga Alex sangat sedih karena putri bungsunya akan hidup dan tinggal bersama suami dan keluarga barunya. Vina tidak boleh lagi seenaknya pulang ke rumah orangtuanya, harus izin dulu dari suami maupun mertuanya.
Sari dan keluarga pamit pulang dan menyalami keluarga Radit dan langsung meninggalkan kediaman rumah Radit.
Tidak ada satupun yang berkata-kata ketika di dalam mobil. Terlebih Deni. Yang paling berperan aktif dalam perjodohan Vina. Deni yang begitu membanggakan Radit, yang menyatakan masa depan Vina akan terjamin.
Tidak menyangka resepsi pernikahan nya begitu sederhana tidak tampak seperti resepsi pernikahan, Sekilas seperti kumpul-kumpul keluarga saja.
Undangan pun hanya beberapa tetangga saja, itu mungkin hanya sebelah rumah saja. Deni hanya bisa tunduk dan diam tidak bisa berkata-kata, seperti merasa bersalah. Terlebih Deni merasa tidak enak hati terhadap mertuanya, ayah Vina sendiri.
Alex melihat sikap Deni yang tidak enak hati. "Mau bagaimana lagi, tidak mungkin memarahi Deni", pikir Alex dalam hati.
"Mudah-mudahan Vina dan suaminya menjadi pasangan yang berbahagia.
Ayah hanya berharap Suaminya tidak terlalu menuruti apa kata ibunya. Semoga Radit bisa menghormati dan menghargai Vina sebagai istrinya.
Kita hanya bisa pasrah, mudah-mudahan prasangka buruk kita tidak terjadi, malah sebaliknya Vina menjadi pasangan yang sehati dan sepikir dalam rumah tangga nya", Alex membuka pembicaraan yang terasa sangat canggung.
"Amin", Deni berucap agak kencang.
****
"Vina, Setelah kamu mengganti baju kamu. Segera beresin semua ini ya. Kita di rumah ini tidak ada pembantu. Siapa lagi yang memberesi kalau bukan kamu ya kan!", Maria berkata dengan tegas dan lumayan keras.
Vina agak terkejut mendengar suara mertuanya yang begitu lantang dan tegas.
Sebelumnya Vina mendengar suara mertuanya lembut dan sopan tutur katanya. Vina tidak menampakan muka tidak enak, mencoba tersenyum langsung menjawab dan menunduk, "Baik Bu, segera akan segera Vina beresin semuanya".
Radit bukannya menghampiri istrinya, malah langsung masuk ke kamar ibunya. Karena sebelumnya juga Vina menanyakan kamar mereka nantinya di mana kepada Radit. Radit pun hanya menunjuk dan mengarahkannya kepada Vina dan langsung meninggalkan Vina tanpa berucap sepatah kata pun.
Vina merasa asing dan aneh dengan sikap Radit. Harusnya mereka bercanda mesra berdua. pikir Vina dalam hati nya.
Mau Bagaimana lagi. Setelah berganti pakaian pengantinnya, Vina pun langsung mengerjakan apa yang di perintahkan mertuanya.
Vina pun mulai dengan memberesi piring-piring kotor dan membersihkannya dan menyapu rumah dan halaman yang lumayan kotor karena kondisi cuaca memang lagi hujan, halaman dan teras rumah begitu jorok. Harus di pel dengan bersih.
Vina mencari-cari sosok Radit, dengan maksud dan berharap Radit mau membantunya. Tetapi sosok Radit tidak kelihatan batang hidungnya. Sehingga mau tidak mau Vina harus menyelesaikan pekerjaan itu dengan sendiri.
Vina sudah selesai membereskan rumah, termasuk menggulung semua karpet-karpet yang begitu tebal dan berat seorang diri, tanpa dibantu oleh Radit. Dan juga membersihkan piring-piring kotor.
Maksud hati ingin beristirahat, karena Vina merasa lelah telah membereskan semuanya dengan seorang diri.
Tiba-tiba Maria datang, "Vin, ini pakaian kotor yang akan dicuci. Kamu mencucinya pakai tangan saja. Supaya lebih bersih dan hemat listrik. Tidak usah pakai mesin cuci.
Oh iya. Besok suami kamu sudah pergi bekerja, kamu siapkan beberapa potong pakaian untuk dipakai diperjalanan selama 14 hari", Ucap Maria ketus, seperti memerintah kepada pembantu saja.
Vina mencoba bertanya "Dimana Bang Radit Bu, sedari tadi Vina tidak melihat Bang Radit. Lagian mengapa bukan Radit yang Bicara secara langsung kepada Vina, Mengapa harus melalui ibu?", tanya Vina bingung dan ingin tahu.
"Radit ada di kamar ibu, katanya capek. Minta dipijitin sama ibu. Ibu yang mengatur Radit pergi kerja atau tidak. Mengapa kamu bawel, Radit yang kerja saja tidak merasa keberatan!", Maria sedikit kesal.
"Bukan begitu maksud nya, Bu!. Vina kan sudah sah menjadi istri bang Radit. Harusnya Lebih terbuka dan istrilah yang seharusnya lebih tahu kemana suaminya pergi", Vina berusaha memberi penjelasan.
"Jangan sok tahu kamu ya, Vin. Tahu apa kamu. Kamu itu orang asing. Tidak perlu banyak tanya", Maria langsung pergi meninggalkan Vina dengan melempar semua kain kotor dilantai, maksudnya tadi ingin memberitahu kepada Vina bahwa itu semua harus di cuci.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Daliffa
ya ampun ternyata cma djdikan pembantu,
2025-01-22
1