Adam mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi begitu pulang dari kediaman Takanawa, tangannya memang memegang kemudi, tapi pikiran dan hatinya terpaut pada Bella
“Sial!!” Pekik Adam sambil memukul - mukul setir mobilnya, menimbulkan suara klakson yang membahana di tengah derasnya hujan. Adam menyesal atas semua kata - kata yang ia lontarkan pada Bella, seorang wanita baik bernasib malang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, padahal Bella adalah istrinya, menantu dari keluarga Anderson yang kaya raya
“Apa yang telah ku lakukan padamu Bella?” Gumam Adam penuh penyesalan
Begitu sampai di rumahnya Adam masuk ke kamarnya dengan lesu, Miranda yang melihat ekspresi muram di wajah anaknya menyusul Adam ke kamarnya
“Adam, ada apa dengan wajahmu? Apa kau sedang kesal? Bukannya kau baru saja pulang dari pesta Tuan Takanawa?” Selidik Miranda
Adam yang sedang terduduk lemas di sofa menegakkan punggungnya, “kita semua sudah salah paham pada Bella Mom” sahut Adam membuat Miranda bertanya - tanya, Ibunya segera mendudukkan diri di samping Adam, menelisik wajah Adam
“Apa maksudmu Adam?” Cecar Miranda
“Bella sama sekali tidak tahu mengenai rumah yang ku berikan untuknya, Mom.. itu adalah permintaan Ibunya yang mengatas namakan Bella” ujar Adam lirih, Adam hanya menceritakan sebatas itu, ia belum ingin menceritakan tentang penipuan lain yang dilakukan oleh Pamela, ia tak ingin Ibunya sampai shock, bagaimana pun Pamela adalah Ibu dari Brianna juga, menantu bungsu Miranda
Rahang Miranda mengeras, “Seperti dugaan Mommy, Mommy tidak yakin kalau Bella adalah wanita peminta - minta seperti itu, anak itu sepertinya hanya dimanfaatkan oleh Ibunya saja” geram Miranda, Miranda lalu menggenggam tangan Adam dan menatapnya lembut, “Adam, setelah kau tahu yang sebenarnya, Mommy harap kau bisa bersikap lebih baik pada Bella, Mommy tahu kau tak punya perasaan apa pun padanya, tapi pakailah rasa kasihanmu pada nasib Bella”
Adam mengangguk, memang itu yang akan dia lakukan sekarang, memperbaiki sikap dan perkataannya pada Bella
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adam membuktikan kesungguhan niatnya, beberapa hari ini ia bersikap lembut dan hangat pada Bella meskipun Bella tetap acuh dan ketus padanya, Adam mengerti kenapa Bella bersikap dingin padanya, Adamlah yang salah dari pertama mereka menikah, Adam memperlakukan Bella layaknya ja***ng.
“Kau menginginkanku?” Tanya Bella menawarkan dirinya sesaat sebelum ia hendak berangkat ke rumah Justin
Adam yang baru saja pulang dari kantor, terkekeh mendapat tawaran dari Bella, “Astaga Bella, ini masih sore hari! Tidak kah kita bisa menunggu sampai malam hari nanti?”
“Aku mungkin akan pulang malam sekali hari ini, kalau kau mau aku akan melayanimu sekarang sebelum aku pergi” sahut Bella datar
Mata Adam memicing, “kau mau pergi? Ini sudah sore Bella, kau mau kemana?” Tanya Adam
“Aku mau ke kampus, ada urusan” ujar Bella, Adam tersenyum dan mengangguk - angguk paham, ia tahu kalau Bella akan berangkat ke rumah Justin untuk mengajar les
“Jam berapa kau pulang? Tanya Adam
“Mungkin sekitar jam 9 malam, atau bisa lebih cepat! Tapi untuk apa kau tahu aku pulang jam berapa nanti? Kalau hanya untuk meniduriku kau bisa lakukan sekarang” ujar Bella ketus sambil membuka kancing kemejanya satu persatu, memperlihatkan penutup dadanya yang mengintip
Glek..
Adam susah payah menelan salivanya untuk membendung hasrat yang mulai membuncah, sudah lama ia tak menyentuh badan itu, tapi ini bukan saat yang tepat, ia tak ingin Bella semakin membencinya. Adam menghampiri Bella yang sudah melepas kemejanya ke lantai, dipungutnya kemeja Bella lalu ia tutupi pundak Bella yang terbuka, dahi wanita itu mengkerut, ia tak mengerti akan sikap Adam, tapi di sisi lain ia bersyukur karena Adam tak menyentuhnya lagi
“Cepatlah berangkat agar kau bisa cepat pulang” ucap Adam lembut
“Kenapa dengan pria ini? Apa ada obat yang lupa dia minum? Kenapa dia seperti anak kucing yang manis sekarang?” Batin Bella
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Mom, apa ada kabar dari Bella?” Tanya Adam khawatir, sudah lewat dari jam 9 malam tapi Bella belum juga terlihat batang hidungnya, Adam semakin khawatir karena hujan badai yang tiba - melanda
“Kau sudah bertanya hal yang sama 6 kali Adam, dan jawabannya sama, ponsel Bella tidak bisa dihubungi! Kau juga keterlaluan Adam, kau sudah hampir 2 bulan menikah dengan Bella dan kau sampai sekarang tidak tahu nomer ponselnya?!” Sewot Miranda pada Adam yang berjalan mondar mandir tak tenang
“Mom, bukan waktunya memarahiku, pikirkan tentang Bella! Bagaimana kalau dia sudah diperjalanan pulang sementara sedang ada badai begini? Apa tidak ada sopir yang dihubungi Bella untuk menjemputnya?” Tanya Adam lagi semakin panik
“Mommy sudah menghubungi semua sopir kita dan tidak ada satu pun yang dihubungi oleh Bella! Duduklah Adam, kau membuat Mommy semakin khawatir!” Titah Miranda sambil terus saja mencoba menghubungi Bella
Adam mendudukkan dirinya sebentar sebelum ia bangkit lagi dan beranjak tergesa dari situ
“Mau kemana kau Adam?” Panggil Miranda pada Adam
“Aku mau menjemput Bella Mom, aku tak tenang!” Sahut Adam
Miranda menahan tawanya melihat Adam yang kelihatan sekali khawatirnya
“Tahu rasa kau Adam, Mommy yakin sekarang kau mulai jatuh cinta pada Bella!” Gumam Miranda sambil terkekeh
**Di kediaman Takanawa, seluruh keluarga sedang berkumpul termasuk Bella. Justin, Takanawa, dan Emily sedang menikmati teh hangat di depan perapian, sementara Bella membelai - belai rambut Jessy yang tidur di pangkuannya
”Ma, bukannya keluarga kita sudah terasa lengkap sekarang?” Gumam Jessy
“Maksudmu apa Jessy? Bukannya keluarga kita sudah lengkap begini?” Jawab Emily
“Maksudku ada Kak Bella disini Ma, dia menyempurnakan keluarga kita, Mama mintalah Kak Justin untuk menikahi Kak Bella, aku sudah merasa nyaman dengannya” sahut Jessy semakin bermanja di pangkuan Bella
Deg..
Bella dan Justin saling pandang, salah tingkah menanggapi keinginan Jessy itu. Sementara Emily menoleh pada suaminya yang tersenyum penuh arti
“Kau masih kecil Jessy! Pikirkan saja nilai kelulusanmu” ucap Justin
“Aku memikirkan masa depanmu Kak, kau harusnya berterima kasih padaku, kau akan menyesal kalau kau sampai terlambat mendapatkan Kak Bella, percaya padaku Kak!” Sahut Jessy membuat Bella semakin tak nyaman
“Sudahlah Jessy, kenapa kau menggoda Kakakmu? Biarkan itu jadi urusan mereka berdua” kali ini Takanawa yang bersuara
Duaaaarrr..
Suara petir semakin menggelegar, hujan tak juga mereda, justru semakin deras
“Kau sebaiknya menginap disini Bella, sepertinya badainya akan berlanjut sampai pagi, percuma kau menunggu hujannya reda, lagi pula ini sudah terlalu malam, sangat berbahaya kalau kau pulang” ucap Emily
“Mama betul Kak, kau bisa tidur denganku! Kita bisa bercerita sepanjang malam sampai pagi” ucap Jessy antusias
Bella melirik jam tangan di pergelangan tangannya, waktu baru saja melewati jam 10 malam, Bella menimbang sebentar, suara petir yang bersahutan dan hujan yang terus mengguyur deras membuatnya urung pulang, mau tidak mau ia harus menginap di rumah Takanawa malam ini
Bella baru saja hendak berucap ketika seorang pelayan tergupuh datang mengabarkan kedatangan seorang tamu, Takanawa dan Emily jelas bingung, siapa yang bertamu ke rumah mereka tanpa janji terlebih dahulu apalagi pada larut malam seperti ini
“Siapa yang datang?” Tanya Takanawa pada pelayan itu
“Tuan Anderson, Tuan… tamu yang datang ke rumah ini beberapa hari yang lalu” sahut pelayan itu, Justin dan Bella kembali saling pandang, keduanya saling mengerutkan kening
“Adam Anderson?” Tanya Takanawa lagi
“Benar Tuan” sahut pelayannya, Bella menelan salivanya, ia tahu apa maksud kedatangan Adam malam ini, ia lalu menjatuhkan pandangannya pada Justin yang mengkodenya agar tetap tenang
“Adam Anderson? Apa maksudnya Adam pemilik Anderson Tower itu?” Cecar Jessy antusias
“Betul sekali Jessy, kau kenal dengan Adam Anderson?” Selidik Emily
“Bagaimana aku tak mengenalinya? Semua teman - teman di sekolahku mengidolakannya, kami bercita - cita untuk bekerja di perusahaan Anderson agar bisa bertemu dengan Adam Anderson setiap hari” sahut Jessy, gadis muda itu berdiri lalu membenar - benarkan rambut dan bajunya, langkahnya riang mengikuti Takanawa dan Emily yang menuju ruang tamu
“Aku tak menyangka kalau Adam bisa senekad itu, Kak! Entah apa maunya Adam, aku semakin tak mengerti sikapnya!” Panik Bella, ia pasti sangat tak nyaman pada keluarga Takanawa jika Adam sampai membuat keributan di rumah itu
“Kau tenanglah, semua akan baik - baik saja, ada aku” ucap Justin mencoba menenangkan Bella
**Di ruang Tamu, Takanawa segera menghampiri Adam yang sedang berdiri tegap, diekori oleh Jessy yang mendorong kursi roda Emily, “ya Tuhan Ma, dia ternyata tampan sekali” histeris Jessy setengah berbisik pada Ibunya
“Jaga sikapmu Nona! Dia tamu kita!” Sewot Emily juga dengan berbisik
“Adam, ada apa kau datang malam - malam begini, apa sesuatu terjadi” tanya Takanawa cemas, untuk apa Adam mendatanginya di tengah badai seperti ini?
“Maaf atas kedatangan saya yang tiba - tiba Tuan Takanawa, Nyonya Emily” ucap Adam dengan senyum, sangat sopan
“Tidak apa - apa Adam, hanya saja kami sedikit terkejut, apa ada yang bisa kami bantu?” Tanya Emily ramah
“Kedatangan saya kesini untuk menjemput istri saya” ucap Adam bersamaan dengan kedatangan Justin dan Bella yang menyusul ke ruang tamu
Adam menatap Bella lalu tersenyum hangat padanya, Adam juga tak lupa menyunggingkan senyumnya untuk Justin
“Istri anda?” Ulang Takanawa, memastikan kalau pendengarannya salah
“Maaf Adam, saya rasa kau salah alamat, tidak ada orang lain selain kami dan Bella disini, apa istrimu berkata kalau dia kesini?” Selidik Emily yang sama bingungnya, Bella menghela napasnya, ia yakin malam ini Adam akan membuka semuanya termasuk tuduhan tentangnya dan Justin
“Saya sama sekali tidak salah alamat Nyonya Emily, saya memang ingin menjemput istri saya, Bella! Bella Anderson”
Deg…
Takanawa dan Emily terhenyak, begitu juga dengan Jessy, Jessy malah sudah menoleh pada Bella menuntut penjelasan
“Maksudmu Bella? Bella guru les anak kami Jessy? Bella yang itu?” Tunjuk Emily pada Bella, Adam mengangguk mantap
“Iya Bella yang itu, dia istri saya! Maaf saya baru memberi tahukannya sekarang, selama ini saya ingin memberikannya kebebasan untuk melakukan apa yang ia mau, tapi malam ini saya harus menjemputnya karena saya khawatir ia akan pulang di tengah cuaca badai seperti ini” tutur Adam
Jessy intens menatap Bella meminta penjelasan, “apa benar kau istri Tuan Adam Anderson Kak?” Cecar Jessy, Bella mengangguk pelan membuat Jessy menggeram marah dan beranjak dengan setengah berlari meninggalkan ruang tamu
Melihat kemarahan yang ditunjukkan Jessy, Takanawa menjadi tak enak hati pada Adam, “Ah.. maafkan anak kami Jessy, dia tentu kaget dengan berita ini, dia sudah sangat menyayangi Bella, bahkan tadi dia meminta Justin untuk menikahi Bella” ucapnya, Emily menyikut Takanawa mengingatkan, khawatir jika Adam akan tersinggung
“Tidak apa - apa, saya mengerti” sahut Adam penuh senyuman, Adam lalu menoleh pada Bella, “bisa kita pulang sekarang sayang?” Tanyanya
Bella tak punya pilihan lain selain mengangguk pelan, ia tak ingin Adam membuat keributan jika ia tak mematuhi Adam, “Tuan Takanawa, Nyonya Emily, saya benar - benar minta maaf karena tak memberitahukannya lebih awal” ucap Bella sendu
“Sudahlah tidak apa - apa Bella, nanti saya yang akan menjelaskannya pada Jessy, kau pulang lah bersama Adam” ucap Emily bijak
“Adam, kami benar - benar minta maaf, seandainya kami tahu lebih awal kalau Bella adalah istrimu, tentu kami tak akan berani memperkerjakannya” ucap Takanawa
“Ahahaha.. tidak apa - apa, percayalah itu keinginan Bella, saya justru berterima kasih pada Justin karena telah memberikan pekerjaan di rumah ini untuk Bella” ucap Adam, Justin menatap Adam dengan tajam, dadanya bergemuruh menahan amarah demi mengingat setiap perlakuan Adam pada Bella
“Bisa kita pulang sekarang?” Tanya Bella tak ingin kekakuan suasana itu berlarut - larut, Adam sigap menggandeng Bella, memisahkannya dengan Justin
“Kami permisi” ucap Adam sopan,
“Silakan, berhati - hatilah di jalan” ucap Takanawa, Adam dan Bella lalu beranjak keluar dari rumah itu, Adam erat menggandeng Bella seolah ingin menunjukkan kalau Bella adalah miliknya seorang
”Hujannya semakin deras, apa kau mau menginap di hotel dekat sini saja?” Tawar Adam begitu mereka berada di dalam mobil dan melaju sangat pelan membelah jalan yang digenangi air hujan
Bella menggeleng, “aku ingin pulang saja” sahut Bella, tangannya sibuk memeluk dirinya sendiri untuk menghangatkan tubuhnya, salahnya memang karena hanya memakai kemeja saja, ia tak menyangka kalau hari ini hujan badai akan turun
“Kau kedinginan?” Tanya Adam, matanya sesekali menatap Bella di sampingnya lalu awas lagi ke jalan raya
“Tidak”sahut Bella singkat tanpa menatap Adam
“Tubuhmu gemetaran begitu dan kau masih bilang tidak kedinginan?” Cecar Adam
“Sudah kubilang aku tidak kedinginan! Apa kau tidak bisa fokus mengemudi saja agar kita cepat sampai?” Sewot Bella
Adam terkekeh melihat Bella yang sewot, “kau keras kepala sekali ternyata Bella” ucapnya, tanpa peringatan lebih dulu Adam menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sangat sepi, tidak ada satu kendaraan pun yang terlihat melintas
“Untuk apa kau berhenti?” Sewot Bella lagi, Adam tak hirau, ia membuka sabuk pengamannya, lalu melepaskan jaket yang ia pakai, Bella bisa merasakan hembusan napas Adam menyapu hangat wajahnya saat Adam mencodongkan badannya untuk menyelimuti Bella dengan jaketnya
“Sudah lebih hangat?” Tanya Adam, wangi mint menguar dari mulutnya berlomba dengan aroma parfum mahal Adam, wajah Adam begitu dekat dengan Bella untuk pertama kalinya, bahkan Bella bisa melihat iris mata hazel Adam yang berkilauan di cahaya samar - samar dalam mobil
“Kau berlebihan!” Sengit Bella sambil melepas Jaket Adam, tapi Adam tangkas menahannya, memakaikan jaket itu kembali “Pakai ini Bella!” Ucapnya penuh perhatian
“Tidak usah berpura - pura baik padaku Adam, aku… “ Bella tak bisa lagi melanjutkan celotehannya ketika Adam tiba - tiba saja mengecup bibirnya pelan, badan dingin Bella seketika meremang, perasaan aneh menjalar di badannya seolah menuntut menginginkan kecupan itu, ini ciuman perdana mereka dan entah kenapa Bella dag dig dug dibuatnya
Bella membiarkan lagi saat Adam kembali mengecupnya beberapa kali, mencuri lip balm dari bibir Bella, “Rasa strawberry, aku suka” bisik Adam sambil menjilat bibir atasnya, Bella merasakan dadanya yang bergemuruh hebat, jantungnya berdegup kencang, dan napasnya yang mulai tak teratur apalagi saat Adam menangkup wajahnya, lalu mulai memagut dan mengulum bibirnya pelan
Bella memberikan akses ciuman Adam yang semakin intens, bahkan ketika Adam menjulurkan lidahnya menerobos masuk mencari - cari lidah Bella, Bella balas menyambut lidah Adam, membiarkan lidah mereka berpaut
Bella menyesali desahannya yang lolos begitu saja ketika Adam mulai menyentuh dadanya, ia yakin Adam sangat puas mengetahui Bella yang sudah terpacu hasrat, dan benar saja Adam yang menggila membuka kancing kemeja Bella satu per satu tanpa melepas pagutannya
Buaian Adam membuat Bella tak sadar kalau kini kemejanya sudah terbuka sempurna, memperlihatkan penutup dada berwarna hitam yang masih bertahan di tempatnya, namun tak lama karena Adam menyibaknya ke atas
Bella kembali melenguh saat kulit tangan Adam bertemu dengan kulit dadanya, tangan besar itu kemudian gemas memainkan dada Bella. Bella terengah saat Adam melepas ciumannya, wanita yang sedang dibuai napsu itu menggigit bibir bawahnya saat merasakan mulut hangat Adam kini berada di dadanya, Bella semakin tak karuan saat lidah Adam menyapu - nyapu lembut disana
Napas keduanya kini memburu ketika mereka berciuman lagi, saling melepas semua hasrat yang dibendung, Bella paham kemana ini akan berujung
“Kau sedang menginginkanku?” Tanya Bella tanpa basa basi
“Kita pulang saja, kau harus istirahat” bisik Adam serak, pria itu lalu mendudukkan dirinya lagi di kursi kemudi menahan kuat - kuat napsunya yang sudah di ubun - ubun
“Kenapa kau tidak mau Adam? Apa karena kau berpikir kalau aku sudah disentuh oleh Justin?” Sinis Bella
“Aku tidak berpikir seperti itu, aku pikir sebaiknya kau beristirahat saja, kau pasti lelah!” Titah Adam
Bella tergelak, “kau jijik padaku karena kau berpikir kalau aku tidur dengan Justin? Itu makanya kau tidak pernah menyentuhku lagi belakangan ini, begitu kan Adam?” Tuduh Bella
“Aku tidak berpikir seperti itu lagi tentangmu Bella!” Lirih Adam yang sedang kerepotan menahan gelora hasratnya
Bella mengancing kemejanya lagi, senyum leganya terbit, sekarang ia merasa punya senjata agar Adam tak menyentuhnya, “kau jangan pernah menyentuhku lagi, karena aku sudah tersentuh oleh Justin” bohong Bella
“Aku sudah bilang aku tak berpikir kau seperti itu lagi, Bella” geram Adam, ia menyugar rambutnya frustasi karena hasrat yang tak kunjung turun, seluruh titik tubuh Adam menjadi sensitif sekarang
“Itu kebenarannya Adam, aku… “ Bella lagi - lagi tak berkutik saat Adam kalap memagut rakus bibirnya, Adam yang membabi buta bahkan tak peduli Bella gelagapan mencari oksigen, “Kau yang memancingku, Bella!” Lenguh Adam, pria itu meninggalkan bibir Bella lalu menelusuri lehernya
“Tapi aku sudah tersentuh…. “ bibir Adam tak membiarkan Bella melanjutkan ucapannya, Bella kembali bungkam dan pasrah ketika Adam membuka kasar kemejanya, membuat beberapa kancing kemeja Bella terlepas
“Adam, t - tunggu… haahh” d****h Bella saat mulut Adam kembali menyentuh dadanya tanpa ampun. Mendengar d*****n Bella, Adam lebih nekad dengan bergerilya di bagian bawah tubuh Bella yang mengenakan rok
Lenguhan Bella susah ditahan lagi karena Adam mempermainkan inti tubuhnya, Bella hanya mampu mendongak dengan mata terpejam dan bibir bawah yang ia gigit sendiri
“Naik ke atas pangkuanku Bella!” Titah Adam sambil beringsut lagi ke kursi kemudinya
“ini di jalan Adam!” Sahut Bella lemas, Adam tak mungkin mengajaknya bercinta di pinggir jalan seperti ini kan? Batin Bella
“Atau kamu mau semalaman aku mencumbumu? tidak menutup kemungkinan sebentar lagi hujannya reda dan banyak kendaraan yang melewati jalan ini bukan? Kau mau ada orang yang melihatmu sedang dicumbu olehku?” Ancam Adam, dengan tangan yang aktif menyentuh pelan bagian inti Bella
Bella tak lagi membantah, ia beringsut naik ke pangkuan Adam, ruang yang sempit membuat Bella harus menekuk kakinya, Hujan semakin deras saat kedua sejoli ini saling tatap, Bella bisa melihat mata Adam yang semakin berkabut
“Tapi tidak ada bantal disini, aku tidak bisa menutupi wajahku!” Sindir Bella, meskipun ia sudah terhanyut hasrat, tapi Bella tetap tak lupa dengan semua penghinaan Adam. Adam tak menyahut, ia kembali sibuk dengan dada Bella, mencium, menyapu dengan lidahnya, atau menghisapnya pelan, lagi - lagi d***han Bella lolos
Mendapati Bella yang sudah tak berdaya, Adam sigap membuka resleting celananya, dan menyingkap penutup inti tubuh Bella, Adam kemudian membimbing pinggul Bella untuk turun dan menyatukan tubuh mereka hingga keduanya melenguh panjang
“Gerakan pinggulmu Bella!” Titah Adam, Bella melihat Adam yang terhanyut, membuat Bella sadar kalau Adam mulai menikmati penyatuan mereka, dan bukan karena misi untuk memiliki anak lagi. Senyum Bella terbit, rencana balas dendam untuk menyiksa Adam muncul di benaknya
Bella menautkan kedua tangannya di leher kokoh Adam, perlahan ia mempercepat gerakan pinggulnya sambil melenguh dan mengeluarkan kata - kata tak pantas memancing keliaran Adam, entah dari mana ide gila itu muncul, yang pasti Bella tahu apa yang harus ia lakukan untuk membalas rasa sakit hatinya pada Adam
“Nikmatilah Adam, akan kau buat kau gila” batin Bella sesaat sebelum Adam mengeluarkan semua yang ia tahan berhari - hari di dalam tubuh Bella.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Lia Suryani
lanjutan
2023-01-24
0
Ririn Iskandar
haduhh🤦♀️🤦♀️ kok jadi sarang adu balas dendam jadi'nya..adam cepet kau akui kesalahan mu..dan minta maaf dgn tulus kepada bella. sblm semua dendam di hati bertambah,, ucapkan bahwa kau mulai menyukai'nya dan ingin memulai semua'nya dari awal lagi..minta untuk dbrkn kesempatan kedua..
2023-01-24
1
ayumi
jessy jngan nanti mlh bnci lgi ama bella? up lebih dari 1 bab dong thor...
2023-01-24
1