Sarapan pagi itu tak seperti biasanya, suasana dingin mengiringi dentingan alat - alat makan, tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir semua anggota keluarga Anderson
“Untuk beberapa hari ini aku dan Brianna akan tinggal di tempat lain” ucap Adrian datar, namun mampu menarik perhatian semua orang, terutama Miranda, Miranda sampai menghentikan makannya
“Kau dan Brianna mau tinggal dimana Adrian?” Tanya Miranda, nada suaranya menyiratkan kekecewaan
“Tidak usah mempedulikan kami Mommy, fokus saja pada anak kesayangan Mommy dan Daddy” sinis Adrian, Adam yang merupakan sasaran sindirian Adrian acuh, ia sibuk menyantap makanannya
William menghela napasnya, “Bicara yang sopan pada Ibumu Adrian!” Tandas William
“Oh apa sekarang aku juga kurang sopan setelah kemarin aku dianggap kurang pintar di banding Adam?” Sinis Adrian
“Tidak ada yang menganggapmu begitu, Adrian, tidak bisakah kau membicarakan ini dengan kepala dingin?” Tutur Miranda lembut
“Apa aku masih harus berkepala dingin setelah merasakan ketidak adilan yang dilakukan oleh orang tuaku sendiri?!” Sengit Adrian
Adam mendelik tajam pada Adrian, ia mulai terusik dengan cara bicara Adrian pada Ibunya, “Bisakah kau lebih sopan pada Mommy? Bukankah dari tadi Mommy bicara dengan lembut padamu?” ujarnya
Adrian berdecih, “Wah, lihatlah siapa yang berbicara, anak kesayangan dari Tuan dan Nyonya Anderson! Kalau begitu untuk apa aku berada disini lagi, aku mungkin hanya akan mengganggu waktu sarapan kalian saja!” Adrian bangkit dari duduknya diekori oleh Brianna, meninggalkan kekesalan di hati Miranda, Adam, dan William
Bella memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia seolah bisa mengerti apa yang Adrian rasakan sekarang, kalau saja ia tak mengingat perbuatan kejam Adrian padanya, sudah pasti Bella akan membelanya di depan William dan Miranda serta Adam
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bella menyusuri jalan dari kampus menuju rumah yang dihuni oleh Ibunya, ia memang minta untuk diturunkan di kampusnya pada sopir Adam tadi, tapi langkahnya tak terbendung ingin melihat sang Ibu, semoga hari ini ia dapat bertemu dengan Ibunya.
“Kau sedang apa Nona? Kenapa kau datang kesini lagi?!” Sentak seorang penjaga keamanan, penjaga keamanan yang sama yang pernah mengusir Bella
“Apa Nyonya Pamela ada?” Tanya Bella nekad, ia tak peduli meskipun penjaga keamanan itu sudah berkacang pinggang
“Nyonya Pamela tidak ada! Lagi pula sudah berapa kali saya bilang kalau Nyonya tidak ingin bertemu dengan anda Nona, apa kurang jelas?” Sengit pria berbadan besar dan tegap itu
“Baiklah, saya akan menunggu di seberang sana saja, Tuan! Saya tidak akan mengganggu, saya hanya ingin bertemu dengan Ibu saya sebentar” tutur Bella sambil menunjuk trotoar seberang jalan rumah itu, penjaga keamanan itu acuh tak peduli dan memilih untuk kembali ke posnya
Bella melangkah membelah jalan menuju seberang, lalu memilih trotoar yang berada tepat di seberang rumah Ibunya, cuaca sedang sangat panas saat itu, terik matahari sudah terasa meskipun waktu baru menginjak pukul 10 pagi
Waktu bergerak menuju jam 12 siang ketika Bella melihat sebuah mobil mewah hendak memasuki kediaman Ibunya, Bella berdiri dengan mata yang memicing karena cahaya matahari yang menyilaukan mata, kepalanya pun sudah mulai berputar pusing karena terpaan panas berjam - jam. Di seberang sana Bella melihat mobil itu sudah masuk ke pekarangan rumah
“Itu Brianna dan Adrian kan?” Gumam Bella saat melihat keduanya turun dari mobil, dalam waktu yang hampir bersamaan Bella melihat Pamela yang tergupuh datang menyambut hangat anak dan menantunya, senyum Pamela sumringah, apalagi saat Brianna memeluknya hangat
Hati Bella sakit luar biasa, kenapa tak ada senyum untuknya sama seperti untuk Brianna, bahkan Pamela jauh lebih ramah pada Adrian, Bella bahkan tak ingat lagi kapan terakhir kali Pamela mengelus - elus punggungnya sama seperti yang Pamela lakukan pada Adrian sekarang
Bella mengusap air mata dengan ujung lengannya, saat yang sama ketika penjaga keamanan memberi tahukan kedatangan Bella pada Pamela. Pamela menatap benci anaknya yang sedang terpaku berdiri memandanginya di sebenrang jalan, begitu pun dengan Brianna
Bella menyunggingkan senyum pada keduanya, merasa ada kesempatan untuk bertemu dengan Ibunya wanita itu setengah berlari menyeberang jalan, lalu tergesa memburu gerbang yang hendak ditutup oleh penjaga keamanan
“Kau masuk saja Bu, biar aku yang menghadapinya” ujar Brianna, senyumnya penuh ejekan ketika Bella memohon pada penjaga keamanan untuk dibukakan gerbang yang sudah terkunci lagi itu
“Uruslah! lebih baik Ibu menemani Adrian di dalam daripada Ibu harus bertemu dengan anak sialan itu!” Tandas Pamela, ia lalu beranjak masuk ke dalam rumahnya meskipun Bella berteriak - teriak memanggil dirinya
“Mau apa kau kesini?” Sinis Brianna pada Bella yang pasrah berdiri di balik gerbang
“Aku hanya ingin bertemu Ibu Kak, sebentar saja” lirih Bella
“Oh tentu, tenang saja! Akan ku panggilkan Ibu untukmu, sebentar” ucap Brianna, senyum Bella terbit, harapannya muncul kembali, ternyata masih ada kebaikan di hati Brianna
Bella melihat Brianna berbicara dengan penjaga keamanan, entah apa yang ia katakan karena Brianna setengah berbisik, tapi Bella yakin kalau Brianna memerintahkan penjaga keamanan itu untuk membukakan gerbang untuknya, dan benar saja gerbang itu dibukakan untuk Bella
“Kau tunggulah disini Bella, aku akan memanggil Ibu untukmu” titah Brianna dengan seringai lebar
“Terima kasih Kak” ucap Bella penuh syukur, Brianna dan penjaga keamanan itu lalu meninggalkan Bella berdiri sendiri menanti kedatangan sang Ibu. Bella mengedarkan pandangannya pada sekeliling halaman luas yang dipenuhi rumput hijau, air mancur berdiri kokoh di tengah - tengah taman bunga yang luas
“Kalau ini membuatmu bahagia, aku rela dibenci oleh Adam karena menganggap bahwa aku lah yang meminta rumah ini Bu, sungguh aku hanya ingin kau bahagia dan tak membenciku lagi” gumam Bella
Lamunan Bella buyar tatkala Bella sayup mendengar suara gonggongan anjing, Bella awalnya mengira kalau itu adalah anjing liar di pinggir jalan, sampai ia melihat seekor anjing besar berwarna hitam dengan tali rantai dilehernya berlari kencang ke arah Bella, Bella juga bisa melihat Brianna yang berdiri jauh disana sedang tersenyum sinis padanya, Bella paham Brianna lah yang meminta penjaga keamanan untuk melepaskan anjing penjaga itu
Bella panik saat anjing itu semakin mendekat, tanpa berpikir lagi Bella berlari sekuat tenaga keluar dari pekarangan rumah Ibunya, suara gonggongan anjing yang terasa semakin dekat di belakangnya membuat Bella mempercepat larinya, Bella tak peduli pada kakinya yang mulai terasa sakit, ketakutannya pada makhluk bergigi runcing itu mengalahkan rasa lelah dan napasnya yang semakin terengah
“Tolong!” Pekik Bella berharap ada orang yang mendengar teriakannya, meskipun lingkungan perumahan mewah itu sangat sepi
Lari Bella semakin tunggang langgang, keringat bercampur air mata sudah membasahi wajahnya yang memerah, namun anjing yang tak menyerah mengejarnya itu semakin lebih cepat mengejar Bella, lalu Bella merasakan saat anjing itu menerjangnya dari belakang hingga Bella tersungkur, saat itu juga Bella pasrah, ia hanya mampu berteriak kesakitan dan memejamkan matanya saat gigi anjing itu mengoyak celana hingga tembus ke kulit kaki Bella
“Ayah, tolong!” lirih Bella lagi saat anjing itu brutal hendak menggigit bagian lain tubuh Bella, hingga Bella mendengar suara ban berdecit tak jauh dari trotoar tempatnya meringkuk sekarang
Buuuggg…
“Pergi kau anjing gila!” sentak pria asing yang menolong Bella
Anjing yang tadi sibuk hendak mengoyak - ngoyak badan Bella terdengar mengaik kesakitan, setelah itu Bella mendengar suara lolongan anjing yang semakin menjauh, entah siapa pahlawan itu tapi sungguh Bella merasa seolah terlepas dari mautnya
“Kau tak apa - apa Nona?” Tanya pria itu khawatir pada kondisi Bella yang mengenaskan, wanita itu meringkuk dengan sebelah kaki yang sobek berlumuran darah, Bella pelan membuka tangan yang menutupi wajahnya
“Astaga Kau Bella kan?” Suara asing seorang pria yang tak pernah Bella dengar sebelumnya, tapi darimana pria itu tahu kalau namanya Bella, dengan badan gemetaran dan air mata yang terus saja meleleh Bella mendongak melihat pria asing itu
“Benar, kau Bella istri Adam kan?” Cecar pria berkaca mata itu lagi, Bella hanya mengangguk lemah tak mampu berkata apa pun, bahkan bibir pucatnya saja gemetaran
Pria itu lalu mengulurkan tangannya, “ayo berdiri Bella, jangan takut! Aku Erick, dokter pribadi Adam” ucap pria itu, Bella ragu menerima uluran tangan Erick, namun darah yang terus mengalir dari kakinya tak memberinya pilihan lain
Erick meneliti kaki Bella yang berlumur darah, “Ya Tuhan, kakimu sobek Bella! kita harus segera ke rumah sakit untuk menghentikan pendarahannya!” Tutur Erick cemas, pria itu lalu membimbing Bella masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan kencang
Sepanjang perjalanan di dalam mobil Bella menangis, bukan hanya karena rasa sakit pada kakinya, tapi juga rasa sakit pada hatinya, bagaimana mungkin seorang Kakak mampu melakukan ini pada adik kandungnya sendiri? Sengaja melepaskan seekor anjing untuk mengejar Bella, apa kebencian Brianna padanya sebesar itu?
Bella mengepalkan tangannya merasakan sedih yang bergulir menjadi marah, hari ini apa yang dilakukan oleh Pamela dan Brianna sudah sampai pada batas toleransinya, ia nyaris mati dikoyak - koyak oleh binatang peliharaan penjaga Ibunya sendiri, bahkan Brianna tersenyum puas saat melihat Bella yang pucat pasi ketakutan
“Baik Brianna, bukankah hidup ini tak lepas dari karma? Kau sudah hampir membunuhku hari ini, maka aku tak segan membuatmu menerima karmamu dan mati perlahan, apa pun akan ku lakukan untuk melihatmu menangis karena putus asa sama seperti yang ku rasakan sekarang” batin Bella, “dan kau Ibu, kau boleh membenciku dengan alasan apa pun, karena mulai saat ini aku tak lagi peduli padamu” batinnya lagi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adam berlari di sepanjang koridor rumah sakit diikuti dua orang asisten di belakangnya, Adam tak peduli pada perawat dan dokter yang memperingatkannya untuk tak berlari, rasa khawatir Adam terhadap Bella membuatnya ingin segera melihat kondisi istrinya itu, mendengar kabar tentang Bella dari Erick jelas membuat Adam kaget luar biasa. Apa yang terjadi pada Bella, kenapa ia bisa sampai dikejar oleh anjing penjaga di sekitar perumahan mewah itu? Batin Adam
Satu orang asisten mendahului Adam untuk membuka pintu ruangan tempat Bella di rawat, Adam menerobos masuk dengan tak sabaran, membuat beberapa dokter dan perawat yang sedang menangani Bella menoleh padanya, Erick memburu Adam dan mengajaknya keluar ruangan
“Bella sudah ditangani oleh dokter ahli tadi, lukanya sudah dijahit dan sudah diberikan vaksin rabies, sekarang para dokter sedang mengobservasi Bella memastikan tak ada luka lain yang berbahaya” jelas Erick
“Apa dia akan baik - baik saja?” Tanya Adam khawatir
“Astaga Adam, apa kau tak percaya pada kemampuanku dan dokter - dokter ahli disini?” Sewot Erick, “Nah ayo kita masuk, mereka sudah selesai mengobservasi Bella” tutur Erick saat melihat rekan - rekan dokternya keluar dari ruangan tersebut, Adam mendahului Erick memasuki ruangan, dadanya bergemuruh karena cemas
“Adam” panggil Bella lirih ketika melihat Adam berdiri di ambang pintu, Adam memburu menghampiri Bella, matanya menjelajahi badan Bella dengan teliti, “Banyak sekali lukamu, apa yang terjadi Bella?” Selidik Adam, pria itu lalu mendudukkan diri di sebelah Bella, tanpa ragu Bella memeluk Adam dengan erat
“Kau tahu Adam, ini sakit sekali! Anjing itu terus saja mengejarku, aku pikir aku akan mati tadi kalau saja dokter Erick tak menolongku” isak Bella
“maafkan aku Adam, kau akan ku jadikan alat untuk membalas sakit hatiku pada Adrian, Brianna, dan Ibuku sendiri, aku akan melakukan apa saja untuk membalas perbuatan mereka termasuk jika aku harus berpura - pura mencintaimu” ucap Bella dalam hatinya
Adam shock bukan main, bagaimana Bella bisa seagresif ini sekarang? Tapi Adam senang, ia merasa bahagia dengan pelukan itu. Adam membalas pelukan Bella, tangannya mengelus - elus punggung Bella dengan lembut, sentuhan yang membuat Bella nyaman di pelukannya
“Maaf karena aku tak ada disana saat kau butuh” sesal Adam
“Kau memang tidak bisa selalu ada untukku sepanjang hari kan Adam? Tapi apa kau tahu siapa yang terpikir olehku saat aku merasa mau mati tadi? Hanya kau Adam” ucap Bella bersandiwara
Deg…
Wajah Adam bersemu merah, apa ia tak salah dengar?
“B - Bella” ucap Adam terbata dan salah tingkah, Bella mengurai pelukannya
“Saat itu aku takut sekali kalau aku tak bisa melihatmu lagi” tambah Bella dengan wajah yang ia buat - buat memelas pilu, Bella nyaris tertawa saat melihat pipi Adam yang semerah tomat sekarang, sebenarnya sangat menggemaskan melihat seorang pria tampan malu - malu seperti itu
”Kau jangan bicara seolah kau akan meninggalkanku Bella, itu menyakitkan!” Ucap Adam, astaga apa yang barusan Adam ucapkan? Adam sendiri tanpa sadar mengucapkan kata - kata itu, semuanya terlontar spontan, apa Adam jatuh cinta pada Bella? Batin Adam
“Baiklah… baiklah, bisakah kalian berhenti memadu kasih sebentar saja? Ada yang harus aku sampaikan!” Seloroh Erick yang tiba - tiba masuk ke ruangan, Bella tertunduk malu sementara Adam berdehem mengusir salah tingkahnya
“Bagaimana kondisi Bella, Erick? Apa ada yang berbahaya?” Tanya Adam
“Syukurlah tidak! Bella ditangani dengan cepat tadi, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja luka robek yang dalam butuh waktu agak lama untuk penyembuhan, beberapa hari ini Bella tidak bisa bergerak dulu, dia harus banyak beristirahat” jelas Erick, “untuk malam ini Bella dirawat dulu disini, besok dia sudah boleh pulang, di rumahmu nanti aku yang akan merawatnya langsung” tambah Erick
“Jadi Tuan Adam, aku akan meminta perawat untuk memindahkan Bella ke ruangan inap VVIP agar kau juga mendapat tempat tidur untuk menemaninya” tutur Erick
“Maksudmu aku dan Bella tidur terpisah begitu?” Cecar Adam
“Apa kau ingin tidur bersama dengan Bella? Astaga Adam, apa kau tidak lihat dia sedang cedera? Tidak bisakah kau tahan dulu hanya untuk sehari ini saja?” Ucap Erick
Adam mendengus kesal, “Kau belum menikah Erick, kau tak tahu ikatan antara suami istri itu seperti apa, sangat sulit untuk tidur terpisah!” Sanggah Adam tak tahu malu, ia tak peduli wajah Bella yang sudah tertunduk malu karena ucapannya
“Baiklah terserah kau saja, tapi kalau kau nekad tidur dengan Bella, akan ku pastikan kau diseret keluar oleh petugas keamanan! aku tak peduli kalau kau seorang Adam Anderson, karena di rumah sakit ini aku dokternya, aku yang berwenang!” Ancam Erick sambil melipat tangan di depan dadanya puas, kapan lagi ia bisa mengancam seorang Adam Anderson
Adam mengeraskan rahangnya, kalau saja tak ada Bella disana sudah pasti habis Erick di tangannya, tapi mau tak mau Adam menuruti Erick, ia tidur di bed penunggu pasien meskipun Adam meminta asistennya untuk merapatkan bednya dan bed Bella, Adam benar - benar tak bisa jauh dari Bella.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Yuliana Tunru
sdh hbs batas kesabaran mu bella klga keparat itu bls dgn indah ya..jgn lg ada uang tunjangan klo perlu usir dari rmh itu..toh rmh itu dibeli atas nama bella ayo adam tunjukkan pesona mu pd mertua keparat jg adik dan ipar mu..sebel bgt a thor bella baru sadar setelah hampir mati..
2023-01-27
1
Sri Ayudesrisya46
BAGUS BELLA kau harus pergunakan Adam utk balas dendam.je Briana. usir aja Mama Pamella dari rumah yang Adam berijan kepada kamu Bella arena itu hadiah pernikahan dari Adam buat Bella bukan untuk bu Pamella!!!
buat Briana sengsara ambil hati kedua orang tua nya Adam. hancurjan Adrian dan Briana hang sudah sangat menyakitimu Bella
2023-01-27
1
Arie
Bella👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪cinta aja ma Adam gpp Bella😁😁😁😁😁😁😁
2023-01-27
1