Dengan sangat hati-hati Dewa mengatakan apa yang dirasakannya agar Naia tidak tersinggung, "Eemmm Naia.. Tentang rencana kedua orang tua kita, eemmm, kalau kamu tidak bisa menerimanya dan apabila hal itu membuat kamu tidak bisa menentukan laki-laki yang sesuai dengan keinginanmu, aku akan membantumu untuk bicara dengan pak Wira agar beliau membatalkannya.."
Naia menghembuskan nafas panjang sebelum dia memberikan jawabannya. "Hhhhuuff.. Jujur memang setelah aku mengetahui tentang perjodohan ini, aku sangat marah sama papa dan mama, terlebih aku harus putus dengan cowok yang aku cintai dan harus bersama dengan laki-laki yang bahkan aku belum tau dia seperti apa.. Tapi papa selalu meyakinkanku bahwa laki-laki pilihan papa, selain dia anak teman baik papa, dia pasti bisa melindungi dan memberikan keamanan untukku, karena dia adalah seorang perwira tentara angkatan darat.." ucap Naia datar.
"Lalu kamu menerima saja saat kamu harus putus dengan kekasihmu itu..?" tanya Dewa.
"Aku tidak mempunyai pilihan lain dan hanya pasrah saja dengan keputusan papa. Aku tidak ingin membuat papa dan mama kecewa.." Naia diam sesaat dan menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapanya, "Yaah.. Pada akhirnya aku telah memutuskan, siapapun dia, akan kuterima dengan ikhlas, karena aku yakin tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke jurang kesengsaraan.. Aku hanya bisa yakin papa dan mama melakukan semua ini demi aku juga, untuk kebahagiaanku.." jawab Naia dengan tersenyum.
Tampak ketenangan dan kedewasaan Naia saat dia menjelaskan alasannya. Dewa hanya bisa tersenyum mendengarnya, "Apa kamu tidak berusaha untuk menjalin hubungan lagi dengan cowok lain..? Teman kampus misalnya.." tanya Dewa menyelidik.
"Setelah aku putus dengan cowokku, dan mendengar penjelasan papa, sejak saat itu aku tidak pernah lagi menjalin hubungan serius dengan cowok lain. Aku hanya tidak ingin membuat papa kecewa. Tapi semuanya berubah saat aku melihat mas menghajar para begal di hutan waktu itu. Aku memberanikan diri untuk mencoba menjalin hubungan dengan mas Dewa, dengan cara menjadikan mas sebagai pengawalku, agar aku bisa lebih dekat dengan mas dan menjalin hubungan yang lebih serius dengan mas Dewa..", ucapan Naia membuat Dewa tidak bisa berkata apapun, dan Naia tetap melanjutkan ucapannya, "Selain itu, aku juga ingin menunjukkan kepada papa bahwa ada orang lain yang bisa melindungi dan memberikan keamanan kepadaku dan aku juga mencintai orang itu.. Dan Alhamdulillah, aku sangat bersyukur, ternyata Tuhan sangat sayang kepadaku, Tuhan selalu mendengar do'aku dan Dia mengatur semuanya untukku. Tuhan membiarkan perasaan cinta ini tumbuh dan berkembang kepada orang yang tepat, orang yang diharapkan papa menjadi pendampingku.." Naia tersenyum dengan wajahnya yang memerah.
Dewa terdiam beberapa saat untuk selanjutnya mengambil nafas panjang "Ternyata ini perasaan sebenarnya Naia kepadaku.." batin Dewa.
"Lalu kalau menurut mas Dewa bagaimana dengan perjodohan ini..?" pertanyaan Naia benar-benar membuat aku terkejut.
Dada Dewa berdebar mendengar pertanyaan Naia,
Deg.. deg.. deg.. deg…
"Kenapa jantungku berdebar seperti ini mendengar pertanyaan Naia..?" tanyaku dalam hati.
Dewa terdiam sesaat sebelum menjawab, "Eeeemmm.. Jujur aku kaget saat mendengar cerita Nuraini, karena ayah dan ibu tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya. Tapi kalau memang perjodohan ini bisa membawa kebahagiaan bagi semua, aku tidak akan menolaknya.. Hanya saja yang menjadi beban pikiranku saat ini, dengan keadaanku sekarang aku aku takut akan menyeret kalian ke dalam masalahku. Aku khawatir tidak bisa memenuhi harapan orang tuamu, memberi perlindungan dan keamanan buat mu.." jawab Dewa.
"Kalau seperti itu, lantas mengapa mas Dewa setuju untuk menjadi pengawalku, bukannya itu juga akan membawaku kedalam masalah mas Dewa..?" tanya Naia.
"Sebenarnya dari awal aku menolak tawaran pak Wira untuk menjadi pengawalmu. Walaupun pak Wira menceritakan latar belakangnya, menawariku gaji yang tinggi, tapi hal itu sama sekali tidak membuatku menerima tawaran beliau untuk menjadi pengawalmu.." jawab Dewa.
"Lalu apa alasan mas Dewa hingga akhirnya mas menerimanya..?" sahut Naia penasaran.
"Ketulusan pak Wira yang terpancar dari mata beliau, ketulusan beliau untuk mempercayaiku menjaga keamanan dan keselamatanmu. Tidak peduli apapun itu akan beliau korbankan demi keamananmu..", Dewa terdiam sesaat sebelum meneruskan ucapannya, "Aku tidak tau apakah keputusanku ini benar atau tidak. Yang pasti aku berjanji kepada pak Wira untuk menjagamu sekalipun harus kehilangan nyawaku.." jawab Dewa.
"Mas Dewa mencintaiku..?" tanya Naia dengan sorot mata yang tajam melihat pupil mata Dewa, seakan ingin mencari sendiri kebenarannya dari dalam diri Dewa,
Dewa pun terkejut dengan pertanyaan Naia yang to the point, "I-iya. Aku mencintaimu.." jawab Dewa tergagap.
"Sejak kapan mas Dewa mencintaiku..?" sahut Naia.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tau. Aku menyadarinya sejak aku bertemu dengan pak Wira, dan berjanji kepada beliau untuk menjagamu dengan nyawaku sebagai taruhannya.." jawab Dewa.
Naia memegang tangan kanan Dewa dan meletakkannya di pipi kirinya, Naia tersenyum penuh makna lalu berkata, "Itu sudah cukup untuk membuatku merasa aman.. Aku akan selalu mendukung apapun yang mas lakukan, aku percaya semua sudah mas persiapkan dan perhitungkan dengan matang..". Naia menatap Dewa dan melanjutkan ucapannya,, "Dan aku percaya mas Dewa tidak akan membiarkan aku berada dalam bahaya.." ucap Naia lalu memejamkan matanya.
Dewa terdiam mendengar ucapan Naia, dia hanya berfikir "Kata-kata yang diucapkan Naia sama seperti yang diucapkan pak Wira.." gumam Dewa dalam hati.
"Untuk saat ini, aku ingin hal ini menjadi rahasia kita berdua.." ucap Dewa membalas senyum Naia.
Sementara itu tanpa disadari oleh mereka berdua, Silvia dan Nuraini terus memperhatikan gerak gerik Dewa dan Naia, hingga keisengan pun mereka lakukan, "Nur.. Hp-hp-hp mana hp..? Cepetan.. Buka kamera ada momen indah yang harus diabadikan.." ucap Silvia.
"Apa Vi..? Eh.. Iya bener.. Kamu juga ambil fotonya.." jawab Nuraini.
"Ini aku lagi rekam.. Kamu yang ambil fotonya.." ucap Silvia.
"Eh.. Nur, nanti saat kita kembali kesana, kita tirukan adegan tadi.." ucap Silvia sambil mengatakan rencananya.
"Sip-sip-sip.. Yuk ah.." jawab Nuraini dengan mengacungkan jempolnya.
Mereka berduapun kembali sambil senyum-senyum. Mengetahui teman-temannya kembali, Naia segera melepas genggaman tangannya dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
"Asik juga ya tempat ini, udaranya dingin bikin suasana syahduuuuu.." ucap Silvia sambil duduk di kursinya.
"Iya bener Vi, bikin suasana hati jadi gimana gitu.." jawab Nuraini.
"Eh Nur, kamu ngrasa dingin gak sik..? Coba deh pegang, pipiku kedinginan butuh kehangatan.." Silvia memperagakan gerakan Naia saat bersama Dewa.
"Udah hangat Vi..?" tanya Nuraini.
Muka Naia memerah melihat ulah Silvia dan Nuriani, "Ih... Kalian ini ya..? Kalian ngintip ya..?" tanya Naia.
"Eh.. Siapa yang intip, kami lihat lah.. Tenang aja Nai, kami udah abadikan kok.." goda Silvia sambil menunjukkan hp nya.
"Kalian ini ya....? Kompak banget kalau ngerjain orang.." ucap Dewa sambil geleng kepala.
Silvia dan Nuraini menggoda Naia hingga wajah Naia merah merona. Raut muka bahagia yang terpancar dari wajah Naia.
Keseruan mereka terhenti saat datang sekelompok anak muda bermotor berjumlah 10 orang, berusia antara 16-18 tahun, memasuki area kafe sambil memainkan gas mereka. Suara berisik knalpot motor mereka membuat tidak nyaman pengunjung kafe.
Brooooomm.. Brooooommm.. Broooonnggg..
Suara khas mesin 250cc yang sangat bising membuat beberapa pelanggan menggerutu. Setelah memarkirkan motornya, merekapun masuk ke dalam kafe dan duduk di meja yang tak jauh dari meja Dewa.
"Malam ini kita kalahkan kelompok Dimas, kita harus balas kekalahan hari minggu kemaren.." ucap salah satu pemuda.
"Yaaa... Harus itu boss. Uang taruhan kemaren harus kita ambil kembali. Sekarang motorku dalam top performa.." sahut lainnya.
Rupanya mereka adalah kelompok anak muda geng motor yang akan melakukan balap liar. Salah satu dari mereka sedang memperhatikan Naia, "Eh.. Ada cewek tuh.. Sebentar aku akan kesana menyapa mereka.." ucap salah satu dari mereka.
Seorang dari mereka berjalan mendekati kursi Naia dan menyapa Naia, "Hai cewek.. Boleh dong kenalan. Aku Bobby.." ucapnya sambil mengulurkan tangannya kepada Naia.
Naia tidak menanggapi uluran tangan Bobby, dia tetap diam sambil mengaitkan kedua jari tangannya tanda dia tidak nyaman.
Salah seorang teman Boby berteriak untuk memamerkan siapa Bobby, "Bob.. Kalau kau gak bisa ajak kenalan, mending keluar aja dari KK bapakmu. Percuma kau jadi anak perwira polisi.." teriak salah satu temannya diikuti tawa teman-temannya yang lain, "Hahahahahaha.."
Bobby 17 tahun, adalah anak seorang perwira menengah polisi. Dia merupakan pemimpin geng motor yang sering melakukan taruhan balap liar dengan geng motor lainnya. Bobby tidak menyerah begitu saja untuk dapat berkenalan dengan Naia, "Oh.. Oke, mungkin tanganku bau oli.. Eeee gimana kalau kalian bertiga gabung sama kami..? Kalian jadi lady kami pas balapan nanti malam, tenang aja setengah hadiahnya buat kalian deh.. Eeeemmmm, atau kalau mau semua hadiahnya juga boleh, asal kalian mau temani aku semalam aja.. Gimana..?" ucapnya sambil berusaha mencolek tangan Naia dan Naia refleks langsung menghindar.
"Mulutmu punya sopan santun gak sih..? Gak diajari sama bapakmu yang perwira itu bagaimana bersopan santun sama orang..?" bentak Naia.
"Idiiiiihhh.. Kamu kalau marah keliatan tambah manis deh.." tangan Bobby berusaha merangkul pundak Naia.
Melihat kelakuan Bobby yang sudah kelewat batas, Dewa langsung berdiri berdiri lalu tangan kirinya dengan cepat memegang tangan Bobby yang akan menyentuh pundak Naia sedangkan tangan kanannya memegang belakang kepala Bobby dan membenturkan kepala Bobby ke meja dengan keras.
Braaaaaaakkkk... Praaaaanggg...
Kepala Bobby tepat mengenai piring kentang goreng hingga pecah. Bobby berteriak kesakitan dengan darah keluar dari kepalanya, "Aaaahhhh.. Aaahhhhhh... Kepalaku berdarah.." teriaknya
"Kamu udah bosan bernafas ya..?" ucap Dewa santai lalu menjambak rambut Bobby dan mendorong dia hingga menabrak meja yang ada di sekitar teman-temannya.
Dewa menyadari bahwa akan terjadi keributan antara dia dan pemuda geng motor itu, "Naia, Silvia, Nur, kalian cepat ke mobil.." ucap Dewa sambil menyerahkan kunci mobil kepada Silvia.
Naia, Silvia dan Nuraini berlari menuju mobil, sedangkan Dewa menuju tempat parkir motor. Sesampai di area parkir motor, Dewa menendang salah satu motor mereka yang paling ujung hingga ambruk satu persatu seperti efek domino. Teman-teman Bobby pun berhamburan keluar, empat orang langsung menyerang dan mengeroyok Dewa, tapi dengan mudahnya Dewa menghindarinya dan membalas serangan mereka dengan tendangan dan pukulan di titik tulang engsel mereka.
Jbuuuuuggg.. Braaaaakkk
Praaaaaakkk.. Kraaaaaakkk..
Jduuuuugg.. Kraaaaaakk... Bruuuuukk..
Keempat pemuda itupun ambruk tak sadarkan diri. Lalu salah satu dari mereka mengambil kayu dan menyerang Dewa,
"Kak awaaaaasss.." teriak Nuraini.
Dewa menendang kayu yang digunakan untuk menyerangnya sehingga kayu itu terlepas dan mengenai kepala pemuda itu sendiri.
"Ayo siapa lagi yang mau maju..?" ucap Dewa menantang.
Tak ada satupun dari mereka yang berani maju lagi. Sementara itu dalam kafe, Bobby sedang menelepon seseorang, mungkin salah satu anak buah bapaknya.
Dewa melihat sekeliling, banyak pengunjung yang merekam aksinya, "Beberapa orang merekam ku, kalau sampai viral bisa gawat.." pikir Dewa.
Setelah menelepon, Bobby berteriak kepada Dewa, "Kau tunggu saja, sebentar lagi abangku kemari. Kau tidak akan selamat, abangku pasti akan menghajarmu.."
Tak lama berselang, datang sebuah mobil Van berwarna hitam dan empat orang turun dari mobil itu. Bobby segera berlari ke arah mereka, salah seorang dari mereka menanyai Bobby, "Siapa yang udah buat kau babak belur seperti ini..? Mana.. Mana orangnya..?" ucapnya dengan emosi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments