Sari merasa panik karena Vina sudah malam tidak kunjung pulang dari sekolah.
Sebenarnya Sari sudah Khawatir ketika jam 16:00 Vina belum pulang dari sekolah, pikir Sari mungkin Vina sedang ke rumah temannya kerja kelompok untuk mengerjakan tugas sekolah.
Karena jam 15:00 biasanya Vina sudah tiba di rumah. Vina selesai pembelajaran sekolah jam 14:30, karena Vina harus berjalan lagi dari sekolah ke rumah, masih harus membutuhkan waktu selama 30 menit.
Ternyata Hingga matahari hampir tenggelam Vina tidak kunjung tiba di rumah. Sari menanyakan tetangga terdekatnya, Bu Doni.
tok...tok ..tok
Sari mengetuk rumah ibu Doni
"Permisi...permisi", teriak Sari memanggil-manggil Bu Doni.
Krek...pintu dibuka, muncul Bu Doni dari dalam rumah.
"Ada apa, Sari?", tanya Bu Doni bingung, Sari tiba-tiba datang dengan wajah panik dan bingung.
"Bu, saya mau tanya. Apa Vina ada di rumah ibu?", sebenarnya Sari tidak merasa yakin kalau Vina ada di rumah Bu Doni.
Karena sesungguhnya Vina tidak pernah ke rumah Bu Doni, "tetapi mana tahu Sari ketiduran karena pintu dikunci, sehingga Vina memutuskan untuk sementara tinggal di rumah Bu Doni", pikir Sari dalam benaknya, karena tidak tahu kemana lagi harus mencari Vina.
"Vina tidak ada di rumah, Sari!", jawab Bu Doni tegas.
"Apakah Vina belum pulang dari sekolah?", tanya Bu Doni balik.
"Iya Bu, Vina belum balik dari sekolah. Padahal kan sekolah sudah tutup jam segini. Saya juga tidak tahu harus mencari kemana. Karena saya tidak tahu dimana rumah teman-teman Vina berada.
"Apakah Vina bertengkar dengan kamu Sari?, sehingga Vina harus minggat?", Bu Vina menyelidiki penyebab Vina tidak pulang.
"Tidak Bu, kami tidak ada bertengkar. Tidak ada masalah atau sesuatu hal yang menjadi permintaan Vina yang tidak saya turuti. Vina juga tidak ada berkeluh kesah mengenai masalah disekolah atau dengan teman-teman nya", jawab Sari menjelaskan sangkaan Bu Vina.
Sari pun sedih. "Kemana lagi aku harus mencari Vina, sedangkan sekarang sekolah sudah tutup, tidak ada lagi guru dan siswa di sekolah", pikiran Sari kacau dan mengkhawatirkan kondisi Vina saat ini. Takut Vina kenapa-kenapa.
"Vina...Vina...kamu dimana?", tangis Sari pecah.
Tidak ada teman Vina yang Sari ketahui tempat tinggal nya, untuk dimintai keterangan tentang keberadaan Vina saat ini.
"Mau melapor ke polisi, pasti pak polisi akan mengatakan Tunggu 1x24 jam baru bisa melapor", pikir Sari dalam benaknya secara Sari menghilang baru 8jam.
Sari pasrah berharap, "besok ketika sekolah sudah dimulai. Sari akan menanyakan teman-teman atau guru Sari, mana tahu mereka tahu keberadaan Sari saat ini", pikir Sari dalam benaknya.
Pikiran Sari kacau memikirkan kemungkinan-kemungkinan keberadaan Vina saat ini. Apakah Vina di culik?, atau apakah Vina di bully teman-temannya dan berusaha mencelakai Vina?. Apakah Vina tersesat?. Kemungkinan dan ketakutan itu bersarang di kepala Sari.
"Tidak mungkin Vina tersesat, secara setiap hari Vina selalu berangkat ke sekolah secara rutin dan sudah 1 tahun beradaptasi dari kehidupan di kampung dengan kehidupan di kota", gumam Sari dalam benaknya.
Hingga larut malam, Sari tidak bisa terpejam terus memikirkan Vina. Mencoba memejamkan mata, tetap tidak bisa terpejam.
Karena terlalu lelah dan mengantuk akhirnya Sari pun bisa terlelap. Dan tidak terasa pagi pun tiba.
Sari bergegas untuk pergi ke sekolah Vina.
Sari melapor ke kantor guru, mengatakan kondisi Vina yang tidak pulang sekolah sedari kemarin.
"Bu, setelah kami memperoleh informasi dari teman-teman Vina dan absensi pembelajaran kemarin. Kami menyimpulkan bahwa Vina tidak masuk sekolah dan tidak ada menghadiri satu mata pelajaran pun.
Dan teman-teman Vina juga tidak melihat Vina sampai di sekolah", ucap wali kelas Vina.
Sari terkejut mendengar informasi yang wali kelas berikan.
"Padahal Vina berangkat dari rumah dengan memakai pakaian seragam sekolah", ucap Sari datar.
"Begitu lah kenyataan nya, Bu. sebaiknya ibu segera melapor kepada polisi", saran wali kelas Vina kepada Sari.
Sari hanya mengangguk.
Air mata Sari tumpah khawatir memikirkan Vina, "Di mana kah kamu sekarang Vina?", gumam Sari dalam benaknya dengan kesedihan yang sangat mendalam.
"Kemana aku harus mencari mu Vina?", Sari terus memikirkan keberadaan Vina.
*******
Vina bingung dimana dia berada sekarang?, Mengapa dia berada di tempat ini?, padahal Vina merasa berjalan sesuai rute biasa yang ditempuhnya sehari-hari apabila pergi ke sekolah.
Vina melihat wajah-wajah setiap warga yang ada di daerah itu. Tidak satupun dari wajah itu yang Vina kenal. Vina mencoba bertanya, tetapi di urungkannya, karena semua warga pada fokus memperhatikan dan mendengarkan pengumuman dari raja.
Tiba-tiba ada acara pembagian makanan. Vina mendapatkan satu piring makanan. Vina memperhatikan makanan tersebut berupa nasi dan potongan daging yang dipotong kecil-kecil di letakkan pada piring bulat yang terbuat dari kayu.
Vina tidak peduli lagi, langsung saja melahap habis semua makanan yang ada pada piring nya, karena Vina sudah terlalu lapar sebab hampir dua hari perut nya tidak terisi makanan.
Setelah selesai makan, ada beberapa serdadu membawa Vina. Para serdadu mengarahkan Vina untuk menemui seseorang, Vina pun langsung menurut tidak berontak. Ternyata Vina disuruh untuk berganti pakaian sesuai dengan pakaian warga di daerah tersebut.
Vina dibiarkan untuk berkeliling melihat-lihat kemana saja Vina ingin. Vina melangkah terus melihat-lihat kehidupan warga yang lain. Langkah Vina langsung terhenti, entah mengapa dalam pikiran Vina seperti mengenali wajah seorang ibu bersama dengan seorang anak laki-laki bermain-main dengan ikan mas peliharaan nya.
Pikiran Vina mengatakan bahwa ibu dan seorang anak laki-laki itu adalah ibu kandungnya dan adik laki-lakinya yang sudah lama meninggal dunia.
Ketika ibunya Vina meninggal dunia, vina saat itu berusia 1 tahun, dan belum bisa berjalan, sesungguhnya Vina tidak mengenal wajah ibunya yang telah meninggal dunia. Tetapi saat di di dunia asing ini Vina merasa melihat ibu dan adiknya.
Vina merasa bahagia, Vina bisa mengenali wajah ibunya, bahkan adiknya yang belum sempat di lahir kan ke dunia.
"Ibu", sapa Vina tersenyum bahagia bisa bertemu dengan ibunya dan langsung memeluk Ibunya.
"Kamu dan Sari baik-baik ya, jangan berantam. Yakinlah ibu akan selalu menjaga kalian", ibunya Vina melepaskan pelukannya.
"Ini adik Vina kan, Bu?", Vina melihat anak laki-laki di samping ibunya, ibu Vina pun mengangguk tanda setuju, Vina pun langsung memeluknya dengan erat.
Ada hasrat Vina untuk tetap tinggal bersama dengan ibunya, tetapi di tolak.
"Ibu, Vina tinggal dengan ibu ya, Vina ingin selalu bersama ibu saja dan adik", Vina memohon.
"Tidak Vina, kamu harus tinggal bersama kakak mu Sari, Sari begitu khawatir terhadap kamu", ibunya Vina pun menolak dan terus memaksa Vina untuk segera meninggalkan tempat itu.
Vina pun pamit ingin melihat ke kesekeliling.
Ternyata ketika kecelakaan kapal terbakar. Yang menyebabkan ibunya meninggal dunia, kala itu ibunya sedang mengandung muda.
Yang tidak sempat diketahui oleh semua anggota keluarga termasuk Sari. Dan ibu Vina juga belanja membeli bibit ikan mas untuk dipelihara.
Vina terus berjalan memperhatikan seluruh aktifitas warga, kehidupan di daerah itu sama saja dengan kehidupan di masa Vina, Beraktifitas berladang dan melakukan rutinitas sehari-hari.
Yang membedakan hanya pakaian yang mereka kenakan dan mereka di pimpin oleh raja dan ratu serta para serdadu yang mengawasi dan memberi sanksi apabila ada warga yang melakukan tindakan yang tidak sesuai peraturan yang telah ditetapkan.
Kembali Vina melanjutkan langkahnya terus saja Vina berjalan. Tanpa di sadari Vina sudah berjalan pada rute biasa yang di jalaninya menuju arah rumah.
Vina pun tiba di rumah pada malam hari.
tok...tok...tok..Vina mengetuk pintu
"Kak...kak...kak Sari", teriak Vina terus memanggil-manggil Sari.
Sari tersadar seperti ada suara ketukan pintu dan memanggil-manggil namanya. Sari pun menuju arah pintu sebelumnya terlebih dahulu mengintip ke arah luar melalui celah gorden. "Ternyata Vina", pikir Sari dalam hatinya dan segera membuka pintu.
"Vina, kamu ke mana saja. Kakak sangat khawatir dengan kondisi kamu. Apakah kamu baik-baik saja?", Sari memeluk Vina sambil memeriksa kondisi fisik Vina apakah ada yang terluka.
"Syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa. Kakak senang akhirnya kamu pulang ke rumah. Kakak begitu khawatir dan sedih karena kamu tiba-tiba menghilang tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan kamu sebelum menghilang", Sari terus memeluk Vina.
Bahagia dan terharu hingga menitikkan air mata sambil terus berucap "Kakak hampir putus asa. Kemana kakak harus mencari mu?, syukurlah kamu sudah kembali", terus memeluk Vina.
Vina hanya diam saja hanya bisa menangis. Ternyata masih diberikan kesempatan bisa kembali ke rumah, mengingat Vina saat di hutan yang gelap dan sendirian tanpa ada siapa-siapa.
Tak kalah terkejutnya Sari melihat pakaian yang dikenakan Vina adalah kain selendang tanpa menutupi lengan dan pundak.
"Vina, pakaian seragam kamu mana?", tanya Sari beruntun dan iba melihat Kondisi Vina seperti orang kebingungan.
Vina hanya diam saja, seperti nya Vina masih shock. Sari pun segera membawa masuk Vina dan segera memandikan dan mengenakan pakaian bersih kepada Vina, setelah Vina tenang Sari menyuruh Vina untuk makan.
Begitu piring ada di tangan Vina, Vina langsung melahap habis makanan yang diberikan kepada nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments