Pov: Justin
Aku sudah banyak melihat derita yang dialami seorang wanita termasuk oleh Ibuku sendiri yang harus duduk di kursi roda selama bertahun - tahun akibat kecelakaan, tapi aku tak pernah melihat wanita yang bernasib setragis Bella.
Hari ini aku melihat wanita ringkih itu duduk meringkuk di atas kursi kayu, ia terlelap dengan mata yang bengkak dan wajah yang memerah karena demam, mungkin ia terlalu lelah karena bunyi perutnya pun tak membangunkannya
Aku ingat saat pertama kali aku melihatnya di perpustakaan, wajahnya yang cantik, senyumnya yang ramah, sikapnya yang tenang saat ada orang yang memandangnya rendah atau bahkan saat ada yang memarahinya membuatku teringat akan sosok Ibu yang selalu ku kagumi
Tapi sore ini aku melihat sosoknya yang berbeda, dia tak lagi tersenyum, tak lagi ramah, dia seperti burung yang kehilangan kedua sayapnya, putus asa dan tak berdaya. Hatiku teriris perih saat mendengar tangisnya, sedu sedannya, teriakannya pada sosok - sosok yang telah merenggut kebahagiannya, Adam Anderson dan Ibunya sendiri. Aku sempat tak percaya pada apa yang ku dengar dari bibirnya yang pucat bahwa ia ditukar dengan sejumlah uang dan kemewahan oleh Ibunya sendiri dalam bungkus pernikahan, di dunia ini apakah memang ada Ibu sekejam itu?
Sore itu aku, Justin Takanawa, berjanji pada Bella dan pada diriku sendiri bahwa aku tak akan membuatnya merasa sendiri.
...****************...
Bella menelungkupkan kepalanya di atas meja kerjanya, pusing melandanya tiba - tiba saat sebuah kertas berisi rincian biaya kuliah yang harus ia lunasi diterimanya dari bagian administrasi barusan, jumlah yang fantastis membuat kepala Bella berdenyut, kemana ia harus mencari uang sebanyak itu dalam waktu seminggu
“Gajiku tidak akan cukup, perlu gaji setahun untuk bisa melunasi uang kuliahku! Aku juga tidak mungkin meminjam uang pada Nyonya Mer karena aku belum lama bekerja disini, aku juga tidak mungkin minta pada Kak Brianna, pada Ibu juga mustahil, apalagi pada Adam, lebih baik aku mati dibanding aku harus minta padanya, lagipula Adam pasti berpikir aku menerima uang pemberiannya pada Ibu, ya Tuhan aku harus bagaimana?” Gumam Bella pada dirinya sendiri sambil membentur - benturkan pelan kepalanya ke atas permukaan meja
“Kepalamu bisa pecah kalau kau membentur - benturkannya seperti itu terus, Bella!” Ujar Justin yang baru saja tiba dan kini berdiri di depan meja kerja Bella, Bella mendongak, sorot mata Bella lagi - lagi menyiratkan kalau ia sedang dalam masalah, bibirnya mengerucut
“Kak Justin mau pinjam buku apa?” Tanya Bella enggan, moodnya rusak sudah karena tagihan kuliahnya
“Aku cuma ingin menemuimu, bagaimana kondisimu hari ini?” Tanya Justin
Bella bangkit dari kursi kerjanya, “aku mual Kak, aku ke kamar mandi dulu” sahut Bella lemas, setengah payah ia menyeret langkahnya menuju kamar mandi, Bella tak ubahnya seperti mayat hidup
Justin mengerutkan keningnya, “Apa terjadi sesuatu lagi padanya?” Gumam Justin sambil menatapi Bella yang masih berjalan lunglai lalu hilang di ujung koridor, mata sipit pria tampan itu lalu memindai meja kerja Bella yang selalu rapi, tatapannya kini tertuju pada sehelai kertas di luar amplop coklat, rasa penasaran Justin membuatnya nekad meraih selembar kertas itu
Justin menyunggingkan senyumnya, “Oh ini masalahnya?” Gumamnya, “Baiklah Bella, akan ku atasi masalahmu, sudah aku bilang kau tak sendiri” gumam Justin lagi sambil beranjak keluar dari perpustakaan
Sudah jam 5 sore ketika waktu istirahat Bella tiba, Bella melangkahkan kakinya enggan menyusuri koridor menuju taman belakang kampus, tempat kesukaannya untuk beristirahat karena nyaris tak ada orang disana saat sore hari seperti ini.
Bella mengeluarkan sepotong roti dan sebotol air minum dari tasnya, tangannya gemetaran karena lapar yang teramat, ia memang belum memasukkan apa pun ke dalam perutnya semenjak pagi hari tadi, Bella sengaja berangkat lebih awal dan melewatkan waktu sarapan bersama keluarga Anderson, semeja dengan Adam, Adrian, dan Brianna membuatnya muak luar biasa
Tergesa bela memasukkan roti ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan lahap
“Kau hanya makan roti?” Tanya Justin yang tiba - tiba duduk di samping Bella
“Astaga Kak, kau mengagetkanku!” Sewot Bella, “dari kapan kau ada disini Kak?”
“Cukup untuk melihat tanganmu gemetaran, kapan kau terakhir makan?” Cecar Justin
“Kemarin sore, saat kau memberikanku banyak makanan” sahut Bella
“Semenjak itu kau belum makan lagi, astaga Bella!” Dengus Justin
Pria itu lalu menyodorkan 2 tas kertas penuh berisi makanan, “Makanlah, aku yakin kau tadi mual karena asam lambungmu naik, kau harus makan yang banyak Bella karena kau dalam masa pemulihan” tutur Justin
Bella melongo melihat tumpukan makannan di depannya, “Apa makan sebanyak ini justru akan membuatku sehat?”
Justin tergelak, “Kau tidak harus memakan semuanya sekarang Bella, kau bisa memakannya lagi nanti kalau kau merasa lapar”
“Baiklah, terima kasih! Kau baik sekali Kak” ujar Bella, tapi kebaikan Justin ternyata tidak sampai disitu, pria itu lalu menyodorkan secarik kertas padanya
“Apa ini Kak?” Tanya Bella, Bella sontak menghentikan makannya, “Kak, kau melunasi semua biaya kuliahku?” Tanya Bella tak percaya ketika ia menerima bukti pembayaran uang kuliahnya
Justin mengangguk, “sekarang kau tidak perlu lagi membentur - benturkan kepalamu ke meja, semua sudah selesai!” Tutur Justin lega
“Kenapa kau melakukan ini Kak? Aku tidak memintamu untuk melakukannya! Aku bukan pengemis!” Sengit Bella dengan mata yang tajam menatap Justin
Justin tetap tersenyum hangat, ia mengerti perasaan Bella, “Aku memang tidak memberikannya secara cuma - cuma, sudah aku bilang kan suatu hari aku akan meminta bantuanmu?” Kilah Justin
Amarah Bella mereda, ah ia jadi bingung, seharusnya ia tak marah pada Justin yang sudah membantunya, tapi Bella khawatir ada niat tersembunyi Justin dibalik semua kebaikannya, “lantas kau butuh bantuan apa Kak? Beritahu aku agar aku tak berhutang budi padamu, dan bisakah kau bersabar Kak? Aku akan mencicil hutangku padamu, tapi kalau dari gajiku sekarang, mungkin butuh waktu sampai satu tahun agar hutangku lunas”
“Ahahaha.. tenanglah, aku bisa bersabar, tapi kalau kau mau hutangmu segera lunas, besok kuliah dan kerjamu libur kan? datanglah ke kampus, aku akan memberi tahukan caranya” terang Justin
Bella sigap refleks menutup dadanya dengan tas, “Kak, aku bukan wanita murahan! Apa kau berniat menjualku?” Sentak Bella
Justin tertawa terpingkal, sumpah demi apa pun wanita di depannya ini benar - benar menggemaskan, “astaga Bella! Apa kau berpikir seburuk itu padaku? Tenanglah Bella, aku hanya ingin kau bekerja padaku, anggap saja uang yang aku pakai untuk melunasi biaya kuliahmu itu sebagai gaji bulananmu, bagaimana?”
“Bekerja padamu? Kau tau aku bukan dokter atau perawat Kak, bagaimana aku bisa bekerja padamu?” Tanya Bella
“Aku memang sedang tidak membutuhkan perawat atau dokter, tapi ada seseorang yang membutuhkanmu di rumahku, sudahlah datang saja besok, kau pasti tidak akan menyesal” ucap Justin
“Hemmm, baiklah” sahut Bella meskipun dengan hati yang masih was - was
...****************...
Esok harinya, Bella berangkat ke kampus seperti biasa, tak sulit untuk meminta izin pada Ibu mertuanya, Bella hanya berdalih ada tugas yang harus di kerjakan bersama teman - temannya, sedang pada Adam, ia tak perlu meminta izin, Adam memang sama sekali tak peduli pada urusan Bella kecuali menyangkut masalah ranjang
Saat sampai di kampus, Bella bisa melihat Justin yang menunggunya di depan kampus dengan bersandar pada mobil sport berwarna abu - abu keluaran terbaru, pria itu tampan dengan celana jeans dan sweater berwarna hitam yang kontras dengan kulit putih bersihnya, “Maaf aku telat Kak, kau sudah lama?” Tanya Bella dengan napas yang terengah
Senyum Justin lebar saat melihat Bella, “minum dulu” Justin menyodorkan satu cup teh yang masih mengepul, “aku tahu kau pasti belum sarapan, di dalam mobil ada roti lapis, nanti kamu bisa sarapan selagi di jalan” tutur Justin
Bella menyesap pelan tehnya, bibirnya yang tadi pucat karena cuaca yang dingin perlahan memerah kembali, “ah hangatnya, terima kasih Kak Justin, beruntung sekali yang menjadi pacarmu nanti, kau sangat perhatian!”
“Semoga suatu hari dia akan merasa begitu” sahut Justin dengan senyum penuh arti, “ayo kita berangkat, pekerjaanmu sudah menunggu, kau tak boleh terlambat!”
Bella mengangguk antusias
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kediaman Takanawa tak kalah mewah dari kediaman Anderson, hanya saja pelayan yang berada di rumah itu tak sebanyak pelayan di rumah Anderson, keluarga Takanawa memang tak terlalu menggantungkan dirinya pada pelayan, jika sempat mereka akan menyiapkan kebutuhan mereka sendiri
“Masuklah, akan ku perkenalkan kau dengan seseorang” ujar Justin sambil membukakan pintu sebuah ruangan untuk Bella, saat pintu itu terbuka tampak seorang wanita yang cantik dengan senyum anggun yang duduk di kursi roda
“Inikah gadis yang kau ceritakan kemarin, Justin” tanya Ibunya Justin, Emily Takanawa
“Benar Ma, ini Bella, gadis yang aku ceritakan kemarin” sahut Justin, Bella membungkukkan badannya dengan sopan, “selamat pagi Nyonya Takanawa, senang bertemu dengan anda”
“Kau cantik dan sopan sekali, senang bertemu denganmu juga Bella” sahut Emily dengan senyum ramahnya, “kau antarkan lah Bella ke kamar Jessy agar mereka bisa berkenalan, setelah itu ajak Bella sarapan bersama” Titah Emily pada Justin, Justin patuh lalu memimpin Bella berjalan menuju kamar Jessy
“Ibumu cantik dan anggun sekali” gumam Bella sambil menaiki anak tangga mengikuti Justin di depannya
“Sama sepertimu, tidak kah kau sadar kalau kalian itu mirip? Cara bicara, cara tersenyum, apa kau tahu Ibuku juga sangat menyukai buku sepertimu, koleksi bukunya nyaris sama banyak dengan yang ada di perpustakaan kampus” cerocos Justin
“Lantas kenapa kau tiap hari ke perpustakaan kalau kau sudah punya banyak buku di rumahmu?” Tanya Bella
Justin menghentikan langkahnya, “Tentu saja karena aku ingin bertemu denganmu” tandas Justin
Deg..
Bella terpaku di tempatnya, “begitukah?” Tanya Bella
“Ahahaha.. aku hanya bercanda, kau tak perlu seserius itu Bella! Aku senang membaca di perpustakaan karena aku menikmati keheningan meskipun banyak orang disana, lagi pula dengan membaca di perpustakaan aku tak perlu lagi repot - repot membereskan bukunya bukan? Ada kau yang akan merapikannya!” Goda Justin
Bella memajukan bibirnya, “ternyata selama ini kaulah yang tak pernah mengembalikan buku ke tempatnya lagi, awas saja kau Kak, akan ku adukan kau pada Nyonya Mer!” Ancam Bella
“Ahahaha.. baiklah baik, maaf!” Ujar Justin, pria itu lalu berhenti di depan sebuah pintu lalu mengetuknya perlahan
“Jessy, apa kau sudah bangun?” Justin kembali mengetuk pintu Jessy
“Siapa Jessy Kak?” Bisik Bella
“Dia adikku, murid yang akan kau berikan les” sahut Justin
“Les? Jadi aku akan memberikan adikmu les? Itu kah pekerjaan yang kau maksud Kak?” Tanya Bella, ia lega karena pekerjaan yang ditawarkan oleh Justin tak seperti dugaannya, tadinya ia mengira kalau ia akan diminta menjadi asisten atau sekretarisnya Justin yang pasti akan sangat menyita waktunya
“Jessy akan masuk kuliah tahun depan, dan dia masih harus banyak dibimbing, dia agak…” Justin memutar jari telunjuk jdi depan kepalanya
“Agak apa?” Sentak gadis muda yang membuka pintunya dengan tergesa, “kau akan bilang pada guru lesku kalau aku agak bodoh begitu?” Sengit Jessy pada Kakaknya
“Bukan bodoh, kau hanya tak sepintar aku!” Goda Justin
“Terserahlah!” Sewot Jessy, “masuk lah Kak Bella, aku sudah menunggumu dari tadi” ujar Jessy pada Bella sambil menggandeng tangan Bella untuk masuk ke kamarnya
Blam..
Jessy lalu menutup pintu kamarnya tepat sebelum Justin hendak masuk
“Baiklah, baik, aku pergi!” Pekik Justin dari luar kamar Jessy, “Syukurlah, Jessy juga sepertinya menyukai Bella” gumamnya lega
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, di sebuah restoran mewah, Adam dan Erick tengah bersantap siang bersama
“Kau tahu Adam, kemarin aku menjadi pembicara di kampus Columbus, itu tempatnya Bella berkuliah bukan?” Tanya Erick
“Mungkin” sahut Adam acuh, ia bukannya tak tahu tapi ia malas sekali membicarakan tentang Bella
“Kau ini! apa kau benar - benar tak peduli soal Bella?! Kau harus berhati - hati Adam kalau kau tak menjaganya dengan baik, mungkin ada yang akan mengambilnya darimu!” Ancam Erick dengan wajah puas
“Setelah dia melahirkan anak buatku, aku tak peduli jika ada laki - laki lain yang akan mengambilnya dariku!” Sahut Adam ringan sambil menyesap minumannya
Erick menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Adam, “Terserahlah! Yang pasti aku melihat laki - laki yang mungkin akan mengambil Bella darimu, kau tahu siapa yang aku lihat bersama Bella kemarin? Anak sulungnya dokter Takanawa, kau pasti tahu betul siapa Tuan Takanawa bukan?”
Adam terdiam sebentar, ia lalu tersenyum sinis, “aku tak peduli” ujarnya
Erick menghela napas mendengar jawaban Adam, setelah itu ia tak lagi ingin berbicara apa pun, kini ia sibuk mengunyah makanannya dengan perasaan kesal
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Adam pulang lebih sore dari kantornya, ia lalu mengendarai mobilnya menuju kampus Bella, omongan Erick kemarin sedikit mengusiknya, Adam sudah menepis keinginannya untuk mencari tahu kebenaran omongan Erick, tapi entah kenapa hatinya berkata lain, kini ia malah telah sampai di depan kampus Bella
Adam kemudian memutari kampus Bella menuju taman belakang, tempat yang disebutkan Erick kemarin saat melihat Bella bersama Justin, taman belakang bisa terlihat dari jalan raya karena hanya terhalang oleh teralis tinggi yang berjarak
Benar saja apa yang Erick sampaikan kemarin, kini Adam melihat Bella tengah duduk bersampingan dengan seorang pria tampan yang Adam ketahui siapa, entah apa yang dibicarakan Bella dan pria itu, yang pasti mereka terlihat bahagia dan tertawa bersama, Adam menyeringai, “Jadi ini korbanmu sekarang Bella? Dasar perempuan licik!” Ujar Adam penuh amarah, pria itu lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kampus Bella
**
Bella memasuki kamar Adam dengan hati - hati, tadi pelayan memberi tahukannya bahwa Adam sudah pulang ke rumah padahal waktu baru menunjukkan jam 7 malam
“Kau sudah pulang?” Tanya Adam, pria itu duduk di sofa, tangannya memegang sebuah gelas yang berisi minuman
“Kau lihat sendiri kan?” Sahut Bella acuh, Bella lalu mengedarkan pandangannya mencari dua koper besar miliknya yang sudah tak ada lagi di tempatnya
“Dimana koperku?” Tanya Bella
“Aku menyuruh pelayan untuk membuangnya” sahut Adam lalu menenggak minumannya
Bella mengepalkan tinjunya, “kau!” Sengit Bella emosi
“Isinya aku suruh pelayan untuk susun di walk in closet atas perintah Mommy, meskipun aku ingin sekali membuang semua baju lusuhmu itu kalau saja Mommy tak melarangku!” Sinis Adam
Bella tak mempedulikan omongan Adam, ia beranjak menuju walk in closet
“Mau kemana kau?” Tanya Adam
Bella menghentikan langkahnya, “aku ingin mandi” sahut Bella tanpa menatap Adam
“Tidak perlu! berbaringlah!” Titah Adam, Bella menghela berat napasnya, matanya terpejam saat merapalkan do’a minta dikuatkan, berat hatinya saat ia mulai menanggalkan semua yang melekat pada badannya, lalu membalik badannya dan mulai berjalan menuju tempat tidur
Seperti yang sudah - sudah Bella menutup wajahnya dengan bantal, dan membiarkan Adam menjelajahi setiap jengkal tubuhnya, kali ini Adam kembali kasar, benerapa gigitan ia tinggalkan di bagian atas tubuh Bella, Bella meringis merasakan sakit yang teramat
Jari Bella kuat meremas bantal saat Adam menekuk kakinya, membelah intinya dan menerobosnya dalam satu hentakan, lagi - lagi Bella meringis karenanya
“Buka bantalnya!” Titah Adam sambil terus memompa Bella, Bella tak bergeming, ia masih saja menutupi dirinya dengan bantal, Adam menarik bantal itu dengan tak sabaran
Pertama kalinya Adam melihat Bella ketika ia tengah merajainya, meskipun Bella tetap menutup mata dan memalingkan mukanya, Adam bisa melihat wajah cantik Bella, seketika ingatan Adam kembali pada tadi sore saat ia melihat Bella bersama Justin, “sial!” Ujarnya sambil memompa lebih cepat
Bella menggigit bibirnya demi merasakan perasaan aneh yang ia rasakan sekarang, entah apa itu ia tak tahu, yang pasti tubuhnya seolah menerima kehadiran Adam sekarang, namun otak dan hatinya berkata lain, ia merasakan kebencian yang besar pada Adam
“Buka matamu Bella, lihat aku!” Titah Adam, lagi - lagi Bella tak hirau
“Liat aku Bella!” Sentak Adam sambil mencengkeram rahang Bella, Bella perlahan membuka matanya, membiarkan bola matanya yang berwarna coklat bertemu dengan bola mata Adam yang berwarna hazel
“Katakan Bella, apa yang sudah kau berikan pada anak Tuan Takanawa itu? Apa kau juga membiarkan dia menikmati tubuhmu seperti ini?” Cecar Adam, dengan pompaan yang semakin cepat, Bella membulatkan matanya, hatinya kembali tersayat dengan tuduhan Adam, tunggu, darimana ia tahu tentang Justin? Batin Bella
“Jawab Bella!” Sentak Adam lagi, “apa dia memberikan uang yang lebih besar dibanding yang telah kuberikan?” Cecar Adam
Gigi Bella gemeretak, “Bukan urusanmu Adam, bukannya kau yang bilang kalau kau tak peduli apa pun tentangku selain masalah ranjang?” Sengit Bella dengan napas terengah
Adam menyeringai, lalu memompa Bella lebih cepat dari sebelumnya, Bella kembali menggigit bibirnya bersamaan dengan desisan Adam
“Kau wanita licik Bella! Kau tak boleh tersentuh siapa pun sebelum kau melahirkan anakku, kau mengerti wanita ******?!” Sentak Adam, hati Bella kembali terkoyak, tangisnya kembali luruh
“Dengar Adam! ingat satu hal! kau memiliki tubuhku, tapi sampai kapan pun kau tak akan pernah memiliki hidupku Adam!” Tutur Bella
Emosi Adam semakin memuncak, tanpa aba - aba ia memompa secepat yang ia bisa, menghentak beberapa kali, lalu mengeluarkan semuanya di dalam tubuh Bella, Adam kemudian membaringkan dirinya di samping Bella
“Tetap di tempatmu, sampai aku izinkan kau untuk pergi!” Titah Adam
Bella meremas seprai sekuat tenaga yang ia bisa, lagi - lagi Adam melukai hatinya, kini Justin pun ikut terseret ke dalam pusara hidupnya yang rumit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Rahmi Hasibuan
coba adam kena karma dikit aja
2023-10-25
0
Ririn Nursisminingsih
kasihan bela
2023-09-14
0
Sri Ayudesrisya46
kasihan banget bella, adam pikiranmu kotor terus sih kenapa
ga di selidiki dulu asal tuduh aja
2023-01-18
1