Bella terduduk lemas di kursi loker tempat kerjanya, lebih dari 3 jam ia menunggu di teras rumahnya tadi tapi Ibunya tak kunjung pulang, tak ada pelayan atau siapa pun disana, rumahnya itu tampak kosong. Bella lalu mencoba menghubungi ponsel Ibunya, tapi ponsel Ibunya pun tak aktif, bahkan pesan yang ia kirimkan dua hari yang lalu pun belum juga dibaca oleh Ibunya. Kemana Ibunya pergi? Kalau Ibunya pindah kenapa Ibunya tak memberitahukannya pada Bella?
“Bella apa kau tak mengikuti kelas?” Tanya Nyonya Mer, atasan Bella di perpustakaan, Nyonya Mer kaget melihat Bella yang sudah duduk di loker padahal jam kerjanya baru dimulai jam 3 sore nanti
“Aku sedang tidak sehat Nyonya” sahut Bella singkat
“Kalau kau sedang sakit, sebaiknya kau tidak usah bekerja hari ini Bella, pulanglah, biar nanti aku minta anakku Fred untuk menggantikanmu” tutur Nyonya Mer penuh perhatian, Bella menggeleng, “pulang ke rumah Adam? lebih baik aku bekerja semalaman dibanding harus bertemu dengan pria berengsek itu lagi” batin Bella
“Terima kasih Nyonya Mer, tapi aku akan lebih baik setelah tidur sebentar, lagi pula tak ada yang bisa merawatku di rumah, semua keluargaku sedang keluar kota, aku akan lebih sakit kalau hanya sendirian di rumah” bohong Bella
“Heeemm, baiklah.. tapi berjanjilah kalau kau butuh apa - apa, segera hubungi aku, kau tak perlu sungkan” tutur Nyonya Mer, Bella mengangguk senang, hatinya menghangat, setidaknya ada yang masih perhatian padanya
Setelah Nyonya Mer pergi, Bella mencoba memejamkan matanya meskipun dalam posisi duduk karena hanya ada kursi di dalam loker tersebut, lelah yang ia tahan - tahan dari tadi membuat Bella perlahan terlelap
Bella sayup - sayup bisa mendengar derap sepatu, lalu suara kursi yang di tarik, tapi rasa kantuk Bella tak mengizinkannya membuka mata
Entah berapa lama Bella terlelap, yang pasti rasa pegal di sekujur tubuhnya lah yang membuatnya terbangun, dan pemandangan pertama yang Bella lihat dibawah cahaya lampu yang kini menerangi karena hari sudah beranjak sore adalah Justin
“Selamat sore” sapa Justin dengan senyumnya yang ramah
Bella kaget, bagaimana Justin bisa ada di loker karyawan?
“Kau disini Kak?” Tanya Bella sambil membenar - benarkan posisi duduknya
“Iya, tadi Nyonya Mer memberi tahuku kalau kamu sedang tidak sehat, Nyonya Mer juga mengizinkanku untuk menemanimu disini, aku tak menyangka dibalik wajahnya yang tegas ternyata dia sangat perhatian padamu, dia bahkan memintaku untuk memeriksa kondisimu” tutur Justin
“Aku tak apa - apa Kak, hanya kurang tidur saja, istirahatku sudah cukup, jadi aku bisa bekerja sekarang”
“Apa kau lupa kalau aku seorang dokter? Aku bisa tahu kalau kau sedang tidak baik - baik saja hanya dengan melihat kulitmu yang pucat, sekarang makanlah dulu sebelum aku memeriksamu di klinik kampus nanti” tandas Justin sambil menunjuk deretan makanan yang sudah tersaji di meja
“Kau yang membelikan ini semua Kak?” Bella segan, lalu perasaannya berubah curiga, jangan - jangan Justin seperti Adrian dan Adam yang mendekatinya karena punya tujuan, “Untuk apa kau berbaik - baik padaku Kak? Aku tidak punya apa - apa untuk diberikan, aku tidak punya lagi kakak atau adik yang cantik, aku juga sudah menikah sekarang”
“Ahahaha, apa kau berpikir bahwa semua orang ingin memanfaatkanmu Bella?” Justin tergelak
Bella mengangguk, “setidaknya seperti itulah yang aku alami” tuturnya sendu
Justin menelisik wajah Bella, raut sendu dan mata yang bengkak semakin memperjelas kalau Bella sedang sedih, “Tidak semua orang seperti itu Bella” sanggah Justin lembut
“Jangan berharap apa - apa dariku Kak, sekali lagi tak ada yang bisa ku berikan padamu” Tandas Bella
“Baiklah baik, tapi itu tak akan mengubah apa pun, aku tetap akan memperlakukan mu dengan baik, sekarang makanlah dulu, setelah itu aku akan memeriksamu” titah Justin
**
Bella tak malu - malu menyantap habis semua makanan yang Justin bawa, perutnya memang belum terisi apa - apa semenjak tadi pagi, Bella pun menurut ketika Justin membawanya ke klinik kampus karena badannya semakin terasa tak nyaman
“Bella, kenapa dengan kakimu?” Tanya Justin ketika melihat Bella yang meringis setiap kali ia melangkah, jalannya punsangat pelan, alhasil Bella beberapa kali tertinggal di belakang Justin meskipun Justin mundur kembali untuk mengimbangi langkah Bella
“Hanya sedikit terkilir Kak” bohong Bella
“Kalau kau tidak kuat berjalan, aku bisa menggendongmu Bella” tawar Justin prihatin
Bella cepat - cepat menggelengkan kepalanya, “Aku baik - baik saja Kak, sungguh” tandasnya, bisa jadi skandal besar kalau ada yang melihatnya dalam gendongan Justin
“Kau persis seperti Ibuku, selalu berkata baik - baik saja saat dia sedang sakit” ucap Justin, kini ia memelankan langkahnya mengimbangi langkah Bella
Saat sampai di klinik kampus, ada satu orang dokter dan satu orang perawat yang sedang bertugas, Justin dengan sopan meminta izin untuk memeriksa dan merawat Bella, siapa yang tak kenal Justin di kampus itu? Membantah Justin sama dengan membuat masalah, dokter dan perawat tersebut kemudian meninggalkan ruangan pemeriksaan tersebut
“Berbaringlah” Titah Justin pada Bella, pria itu lalu mulai mempersiapkan peralatan yang ia bawa di tasnya
Deg…
“B- Berbaring?” Gumam Bella terbata
“Iya berbaring, agar aku bisa memeriksa kondisimu kau harus berbaring di ranjang pasien Bella, berbaringlah!” Titah Justin lagi
“Berbaring?” Gumam Bella lagi pelan, seketika badannya bergetar hebat, kulitnya semakin memucat ketika ia terngiang perintah yang sama dari Adam saat Adam mengambil kehormatannya tadi malam
Justin kaget melihat reaksi Bella, “kamu kenapa Bella?” Tanya Justin khawatir, “kalau kamu tak mau berbaring, kamu bisa duduk saja Bella, tak usah dipaksakan” ujar Justin seperti mengerti apa yang Bella rasakan
Bella lega karena Justin tak memaksakan kehendaknya, meskipun dalam rangka pemeriksaan seorang dokter pada pasiennya. Bella mendudukkan dirinya di ranjang pasien, hatinya sudah mulai tenang, badannya tak lagi gemetaran
“Aku mulai periksa ya Bella” ujar Justin dengan lembut, Bella mengangguk mengizinkan, Justin yang sudah mengenakan stetoskop di telinganya mulai memeriksa Bella dengan telaten, mata Justin lalu terfokus pada bercak kemerahan di leher Bella, dibawah bercak kemerahan itu ada sedikit memar dan lecet yang Justin yakini sebagai bekas gigitan kecil, Justin akhirnya paham apa yang terjadi pada Bella
“Kamu demam Bella, apa kamu sudah minum obat sebelumnya?” Tanya Justin, Bella ingat semua obat - obatan yang tadi diberikan oleh Miranda atas pesan Adam, Miranda bilang ada obat demam diantaranya, tapi Bella membuang semua obatnya karena ia yakin semua pil - pil itu tadi adalah vitamin hamil, demi apa pun Bella tidak ingin mengandung anak dari Adam
“Aku belum minum obat” sahut Bella
“Baiklah, aku akan memberimu obat demam dan obat pereda nyeri, kamu bisa meminumnya sekarang juga” tutur Justin sambil mengeluarkan beberapa bungkusan kecil berisi obat - obatan
“Pereda nyeri? Untuk apa Kak?”
“Untuk mengurangi rasa sakit yang kamu rasakan sekarang Bella, harusnya Adam Anderson itu tidak memaksa kamu untuk melakukannya kalau kamu belum siap!” Cerocos Justin penuh kekesalan
Bella terperangah, “Bagaimana Kak Justin tahu?”
“Cara berjalanmu, tanda merah dan bekas gigitan di lehermu sudah cukup memperlihatkan bagaimana Adam Anderson memperlakukanmu Bella” sahut Justin dingin, ia tak lagi menatap Bella sekarang, Bella bisa melihat wajah Justin yang menggelap
Bella menundukkan kepalanya dan membenar - benarkan kerah bajunya, kubangan bening menggelayut di mata Bella tak sabar ingin tercurah
“Meski dia suamimu, tidak seharusnya dia membuatmu sampai sesakit itu, dari cara berjalanmu aku bisa paham bagaimana rasa sakitmu Bella, makanya aku memberikanmu obat pereda nyeri” terang Justin lagi
Entah sejak kapan air mata Bella meluncur membasahi pipinya, sakit hati itu kembali mengoyak - ngoyak jiwa Bella, hingga tangis yang tadinya tanpa suara kini berubah menjadi sedu sedan, Justin panik melihat Bella yang terisak
“Kau tak apa? Apa kata - kataku menyakitimu?” Tanya Justin khawatir, tapi Bella tak berucap ia larut dalam tangisannya, Justin mengerti kondisi Bella
“Menangislah Bella, curahkan semua kesedihan dan kemarahanmu!” Titah Justin yang membuat tangis Bella semakin kencang, lirih mengundang empati siapa pun yang mendengarnya
“Kau berengsek Adam, kau berengsek!” Meledaklah sudah amarah Bella, dengan suara yang bergetar penuh kemarahan ia memaki Adam seolah Adam ada di depannya, Justin membiarkan Bella mengeluarkan semua emosinya, Justin tahu itu yang dibutuhkan Bella sekarang
“Dan kamu Ibu, kamu jahat! Kamu menjualku pada Adam hanya demi Brianna dan uang, kamu tega Bu!” Pekik Bella lagi seolah Ibunya juga berada disana
Deg..
Pilu, itu yang dirasakan Justin saat mendengar jeritan Bella, Justin tak menyangka kalau nasib Bella setragis itu, pria tinggi tegap itu mendekati Bella, tangannya bergetar ragu saat terulur ingin mengelus rambut Bella
“Ada aku Bella, jangan khawatir” tutur Justin lirih, entah apa yang akan terjadi nantinya Justin sudah tak peduli, ia memberanikan diri membelai rambut Bella dengan sangat hati - hati
“Mereka semua jahat Kak, mereka jahat!” Ucap Bella sambil terisak, emosi yang tak lagi bisa Bella kendalikan membuatnya tak sadar kalau Justin sedang menyentuh rambutnya
“Ada aku, kamu akan baik - baik saja!” Tutur Justin lagi meyakinkan Bella, dan Justin bersungguh - sungguh dengan kata - katanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Tiwik Firdaus
kaburlah bela sejauh jauhnya dan jangan pernah memaafkan semua orang yang telah menyakitimu tsrmasuk ibu kamu sendiri atau jangan2 kamu bukan anak kandung ibu kamu yang sekarang ini melainkan orang lain ibu kamu makanya kamu di beda2kan
2023-04-30
0
Nita Ruroh
mengandung bawang 😭
2023-04-14
0
Endang Priya
mewek bacanya thor.
2023-03-31
0