Menjelang sore hari, sekitar jam 2 siang, Naia, Silvia dan Nuraini sampai di rumah Dewa dengan membawa tas ransel berukuran sedang diantar oleh Satria, Oki dan Risa, "Eh.. Kalian masuk dulu gih.. Ngobrol-ngobrol aja dulu di dalam.." ucap Naia kepada Satria, Oki dan Risa.
"Eh, ini rumah siapa Naia..? Kok kalian kayak udah biasa kesini..?" tanya Satria bingung
"Oooohh.. Ini rumah kontrakan pengawalnya kak Naia, udah beberapa kali sih kami kesini, makanya udah seperti rumah sendiri.." jawab Nuraini
"Pengawal..? Emang Naia bawa pengawal kesini, tapi kok kita gak pernah lihat dia..?" tanya Risa tidak percaya.
Naia menjadi salah tingkah sendiri, dia berushaa menjelaskan kepada Risa, "Eeeee itu lho Sa, kamu masih ingat kan pas kejadian di warung dekat balai desa..? Ada mas-mas yang selamatkan kita, dia itu sebenarnya pengawal ku.." jawab Naia.
"Oh.. Si mas Dede itu ya..? Wiiiihhhh.. Keren, ternyata Naia punya pengawal yang hebat.." sahut Oki.
Mendengar ribut-ribut di depan rumah, Dewa segera keluar rumah untuk melihat ada apa sebenarnya, "Kirain ada apa kok rame banget, ternyata kalian..? Tumben nih kalian kesini rombongan..? Sini-sini masuk dulu gih, biar enak ngobrolnya.. Emang mau pada kemana kalian..?" tanya Dewa.
"Ya mau kesini lah, emang mau kemana lagi..?" jawab Naia sambil menurunkan tas dari punggungnya.
Oki dengan santun menolak tawaran Dewa, "Eeemmm. Sebenarnya pengen ngobrol-ngobrol sih bang, tapi lain kali saja deh bang.. Kita langsung balik aja. Masih belum beres-beres juga buat pulang besok.." ucap Oki.
"Oohhh.. Gitu.. Yaudah hati-hati ya..? Kalau ada waktu longgar, main aja kemari, kita bisa ngobrol-ngobrol sambil ngopi.." ucap Dewa.
"Iya mas, lain kali kami mampir lagi kemari.. Kami balik dulu ya mas.." ucap Satria berpamitan.
"Risa, Oki, Satria, makasih ya..?" ucap Naia.
Merekapun menganggukkan kepala dan langsung pergi, kembali ke basecamp KKN.
Dewa melihat mereka bertiga heran, "Eh.. Ini kok kalian bawa tas ransel..?"
"Ya.. Kan besok kita pulang. Sekalian aja tas kami bawa.. Jadi malam ini kami nginep disini kak.." jawab Nuraini.
"Nginep..? Kakak pikir baru besok kakak jemput di basecamp. Ternyata ada rencana nginep ya..? Terserah kalian aja lah. Tapi nanti siang aku tinggal keluar sebentar ya..? Masih ada urusan sedikit.." jawab Dewa memberi alasan.
Mendengar ucapan Dewa, Naia memasang muka cemberut dan protes kepada Dewa, "Lha kok ditinggal sih..? Dua hari gak ketemu, sekarang malah ditinggal..?" protes Naia.
Dengan tersenyum Dewa menjawab, "Kalian juga mau nginep gak kasih kabar dulu.. Cuma sebentar kok, gak lama.. Beneran.."
Silvia merebahkan punggungnya di sandaran kursi sambil memegang perutnya. Dia sesekali meringis menahan sakit di perutnya, "Kenapa itu Silvia, sakit kah..? Ada apa Silvia..?" tanya Dewa.
"Gak tau mas, dari tadi pagi seperti itu aja dia. Udah aku tanya ada apa, eeehhhh.. gak dijawab juga.." jawab Naia. Naia kembali bertanya kepada Silvia, "Ada apa sih Vi..? Nih mumpung ada mas Dewa, kamu cerita gih kamu kenapa..?" ucap Naia lembut.
"Udah, biarkan saja dulu. Biar Silvia tenang dulu, nanti kalau sudah tenang, dia pasti akan cerita.. Kalian tunggu sebentar disini ya..? Aku mau keluar dulu sebentar.. Nanti aku bawakan makan malam.." ucap Dewa lalu pergi.
*****
Dengan mengendarai mobil, Dewa segera menuju sasana untuk mengecek peralatan yang dipesan Roni. Truk salah satu perusahaan ekspedisi terparkir di depan sasana, tampak kurir dibantu beberapa orang anak buah Roni mengeluarkan barang dari dalam truk.
Roni mengawasi dan mengarahkan anak buahnya dimana mereka harus menempatkan peralatan itu, "Taruh alat itu di sebelah sana, dan yang ini di sampingnya. Kasih jarak masing-masing 2 meter.. Terus matras ini pasang di tengah saja.. Alat yang rusak itu kalian taruh gudang saja.." instruksi Roni.
Ruangan berukuran 12x15 meter yang semula lengang, kini tampak penuh dengan alat yang tertata rapi di pinggir ruangan dan di tengahnya terpasang matras dengan ukuran 8x8 meter. Dewa tersenyum puas dengan kinerja Roni dalam mengelola sasana. Beberapa anak buah Roni pun terlihat senang dengan peralatan baru yang ada di sasana, "Wiiiihhhhh.. Mantab. Kita sudah punya alat lengkap, mungkin di tempat kita yang paling lengkap.." ucap salah satu anak buah Roni.
"Iya bener kang, dengan begini kita bisa berlatih secara maksimal.. Hahahaha.." sahut lainnya.
Menyadari kedatangan Dewa, Roni langsung menyapa, "Eh.. Bos, sudah dari tadi datang..? Bagaimana bos apa ada yang perlu diganti tata letaknya..?" tanya Roni.
"Kamu kan ahlinya, kamu atur aja gimana baiknya.. Oh iya Ron, mumpung semua lagi semangat, sekalian saja minta mereka merapikan gudang sama membersihkan kamar mandi dan ruang ganti.." ucap Dewa memberikan instruksi
"Siap bos. Sesuai perintah.." jawab Roni, dengan segera memerintahkan anak buahnya untuk melaksanakan apa yang dikatakan Dewa, "Kalian setelah ini bersihkan kamar mandi sama ruang ganti. Lainnya, rapikan gudang. Susun alat-alat ynag rusak dengan rapi.." ucap Roni dan dijawab oleh mereka, "Siap bos.."
"Mana Loreng kok gak kelihatan dia..?" tanya Dewa.
"Lagi pergi beli makanan buat anak-anak bos. Ada penting kah..? Biar saya telepon dia buat balik dulu.." jawab Roni.
"Jangan, gak usah.. Nanti saja tunggu dia balik.. Dengan begini, orang-orang bisa berlatih dengan maksimal. Aku berharap mereka yang berlatih disini, suatu saat bisa menjadi petarung profesional.." ucap Dewa yang dijawab dengan anggukan Roni.
Setelah meminta ijin kepada Dewa, Roni pergi untuk mengawasi anak buahnya dalam merapikan gudang dan membersihkan kamar mandi. Mereka tampak antusias menjalankan setiap instruksi yang diberikan Roni.
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundak Dewa dan menyapanya, "Dewa kan..?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
"Astagaaaa... Kamu eeemmmm, ahhh.. Iya aku ingat, Jaka kan..?" jawab Dewa sambil menjabat tangannya.
Jaka, 26 tahun, 165/65, Dewa biasa memanggil dia Jeko, adalah teman SMA Dewa, mereka adalah teman satu kelas yang terkenal paling suka bikin masalah. Mereka, Dewa, Jaka dan satu lagi bernama Niko adalah siswa yang menjadi langganan dihukum oleh guru karena selalu bikin ulah. Terakhir kali bertemu dengan Jaka adalah saat mereka lulus SMA, lalu Jaka memilih pergi ke kota H untuk bekerja, sedangkan Dewa dan Niko memilih mendaftar sebagai tentara angkatan darat.
Jaka tidak menyangka bahwa kawan baiknya tersebut menjadi orang sukses, "Gimana kabarmu..? Tempat ini punya kamu Wa..?" tanya Jaka.
Dewa merangkul Niko dan mengajaknya pergi "Kita cari warung kopi saja, kita ngobrol sambil ngopi.." ajak Dewa. Sebelum dia pergi, Dewa berpesan kepada Roni, "Ron, aku tinggal sebentar ya..? Kamu handle semuanya. Kalau Loreng datang, suruh tunggu aku saja.."
"Siap boss.." jawabnya.
Mereka, Dewa dan Jaka berjalan menuju warung kopi yang tidak jauh dari sasana. Setelah memesan, kamipun memulai obrolannya, "Gimana kabarmu Wa..? Waaahh.. Udah jadi bos ya sekarang..?" tanya Jaka.
"Alhamdulillah baik Jek.. Eh.. Bos apaan..? Itu sasana milik Roni, ya orang yang nyuruh-nyuruh tadi itu lho.., kalau aku hanya bantu-bantu aja disana.." Dewa menjelaskan kepada Jaka.
"Lah.. Bisa aja nih bos ngeles.. Hahahaha.."
Dewa mencoba mengalihkan topik pembicaraan, "Eh.. Kamu kerja di ekspedisi..?"
"Iya Wa, mau gimana lagi, dapat kerjanya ya ini.. Sempat sih dulu ikut test tentara angkatan laut di kota H, tapi gak keterima. Tiga kali nyoba dan selalu gagal di test terakhirnya.. Bukan rejekinya kali ya..? Hahahaha.." jawab Jaka.
"Yang penting disyukuri saja iya kan..? Kamu sekarang tinggal dimana Jek..?" tanya Dewa.
"Di kota H, tinggal di mertua regency.. Hahahha.." jawabnya malu-malu.
"Waaahhh. Kamu udah nikah..? Berapa keponakanku sekarang..?" tanya Dewa penasaran.
"Alhamdulillah baru 1, cowok masih umur 9 bulan.. Eeemm, aku dengar kamu jadi tentara angkatan darat ya..? Niko yang kasih tau, dia bilang kalian pendidikannya bareng.." tanya Jaka.
"Ya bisa dibilang begitu, dulu memang aku daftarnya bareng sama Niko.. Cuma saat ini aku lagi dalam rangka cuti.. Oiya, Niko dimana sekarang..? Kamu ada nomor kontak dia..?" tanya Dewa.
"Niko tetap di kota L, dia dinas di Kodam kalau gak salah, ini nomor hp dia.." jawab Jaka.
Dewa menyimpan nomor Niko yang diberikan oleh Jaka, "Niko mungkin bisa membantuku mendapat informasi. Terakhir aku ketemu dia, dia ada di divisi intelijen.." ucapnya dalam hati. Setelah menyimpan nomor Niko, Dewa bertanya kepada Jaka tentang Niko, "Kamu sering ketemu Niko..? Udah lama juga ya kita gak kumpul-kumpul, trio WaJaN, Dewa, Jaka, Niko, Hahahahhaa..?"
"Jarang.. Hampir gak pernah malahan. Terakhir ketemu Niko itu 3 tahun lalu, pas kirim undangan reuni.." jawab Jaka. Mendengar ucapan Dewa, Jaka tersenyum dan berkata, "Eh.. Masih inget aja kamu Wa.. Itu kan julukan dari bu Rukmini, wali kelas kita dulu, Hahahaha.."
"Mana bisa aku lupa julukan itu..? Julukan itu lah yang membuat kita terkenal seantero sekolah.." jawab Dewa.
"Udah tiga tahun ini sebenarnya kita selalu ngadain reuni. Tapi kamu dan Niko tidak pernah datang, padahal undangan udah kami kirim.. Sini berapa nomor hp mu, biar ku masukkan grup, biar tau kalau ada informasi.." jawab Jaka.
Dewa terdiam saat Jaka menanyakan nomer hp nya, "Waduh.. Gawat kalau sampai dimasukkan grup.. Gimana ini..? Naaahhhh.. Lebih baik aku kasih nomor Naia saja.." pikir Dewa saat melihat kontak Naia.
"Mana..? Masak nomor sendiri gak hafal..?" tanya Jaka.
"Jangankan nomor hp, nomor absenku berapa aja aku lupa.. Hahahaha.. Ini nomornya.." ucap Dewa sambil mendikte nomor Naia.
Jaka mengamati foto profil dari Naia. "Hah..? Ini kok profilnya cewek..? Siapa dia..?" tanya Jaka menyelidik.
"Biasa, calon Jek.. Cantik kan..? Cantikan mana sama istrimu..?" tanya Dewa bercanda.
"Cantik istriku lah.. Istriku itu bidadari ku yang turun dari syurga, gak ada bandingannya Wa.. Nah terus kapan nih kalian nikah..? Jangan lama-lama, masak 26 tahun hanya untuk jalan air aja..? Hahahaha.." ejek Jaka.
"Lah.. Diampuuuuttt...!! Bisa aja kamu ini Jek.. Hahahaha.." Dewa tertawa lepas lalu melanjutnkan candaannya, Heleeh, baru nikah dibilang bidadari turun dari syurga. Ntar udah punya anak dua, dibilangnya bidadari turun dari becak. Anak udah empat bilangnya mak lampir naik ke syurga.. Hahahaha.." Dewa membalas meledek Jaka.
"Eh.. Jangkriiiikk..!! Ya gak lah.. Semoga saja kami bisa tetap mesra sampai jadi kakek dan nenek.." do'a Jaka.
"Aamiin.. Aamiin.." Dewa mengaminkan do'a Jaka.
Mereka pun bercanda dan bercerita tentang masa lalu, masa-masa dimana mereka menjadi anak bandel yang sering dihukum. Jaka juga banyak bercerita tentang kondisi terbaru teman-teman SMAnya. Tak terasa waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Rasa kangen dengan Jaka masih belum sepenuhnya terobati, tapi mereka harus segera berpisah. "Wa, aku pamit dulu. Ya maklum lah masih harus ke kota S dan N untuk mengantar paket. Kita akan sambung lagi lain waktu.." ucap Jaka.
"Pasti Jek. Kamu hati-hati ya..?" jawab Dewa, lalu Dewa mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Jaka, "Ini aku titip buat keponakanku.."
"Eh.. Apa ini Wa..? Jangan ah, gak enak aku nerimanya.." Jaka menolak pemberian Dewa.
Dewa segera meraih tangan Jaka, "Eh.. Ini bukan buat kamu, ini buat keponakanku, tolong sampaikan juga ciumanku buat dia ya..? Jangan sampai salah.. Salah ke istrimu maksudku.. Hahahahha.." jawabku sambil meletakkan uang itu ke telapak tangan Jaka.
"Hahahaha.. Jiangkrik..!! Terimakasih Wa.." ucap Jaka sambil memeluk Dewa, lalu Jaka pun naik ke truk nya, sebelum dia pergi, Jaka berteriak kepada Dewa, "Ingat nama keponakanmu Wa, Niko Dewantara.." ucapnya sambil melambaikan tangannya. Dewa hanya bisa tersenyum lalu berkata dalam hatinya, "Terimakasih Jek.."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Va Fauzi
next....
2023-02-02
1