Adam masih saja melajukan pelan mobilnya jauh di belakang Bella, Adam ingin sekali membawanya pulang, tapi ia tahu kemunculannya saat ini di depan Bella hanya akan membuat luka Bella semakin menganga, Adam hanya bisa menjaga Bella dari jauh, perasaan benci Adam pada Bella kini berubah menjadi iba
Bella menyusuri trotoar jalanan yang sepi itu, ia sudah jauh dari rumah yang ditempati Ibunya, tapi hatinya masih terpaut disana, ia masih ingin meyakinkan Ibunya kalau ia layak dicintai seperti Brianna
Entah sudah berapa lama dan sejauh apa ia berjalan, yang pasti Bella mulai merasakan lelah, jalannya mulai terseok, telapak tangannya sudah memucat dan keriput, hujan yang tak kunjung reda membuat Bella merasa tak bisa lagi melanjutkan perjalanan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Justin mengendarai mobilnya dengan tak tenang, sesekali ia menoleh pada ponselnya berharap Bella akan menghubunginya, sudah sejak siang tadi ia menghubungi Bella namun Bella tak menjawabnya, ia pun tak menemukan Bella di perpustakaan, Nyonya Mer bilang kalau Bella meminta izin untuk tak bekerja hari ini,
“Kau kemana Bella? Apa yang terjadi denganmu?” Gumam Justin, laju mobil Justin melambat seiring dengan hujan yang semakin deras, namun Justin tiba - tiba menghentikan mobilnya, bunyi decitan ban bersamaan dengan petir yang mulai menyambar, sore itu semakin kelam
“Ya Tuhan, itu Bella kan?” Guman Justin panik melihat seorang wanita yang sedang berjalan terseok menerjang hujan yang sangat deras
“Iya benar itu Bella!” Gumam Justin lagi yakin setelah ia melihat jam tangan kecil yang melingkar di tangan sebelah kanan Bella, Justin melajukan lagi mobilnya lalu berhenti tepat di samping Bella, Justin tak ragu menerobos hujan turun dari mobil untuk menyusul Bella yang terus saja berjalan pelan
Adam yang masih setia mengekori Bella jauh di belakang sana memastikan pandangannya ketika melihat seorang pria turun dari mobil dan tergesa menghampiri Bella
“Justin” dengus Adam, ketika melihat Justin membawa Bella masuk ke dalam mobilnya, di satu sisi Adam lega karena ada yang membantu Bella, tapi di sisi lain rasa penasaran kini menelusup, ada hubungan apa antara Justin dan Bella?
”Apa yang kau lakukan di tengah hujan seperti itu Bella? Bagaimana kalau kau terkena hipotermia?!” Cecar Justin panik saat mereka berdua sudah berada dalam mobil, Justin lalu meraih jaket yang tersampir di sandaran jok mobilnya dan menyelimutkannya di punggung Bella yang gemetaran
Justin lalu mengemudikan perlahan mobilnya, diekori oleh mobil Adam yang penasaran ingin tahu mereka akan kemana
“Apa yang terjadi Bella?” Tanya Justin lagi pada Bella, namun Bella tak menjawab, pandangannya nanar menatap keluar mobil
“Baiklah, aku akan membawamu ke rumahku, kau harus mengeringkan badanmu dan berganti baju” tutur Justin
“Jangan ke rumahmu Kak Justin, aku tak ingin membuat Nyonya Emily dan Jessy khawatir” sahut Bella
Justin menatap wajah pucat itu, bibirnya bergetar, bulir air hujan masih mengaliri helaian rambutnya, ada duka mendalam di mata Bella yang merah, entah apa yang kali ini Bella tangisi, batin Justin
“Baiklah, kalau begitu aku akan membawamu ke rumah sakitku Bella, kau bisa beristirahat di ruanganku” ucap Justin lagi
Bella menggeleng, “Tidak usah Kak” jawabnya, Justin kehabisan akal kemana ia akan membawa Bella, Bella pasti tak mau pulang ke rumah Anderson, lalu ia harus kemana? Justin sempat berpikir untuk membawanya ke hotel karena Bella butuh istirahat, tapi Justin khawatir Bella akan salah paham padanya
“Antarkan aku ke kampus Kak, cuma disana tempat untukku sekarang” lirih Bella, Justin mengangguk lalu melajukan laju mobilnya menuju kampus
Di belakang mobil Justin mobil Adam masih setia mengikuti, “tunggu, ini jalan ke kampus Bella kan? Apa mereka akan kesana?” Gumam Adam
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nyonya Mer terkejut bukan main saat melihat Bella yang basah kuyup dengan mata yang sembab datang bersama Justin ke loker karyawan perpustakaan
“Bella, apa yang terjadi? Kenapa kau basah kuyup seperti ini?” Tanya Nyonya Mer panik
“Nyonya, bisakah aku meminjam handuk kering untuk Bella? Dia sudah terlalu lama basah kuyup, aku khawatir dia terkena hipotermia” pinta Justin, Nyonya Mer tak bertanya lagi, ia sigap membuka lemari loker dan mengambil dua handuk bersih lalu ia serahkan pada Justin
“Aku akan membuatkan teh panas untuk Bella” ucap Nyonya Mer lalu tergesa beranjak dari sana
Justin telaten mengerikan rambut Bella dengan handuk, “apa kau punya baju ganti di lokermu?”
Bella mengangguk
“Gantilah bajumu dulu, aku akan mencarikan makanan untukmu” tutur Justin, pria itu membelai rambut Bella dan memberikan senyumnya yang hangat sebelum ia beranjak pergi
Di depan kampus Bella, Adam masih memarkir mobilnya, Adam lega karena Justin membawa Bella ke kampus bukan ke tempat lain, Adam lalu melaju menuju rumahnya, ada hal yang harus ia cari tahu lagi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adam menghempas kertas berisi perjanjian pranikah dari tangannya, baru saja ia mendapat kabar dari anak buahnya kalau tanda tangan di surat perjanjian pranikah itu palsu, Adam tadi meminta anak buahnya untuk membandingkan tanda tangan Bella yang berada di dokumen pernikahan dengan yang berada di surat perjanjian pranikah
“Sial!!” Pekik Adam membahana di dalam kamarnya, ia tak menyangka kalau selama ini Pamela telah menipunya, parahnya karena surat perjanjian pranikah itu ia sudah salah paham pada Bella dan memperlakukan Bella dengan buruk
Adam tergesa memungut lagi kertas - kertas yang berserakan di lantai ketika ia mendengar suara pintu kamar yang dibuka, ia yakin itu adalah Bella
Bella masuk ke dalam kamar Adam dengan lesu, badannya memang berada disitu tapi pikirannya tetap berada di depan gerbang rumah Ibunya tadi, saat Ibunya menegaskan kalau ia membenci Bella
“Kau sudah pulang?” Tanya Adam salah tingkah
“Iya” sahut Bella singkat, “kau menginginkanku kan? Tunggu sebentar aku mandi dulu” ujar Bella lagi datar tanpa ekspresi
Adam menggelengkan kepalanya, sungguh ia tak berniat untuk meminta haknya malam ini, “Tidak perlu Bel, aku… “
“Aku harus mandi Adam, badanku kotor, kau pasti tidak ingin aku mengotori tempat tidurmu kan?” Tutur Bella, wanita itu lalu beranjak masuk ke kamar mandi
“Aku tak menginginkan itu malam ini Bella” gumam Adam pelan, ia menjadi semakin serba salah, kalau Adam boleh jujur malam ini ia ingin menjadi pendengar untuk keluh kesah dan cerita sedih Bella
Bella agak lama di kamar mandi, sedang Adam menunggunya dengan gelisah, apalagi ketika Bella keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apa pun di tubuhnya, Bella berjalan seperti robot dengan ekpresi wajah kosong menuju tempat tidur, lalu berbaring, menekuk kakinya dan menutupi wajahnya dengan bantal, Bella pasrah pada nasibnya, menyerahkan hidupnya untuk dipermainkan oleh siapa pun
“Pakai bajumu Bella, lalu istirahatlah” tututur Adam lembut, di balik bantal Bella mengerutkan keningnya, pertama kali semenjak pernikahannya dengan Adam, Adam berbicara lambut padanya, dan apa yang baru saja ia dengar? Adam tak meminta haknya dan malah menuruhnya untuk tidur? Apa yang pria kejam itu rencanakan? Batin Bella
“Bella, tidurlah” titah Adam lagi, Bella tak lagi membuang kesempatan untuk bangkit dari tempat tidur itu, beranjak ke kamar mandi untuk memakai bajunya, lalu membawa selimut dan bantalnya dari lemari dan menggelarnya di bawah sofa seperti biasa, tanpa berkata apa pun Bella berbaring memunggungi Adam yang sedari tadi menatapnya, Adam ingin sekali meminta Bella untuk tidur di tempat tidurnya, tapi Adam yakin Bella akan menolak
Sudah hampir setengah jam Adam menatapi punggung ringkih Bella, Adam lalu keluar kamarnya untuk meminta pelayan membawakan beberapa bantal dan selimut tambahan, pria yang hatinya sedang merasa sangat iba pada Bella itu menata bantal - bantal di sekeliling Bella dan menyelimutinya memastikan agar Bella tak kedinginan, lalu ia mendudukkan dirinya di sofa
“Kau bermimpi tentang apa Bella? Kenapa kau masih saja menangis padahal kau sedang tertidur?” Gumam Adam saat melihat lelehan bening yang mengalir dari ujung mata Bella, Adam tak juga dapat memejamkan matanya hingga dini hari, ia terpaku mengawasi Bella, memperhatikan tidur Bella yang tak tenang
Perlahan Adam membaringkan dirinya di sofa, sementara matanya tetap fokus pada Bella di bawahnya
“Kalau hidupmu semenyakitkan itu, aku ingin menjagamu Bella” ucap Adam
...****************...
Sudah hampir jam 7 pagi ketika Adam membuka matanya, bahkan matahari pagi sudah mulai masuk melalui celah - celah kaca balkon, Adam bangkit dari tidurnya lalu meregangkan otot - ototnya yang kaku karena ia tidur di sofa, jika tidur di sofa saja membuatnya pegal apalagi Bella yang tidur di lantai hanya beralaskan selimut saja?
“Bella” gumam Adam sambil mengedarkan pandangan mencari - cari sosok istrinya, Bella tak ada lagi di tempat ia biasa tidur, bahkan selimut dan bantal - bantal yang Adam berikan untuknya tadi malam sudah tersusun rapi
Mendapati Bella yang tak ada di kamar, Adam keluar dari kamarnya dan turun menuju ruang makan dengan tergesa. Tampak dari kejauhan semua anggota keluarga telah berkumpul, termasuk Bella, membuat Adam menghela lega napasnya, meskipun hanya dengan baju tidur tapi ketampanan Adam tak turun, rambut hitam kecoklatannya yang acak - acakan khas bangun tidur, alis yang tebal, hidung tinggi, bola mata berwarna coklat hazel dengan sorot yang tajam, rahang yang tegas, kulit yang putih bersih dan tubuh yang tegap tinggi membuat Adam mempesona
“Adam! Kau baru bangun?” Sapa Miranda terheran saat melihat Adam yang masih memakai baju tidurnya, tak pernah - pernahnya Adam sampai terlambat bangun, Adam punya kedisiplinan yang sangat tinggi, ia sangat menghargai waktu, baginya waktu adalah pundi - pundi uang
“Itu bagus sayang, sesekali terlambat itu artinya dia masih manusia, aku ingat betul terakhir kali Adam terlambat itu saat dia masih berada di sekolah dasar dulu, dan itu membuatnya menangis seharian, padahal dia hanya terlambat 3 menit” sahut William diakhiri dengan tawa renyahnya
Adrian mendengus kesal mendengar pujian William untuk Kakaknya, sejak dulu William memang tak segan meninggikan Adam di depannya
“Kau bangun terlambat, dan Bella terlihat kelelahan, apa kalian sangat bekerja keras untuk mendapatkan anak?” Goda Miranda
Deg..
Bella merasakan hantaman yang begitu keras di dadanya, ia kembali teringat pada masalah lain yang juga merundung hidupnya sekarang, ada perlombaan untuk memiliki anak di rumah itu, dan dia adalah alat yang dipakai oleh Adam untuk mendapatkan kemenangan
“Kami juga sedang berupaya keras, Mom” ucap Adrian, mencoba untuk mencuri perhatian yang sedang didapat oleh Bella dan Adam
“Tentu saja kalian harus sama - sama bekerja keras! Kehadiran cucu dari salah satu diantara kalian akan menambah nilai plus untuk kalian karena aku berencana untuk memberikan saham untuk cucu - cucuku nanti, jadi siapa pun yang memberikan lebih banyak cucu untukku maka sahamnya di perusahaan akan bertambah, dan kita akan lihat sendiri nanti siapa yang memiliki saham paling tinggi!” Ujar William, diakhiri dengan tawanya yang menggelegar
Adrenalin Adrian terpacu, ia yakin dan akan ia pastikan kalau dia lah yang akan memberikan cucu pertama untuk William, lihatlah Adam dan Bella, bahkan melihat dari cara mereka saling menatap saja Adrian bisa merasakan kebencian Bella pada Adam begitu juga sebaliknya, jadi sangat mustahil jika Bella bersedia hamil anak dari Adam, karena Adrian tahu Bella masih mencintai dirinya, sedang ia dan Brianna menikah karena saling mencintai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Kau mau ke kampus Bella?” Tanya Adam pada Bella ketika acara sarapan telah usai dan semua anggota keluarga bersiap untuk melaksanakan aktifitasnya masing - masing
“Iya” sahut Bella singkat
“Kau mau ku antar?” Tawar Adam
Bella menghela napasnya, “Tidak perlu, aku tidak akan kuat melayanimu lebih lama di atas ranjang untuk membayar jasamu mengantarku ke kampus” tandas Bella ketus
Adam terhenyak mendapat jawaban Bella, “Tapi aku hanya berniat untuk mengantarmu Bella, kau tidak perlu membayar apa - apa”
Bella semakin tak mengerti sikap Adam, sangat mustahil Adam akan berbuat sebaik ini padanya, Bella yakin Adam memiliki tujuan lain, apalagi kalau bukan keinginannya untuk segera memiliki anak
“Kau tak perlu repot - repot Adam, dan kau jangan khawatir, aku akan tetap melayanimu di atas ranjang karena hanya untuk itulah kau menikahiku, malam ini kau bebas melakukannya semaumu karena kau telah meminjamkan bantal dan selimutmu, anggap itu sebagai transaksi kita di atas ranjang” tutur Bella datar sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Adam yang terpaku dan tak mampu berkata apa pun
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adam lagi - lagi pulang tepat waktu dari kantornya, tujuannya apalagi kalau bukan untuk ke kampus Bella, entah apa tujuan Adam sekarang tapi ia begitu terusik dengan bayangan Bella, kejadian kemarin menghantuinya terus tanpa henti, termasuk tentang rasa penasarannya mengenai hubungan Bella dengan Justin
Adam tentu tak akan terima jika calon Ibu dari anaknya menjalin hubungan dengan pria lain, tapi untuk kali ini Adam ingin menyelidikinya terlebih dahulu, ia tak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin.
Mobil Adam terparkir tepat di depan taman belakang, dimana Adam kini melihat Bella dan Justin yang baru saja mendudukkan diri disana, Bella tampak sedang bercerita dengan nyaman pada Justin, sementara Justin mendengarkan Bella dengan tatapan penuh kagum
“Apa kau jatuh cinta padanya Bella?” Gumam Adam
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Arie
Justin Nang naksir Bella🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
2023-01-21
1
ayumi
bkin hamidun scpatnya thor... biar bella jga pergi dei khdupan smuanya... spya bhgia brsma anaknya nanti sendiri...
2023-01-21
1
Lia Suryani
lanjutan
2023-01-21
1