Sari pun segera memberitahu kalau Vina setuju untuk dijodohkan dengan Radit.
"Bang, tadi aku sudah menanyakan vina. Mengenai apakah setuju untuk di jodohkan dan mau langsung segera menikah!", Sari memberitahu Deni.
"Terus apa kata Vina, apakah Vina setuju?", Deni penasaran dan ingin tahu.
"Vina setuju dan bersedia untuk langsung menikah!", Sari mengatakan tentang kesediaan Vina.
"Baiklah, nanti kedatangan ku 2 minggu lagi. Aku akan memberi keputusan nya. Karena Radit kan sesama teman supir.
Kebetulan aku dan Radit tidak bersamaan berangkatnya, sekarang Radit lagi diperjalanan menuju Jakarta.
Mungkin nanti aku dan Radit akan ketemu di Jakarta. Ketika di Jakarta akan kuutarakan maksud ku menjodohkannya dengan Vina.
Bagaimana keputusan nya nanti aku kabari setelah kedatangan ku 2 minggu lagi", Deni memberitahu kondisi pertemuan nya dengan Radit.
Sari mendengarkan dengan serius. Karena apabila terlalu banyak bertanya karena kurang paham atau kurang dengar, Deni pun akan membentak dan mengatai Sari tuli dan bodoh.
Terkadang Deni juga selalu membesar-besarkan masalah. Masalah kecil bisa menjadi besar dan terkadang bisa sampai merembes ke keluarga. Yang terkadang bisa membuat sampai sakit hati dengan makian dan kata kasar yang dilontarkan Deni.
Begitu lah kepribadian Deni, yang suka atau tidak suka terpaksa Sari menerimanya dengan ihklas dan lapang dada. Sesungguhnya pertemuan Sari dan Deni dalam satu ikatan pernikahan akibat perjodohan orang tua Deni.
Pertengkaran mulut antara Sari dan Deni sering sekali di dengar oleh Vina. Dan melalui cerita Sari kepada Vina, Vina tahu sebab akibatnya. Itulah sebabnya Vina menerima perjodohan ini, karena tidak mau Sari dan Deni akan bertengkar dan berselisih paham karena Vina.
Deni pun pamit berangkat ke luar kota "Sari, aku berangkat kerja dulu ya. Kamu hati-hati di rumah dan jaga diri baik-baik", Deni memberi nasihat.
"Baiklah, kamu juga hati-hati di jalan", Sari memberikan tas berisikan pakaian bersih untuk dipakai Deni selama di perjalanan.
Deni pun langsung balik badan meninggalkan Sari di rumah dan segera berangkat dengan menggunakan angkutan ojek.
****
Keesokan harinya ketika pagi hari saat melakukan aktifitas dan rutinitas sehari-hari.
"Vin, kakak sudah menyampaikan kepada Abang iparmu, Deni. Bahwa kamu setuju untuk dijodohkan dan bersedia untuk segera menikah.
Abang iparmu mengatakan tungggu dia bicara dulu kepada Radit, baru diketahui bagaimana keputusan Radit", Sari menyampaikan pesan Deni.
"Baiklah kalau begitu kak, oh iya kak sebelum menikah aku ingin pulang kampung dulu untuk ziarah di makam ibu. Boleh kah aku pulang kampung selama seminggu kak?", Vina menyampaikan keinginannya berziarah.
Sudah lama Vina tidak berziarah ke makam Ibunya, karena jarak yang begitu jauh.
Karena tidak mungkin bagi Vina untuk sering-sering pulang kampung untuk hal yang tidak terlalu mendesak. Lebih baik uang ongkos dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup, karena Sari pun harus pandai-pandai berhemat.
"Boleh, pergilah pulang kampung, sekalian kamu bercerita tentang rencana baik untuk pernikahan mu ini kepada ayah", Sari menyetujui usul Vina.
"Baiklah kak kalau begitu, aku akan berangkat malam, jam 7 malam, agar bisa sampai besok pagi di kampung. Aku pun bisa ziarahnya pagi setelah sampai di kampung", ucap Vina bersemangat.
"Di mana kamu akan menunggu busnya", tanya Sari ingin tahu.
"Aku akan berangkat ke terminal dan mengambil tiket di loket ke berangkatan menuju kampung yakni desa Selok", Vina memberitahu rencana keberangkatannya.
"Baiklah kalau begitu. Kamu sudah mempersiapkan pakaian dan mengemasi barang-barang yang akan kamu bawa?", Sari mengingatkan Vina agar tidak ada barang yang tertinggal yang perlu di bawa.
"Semua sudah beres kak, semua sudah Vina kemas rapi dalam tas", Vina menyakinkan Sari.
"Baguslah kalau semua sudah beres, jangan lupa kamu sampaikan salam kakak terhadap ayah, adik-adik, dan semua keluarga yang tinggal di kampung.
Oh iya, kamu belilah nanti beberapa oleh-oleh dari toko yang ada di terminal, agar ada sebagai buah tangan mu, tandanya kamu datang dari kota", Sari kembali mengingatkan Vina.
*****
Pukul 14:00
Tiba-tiba Merci datang berkunjung ke rumah Vina. Merci adalah teman sekolah Vina ketika di SMA. Dan Merci adalah salah satu teman Vina yang paling dekat dengan Vina.
Vina sering curhat kepada Merci begitu juga sebaliknya. Vina dan Merci sudah seperti kakak beradik.
Kedatangan Merci ke rumah Vina adalah ingin mengajak Vina berangkat ke luar kota untuk merantau mencari pekerjaan.
Sebenarnya pekerjaan sudah dapat, bekerja di pabrik kacamata tempat paman Merci. Merci hanya tinggal berangkat dan sudah disediakan tempat mes bagi para karyawan.
Sebagai teman yang baik Merci pun mengajak Vina untuk ikut dirinya merantau ke luar kota untuk bekerja.
"Ayolah Vin, ikut berangkat dengan ku. Aku disana belum ada teman dekat. Kupikir kalau ada kamu pasti akan seru, dan aku akan semakin semangat bekerja bila ada teman", bujuk Merci dengan penuh antusias dan semangat yang menggebu-gebu.
"Sayang sekali Merci, sebenarnya aku sangat ingin bekerja. Aku ingin sekali bekerja dan memberi sebagian penghasilan ku kepada kak Sari.
Sedari kecil kak Sari telah berkorban sampai tidak bersekolah untuk bekerja di ladang dan sawah keluarga. Bahkan di ladang dan sawah orang lain, agar mendapat upah harian. Itu semua untuk membeli kebutuhan dapur dan sekolah kami adik-adiknya.
Tetapi keinginan dan cita-cita ku kandas karena harus terpaksa menuruti keinginan Abang iparku yang ingin menjodohkan aku kepada temannya supir", Vina menceritakan dengan penuh kekecewaan.
"Kamu kan bisa saja menolak untuk di jodohkan. Lagian hari gini masih saja mau di jodohkan", Merci berkata dengan spontan.
"Aku sudah mengungkapkan keinginan ku untuk bekerja terlebih dahulu. Tetapi Abang iparku tetap ngotot ingin menjodohkan ku", ucap Vina datar.
"Mengapa kak Sari tidak memberikan pandangan atau membantah Abang ipar mu yang tetap ngotot menjodohkanmu?", tanya Merci bingung.
"Abang iparku ngotot menjodohkan ku. Karena merasa kalau teman nya Radit adalah jodoh yang cocok untuk ku dan masa depanku pun akan terjamin.
Karena Radit adalah orang kaya dan anak tunggal. Kak Sari sudah berusaha menolak. Adanya mereka jadi bertengkar karena kak Sari tidak sependapat dengan Abang ipar ku.
Aku takut mereka jadi terus bertengkar gara-gara aku. Makanya aku menyetujui untuk mau dijodohkan", Vina memberitahu alasan perjodohan nya.
"Ya ampun. Abang iparmu mengapa begitu yakin. Adanya nanti orang tua Radit akan posesif kepada Radit dan tidak membiarkan Radit jauh dari orangtuanya. Penghasilan Radit pun pasti akan diberikan kepada orangtuanya", Merci asal menebak.
"Kamu Mer. Aku jadi takut kalau kamu mengatakan seperti itu. bagaimana kalau yang kamu katakan itu menjadi kenyataan akan menderita sekali hidupku", Vina sedih mendengar tanggapan Merci yang asal nyeleneh. Merci pun tahu raut muka Vina menjadi sedih dan penuh ketakutan.
"Vina, maaf kan atas perkataan ku yang membuat mu menjadi takut. Mudah-mudahan perjodohan kamu ini adalah sebalik nya. Kalian berdua menjadi pasangan yang sangat berbahagia", Merci terus menyemangati Vina, karena melihat Vina berubah wajahnya menjadi sedih dan khawatir atas perkataan Merci barusan.
"Baiklah Vin, kalau kamu memang sudah bulat tekadnya untuk segera menikah. Aku tidak bisa memaksamu untuk ikut bersamaku merantau. Aku pamit pulang ya.
Aku berdoa dan berharap semoga kamu bahagia. Dan kuharap kita tetap saling memberi kabar", Merci pun segera pulang.
Hampir tiba jam keberangkatan Vina. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. Sebelum jam 19:00 keberangkatan bus. Vina sudah harus berada di loket. Agar tidak di tinggalkan oleh supir bus
Vina pun berangkat tergesa-gesa karena terlalu asik bercerita dengan temannya Merci.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments