Mencari masalah (Bag. 1)

Dengan sangat hati-hati Dewa mengatakan apa yang dirasakannya agar Naia tidak tersinggung, "Eemmm Naia.. Tentang rencana kedua orang tua kita, eemmm, kalau kamu tidak bisa menerimanya dan apabila hal itu membuat kamu tidak bisa menentukan laki-laki yang sesuai dengan keinginanmu, aku akan membantumu untuk bicara dengan pak Wira agar beliau membatalkannya.."

Naia menghembuskan nafas panjang sebelum dia memberikan jawabannya. "Hhhhuuff.. Jujur memang setelah aku mengetahui tentang perjodohan ini, aku sangat marah sama papa dan mama, terlebih aku harus putus dengan cowok yang aku cintai dan harus bersama dengan laki-laki yang bahkan aku belum tau dia seperti apa.. Tapi papa selalu meyakinkanku bahwa laki-laki pilihan papa, selain dia anak teman baik papa, dia pasti bisa melindungi dan memberikan keamanan untukku, karena dia adalah seorang perwira tentara angkatan darat.." ucap Naia datar.

"Lalu kamu menerima saja saat kamu harus putus dengan kekasihmu itu..?" tanya Dewa.

"Aku tidak mempunyai pilihan lain dan hanya pasrah saja dengan keputusan papa. Aku tidak ingin membuat papa dan mama kecewa.." Naia diam sesaat dan menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapanya, "Yaah.. Pada akhirnya aku telah memutuskan, siapapun dia, akan kuterima dengan ikhlas, karena aku yakin tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke jurang kesengsaraan.. Aku hanya bisa yakin papa dan mama melakukan semua ini demi aku juga, untuk kebahagiaanku.." jawab Naia dengan tersenyum.

Tampak ketenangan dan kedewasaan Naia saat dia menjelaskan alasannya. Dewa hanya bisa tersenyum mendengarnya, "Apa kamu tidak berusaha untuk menjalin hubungan lagi dengan cowok lain..? Teman kampus misalnya.." tanya Dewa menyelidik.

"Setelah aku putus dengan cowokku, dan mendengar penjelasan papa, sejak saat itu aku tidak pernah lagi menjalin hubungan serius dengan cowok lain. Aku hanya tidak ingin membuat papa kecewa. Tapi semuanya berubah saat aku melihat mas menghajar para begal di hutan waktu itu. Aku memberanikan diri untuk mencoba menjalin hubungan dengan mas Dewa, dengan cara menjadikan mas sebagai pengawalku, agar aku bisa lebih dekat dengan mas dan menjalin hubungan yang lebih serius dengan mas Dewa..", ucapan Naia membuat Dewa tidak bisa berkata apapun, dan Naia tetap melanjutkan ucapannya, "Selain itu, aku juga ingin menunjukkan kepada papa bahwa ada orang lain yang bisa melindungi dan memberikan keamanan kepadaku dan aku juga mencintai orang itu.. Dan Alhamdulillah, aku sangat bersyukur, ternyata Tuhan sangat sayang kepadaku, Tuhan selalu mendengar do'aku dan Dia mengatur semuanya untukku. Tuhan membiarkan perasaan cinta ini tumbuh dan berkembang kepada orang yang tepat, orang yang diharapkan papa menjadi pendampingku.." Naia tersenyum dengan wajahnya yang memerah.

Dewa terdiam beberapa saat untuk selanjutnya mengambil nafas panjang "Ternyata ini perasaan sebenarnya Naia kepadaku.." batin Dewa.

"Lalu kalau menurut mas Dewa bagaimana dengan perjodohan ini..?" pertanyaan Naia benar-benar membuat aku terkejut.

Dada Dewa berdebar mendengar pertanyaan Naia,

Deg.. deg.. deg.. deg…

"Kenapa jantungku berdebar seperti ini mendengar pertanyaan Naia..?" tanyaku dalam hati.

Dewa terdiam sesaat sebelum menjawab, "Eeeemmm.. Jujur aku kaget saat mendengar cerita Nuraini, karena ayah dan ibu tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya. Tapi kalau memang perjodohan ini bisa membawa kebahagiaan bagi semua, aku tidak akan menolaknya.. Hanya saja yang menjadi beban pikiranku saat ini, dengan keadaanku sekarang aku aku takut akan menyeret kalian ke dalam masalahku. Aku khawatir tidak bisa memenuhi harapan orang tuamu, memberi perlindungan dan keamanan buat mu.." jawab Dewa.

"Kalau seperti itu, lantas mengapa mas Dewa setuju untuk menjadi pengawalku, bukannya itu juga akan membawaku kedalam masalah mas Dewa..?" tanya Naia.

"Sebenarnya dari awal aku menolak tawaran pak Wira untuk menjadi pengawalmu. Walaupun pak Wira menceritakan latar belakangnya, menawariku gaji yang tinggi, tapi hal itu sama sekali tidak membuatku menerima tawaran beliau untuk menjadi pengawalmu.." jawab Dewa.

"Lalu apa alasan mas Dewa hingga akhirnya mas menerimanya..?" sahut Naia penasaran.

"Ketulusan pak Wira yang terpancar dari mata beliau, ketulusan beliau untuk mempercayaiku menjaga keamanan dan keselamatanmu. Tidak peduli apapun itu akan beliau korbankan demi keamananmu..", Dewa terdiam sesaat sebelum meneruskan ucapannya, "Aku tidak tau apakah keputusanku ini benar atau tidak. Yang pasti aku berjanji kepada pak Wira untuk menjagamu sekalipun harus kehilangan nyawaku.." jawab Dewa.

"Mas Dewa mencintaiku..?" tanya Naia dengan sorot mata yang tajam melihat pupil mata Dewa, seakan ingin mencari sendiri kebenarannya dari dalam diri Dewa,

Dewa pun terkejut dengan pertanyaan Naia yang to the point, "I-iya. Aku mencintaimu.." jawab Dewa tergagap.

"Sejak kapan mas Dewa mencintaiku..?" sahut Naia.

"Entahlah, aku sendiri juga tidak tau. Aku menyadarinya sejak aku bertemu dengan pak Wira, dan berjanji kepada beliau untuk menjagamu dengan nyawaku sebagai taruhannya.." jawab Dewa.

Naia memegang tangan kanan Dewa dan meletakkannya di pipi kirinya, Naia tersenyum penuh makna lalu berkata, "Itu sudah cukup untuk membuatku merasa aman.. Aku akan selalu mendukung apapun yang mas lakukan, aku percaya semua sudah mas persiapkan dan perhitungkan dengan matang..". Naia menatap Dewa dan melanjutkan ucapannya,, "Dan aku percaya mas Dewa tidak akan membiarkan aku berada dalam bahaya.." ucap Naia lalu memejamkan matanya.

Dewa terdiam mendengar ucapan Naia, dia hanya berfikir "Kata-kata yang diucapkan Naia sama seperti yang diucapkan pak Wira.." gumam Dewa dalam hati.

"Untuk saat ini, aku ingin hal ini menjadi rahasia kita berdua.." ucap Dewa membalas senyum Naia.

Sementara itu tanpa disadari oleh mereka berdua,  Silvia dan Nuraini terus memperhatikan gerak gerik Dewa dan Naia, hingga keisengan pun mereka lakukan, "Nur.. Hp-hp-hp mana hp..? Cepetan.. Buka kamera ada momen indah yang harus diabadikan.." ucap Silvia.

"Apa Vi..? Eh.. Iya bener.. Kamu juga ambil fotonya.." jawab Nuraini.

"Ini aku lagi rekam.. Kamu yang ambil fotonya.." ucap Silvia.

"Eh.. Nur, nanti saat kita kembali kesana, kita tirukan adegan tadi.." ucap Silvia sambil mengatakan rencananya.

"Sip-sip-sip.. Yuk ah.." jawab Nuraini dengan mengacungkan jempolnya.

Mereka berduapun kembali sambil senyum-senyum. Mengetahui teman-temannya kembali, Naia segera melepas genggaman tangannya dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.

"Asik juga ya tempat ini, udaranya dingin bikin suasana syahduuuuu.." ucap Silvia sambil duduk di kursinya.

"Iya bener Vi, bikin suasana hati jadi gimana gitu.." jawab Nuraini.

"Eh Nur, kamu ngrasa dingin gak sik..? Coba deh pegang, pipiku kedinginan butuh kehangatan.." Silvia memperagakan gerakan Naia saat bersama Dewa.

"Udah hangat Vi..?" tanya Nuraini.

Muka Naia memerah melihat ulah Silvia dan Nuriani, "Ih... Kalian ini ya..? Kalian ngintip ya..?" tanya Naia.

"Eh.. Siapa yang intip, kami lihat lah.. Tenang aja Nai, kami udah abadikan kok.." goda Silvia sambil menunjukkan hp nya.

"Kalian ini ya....? Kompak banget kalau ngerjain orang.." ucap Dewa sambil geleng kepala.

Silvia dan Nuraini menggoda Naia hingga wajah Naia merah merona. Raut muka bahagia yang terpancar dari wajah Naia.

Keseruan mereka terhenti saat datang sekelompok anak muda bermotor berjumlah 10 orang, berusia antara 16-18 tahun, memasuki area kafe sambil memainkan gas mereka. Suara berisik knalpot motor mereka membuat tidak nyaman pengunjung kafe.

Brooooomm.. Brooooommm.. Broooonnggg..

Suara khas mesin 250cc yang sangat bising membuat beberapa pelanggan menggerutu. Setelah memarkirkan motornya, merekapun masuk ke dalam kafe dan duduk di meja yang tak jauh dari meja Dewa.

"Malam ini kita kalahkan kelompok Dimas, kita harus balas kekalahan hari minggu kemaren.." ucap salah satu pemuda.

"Yaaa... Harus itu boss. Uang taruhan kemaren harus kita ambil kembali. Sekarang motorku dalam top performa.." sahut lainnya.

Rupanya mereka adalah kelompok anak muda geng motor yang akan melakukan balap liar. Salah satu dari mereka sedang memperhatikan Naia, "Eh.. Ada cewek tuh.. Sebentar aku akan kesana menyapa mereka.." ucap salah satu dari mereka.

Seorang dari mereka berjalan mendekati kursi Naia dan menyapa Naia, "Hai cewek.. Boleh dong kenalan. Aku Bobby.." ucapnya sambil mengulurkan tangannya kepada Naia.

Naia tidak menanggapi uluran tangan Bobby, dia tetap diam sambil mengaitkan kedua jari tangannya tanda dia tidak nyaman.

Salah seorang teman Boby berteriak untuk memamerkan siapa Bobby, "Bob.. Kalau kau gak bisa ajak kenalan, mending keluar aja dari KK bapakmu. Percuma kau jadi anak perwira polisi.." teriak salah satu temannya diikuti tawa teman-temannya yang lain, "Hahahahahaha.."

Bobby 17 tahun, adalah anak seorang perwira menengah polisi. Dia merupakan pemimpin geng motor yang sering melakukan taruhan balap liar dengan geng motor lainnya. Bobby tidak menyerah begitu saja untuk dapat berkenalan dengan Naia, "Oh.. Oke, mungkin tanganku bau oli.. Eeee gimana kalau kalian bertiga gabung sama kami..? Kalian jadi lady kami pas balapan nanti malam, tenang aja setengah hadiahnya buat kalian deh.. Eeeemmmm, atau kalau mau semua hadiahnya juga boleh, asal kalian mau temani aku semalam aja.. Gimana..?" ucapnya sambil berusaha mencolek tangan Naia dan Naia refleks langsung menghindar.

"Mulutmu punya sopan santun gak sih..? Gak diajari sama bapakmu yang perwira itu bagaimana bersopan santun sama orang..?" bentak Naia.

"Idiiiiihhh.. Kamu kalau marah keliatan tambah manis deh.." tangan Bobby berusaha merangkul pundak Naia.

Melihat kelakuan Bobby yang sudah kelewat batas, Dewa langsung berdiri berdiri lalu tangan kirinya dengan cepat memegang tangan Bobby yang akan menyentuh pundak Naia sedangkan tangan kanannya memegang belakang kepala Bobby dan membenturkan kepala Bobby ke meja dengan keras.

Braaaaaaakkkk... Praaaaanggg...

Kepala Bobby tepat mengenai piring kentang goreng hingga pecah. Bobby berteriak kesakitan dengan darah keluar dari kepalanya, "Aaaahhhh.. Aaahhhhhh... Kepalaku berdarah.." teriaknya

"Kamu udah bosan bernafas ya..?" ucap Dewa santai lalu menjambak rambut Bobby dan mendorong dia hingga menabrak meja yang ada di sekitar teman-temannya.

Dewa menyadari bahwa akan terjadi keributan antara dia dan pemuda geng motor itu, "Naia, Silvia, Nur, kalian cepat ke mobil.." ucap Dewa sambil menyerahkan kunci mobil kepada Silvia.

Naia, Silvia dan Nuraini berlari menuju mobil, sedangkan Dewa menuju tempat parkir motor. Sesampai di area parkir motor, Dewa menendang salah satu motor mereka yang paling ujung hingga ambruk satu persatu seperti efek domino. Teman-teman Bobby pun berhamburan keluar, empat orang langsung menyerang dan mengeroyok Dewa, tapi dengan mudahnya Dewa menghindarinya dan membalas serangan mereka dengan tendangan dan pukulan di titik tulang engsel mereka.

Jbuuuuuggg.. Braaaaakkk

Praaaaaakkk.. Kraaaaaakkk..

Jduuuuugg.. Kraaaaaakk... Bruuuuukk..

Keempat pemuda itupun ambruk tak sadarkan diri. Lalu salah satu dari mereka mengambil kayu dan menyerang Dewa,

"Kak awaaaaasss.." teriak Nuraini.

Dewa menendang kayu yang digunakan untuk menyerangnya sehingga kayu itu terlepas dan mengenai kepala pemuda itu sendiri.

"Ayo siapa lagi yang mau maju..?" ucap Dewa menantang.

Tak ada satupun dari mereka yang berani maju lagi. Sementara itu dalam kafe, Bobby sedang menelepon seseorang, mungkin salah satu anak buah bapaknya.

Dewa melihat sekeliling, banyak pengunjung yang merekam aksinya, "Beberapa orang merekam ku, kalau sampai viral bisa gawat.." pikir Dewa.

Setelah menelepon, Bobby berteriak kepada Dewa, "Kau tunggu saja, sebentar lagi abangku kemari. Kau tidak akan selamat, abangku pasti akan menghajarmu.."

Tak lama berselang, datang sebuah mobil Van berwarna hitam dan empat orang turun dari mobil itu. Bobby segera berlari ke arah mereka, salah seorang dari mereka menanyai Bobby, "Siapa yang udah buat kau babak belur seperti ini..? Mana.. Mana orangnya..?" ucapnya dengan emosi.

Episodes
1 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3 Akhirnya sampai juga..
4 Kehidupan Baru (Bag. 1)
5 Kehidupan baru (Bag. 2)
6 Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7 Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8 Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9 Menjadi pengawal (Bag. 1)
10 Menjadi pengawal (Bag. 2)
11 Menapak jalan spiritual
12 Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13 Melawan preman (Bag. 1)
14 Melawan preman (Bag. 2)
15 Pertemuan tak terduga
16 Hadiah kecil
17 Mencari masalah (Bag. 1)
18 Mencari masalah (Bag. 2)
19 Mencari masalah (Bag. 3)
20 Trio Wajan
21 Secercah harapan (Bag. 1)
22 Secercah harapan (Bag. 2)
23 Beraksi diam-diam
24 Sebuah keyakinan
25 Ujian buat Niko
26 Satu kepingan puzzle
27 Kompetisi tarung bebas
28 Berhasil atau gagal
29 Simpan penasaranmu
30 Pembuktian
31 Menjadi petarung
32 Belanja di pasar
33 Sepeda untuk Kartika
34 Semangat gotong royong
35 Tiga petarung Lerengwilis
36 Raja Yama
37 Rencana penculikan Naia
38 Mencari Sang Sniper
39 Kejujuran Santoso
40 Kekuatan kegelapan
41 Menyelamatkan Naia
42 Rasa yang terpendam
43 Sang Penguasa Kegelapan
44 Kebahagiaan kita
45 Masa lalu Silvia
46 Membagi hasil taruhan
47 Perguruan Taring Harimau
48 Ilmu Pengawak Wojo
49 Wanita tercantik
50 Amplop putih
51 Bank of Asia (Bag. 1)
52 Bank of Asia (Bag. 2)
53 Berlatih Tenaga Dalam
54 Catatan sang Kolonel
55 Bertemu dengan Kepala Desa
56 Menata rumah
57 Waktunya beraksi
58 Menempati rumah baru
59 Cidera yang sama
60 Aku setuju dengannya
61 Mungkin ini saatnya
62 Sambutan hangat
63 Penculikan Naia
64 Melacak keberadaan Naia
65 Api Dewi Agni
66 Kamu telah gagal
67 Sampah yang sebenarnya
68 Aku ingin bertobat, tapi..
69 Selamat Berpuasa
70 Darimana saja..?
71 Misi mencari Tiara
72 Apakah dia setuju..?
73 Sang Bathari
74 Tanah sangar
75 Dimana kesayanganku..?
76 Bangkitnya sang Dewi
77 Dasanama
78 Oknum sampah
79 Gandarwa Raja (Bag. 1)
80 Gandarwa Raja (Bag. 2)
81 Menolong Kepala Daerah
82 Siluman Kera Merah
83 Rencana Sang Bupati
84 Kena batunya
85 MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86 Aksara Caraka
87 Sastra Jendra Hayuningrat
88 Bantuan sang Guru
89 Kembali ke kota AB
90 Menyerahkan Laporan
91 Peringatan buatmu
92 Menjadi murid
93 Kelompok tersembunyi
94 Mitra Desa
95 Kepergian Sang Wapres
96 Biar aku menyelidikinya
97 Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98 Kabar bahagia
99 Ratu Bidadari
100 Perjuangan terberat
101 Aku menunggumu
102 Terimakasih guru..
103 Tarian Kamatantra
104 Peresmian pusat pelatihan
105 Pasukan Dewa
106 Undangan dari Walikota
107 Seorang ayah
108 Segera Temukan Mereka..!!
109 Kita Sambut Mereka
110 Kekuatan yang menghilang
111 Bawa mereka bertemu denganku
112 Permintaan Suko
113 Ceritakan rencana mereka
114 Bertemu kembali
115 Akui semua kejahatanmu
116 Meminta bantuan
117 Kekuatan tersembunyi Baros
118 Mencari bukti kejahatan
119 Akhirnya kutemukan kalian
120 Akhir Perjalanan
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3
Akhirnya sampai juga..
4
Kehidupan Baru (Bag. 1)
5
Kehidupan baru (Bag. 2)
6
Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7
Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8
Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9
Menjadi pengawal (Bag. 1)
10
Menjadi pengawal (Bag. 2)
11
Menapak jalan spiritual
12
Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13
Melawan preman (Bag. 1)
14
Melawan preman (Bag. 2)
15
Pertemuan tak terduga
16
Hadiah kecil
17
Mencari masalah (Bag. 1)
18
Mencari masalah (Bag. 2)
19
Mencari masalah (Bag. 3)
20
Trio Wajan
21
Secercah harapan (Bag. 1)
22
Secercah harapan (Bag. 2)
23
Beraksi diam-diam
24
Sebuah keyakinan
25
Ujian buat Niko
26
Satu kepingan puzzle
27
Kompetisi tarung bebas
28
Berhasil atau gagal
29
Simpan penasaranmu
30
Pembuktian
31
Menjadi petarung
32
Belanja di pasar
33
Sepeda untuk Kartika
34
Semangat gotong royong
35
Tiga petarung Lerengwilis
36
Raja Yama
37
Rencana penculikan Naia
38
Mencari Sang Sniper
39
Kejujuran Santoso
40
Kekuatan kegelapan
41
Menyelamatkan Naia
42
Rasa yang terpendam
43
Sang Penguasa Kegelapan
44
Kebahagiaan kita
45
Masa lalu Silvia
46
Membagi hasil taruhan
47
Perguruan Taring Harimau
48
Ilmu Pengawak Wojo
49
Wanita tercantik
50
Amplop putih
51
Bank of Asia (Bag. 1)
52
Bank of Asia (Bag. 2)
53
Berlatih Tenaga Dalam
54
Catatan sang Kolonel
55
Bertemu dengan Kepala Desa
56
Menata rumah
57
Waktunya beraksi
58
Menempati rumah baru
59
Cidera yang sama
60
Aku setuju dengannya
61
Mungkin ini saatnya
62
Sambutan hangat
63
Penculikan Naia
64
Melacak keberadaan Naia
65
Api Dewi Agni
66
Kamu telah gagal
67
Sampah yang sebenarnya
68
Aku ingin bertobat, tapi..
69
Selamat Berpuasa
70
Darimana saja..?
71
Misi mencari Tiara
72
Apakah dia setuju..?
73
Sang Bathari
74
Tanah sangar
75
Dimana kesayanganku..?
76
Bangkitnya sang Dewi
77
Dasanama
78
Oknum sampah
79
Gandarwa Raja (Bag. 1)
80
Gandarwa Raja (Bag. 2)
81
Menolong Kepala Daerah
82
Siluman Kera Merah
83
Rencana Sang Bupati
84
Kena batunya
85
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86
Aksara Caraka
87
Sastra Jendra Hayuningrat
88
Bantuan sang Guru
89
Kembali ke kota AB
90
Menyerahkan Laporan
91
Peringatan buatmu
92
Menjadi murid
93
Kelompok tersembunyi
94
Mitra Desa
95
Kepergian Sang Wapres
96
Biar aku menyelidikinya
97
Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98
Kabar bahagia
99
Ratu Bidadari
100
Perjuangan terberat
101
Aku menunggumu
102
Terimakasih guru..
103
Tarian Kamatantra
104
Peresmian pusat pelatihan
105
Pasukan Dewa
106
Undangan dari Walikota
107
Seorang ayah
108
Segera Temukan Mereka..!!
109
Kita Sambut Mereka
110
Kekuatan yang menghilang
111
Bawa mereka bertemu denganku
112
Permintaan Suko
113
Ceritakan rencana mereka
114
Bertemu kembali
115
Akui semua kejahatanmu
116
Meminta bantuan
117
Kekuatan tersembunyi Baros
118
Mencari bukti kejahatan
119
Akhirnya kutemukan kalian
120
Akhir Perjalanan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!