Menapak jalan spiritual

Dewa duduk bersila di lantai kamarnya lalu membuka dan mulai membaca kitab Kalimasada.

"Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, ora ono Pangeran, anging Ingsun Sajatine Dhat Kang Maha suci anglimputi ing sipat Ingsun, anartani ing asman Ingsun, amratandhani ing af’al Ingsun. Sajatine Ingsun Dat Kang Amurba Amisesa kang kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi padha sanalika, sampurna saka kodrat Ingsun, ing kono wus kanyatan pratandhaning apngalIngsun kang minangka bêbukaning iradatIngsun. Kang dhingin Ingsun anitahake Kayu aran Sajaratulyakin tumuwuh ing sajroning alam Ngadammakdum Ajali Abadi. Nuli Cahya aran Nur Muhammad, nuli Kaca aran Mirhatulkayai, nuli Nyawa aran Roh Ilapi, nuli Damar aran Kandil, nuli Sêsotya aran Darah, nuli Dhindhing Jalal aran Kijab. Iku kang minangka warananing Kalarat Ingsun………"

Setelah selesai membaca satu bait, Dewa memejamkan mata dan mulai bermeditasi. Dia meresapi dan memulai memahami maksud disetiap kata, disetiap kalimat yang tertulis di dalam bait kitab Kalimasada tersebut. Dewa merasakan getaran, gemuruh, gejolak di dalam tubuhnya yang seakan-akan ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam tubuhnya. Dewa berkonsentrasi mengatur nafasnya, mengatur tiap tarikan dan hembusan nafas sesuai dengan wejangan mbah Sastro. Setelah beberapa saat, gejolak dan gemuruh yang ada di tubuhnya berangsung-angsur hilang hanya tinggal getaran halus di dalam jantungnya mengalir memenuhi nadinya. Dewa merasakan ketenangan dan kedamaian meliputi seluruh tubuh dan jiwanya.

Dewa begitu menikmati sensasi ketenangan dan kedamaian yang dia rasakan, "Apa ini..? Belum pernah aku merasakan kedamaian dan ketenangan seperti ini sebelumnya.." ucapnya dalam hati.

Tiba-tiba keadaan disekitarnya gulap gulita, dia tidak bisa melihat dan merasakan apapun kecuali dirinya sendiri, dan yang ada di dalam tubuhnya, "Aku bisa merasakan aliran udara yang masuk dan keluar paru-paruku, aku bisa merasakan getaran halus di dalam jantungku.." gumamnya dalam hati. Dalam keadaan tenang itu, tiba-tiba Dewa melihat seberkas cahaya berwarna putih mendekatinya dan menghantam tubuhnya, sehingga membuat dia kembali pada kesadarannya. Perlahan Dewa membuka mata dan dia mendapati dirinya berkeringat sangat banyak, hingga bajunya basah kuyup oleh keringat. Dewa melirik jam dinding yang tertempel di dinding kamarnya, "Hahhh.. tidak terasa dua jam lebih aku bermeditasi.." gumamnya dalam hati.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku, jelas-jelas aku merasakan ada sinar menghantam dadaku tapi tidak terasa sakit di tubuhku.. Lebih baik aku bertanya saja ke mbah Sastro.." gumamnya keheranan 

Dewa segera menuju kediaman mbah Sastro sesaat setelah dia membersihkan badannya untuk menceritakan pengalaman pertamanya tersebut.

Setelah bertemu dengan mbah Sastro, Dewa menceritakan pengalamannya tersebut kepada beliau, "Begitulah yang aku alami mbah.." Dewa mengakhiri ceritanya.

Mbah Sastro diam untuk beberapa saat setelah mendengar cerita Dewa. Beliau menarik nafas panjang lalu menanggapi cerita Dewa, "Pengalaman spiritual setiap orang akan sangat berbeda satu dengan lainnya.. Perbedaan itu disebabkan karena level pemahaman setiap orang juga berbeda. Tidak ada yang salah dengan itu semua, karena masing-masing mempunyai prosesnya sendiri.. Yang terpenting adalah hasil akhirnya sama yaitu merasakan kedamaian dan ketenangan karena dapat menyatu dengan semesta, menyatu dengan Sang Pemberi Hidup dan Kehidupan.." jelas mbah Sastro.

Dewa mendengarkan penjelasan mbah Sastro dengan seksama. Lalu dia bertanya, "Lalu selanjutnya apa yang harus aku lakukan mbah..?"

"Lanjutkan saja mempelajari kitab Kalimasada itu. Ingat bertahap dan jangan terburu-buru.. Terus lebih baik Nak Dede berlatih di goa. Dengan berlatih di tempat sepi, akan memperkuat jiwa dan persepsimu.." jawab mbah Sastro.

Waktu berlalu dengan cepat, Tidak terasa adzan magrib sudah berkumandang, "Mari kita ke musholla, kita sholat berjamaah.. Setelah sholat isya' nak Dede bisa pergi ke goa dan melanjutkan mempelajari kitab itu.." ucap mbah Sastro dan Dewa menjawab dengan anggukan.

*****

Setelah sholat isya' Dewa berangkat menuju goa yang ditunjukkan mbah Sastro sebelumnya. Jalan yang gelap tidak menyurutkan niatnya untuk mempelajari kitab Kalimasada, "Aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Tidak jarang aku melaksanakan misi pada malam hari menembus gunung dan hutan.." gumamnya dalam hati.

Gelang yang diberikan mbah Sastro sangat membantu Dewa menunjukkan jalan ke goa. Gelang itu akan berputar ke kanan kalau jalan kekanan yang harus dilalui atau sebaliknya. Dewa langsung memasuki goa dan menyalakan damar yang ada di dinding goa. Dia duduk bersila di batu persegi dan mulai membuka kitab Kalimasada dan membaca isinya. Tidak lagi ada gemuruh dan gejolak di dalam tubuhnya saat dia membaca isi kitab itu. Dewa mulai bermeditasi memasuki alam hening yang ada di dalam pusat hatinya.

Dewa merasa seperti memasuki lorong waktu yang sangat panjang dan tiba di suatu tempat yang gelap gulita. Sama seperti sebelumnya, dia hanya bisa melihat dan merasakan dirinya sendiri, merasakan udara yang masuk dan keluar paru-paru, merasakan getaran halus di jantungnya. Dewa merasakan ketenangan dan kedamaian jauh di dalam hatinya. Disaat Dewa berada di puncak ketenangan dan kedamaian, tiba-tiba ada suara yang sangat halus tapi jelas terdengar oleh Dewa.

"Siapa aku..? Darimana aku..? Mengapa aku disini..? Dan mau kemana aku akan pergi..?"

Kalimat itu terdengar sangat jelas dan berulang-ulang di telinganya. Dewa berusaha mencari sumber suara itu, lalu cahaya putih kembali menghantam dadanya dan membawa Dewa ke dalam kesadaran jaganya. Dewa membuka mata dan melihat jam tangannya menunjukkan waktu jam 3 pagi, "Hah..? Beneran ini jam 3 pagi..? Perasaan baru sebentar aku duduk disini..? Ahhh sudahlah, sebaiknya aku akan pulang dulu. Besok kulanjutkan lagi.." pikir Dewa.

Dewa keluar goa dan berlari menuruni gunung untuk pulang. Adzan shubuh pun berkumandang ketika dia baru saja sampai di depan pintu rumahnya, "Setelah mandi dan sholat shubuh aku akan memejamkan mataku sebentar untuk memulihkan diriku.." gumam Dewa.

Dewa terlelap, hingga dia terbangun saat mendengar pintu rumahnya diketuk.

Tokk.. tokk.. tokk..

"Assalamu'alaikum.."

Dewa melihat jam tangannya menunjukkan angka 08:15, "Sudah siang ternyata. Siapa yang mengetok pintu ya..?" ucapnya dalam hati.

"Assalamu'alaikum.. Mas Dede..."

"Seperti suara Naia..? Ada apa dia kesini..?" gumam Dewa penasaran.

"Wa'alaikumsalam.." jawabnya sambil membuka pintu.

"Ih.. Baru bangun.." ucap Naia.

"Oh.. Ada apa Naia..? Tumben pagi-pagi kesini..?"

"Masuk gih.. Silahkan duduk dulu, aku ke kamar mandi dulu.." jawab Dewa lalu pergi ke kamar mandi.

Setelah beberapa saat Dewa keluar sambil membawa teh dan kopi, "Sama siapa kesini..? Naik apa..?"

"Sendirian mas.. Ini aku bawakan sarapan buat mas Dede, sekalian aku numpang makan disini.. Hihihi.." ucap Naia.

"Eh.. Ternyata baik juga ya nona boss, pagi-pagi pengawal udah dikasih sarapan.. Hehehehhe?" ucap Dewa bercanda.

"Baru tau ya kalau aku itu baik..? Hihihi..." jawab Naia.

"Loh kok sendiri gak sama Silvia..?" tanya Dewa basa-basi.

"Kok yang ditanyain Silvia sih..? Yang ada di sini gak ditanyain..?" ucap Naia lalu menggembungkan pipinya.

Dewa hanya menggelengkan kepala melihat reaksi Naia, "Hadeehhh... Kok jadi ribet gini..? Tinggal jawab aja lagi di atas pohon apa di atas genteng atau dimana gitu kan bisa..?"

"Heemmm.. Temanku itu gak cuma Silvia.. Ada Risa, Nur, ada banyak tuh, tapi yang ditanya cuma Silvia aja..? Kok gak ditanya sekalian mereka..? Apa karena Silvia itu lebih cantik, lebih putih dari mereka jadi cuma Silvia aja yang ditanyakan..?" ucap Naia cemberut.

"Kalau aku tanya semuanya, terus kapan makannya non..? Sekarang makan aja lah, gak jadi tanya deh.." jawab Dewa

*****

Sementara itu di rumah Suwarno tampak ramai. Suwarno bersama Wawan memanggil beberapa anak buahnya dan berkumpul di ruang tamu, "Sudah dapat informasi siapa yang membuat Wawan seperti ini..?" tanya Suwarno.

"Sudah boss, menurut informasi namanya Dede, dia tinggal di dusun Keramat, tapi yang mana rumahnya masih belum diketahui bos.." jawab Komeng.

"Dusun Keramat..? Sial, kalau kita kesana, orang tua itu pasti tidak akan tinggal diam. Dia selalu saja menganggu urusanku.." ucap Suwarno geram.

"Pak, kita pancing saja dia keluar.. Kalau mahasiswa itu kita ganggu, dia pasti akan keluar dari sana.." ucap Wawan.

"Goblok..!! Otakmu dimana hah..?! Kalau melibatkan mahasiswa, yang pasti mereka akan melapor, aparat desa akan ikut campur dan akan melibatkan polisi juga.. Kalau gak karena pikiran mesummu itu, kau juga gak akan menjadi seperti ini.." ucap Suwarno marah.

"Terus kita harus bagaimana boss..?" tanya Komeng.

"Meng.. Kau hubungi kelompok Karto. Biar mereka yang menyelesaikan pemuda itu.." jawab Suwarno.

"E-Eeeeee... Tapi boss, kelompok Karto sekarang sedang ditahan sama kepolisian karena kasus begal di alas Carupan.. Dan yang buat aku heran, saat ditangkap, mereka semua sedang tergeletak di pinggir jalan kawasan alas Carupan dalam kondisi yang mengenaskan. Karto dan anak buahnya mengalami patah tulang tangan dan kaki.." ucap Komeng.

"Keparaaaattt..!! Bagaimana bisa..? Siapa orang yang melakukannya..?" ucap Suwarno geram.

"Menurut informasi sampai saat ini polisi juga belum menemukan pelakunya boss.." jawab Komeng.

Mendengar jawaban Komeng, Suwarno menjadi semakin emosi, "Aaaaaaahh.. Dasar tidak berguna..!! Goblok semuanya..!! Wan, kau hubungi Loreng. Biar dia yang menghabisi pemuda itu.."

"Sekarang kalian bubar. Jangan melakukan apapun, tunggu saja sampai Loreng datang..!!" perintah Suwarno dengan emosi.

*****

Sementara itu, Naia baru saja sampai di basecamp disambut oleh Silvia, "Eh.. Darimana Naia sayang, pagi-pagi udah ngilang aja .? Eee.. kuperhatikan dari semalam kamu senyum-senyum terus..?" tanya Silvia.

"Dari rumah mas Dede antar sarapan.."

"Ooohhhh.. Pantesan senyumnya jadi merekah. Jadi barusan ketemu mas pengawal ya..?" ledek Silvia

"Iiihh.. Apaan sih..? Tadi itu mumpung aku beli makan, sekalian aja bungkuskan buat dia..?" jawab Naia.

"Ooo jadi begitu.. Nai, Kamu jatuh cinta sama mas pengawal...?" tanya Silvia serius.

Naia terkejut dengan pertanyaan Silvia, mukanya merah karena malu, "Eh.. Apaan sih..? Ya enggak lah.. Memang kalau jatuh cinta kenapa..? Gak boleh ya..?" jawab Naia.

"Syukur deh kalau kamu gak jatuh cinta sama dia.. Ya gak pa pa sih.. Gak ada yang ngelarang juga.." jawab Silvia enteng

"Kok syukur..? Eeemmmm... Jangan-jangan kamu lagi yang jatuh cinta sama dia.." ucap Naia.

"Eeemmm.. Emang kenapa kalau aku jatuh cinta sama dia, gak boleh ya..?" tanya Silvia.

"Eh.. Itu kan pertanyaanku tadi..? Gak kreatif ah.." protes Naia.

"Ya enggak lah Nai.. Mana mungkin aku ngerebut cinta sahabat terbaikku.. Gak usah mengelak, walaupun kamu bilang enggak, tapi aku lebih tau apa yang ada di pikiranmu.. Tenang aja, aku akan selalu mendukungmu.." ucap Silvia.

"Ih.. Apaan sih kamu Vi..? Udah kayak sinetron aja.. Biasanya kalau di sinetron habis muji-muji gini ujung-ujungnya pinjem duit.. Weeeekk.." goda Naia.

"Hahahahaha..." merekapun tertawa.

*****

Sementara itu, Dewa berlari menyusuri jalan setapak di gunung Wilis. Dia memang sengaja memilih rute pegunungan untuk melatih otot kaki, kecepatan, ketangkasan dan nafasnya, "Rute jalan yang naik turun serta berbatu membuat andrenalinku terpompa sehingga aku semakin semangat untuk berlari.." gumam Dewa dalam hati.

Episodes
1 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3 Akhirnya sampai juga..
4 Kehidupan Baru (Bag. 1)
5 Kehidupan baru (Bag. 2)
6 Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7 Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8 Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9 Menjadi pengawal (Bag. 1)
10 Menjadi pengawal (Bag. 2)
11 Menapak jalan spiritual
12 Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13 Melawan preman (Bag. 1)
14 Melawan preman (Bag. 2)
15 Pertemuan tak terduga
16 Hadiah kecil
17 Mencari masalah (Bag. 1)
18 Mencari masalah (Bag. 2)
19 Mencari masalah (Bag. 3)
20 Trio Wajan
21 Secercah harapan (Bag. 1)
22 Secercah harapan (Bag. 2)
23 Beraksi diam-diam
24 Sebuah keyakinan
25 Ujian buat Niko
26 Satu kepingan puzzle
27 Kompetisi tarung bebas
28 Berhasil atau gagal
29 Simpan penasaranmu
30 Pembuktian
31 Menjadi petarung
32 Belanja di pasar
33 Sepeda untuk Kartika
34 Semangat gotong royong
35 Tiga petarung Lerengwilis
36 Raja Yama
37 Rencana penculikan Naia
38 Mencari Sang Sniper
39 Kejujuran Santoso
40 Kekuatan kegelapan
41 Menyelamatkan Naia
42 Rasa yang terpendam
43 Sang Penguasa Kegelapan
44 Kebahagiaan kita
45 Masa lalu Silvia
46 Membagi hasil taruhan
47 Perguruan Taring Harimau
48 Ilmu Pengawak Wojo
49 Wanita tercantik
50 Amplop putih
51 Bank of Asia (Bag. 1)
52 Bank of Asia (Bag. 2)
53 Berlatih Tenaga Dalam
54 Catatan sang Kolonel
55 Bertemu dengan Kepala Desa
56 Menata rumah
57 Waktunya beraksi
58 Menempati rumah baru
59 Cidera yang sama
60 Aku setuju dengannya
61 Mungkin ini saatnya
62 Sambutan hangat
63 Penculikan Naia
64 Melacak keberadaan Naia
65 Api Dewi Agni
66 Kamu telah gagal
67 Sampah yang sebenarnya
68 Aku ingin bertobat, tapi..
69 Selamat Berpuasa
70 Darimana saja..?
71 Misi mencari Tiara
72 Apakah dia setuju..?
73 Sang Bathari
74 Tanah sangar
75 Dimana kesayanganku..?
76 Bangkitnya sang Dewi
77 Dasanama
78 Oknum sampah
79 Gandarwa Raja (Bag. 1)
80 Gandarwa Raja (Bag. 2)
81 Menolong Kepala Daerah
82 Siluman Kera Merah
83 Rencana Sang Bupati
84 Kena batunya
85 MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86 Aksara Caraka
87 Sastra Jendra Hayuningrat
88 Bantuan sang Guru
89 Kembali ke kota AB
90 Menyerahkan Laporan
91 Peringatan buatmu
92 Menjadi murid
93 Kelompok tersembunyi
94 Mitra Desa
95 Kepergian Sang Wapres
96 Biar aku menyelidikinya
97 Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98 Kabar bahagia
99 Ratu Bidadari
100 Perjuangan terberat
101 Aku menunggumu
102 Terimakasih guru..
103 Tarian Kamatantra
104 Peresmian pusat pelatihan
105 Pasukan Dewa
106 Undangan dari Walikota
107 Seorang ayah
108 Segera Temukan Mereka..!!
109 Kita Sambut Mereka
110 Kekuatan yang menghilang
111 Bawa mereka bertemu denganku
112 Permintaan Suko
113 Ceritakan rencana mereka
114 Bertemu kembali
115 Akui semua kejahatanmu
116 Meminta bantuan
117 Kekuatan tersembunyi Baros
118 Mencari bukti kejahatan
119 Akhirnya kutemukan kalian
120 Akhir Perjalanan
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3
Akhirnya sampai juga..
4
Kehidupan Baru (Bag. 1)
5
Kehidupan baru (Bag. 2)
6
Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7
Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8
Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9
Menjadi pengawal (Bag. 1)
10
Menjadi pengawal (Bag. 2)
11
Menapak jalan spiritual
12
Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13
Melawan preman (Bag. 1)
14
Melawan preman (Bag. 2)
15
Pertemuan tak terduga
16
Hadiah kecil
17
Mencari masalah (Bag. 1)
18
Mencari masalah (Bag. 2)
19
Mencari masalah (Bag. 3)
20
Trio Wajan
21
Secercah harapan (Bag. 1)
22
Secercah harapan (Bag. 2)
23
Beraksi diam-diam
24
Sebuah keyakinan
25
Ujian buat Niko
26
Satu kepingan puzzle
27
Kompetisi tarung bebas
28
Berhasil atau gagal
29
Simpan penasaranmu
30
Pembuktian
31
Menjadi petarung
32
Belanja di pasar
33
Sepeda untuk Kartika
34
Semangat gotong royong
35
Tiga petarung Lerengwilis
36
Raja Yama
37
Rencana penculikan Naia
38
Mencari Sang Sniper
39
Kejujuran Santoso
40
Kekuatan kegelapan
41
Menyelamatkan Naia
42
Rasa yang terpendam
43
Sang Penguasa Kegelapan
44
Kebahagiaan kita
45
Masa lalu Silvia
46
Membagi hasil taruhan
47
Perguruan Taring Harimau
48
Ilmu Pengawak Wojo
49
Wanita tercantik
50
Amplop putih
51
Bank of Asia (Bag. 1)
52
Bank of Asia (Bag. 2)
53
Berlatih Tenaga Dalam
54
Catatan sang Kolonel
55
Bertemu dengan Kepala Desa
56
Menata rumah
57
Waktunya beraksi
58
Menempati rumah baru
59
Cidera yang sama
60
Aku setuju dengannya
61
Mungkin ini saatnya
62
Sambutan hangat
63
Penculikan Naia
64
Melacak keberadaan Naia
65
Api Dewi Agni
66
Kamu telah gagal
67
Sampah yang sebenarnya
68
Aku ingin bertobat, tapi..
69
Selamat Berpuasa
70
Darimana saja..?
71
Misi mencari Tiara
72
Apakah dia setuju..?
73
Sang Bathari
74
Tanah sangar
75
Dimana kesayanganku..?
76
Bangkitnya sang Dewi
77
Dasanama
78
Oknum sampah
79
Gandarwa Raja (Bag. 1)
80
Gandarwa Raja (Bag. 2)
81
Menolong Kepala Daerah
82
Siluman Kera Merah
83
Rencana Sang Bupati
84
Kena batunya
85
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86
Aksara Caraka
87
Sastra Jendra Hayuningrat
88
Bantuan sang Guru
89
Kembali ke kota AB
90
Menyerahkan Laporan
91
Peringatan buatmu
92
Menjadi murid
93
Kelompok tersembunyi
94
Mitra Desa
95
Kepergian Sang Wapres
96
Biar aku menyelidikinya
97
Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98
Kabar bahagia
99
Ratu Bidadari
100
Perjuangan terberat
101
Aku menunggumu
102
Terimakasih guru..
103
Tarian Kamatantra
104
Peresmian pusat pelatihan
105
Pasukan Dewa
106
Undangan dari Walikota
107
Seorang ayah
108
Segera Temukan Mereka..!!
109
Kita Sambut Mereka
110
Kekuatan yang menghilang
111
Bawa mereka bertemu denganku
112
Permintaan Suko
113
Ceritakan rencana mereka
114
Bertemu kembali
115
Akui semua kejahatanmu
116
Meminta bantuan
117
Kekuatan tersembunyi Baros
118
Mencari bukti kejahatan
119
Akhirnya kutemukan kalian
120
Akhir Perjalanan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!