Adam melangkah mantap masuk ke kantornya, dua orang asistennya sudah siap di depan pintu masuk, mengangguk hormat dan membeberkan jadwal Adam untuk hari itu, Adam mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobby kantor gedung pencakar langit miliknya, senyumnya mengembang, sontak saja senyum Adam membuat geger semua orang yang ada di lobby, tak pernah - pernahnya Adam mengumbar senyum, bahkan selama ini tak pernah ada yang mengetahui bentuk senyum Adam, senyum Adam sangat mahal, tersegel rapi untuk dirinya sendiri dan tak pernah diperlihatkan pada siapa pun, Adam dingin seperti es.
Apa yang terjadi pada orang nomor satu di kantor megah itu? Proyek sebesar apa yang membuatnya menerbitkan senyum? Karena seingat semua pegawai disana bahkan proyek bernilai trilyunan pun tak membuat Adam melepaskan senyumnya
“Adam!” Panggil Erick ketika Adam baru saja hendak masuk lift khusus untuk direksi, Adam memberi tanda pada dua orang asistennya agar meninggalkannya dan Erick berdua saja
“Kau sehat?” Telisik Erick ketika mereka berdua telah masuk ke dalam lift
“Sangat sehat!” Sahut Adam lagi - lagi sambil menerbitkan senyumnya, Erick terhenyak kaget lalu sibuk menelisik wajah Adam
“Kau tak sehat!” Sewot Erick, “apa kau sadar kalau kau tersenyum Adam! Artinya kau tidak sehat!” Cerocosnya lagi, Adam tak menanggapi hanya senyumnya yang terus terpasang hingga mereka keluar dari lift dan masuk ke ruangan Adam di lantai 30
“Kau kenapa Adam, apa kau ada masalah? Ceritalah padaku, kau tidak perlu pura - pura tersenyum untuk menutupi masalahmu! apa kau tahu kalau senyummu itu mengerikan? Aku yakin semua pegawai sedang berpikir kalau kau sedang tak sehat karena kau tersenyum Adam, kau tersenyum!” Cerocos Erick, Adam tak hirau, ia mendudukkan diri di kursi kebesarannya, membuka laptop lalu mulai memindai satu persatu dokumen di depannya
Erick duduk dengan frustasi karena tak juga mendapat jawaban Adam, pria berkaca mata itu lalu berdiri, hendak mendekati Adam untuk memeriksa dahinya, kemungkinan besar Adam sedang demam karena senyumnya terus saja mengembang
“Aku baik - baik saja, Erick!” Tandas Adam tepat sebelum Erick menempelkan punggung tangannya di dahi Adam
“Lantas apa yang membuatmu senyum - senyum sendiri begitu?!” Sewot Erick, Erick lalu tergesa duduk di depan Adam, “apa ini karena Bella?” Goda Erick
Adam menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, wajahnya seketika memerah malu, “apa terlihat jelas?” Tanya Adam
“Ahahahaha.. Astaga! Ternyata karena Bella, kau seperti ini karena Bella? Apa yang telah Bella lakukan sampai gunung es sepertimu bisa meleleh?” Selidik Erick sambil tergelak
Adam hanya tersenyum penuh arti, mana mungkin ia menceritakan pada Erick kalau tadi malam Bella pertama kalinya berinisiatif menciumnya dengan sangat lembut dan manis, Adam bahkan masih saja berdebar ketika mengingatnya.
“Ya sudah kalau kau tak mau menceritakannya! Tapi setidaknya beri tahu aku apa kau sudah menyatakan perasaanmu pada Bella?” Goda Erick penasaran
Adam menghembuskan napasnya, “Ada keperluan apa kau datang kesini?” Tanya Adam sengaja ingin mengalihkan topik, Erick menggerutu kesal merasa tak mendapat jawaban apa pun dari Adam, pria itu lalu mengeluarkan kertas dari dalam tasnya
“Kalau tahu kau akan menyimpan rahasia begini, aku tak akan mau jauh - jauh datang untuk menemuimu, kau itu hanya memanggilku saat butuh, keterlaluan sekali!” Tandas Erick bersungut - sungut sambil menyodorkan kertas yang ia pegang pada Adam, Adam meraih kertasnya lalu membacanya dengan teliti, mata Adam terbelalak, ia sontak berdiri
“Erick, apa hasil pemeriksaannya sudah benar?” Cecar Adam
“Sudah dua kali aku periksa, tidak mungkin salah!” Sahut Erick meyakinkan, kali ini Erick tersenyum, ikut bahagia
“Jadi Bella memang hamil, Erick?” Cecar Adam masih tak percaya, mata Adam berkaca - kaca, hatinya berdebar tak karuan
“Sama seperti dugaanmu! Untung saja Bella tidak curiga ketika pemeriksaan kemarin, kalau Bella teliti dia harusnya tahu tidak mungkin untuk tindakan bedah plastik dia diminta untuk memberikan sampel urinnya” tandas Erick, Erick lalu mendekati Adam dan menepuk - nepuk pundak sahabatnya itu, “Selamat ya Adam, kau akan jadi seorang Ayah!” ucap Erick sumringah
Adam mendudukkan dirinya lagi, kertas itu masih ia pegang, Adam merasakan hatinya yang menghangat, “kita akan punya anak, Bella” ucap Adam haru penuh suka cita
“Tapi aku penasaran, bagaimana kau bisa menduga kalau Bella sedang mengandung?” Tanya Erick
“Semenjak kami menikah, Bella tak pernah datang bulan, kau tahu.. waktu dimana seorang wanita akan sensitif dan marah - marah” terang Adam
“Hei… hei, aku tahu apa itu menstruasi seorang wanita, aku ini seorang dokter, apa kau lupa?!” Sewot Erick, “lantas kenapa kau ingin merahasiakan kehamilan Bella pada orang tuamu? Bukankah dengan mereka tahu soal ini kau yang akan memenangkan perlombaan dan perusahaan ini akan mutlak menjadi milikmu?” Selidik Erick
Adam menghela napasnya, “Kau tahu Adrian bukan? Dia akan rela melakukan apa saja agar keinginannya tercapai! Tidak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal yang nekad jika ia tahu kalau Bella hamil, sampai situasinya aman dan kehamilan Bella sudah tidak bisa disembunyikan lagi, aku akan meminta Bella untuk tetap merahasiakannya” jelas Adam
Erick mengangguk - angguk paham, “Baiklah, besok bawa Bella ke rumah sakitku untuk ku periksa, aku harus memastikan kondisi kandungan dan umur kehamilannya, usahakan agar kau sendiri yang mengantarkannya Adam, seorang Ibu akan lebih bahagia ketika suaminya sendiri yang mengantarnya memeriksakan kandungan” pesan Erick
Adam hanya menyahut dengan senyuman, tentu saja ia yang akan mengantarkan Bella, bagaimana mungkin ia mau kehilangan momen berharga itu
“Erick, hadiah apa yang akan kau berikan ketika istrimu hamil?” Tanya Adam tiba - tiba, Erick mendengus kesal
”Mana aku tahu! Apa kau lupa kalau aku belum menikah?” Sewot Erick lagi, Adam masih saja tersenyum bahagia, membayangkan bagaimana reaksi Bella ketika ia tahu kalau dalam rahimnya sedang tumbuh buah cintanya bersama Adam
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Entah untuk berapa kalinya Bella melihat jam di dinding kamarnya dengan gelisah, Bella menunggu Adam yang tak kunjung pulang, ingin menghubungi Adam tapi ia gengsi, apalagi jika mengatakan ia tak sabaran untuk bertemu dengan Adam, ia ingin merasakan ciuman itu lagi, sentuhan hangat Adam lagi
“Ya Tuhan aku kenapa? Kenapa aku malah menginginkannya? tubuhku seperti tidak bisa dikendalikan, aku merindukannya!” Bella menutupi kepalanya dengan bantal, mencoba meredam hasratnya yang membuncah
Sementara di luar kamar, Adam menciumi sebuket besar bunga mawar merah yang akan ia berikan untuk Bella, sekotak perhiasan juga ia emban di tangannya, Adam sengaja pulang lebih malam dibanding biasanya memastikan semua penghuni rumah sudah masuk ke kamarnya masing - masing. Adam perlahan masuk ke dalam kamarnya, lampu kamar yang terang benderang sudah temaram
“Dia sudah tidur ternyata” ucap Adam, Adam lalu melangkah menuju meja rias Bella, meletakkan buket bunga dan kotak perhiasan disana
“Adam” panggil Bella yang sedang menutupi tubuhnya dengan bed cover, Adam menoleh, “kau belum tidur?” Tanyanya pada Bella
“Kenapa kau pulang terlambat Adam?” Tanya Bella, Adam tersenyum ia lalu meraih buket bunga dan kotak perhiasan yang ia bawa tadi, membawanya ke depan Bella, sebelum memberikannya pada Bella Adam mengecup kening istrinya itu
“Selamat” ucap Adam sambil menyodorkan buket bunga dan kotak perhiasannya, Bella menerimanya dengan senang hati
“Kau tak perlu memberikanku hadiah berkali - kali untuk kelulusanku Adam, tapi terima kasih” ucap Bella ceria apalagi ketika ia membuka kotak perhiasannya, satu set kalung dan anting - anting bermata berlian terlihat gemerlapan, “bagus sekali Adam!” Pujinya
“Kau suka?” Tanya Adam, Bella mengangguk antusias, Adam lalu mendudukkan diri depan Bella, “itu bukan hadiah untuk kelulusanmu Bella, ada hal lain yang kau berikan untukku” ucap Adam
Bella yang sedang menciumi wangi bunga mawar itu mengerutkan keningnya, “lantas untuk apa? Apa yang sudah ku berikan untukmu?” Tanya Bella, Adam meraih tangan Bella menggenggamnya dengan erat
“Kau hamil Bella”
Deg…
Mata Bella membulat sempurna, dadanya bergemuruh hebat, seketika ia menundukkan wajahnya menatap perutnya yang masih rata, “A - aku hamil?” Bella tak percaya rasanya, apa benar ia hamil?
“Erick sudah memastikannya, Kau ingat saat Erick meminta sampel urin darimu? Aku yang memintanya, aku curiga kau sedang hamil Bella, oleh karena itu aku minta Erick untuk memeriksamu, dan ternyata dugaanku benar, kau memang hamil Bella” jelas Adam yang wajah berseri bahagia
Bella meneteskan air mata bahagianya, bahagia karena ia bisa mewujudkan keinginan Adam, “Ya Tuhan, terima kasih” ucapnya sambil mengelus - elus perutnya, “apa Daddy dan Mommy sudah tahu?” Tanya Bella
Adam menggeleng, “Bella dengar, untuk sementara tidak boleh ada yang tahu kalau kau sedang hamil, hanya kita dan Erick yang tahu, kau mengerti?”
Bella menatap wajah Adam dengan bingung, “Tapi Adam bukannya dengan kehamilanku maka kau yang akan memenangkan perlombaan? Perusahaan itu akan jadi milikmu seutuhnya Adam!” Tanya Bella tak mengerti
“Banyak resiko yang akan kau dan anak kita tanggung kalau ada yang mengetahui kehamilanmu sekarang Bella, aku tak ingin sesuatu terjadi pada kalian berdua, kau bisa merahasiakannya kan Bella?”
Bella mengangguk mengerti, ia paham pasti semua ini ada hubungannya dengan Adrian, kalau dipikir - pikir kekhawatiran Adam berasalan, mengingat bagaimana Adrian terobsesi untuk menjadi pemimpin perusahaan, bukan hal yang mustahil jika Adrian akan melakukan sesuatu yang buruk pada Bella dan calon anak mereka, Adam tentu harus memastikan situasinya dulu sampai kehamilan Bella benar - benar aman
“Anak kita” gumam Bella, tangannya tak berhenti mengelus - elus perutnya sendiri, rahim yang kini ditumbuhi anak sebagai alatnya untuk membalas dendam
“Iya anak kita” ucap Adam yang berpikir berbeda dengan Bella, Adam bahagia bukan main karena kini anaknya hadir diantara ia dan Bella sebagai pengikat mereka
Adam menumpukan tangannya di atas tangan Bella, Bella yang memang sedang menginginkan sentuhan Adam bergerak gelisah, “Kau kenapa Bella, apa ada yang kau rasakan?” Tanya Adam
“T - Tidak ada” sahut Bella, wajahnya berpaling tak ingin menatap Adam, Bella tak sanggup lagi menahan geloranya
Adam yang cemas menempelkan punggung tangannya di dahi Bella, “kau sakit?”, Bella semakin tak karuan saja mendapat sentuhan Adam lagi, “Bella lihat aku!” Titah Adam sambil meraih dagu Bella, Adam kini bisa melihat mata Bella yang sayu dan dadanya yang turun naik, Adam mengerti apa yang Bella sedang rasakan sekarang, Adam juga mengingat apa yang Erick beritahukan padanya tadi, akan ada makanan tertentu yang mungkin Bella inginkan, perubahan hormon pada Bella juga bisa membuatnya sangat sensitif, dan ada kemungkinan Bella akan selalu ingin disentuh
“Kau menginginkanku?” Bisik Adam di telinga Bella, entah dorongan sebesar apa yang Bella rasakan sehingga tanpa malu ia mengangguk, Adam terkekeh melihat Bella yang wajahnya sudah semerah tomat sekarang
“Baiklah, sebentar!” Ucap Adam, pria itu lalu bangkit dan beranjak menuju kamar mandinya, disana ia menghubungi Erick, Adam menunggu dengan sabar hingga sahabatnya itu menjawab panggilannya, ada hal penting yang harus ia tanyakan
“Sudah hampir tengah malam Adam! Apa kau tidak punya jam tidur?” Sewot Erick dengan suara serak, Erick pasti sudah terlelap tadi
“Erick, apa aku dan Bella boleh melakukannya meskipun dia sedang mengandung?” Tanya Adam langsung ke pokoknya
Erick menggeram kesal, “kau membangunkan tidurku hanya untuk memanas - manasiku Adam? Kau tahu ini jam berapa?” Sengitnya
“Erick aku serius!” Tandas Adam tak sabaran, ia tak ingin Bella menunggu terlalu lama, Erick di seberang sana hanya bisa mendengus kesal, “kalian boleh melakukannya Adam, tapi ingat kau harus berhati - hati! Kehamilan Bella masih sangat muda, kau mengerti Adam? Tanya Erick tapi Adam tak lagi menyahut, “H - Halo Adam, halo?” Ucap Erick lagi
“Sialan! Dia langsung menutup teleponnya begitu saja? Dia membangunkanku hanya untuk bertanya tentang itu? Apa dia sengaja memanasiku? Awas saja kau Adam Anderson!” Pekik Erick berapi - api.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Alvis Kumara
selamat buat adam dan bella👌👌👌. smg anaknya sehat dan lahir dengan selamat amin...
2024-08-23
1
suharti
selamat untuk Bella dan Adam..akhirnya hamil juga..
2023-02-05
1
Yuliana Tunru
jangan terlalu ambisi bks dendam bella ikuti alur Allah yg akan membals dgn karma setiap perbuatan jahat tetap jd dirimu yg baik krn nasib baik jg akan mengikuti mu..smoga kehamilanx baik2 z ya bel
2023-02-03
2