Sarapan pagi itu awalnya terasa kaku sebelum William memecah kebisuan, William senang bukan kepalang melihat rambut Adrian dan Brianna yang masih basah, apalagi ketika melihat kemesraan Adam dan Bella, terlebih saat melihat tanda kemerahan di leher Bella, hilang sudah kekhawatiran William kalau Adam tak bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami
...“Adam, Adrian, Daddy akan sangat bahagia kalau kalian segera memberikan cucu pada Daddy dan Mommy! jangan khawatir, akan ada kompensasi besar untuk siapa pun yang memberikan kami cucu” tutur William...
Adrian dan Brianna saling pandang, jika Brianna tersenyum malu - malu maka Adrian tersenyum penuh kemenangan, kali ini ia optimis akan lebih unggul dibanding Adam, tak mungkin Adam akan memiliki anak dengan Bella, karena Adrian yakin kalau belum terjadi sesuatu antara Adam dan Bella, ia tahu betul bagaimana Adam, Adam tak akan mudah menyentuh wanita
...“Cucu?” Gumam Adam panik, bagaimana ia bisa punya anak sementara ia saja sangat enggan menyentuh wanita bergelar istrinya itu? ...
...“Tenang saja Bella, meskipun nanti kamu hamil, kamu tetap bisa melanjutkan kuliahmu sampai selesai, yang pasti kami tidak ingin baik Brianna atau kamu menunda - nunda kehamilan, kamu mengerti kan Bella?” terang Miranda lembut pada Bella yang sedang menyesap tehnya...
Bella hanya mengangguk sopan dengan mengulum senyum, dalam hati ia sangat bersyukur karena ia yakin kalau Adam tak menginginkan anak darinya, sama seperti apa yang Bella rasakan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah sore ketika Bella memulai pekerjaannya di perpustakaan, Bella memang berkuliah di pagi hari lalu sore harinya ia bekerja di perpustakaan kampus seperti biasa, meskipun mertuanya sudah menawarkan agar Bella berhenti bekerja dan fokus pada pendidikannya atau pindah bekerja ke perusahaan yang kini dipimpin Adam, tapi Bella menolak dengan alasan ia sudah sangat nyaman bekerja di tempat itu, padahal alasan sebenarnya Bella tak ingin berlama - lama berdekatan dengan Adam
...“Kamu baik - baik saja?” Tanya seorang pria pada Bella yang sedang sibuk menata buku - buku di tempatnya, ...
Bella menoleh ke asal suara, tampak di depannya seorang pria jangkung berkulit bersih, berwajah tampan dengan mata yang agak sipit khas oriental, pria yang setiap hari selama berbulan - bulan ini selalu menghabiskan sore harinya untuk membaca di perpustakaan, dan sekitar beberapa minggu yang lalu, pria bernama Justin itu kerap mengajak Bella mengobrol, sekedar bertanya tentang buku, kabar, dan obrolan - obrolan ringan lainnya saat pengunjung perpustakaan sedang sepi seperti sekarang, hanya ada satu pengunjung itu pun duduk di lantai dua, sangat tak mungkin ia bisa mendengar suara Bella dan Justin
...“Aku baik - baik saja Kak Justin, terima kasih” sahut Bella sopan, tak lupa ia sunggingkan senyum untuk pria lemah lembut itu...
...“Lantas kenapa kamu tidak kuliah dan bekerja kemarin?” Selidik Justin lagi, ia kepayahan mencari - cari Bella yang tak hadir di kelas dan perpustakaan hanya dengan keterangan izin, hal yang tak pernah Bella lakukan...
...“Ada acara keluarga yang harus aku hadiri Kak” bohong Bella, sungguh ia tak ingin siapa pun mengetahui tentang pernikahannya dengan Adam Anderson, ia tak ingin kehidupannya di kampus berubah ketika semua orang mengetahui kalau kini ia adalah menantu keluarga Anderson...
...“Aku bantu!” Ucap Justin sambil meraih beberapa buku dari embanan Bella, lalu dengan tangkas menata buku - buku itu serapi yang ia bisa, “Kita memang tidak dekat, tapi kalau ada apa - apa maukah kamu menceritakannya padaku?” ...
...“Untuk apa aku menceritakannya padamu Kak? Aku tidak ingin mengundang masalah lain dalam hidupku, cukup sekali saja aku ditegur atasanku gara - gara mengusir kerumunan para gadis fans garis keras Kak Justin yang berisik disini tempo hari!” Sahut Bella bersungut - sungut...
...“Ahahaha.. kamu dendam rupanya?” Justin tak sengaja tertawa lepas nyaris menggelegar kalau saja ia tak melihat mata Bella yang melototinya...
...“Jelas aku dendam, nyaris saja aku kehilangan pekerjaan karena ternyata yang aku usir itu adalah anak - anak orang kaya donatur terbesar kampus ini, sial sekali nasibku!” sewot Bella...
...“Maaf” sesal Justin...
...“Aku yang salah, aku dulu tidak tahu kalau Kak Justin adalah anak dari pemilik rumah sakit Takanawa, pantas saja penggemar Kak Justin banyak, selain tampan Kak Justin juga kaya raya ternyata, yang aku bingung kenapa Kak Justin masih saja kuliah kedokteran spesialis padahal sudah pasti rumah sakit itu akan jadi milik Kak Justin nanti”...
...“Papa yang minta, aku hanya menuruti permintaannya saja untuk menjadi dokter spesialis bedah sepertinya” sahut Justin, lesung pipi dan matanya semakin menyipit saat ia memberikan senyuman hangatnya untuk Bella, Justin memang begitu, ramah dan hangat...
...“Kenapa sangat berbeda dengan makhluk kutub bernama Adam itu ya? Padahal mereka sama - sama orang kaya, aneh sekali!” Gumam Bella pelan...
...“Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?” Tanya Justin saat melihat Bella yang tak lagi bergerak membereskan buku karena hanyut dalam lamunannya ...
“Tidak ada” sahut Bella, gadis itu lalu sibuk menata kembali buku - buku, tanpa ia sadari Justin memperhatikan cincin yang kini tersemat di jari manis Bella, cincin pernikahannya dengan Adam
Justin refleks meraih tangan Bella yang sedang susah payah menegakkan buku - buku tebal, membawa tangan Bella ke depan wajahnya dan menatapi cincin bertahta berlian itu dengan wajah menggelap
...“Kamu sudah menikah, Bella?” Tanya Justin, “apa kemarin itu hari pernikahanmu?” Cecar Justin menuntut...
Bella tergapap, “Kak, pelankan suaramu! Jangan sampai ada yang mendengar!” Tandas Bella setengah berbisik sambil menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada orang disana
Justin menghela pelan napasnya dan mengatur ekspresi wajahnya yang tadi begitu menakutkan, susah payah Justin memasang senyumnya lagi agar Bella tak merasa terintimidasi, “jadi apa dugaanku benar?”
Bella mengangguk ragu, ia tak punya pilihan lain selain jujur sekarang, tak apalah jika hanya Justin yang tahu, ia yakin Justin tak akan mengumbarnya kepada siapa pun, Justin tersenyum penuh arti, ia lalu mengulurkan tangannya, “Selamat, jadi siapa pria beruntung itu? Apa pria yang pernah menemuimu disini?”
...“Adrian maksudnya? Bukan Kak, bukan dia” sahut Bella sendu, “Adrian menikah dengan Kakakku, sedang aku menikah dengan Kakaknya Adrian, Adam Anderson” terang Bella jengah...
...“Adam Anderson? Putra dari William Anderson pemilik Anderson tower?” Cecar Justin, Bella kembali mengangguk, tapi tak bisa Bella sembunyikan raut sedih yang kentara di wajahnya ...
...“Lantas kenapa kamu seperti tidak bahagia Bella? Tidak mungkin kamu tidak tahu siapa yang kamu nikahi kan? Setiap wanita sepertinya mendambakan untuk menjadi menantu keluarga Anderson!” Selidik Justin, haruskah Bella bangga saat semua orang seolah terkagum ketika mengetahui kalau ia menantu di keluarga Anderson sekarang? Nyatanya ia begitu tersiksa, pengkhianatan Adrian dan perlakuan Adam membuatnya muak, kalau bukan karena ancaman bunuh diri Ibunya sudah pasti ia enggan menjadi bagian dari keluarga Anderson...
Tak ada sahutan, Justin memilih untuk tak bertanya lebih lanjut, ia yakini Bella sedang tak baik - baik saja, “Istirahatlah Bella, aku yang akan menyusun buku - buku ini” Justin memberikan senyum terbaiknya untuk menyemangati Bella
...“Tidak usah Kak, bagaimana kalau Nyonya Mer sampai melihat Kak Justin yang mengerjakan tugasku? aku tidak mau sampai kehilangan pekerjaanku Kak!” Cegah Bella sambil mengambil alih buku - buku dalam pegangan Justin...
...“Apa kamu lupa kalau sore - sore begini atasanmu itu sudah pulang ke rumahnya? Sudahlah Bella, hari ini biarkan aku membantumu, lain kali aku yang akan meminta bantuanmu, santailah sebentar”...
Bella tak berkutik lagi ketika Justin membawa trolley besar berisi tumpukan - tumpukan buku, pria itu tampak semangat menyusun dan merapikan satu per satu buku sesuai dengan nomor label yang tertera di belakang buku
...“Janji akan membantuku lain kali? Lihatlah semua buku sudah tersusun rapi, pekerjaanku bagus kan?” Pamer Justin setelah ia menyelesaikan semua pekerjaannya, meskipun kemejanya sampai berantakan dan dahinya berpeluh tapi Justin tampak senang...
...“Iya aku janji, tapi mintalah bantuan yang bisa aku penuhi Kak, tolong jangan menyusahkanku” tandas Bella...
Lagi - lagi pria itu tergelak, mungkin Justin memang tidak pernah punya masalah dalam hidupnya sehingga ia mudah sekali tertawa, wajahnya pun selalu saja dihiasi senyuman ramah
Menjelang malam Bella dan Justin akhirnya berpisah di depan kampus, Bella sudah dijemput oleh sopir keluarga Anderson, sementara Justin pulang mengendarai mobilnya sendiri
...----------------...
...“Kau baru pulang?” Sinis Adam saat Bella baru saja masuk ke dalam kamarnya...
...“Seperti yang kamu lihat” sahut Bella acuh...
...“Buka bajumu!” Titah Adam pongah...
Bella sontak kaget dan refleks menutupi bagian dada dengan tasnya, “jangan kurang ajar! Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak akan menuntutku untuk melakukan kewajiban seorang istri?” Sewot Bella
...“Mulai hari ini peraturan berubah, apa kau tidak dengar omongan Daddy tadi pagi, harus ada cucu di rumah ini, dan aku mau anakku yang pertama lahir sebelum anak Adrian!” ...
...“Lancang sekali kamu Adam! Kamu pikir aku mesin pembuat anak? Jangan macam - macam, aku tak sudi kamu menyentuhku Adam!” Sentak Bella ...
Adam yang seumur hidupnya tak pernah ditentang oleh siapa pun menatap Bella penuh kebencian, “Tidak usah sok suci Bella, apa kau pikir aku akan termakan oleh sandiwaramu? Tidak cukupkah uang dan semua fasilitas yang keluargaku kirimkan untukmu dan Ibumu? Itu semua kewajiban yang telah ku penuhi, sekarang giliranmu memenuhi kewajibanmu, kita saling menguntungkan bukan?” Todong Adam dengan suara yang meninggi, kilat kemarahan di mata Adam jelas memperlihatkan kalau ia sangat membenci Bella
Dahi Bella mengkerut, “uang? Fasilitas? Untukku dan Ibu?” Bella bingung, ia sama sekali tak mengetahui soal itu semua
“Kau benar - benar membuatku muak Bella! Bukankah atas permintaanmu sendiri semua uang dan fasiltas kau titipkan pada Ibumu sebagai syarat untuk menikah? Mommy sudah menceritakannya semua padaku tadi sore, sudah ku duga kau benar - benar wanita licik Bella!” Sinis Adam lagi
Bruk..
Tas yang sedari tadi menutupi bagian dada Bella merosot jatuh dari tangannya yang melemas, jantung Bella memompa cepat sedang badannya kian gemetaran, “Bu, Ibu menjualku?” Gumamnya pelan, kubangan bening sudah memenuhi matanya siap terjun
...“Sekarang buka bajumu, jangan buang - buang waktuku, penuhi kewajiban kamu Bella, kau tak akan mau menerima resiko kau dan Ibumu berurusan dengan hukum karena telah menipu keluarga Anderson kan Bella?” Ancam Adam penuh intimidasi...
Bella bukan hanya hancur lebur karena pengkhianatan Ibunya untuk kedua kali, kini Bella juga merasakan ketakutan yang teramat, bayang - bayang dipenjara memenuhi kepalanya, bagaimana masa depannya nanti jika ia sampai punya catatan kriminal? Semakin lemas saja lutut Bella
...“A-aku mandi dulu, aku tak mungkin melayanimu dengan kondisi kotor seperti ini” ucap Bella dengan suara gemetaran...
...“Aku beri waktu 5 menit, tidak perlu bersiap apa pun cukup bersihkan dirimu saja, karena selama kita melakukannya nanti aku tidak akan menikmati apa pun yang kamu berikan, dan dengar Bella tutupi mukamu dengan bantal saat kita sedang berada di atas ranjang, jangan berani - berani melihatku dan jangan bersuara, ini mutlak harus kamu lakukan, mengerti!” Sentak Adam lagi...
Bella terpaku ditempatnya, “Apa aku ******? Kenapa dia memperlakukanku seperti ini? Bu, kenapa kamu tega menjualku hanya demi pundi - pundi uang dan kemewahan?” Batin Bella lirih
...“Kau mengerti Bella?” Sentak Adam dengan suara yang semakin meninggi...
Bella mengangguk, setengah ia seret kakinya yang kian gemetaran menuju kamar mandi, malam ini ia akan mulai menjalani kehidupannya di neraka, setelah kemarin ia merasa masih ada di tebingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Ririn Nursisminingsih
jg2 bela bukan anak kandungnya
2023-09-14
0
Endang Priya
emaknya bella sinting.
2023-03-31
0