Hal pertama yang Bella rasakan saat membuka mata adalah badannya yang remuk redam, tak cukup sekali di mobil, Adam melanjutkan aktifitas panas mereka di rumah bahkan nyaris tak membiarkan Bella istirahat, alhasil Bella terlambat bangun dan melewatkan waktu sarapan bersama keluarga Adam, bahkan Adam pun sudah berangkat ke kantor
“Ya Tuhan… Adam Anderson!” Pekik Bella kesal saat melihat pantulan sekujur tubuhnya yang penuh dengan bercak kemerahan di depan cermin, “bagaimana aku bisa keluar rumah dalam kondisi seperti ini? Aku tak punya baju untuk menutupi noda - noda merah ini Adam Anderson!” Keluh Bella seolah Adam ada di depannya sambil mengusap - usap jejak merah di lehernya yang jumlahnya lebih dari lima itu, Adam memang kehilangan kendali tadi malam, ia melampiaskan yang ia tahan berhari - hari ini
“Apa aku tidak usah keluar saja seharian ini?” Gumam Bella, “tapi aku lapar” gumamnya lagi ketika perutnya berbunyi lantang, tubuh polos Bella yang hanya ditutupi bed cover super tebal itu susah payah bergerak menuju sofa, Bella duduk disana dengan lesu, perutnya sudah sulit ia ajak kompromi lagi
Bella meraih ponsel dari dalam tasnya yang tergeletak di lantai, Adam benar - benar tak membiarkannya bergerak bahkan hanya untuk menyimpan tasnya dengan benar, bukan hanya tasnya saja, bahkan baju - bajunya dan Adam berserakan di lantai
Baru saja Bella memegang ponselnya ketika ia melihat nama Adam di layar, tadi malam ia dan Adam saling bertukar nomor ponsel, sangat terlambat sih mengingat mereka sudah menikah berbulan - bulan
“Kau sudah bangun?” Tanya Adam lembut, pria itu memang di kantornya, tapi pikirannya tetap berada di kamar itu, kamar yang menjadi saksi bagaimana Bella melayaninya dengan sepenuh hati, tanpa ada air mata lagi atau paksaan
Bella mendengus kesal, “kalau aku masih tidur bagaimana aku bisa bicara denganmu sekarang?” Jawab Bella ketus
Di kantornya Adam tersenyum mendengar Bella yang ketus, ia seperti sudah terbiasa, malah sudah jadi hiburan untuknya, “Bagaimana dengan sarapanmu?” Tanya Adam lagi, untuk pertama kalinya ia perhatian pada seorang wanita, Adam merasa janggal, ia merasa seperti bukan dirinya, apa ini efek karena Adam merasa iba pada Bella? Atau karena dia membutuhkan Bella? Batin Adam
Bella menghela napas merasakan perutnya yang semakin keroncongan saat Adam mengingatkannya pada sarapan, “berkat kau aku tidak mungkin turun untuk sarapan, aku juga tidak mungkin meminta pelayan untuk mengirimkannya ke kamar, tidak ada satu orang pun yang boleh melihatku sekarang!” Sewot Bella
“Apa yang terjadi Bella?” Tanya Adam tak mengerti
“Kau sungguh tak tahu apa yang telah kau lakukan pada sekujur tubuhku Adam?” Sengit Bella, “kau meninggalkan banyak bekas kemerahan di tubuhku! Dan kau tahu bagian yang paling banyak itu di leher, bagaimana aku bisa keluar kamar? Aku tidak punya baju yang bisa menutupi leherku!” Cerocos Bella
Adam terkekeh, “apa kau mau aku meminta asistenku untuk berbelanja pakaian untukmu?” Tanya Adam
Bella mendengus kesal, “t - tidak usah, pakaianku sudah banyak” bohong Bella, Adam terdiam, ia tahu pasti kalau Bella berbohong, ia sudah melihat semua baju Bella yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh helai, Adam juga tertampar karena semakin terbukti kalau Bella bukan perempuan serakah yang memanfaatkan kesempatan
“Kalau begitu sementara ini kau bisa memakai bajuku Bella, banyak kemeja dengan kerah tinggi untuk menutupi lehermu” ucap Adam
“Memakai bajumu? Apa tidak apa - apa kalau seorang j*****g memakai baju milikmu?” Sindir Bella
“Aku sudah tidak berpikir seperti itu lagi Bella, bukankah sudah ku katakan?” Bella bisa mendengar helaan napas Adam di ponselnya, Bella yakin Adam sedang kesal padanya sekarang, Bella tersenyum, niatnya untuk menyiksa Adam muncul
“Kau yakin Adam? Kau bisa bayangkan kan tubuh polosku menempel langsung di bajumu, nanti ada aroma tubuhku juga yang tertinggal disana” goda Bella
Deg...
Entah apa yang Adam pikirkan sekarang, yang pasti ia sudah tak bisa duduk lagi di kursi kerjanya, membayangkan tubuh molek Bella memakai kemejanya membuat Adam tak karuan, “P - pakailah Bella, kau boleh memilih yang mana saja yang kamu suka” ucap Adam gugup, ia sampai menelan salivanya berkali - kali karena tubuhnya sudah mulai bereaksi, dari mulai dadanya bergemuruh, bahkan bagian inti tubuhnya sudah bangkit sempurna
“Baiklah, aku pakai satu kemejamu, tenang saja, akan segera ku cuci lagi dan aku kembalikan padamu” sahut Bella, wanita itu lalu mengakhiri panggilannya dengan Adam, perutnya sudah terlalu lama kosong, ia tak bisa menunda lagi untuk sarapan
Di kantornya Adam hanya bisa melonggarkan dasinya, “Kenapa kau menggodaku saat aku berada di kantor Bella? Apa kau tahu bagaimana tersiksanya aku sekarang?” Gumam Adam frustasi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan memakai kemeja warna putih milik Adam dan celana jeans, serta rambut yang dikuncir kuda Bella tampak menawan meskipun badannya nyaris tenggelam dalam kemeja Adam yang kebesaran
Miranda yang saat itu sedang berbincang dengan Brianna sampai kagum melihat menantunya itu, “Bella! Kau tampak cantik!” Pujinya, Brianna sampai cemberut, ia tak suka jika Bella lebih dipuji dibanding dirinya, “tunggu sebentar, bukankah itu kemeja milik Adam? Apa dia yang memintamu memakainya?” Cecar Miranda antusias
Bella mengusap tengkuknya, lalu membenar - benarkan kerah kemeja Adam, menyembunyikan tanda merah yang memenuhi lehernya, “Aku meminjamnya Mom” sahut Bella malu - malu
“Ahahaha.. tidak apa - apa sayang, sungguh kau terlihat cantik memakai kemejanya Adam!” Puji Miranda lagi, “sebentar, berdirilah disitu! Mommy akan mengambil fotomu dan mengirimkannya pada Adam” ucap Miranda sumringah, wanita yang masih cantik di usianya yang tidak lagi muda itu sigap mengambil ponselnya, lalu tanpa aba - aba mengambil foto Bella dengan berbagai angle, ia lalu mengirimkannya pada Adam
“Mommy ingin tahu bagaimana reaksi Adam setelah melihat fotomu! Ucap Miranda usil, “kau tahu Bella, baru kali ini Adam meminjamkan barang pribadinya pada orang lain” tambahnya
Bella hanya tersenyum, namun senyumnya memudar ketika melihat Kakaknya sedang menatapnya tak senang
Di kantornya, Adam yang sedang rapat benar - benar kehilangan fokus saat melihat foto Bella yang dikirimkan oleh Miranda, bayangan kegiatan panas mereka tadi malam berputar di kepalanya, Adam melonggarkan dasinya agar bisa berpikir jernih, sontak saja para peserta rapat kaget dengan apa yang baru saja Adam perbuat, Adam yang sangat disiplin, rapi dan perfeksionis melonggarkan dasinya? Apa yang sedang terjadi padanya? karena ia pun seperti kehilangan fokus dalam rapat penting, para peserta rapat mulai berbisik - bisik namun berhenti setelah Adam berdehem dan menatap mereka dengan tajam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bella menghempaskan punggungnya ke sofa kamar Adam, lelah melandanya, belum hilang pegal - pegal karena perbuatan Adam, Ibunya Adam menambah remuk redam badannya dengan mengajaknya berbelanja pakaian seharian, entah berapa banyak uang yang dihabiskan Miranda untuknya tadi, karena semua toko dengan merek kelas dunia Miranda masuki dan membeli sedikitnya sepuluh helai baju di satu toko, alhasil kamar Adam dipenuhi dengan tas - tas belanjaan milik Bella
Bella membuka satu persatu tas belanjaannya, senyumnya terbit saat melihat baju bermerek Gucci itu, Bella tak pernah membayangkan bahwa ia akan bisa memakai merek itu lagi setelah kebangkrutan Ayahnya, Bella sempat menolak saat Miranda mengajaknya untuk berbelanja tadi, ia khawatir kalau itu semua dari Adam, tapi setelah Miranda mengatakan kalau ia ingin memberikannya sebagai hadiah untuk Bella, Bella setuju.
“Loh bukannya ini milik Mommy?” Gumam Bella saat melihat satu tas belanja berlogo Hermes yang berisi tas tangan dengan nilai fantastis itu, “sepertinya pelayan mengira ini milikku” ucap Bella, ia lalu bangkit dari duduknya berniat untuk memberikan tas itu pada Miranda
Bella melangkah ringan menuju ruang tengah saat ia mendengar keributan di ruang tamu, Bella refleks melangkah tergesa untuk mengetahui apa yang sedang terjadi
”Kenapa Daddy memberikan proyek besar itu pada Adam?” Sengit Adrian dengan wajah memerah marah, Adrian bahkan berdiri dari kursinya dengan mata nyalang, sedang William duduk dengan tenang, tak terpancing oleh kemarahan Adrian
“Kau pasti sudah tahu alasannya Adrian, Adam yang paling pantas memimpin proyek itu” sahut William, Miranda disaming William hanya bisa terdiam sedang Brianna melipat tangan di depan dadanya, mendukung Adrian untuk menuntut penjelasan dan keadilan
“Lagi - lagi Adam! semua proyek penting bernilai besar selalu Daddy berikan buat Adam! Apa Daddy lupa di perusahaan itu ada aku, anak Daddy juga!” Protes Adrian lagi
William menatap anak bungsunya itu, seperti tadi William tetap tenang, ini bukan pertama kalinya ia mendapat protes dari Adrian, “Karena Adam mampu mengatasi semuanya, dan sudah terbukti kan semua proyek berhasil di tangannya?” Sanggah William
Adrian tersenyum sinis, “Begitu menurut Daddy? Daddy pikir anak kebanggaan Daddy itu sangat sempurna dan tak mungkin melakukan kesalahan?” Cecar Adrian, “Daddy tahu apa yang terjadi hari ini di rapat penting direksi perusahaan? Adam kehilangan fokusnya! ia bahkan lebih sering menatap layar ponselnya dibanding materi rapat!” Sinis Adrian, Miranda merenung sebentar lalu terhenyak, ia kini merutuki perbuatannya mengirimkan foto Bella pada Adam tadi, Miranda yakin foto itulah yang membuat Adam kehilangan konsentrasinya
William mengerutkan keningnya, “kau masih memata - matai Kakakmu sendiri Adrian? Siapa direksi yang kali ini kau jadikan alat?” Kali ini William sudah mulai berang
“Apa aku salah? Aku tentu harus mengantisipasi hal - hal seperti ini bukan? Saat seorang Adam bisa membahayakan kondisi perusahaan!” Tandas Adrian
“Kau berlebihan Adrian! Adam itu manusia biasa, apa kau pikir Kakakmu itu malaikat yang tak mungkin berbuat salah? Wajar saja kalau sesekali ia tak konsentrasi, mungkin ada hal lain yang sedang ia pikirkan!” kali ini Miranda yang membela Adam
Tawa Adrian membahana diiringi tepuk tangannya, “wah wah, bukannya sudah terlihat jelas siapa anak emas di rumah ini? Bahkan Mommy juga ikut membela Adam?! Apa salah kalau sekarang aku berpikir mungkin aku bukan anak kalian?” Cecar Adrian
“Jaga bicaramu Adrian!” Sentak William, William tahu Miranda sakit hati mendengar ucapan Adrian
Adrian menatap tajam Ayahnya, “Kenapa Dad? Apa itu benar? Itu makanya Adam selalu diprioritaskan?” Cecarnya, William tak menyahut namun dadanya turun naik menahan amarah yang teramat, apalagi saat melihat Miranda yang tertunduk sendu
Adrian memandang sinis kedua orang tuanya, ia lalu menjulurkan tangannya pada Brianna, “ayo kita pergi sayang, percuma bicara pada orang tua yang tak adil seperti mereka” ucap Adrian, pasangan yang sedang dilanda emosi itu kemudian beranjak meninggalkan William dan Miranda yang sama - sama menghela napas. Sedang Bella di ambang pintu ruang tamu larut dalam pemikirannya sendiri
”Apa Adrian bernasib sepertiku? Diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya sendiri?” Batin Bella
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Arie
misteri nih 🙄🙄🙄🙄🙄🙄🙄🙄👍👍👍👍👍👍👍👍
2023-01-27
1
Ayu galih wulandari
Lanjuuut kak..🤗🤗😍😍😍😍😍
2023-01-26
1
ayumi
gx hamil2 ya si bela thor.... Adrian tu bkan ank kandung ya thor.... dan jngan smpai bella ksian ya sma Adrian krn br nasib sama..
2023-01-26
1