Kehidupan baru (Bag. 2)

Naia dan Risa mundur untuk menghindari Wawan. Tapi Wawan terus melangkah maju ke arah Naia. Tubuh Naia dan Risa bergetar karena ketakutan. Muncul penyesalan dalam diri Naia karena tidak mengikuti omongan orang tuanya, "Tau gini aku ikuti aja omongan papa buat didampingi pengawal.." gumam Naia dalam hati.

Orang-orang hanya melihat saja tanpa ada yang berani membantu karena Wawan adalah anak Suwarno mantan kepala desa yang sangat berpengaruh dan ditakuti di desa Lerengwilis, dia terkenal kejam dan raja tega. Suwarno tidak akan segan-segan menghajar bahkan membunuh siapapun yang menjadi musuhnya. Suwarno adalah mantan tentara angkatan laut berpangkat Kolonel. Dia dipecat dari tentara karena terlibat kasus kriminal. Setelah dipecat dari militer, Suwarno banyak menjalani bisnis kotor seperti perjudian, narkotika dan prostitusi. Wawan sudah pasti mengikuti apa yang orang tuanya lakukan, selain itu dia juga berlatih tinju sehingga tidak ada satupun pemuda di Lerengwilis yang berani berkelahi dengan dia.

Mata Wawan terfokus pada tubuh dan kecantikan Naia. Wawan melihat Naia dari ujung rambut sampai ujung kaki Naia, dia terus mendekati Naia sambil mengoceh dan berusaha melecehkan Naia, "Eh.. Kalian mau kemana..? Ternyata cantik juga ya kamu kalau dilihat lebih dekat.. Heemmmmmh wangi lagi.. Mulus juga tuh kulitnya.." tangan Wawan berusaha menyentuh pipi Naia.

Naia menghindari tangan Wawan, merasa dilecehkan, Naia berteriak mengumpat Wawan, "Bajingan..!! Aku akan laporkan kamu ke polisi kalau kau berani menyentuhku.."

Orang yang berada di sekitar warungpun hanya bisa melihat dan berkomentar, "Wah.. Sii brengsek itu bikin ulah lagi.." ucap salah satu pengunjung.

"Iya, kasihan mereka. Lagian ngapain sih mereka cari masalah sama Wawan..?" sahut lainnya.

Mendengar teriakan Naia, Dewa melihat keluar warung, "Sebenarnya kalau bukan mendengar suara Naia, aku juga malas untuk ikut campur.. Bagaimanapun aku tidak ingin mencari musuh dan menjadi perhatian orang lain.." gumam Dewa dalam hati.

Dewa segera keluar dari warung dan dengan cepat dia menjentikkan rokoknya ke wajah Wawan dan tepat mengenai pipinya. Wawan terkejut lalu dia mengumpat, "Asuuuuu..!! Panaaaasss... Panaaaasss..!!" teriak Wawan sambil mengusap pipinya.

Wawan menoleh kekanan kiri sambil berteriak marah, "Bangsaatt..!! Siapa yang melakukan ini..?! 

Dewa berjalan dengan santai ke arah Wawan sambil berkata, "Lebih baik kamu jangan ganggu mereka, dasar sampah kalian ini, mending kalian ngepel jalan tuh lebih manfaat.."

Mata Naia berbinar ketika melihat Dewa, dia tersenyum lega, "Mas Dede..... Alhamdulillah aku selamat.."

Sementara itu, orang-orang yang berada di dalam warung melihat apa yang dilakukan Dewa dengan kasihan, "Mak Yem, siapa pemuda itu..? Dia orang baru ya..? Dia gak tau sedang buat masalah sama siapa..?" tanya salah satu pelanggan.

"Waduuuhh.. Kasihan anak-anak itu.." sahut lainnya

"Aku yo gak ngerti siapa pemuda itu.. Dia baru pertama kali datang ke warungku, cuma sarapan sama ngopi disini.." sahut mak Yem pemilik warung.

Mendengar jawabanku, Wawan menjadi semakin emosi, dan langsung menyerang Dewa dengan tinjunya sambil berteriak, "Bangsaaaatt..!! Modaaaaarrr kauuu...!!" Wawan mengayunkan tinjunya mengarah ke wajah Dewa.

Sebagai anggota pasukan elit, tentunya dengan sangat mudah Dewa menangkap tinju Wawan..

Ctaaaaaaaaapp..

Dia mencengkeram kepalan tangan Wawan dengan sangat kuat, sedangkan Wawan berusaha dengan keras melepas kepalannya dari cengkraman tangan Dewa, tapi semakin dia berusaha melepas, Dewa mencengkram lebih kuat lagi, hingga terdengar suara tulang tangan Wawan saat Dewa memperkuat cengkramannya yang membuat Wawan kesakitan

Krreetaakkkk.. Krrreeteeekkk...

Wawan berteriak kesakitan, "A-aduuuh.. S-sakit.. Sakit.. Sakiiittt.. L-lepaskan tanganku..!!". Dengan tetap mencengkeram tangan Wawan, Dewa mendorong tangannya hingga Wawan harus berlutut di tanah.

Mengetahui kondisi Wawan, eman-teman Wawan hanya melihat tanpa berani berbuat apa-apa, hingga salah satu dari mereka maju dan bermaksud menyerang Dewa, tapi dengan cepat Dewa menendangnya bahkan sebelum dia sempat menyerang. Tendangan Dewa tepat mengenai dada teman Wawan itu dan membuatnya terpental kebelakang lalu jatuh menabrak pagar..

Jdaaaaaaagggg.... Bruuuuaaaakkk..

"Kalian cepat lepaskan dua mahasiswa itu. Kalau ada yang berani maju lagi, kuhancurkan tangan keparat ini.." ucap Dewa sambil memperkuat cengkramannya.

Kraaaaakk.. kreeeeeeekk..

Wawan merintih menahan sakit di tangannya, "A-aduuhh.. A-amuuuunn.. Ampuuuuunnn.."

"Cepat suruh teman-temanmu melepaskan mereka.. Atau gak hanya tanganmu yang remuk tapi kepalamu juga bisa kupecahkan..!!" bentak Dewa

Wajah Wawan pucat diapun memerintahkan teman-temannya untuk melepaskan Oki dan Ivan, "Cepaaatt.. Lepaskan mereka... Aduuuuuhh.. Sakiiittt..." ucap Wawan.

Dengan cepat, mereka mengikuti perintah Wawan melepas Oki dan Ivan. Setelah itu, Dewa memerintahkan teman-teman Wawan untuk berbaris, "Cepat..!! Kalian berbaris di depanku.." 

Dengan satu gerakan, Dewa menekuk tangan Wawan hingga pergelangan tangannya bergeser. Suara tulang sendi pergelangan tangan Wawan membuat siapun yang mendengarnya menjadi ngilu.

Klaaaaaakk..

"Sekarang kau masuk ke dalam barisan.." perintah Dewa kepada Wawan.

Dewa menampar mereka satu persatu sebagai bentuk pelajaran atas perilaku mereka.

Plaaaaakkk.. Plaaaakkk.. Plaaaaakkk.. Cplaaaaakk..

Plaaaakkkk.. Plaaakkkk.. Cplaaaaaakkk..

Karena tamparan Dewa yang cukup keras, mereka ada yang jatuh, ada yang telinganya sampai berdarah, ada yang giginya lepas karena tamparan Dewa.

"Ini peringatan buat kalian semua. Kalau kalian sampai berani mengulangi lagi, maka akan kubuat kalian seperti teman kalian yang disana itu.." ucap Dewa sambil menunjuk pemuda yang pingsan karena tendangannya.

Wawan dan teman-temannya hanya bisa diam dan menunduk. Mereka takut akan bernasib sama seperti Wawan.

"Sekarang kalian bubar.. Jangan sampai aku melihat kalian lagi..!! Bubaaaarr..!!" bentak Dewa.

Wawan dan gerombolannya pun bubar, tapi sebelum mereka benar-benar pergi, Dewa berteriak, "Woooiii...!!"

"Iya bang, ada apa..?" jawab Wawan..

"Itu kopinya bayar dulu. Jangan asal pergi aja.." ucap Dewa.

"Bu.. Itu sekalian tadi saya makan, kopi, rokok, gorengannya mbak nya tadi sama semua tagihan orang yang makan di warung itu, biar dibayar sekalian sama dia bu.." ucap Dewa kepada pemilik warung sambil menunjuk Wawan..

Setelah membayar semua tagihan warung, Wawan beserta gerombolannya pergi dengan perasaan dongkol, "Awas kau keparat..!! Aku pasti akan membalas perbuatanmu kali ini 100x lipat.." ucap Wawan dalam hati dengan geram.

Sementara itu, Ivan mendatangi Dewa, "Bang.. Makasih bang. Kalau gak ada abang tadi gak tau deh gimana jadinya.." ucap Ivan sambil memegang pipinya.

"Iya.. Lain kali jangan sok jagoan kalau belum tau kemampuan musuh.. Jadi bonyok kan..?"

"Tapi salut sama kalian. Ada teman didzalimi kalian berinisiatif buat membela. Tapi tetap jangan ngawur caranya.." jawab Dewa sambil menepuk pundak Ivan dan Oki

"Iya bang.." jawab Oki sambil menunduk

Naia berjalan mendekat dan memegang tangan Dewa, "Mas Dede... Terimakasih ya..?"

"Hhhaaaahhh.. Tiap ketemu kamu pasti aja ada masalah.." ucap Dewa menggoda Naia.

"Eh mas, knapa sih berandalan tadi gak di...." ucapan Naia terhenti setelah Dewa memberinya kode.

"Eee.. mas terimakasih ya udah kasih pelajaran sama mereka. Aku gak tau gimana membalas kebaikan mas Dede.." ucap Risa.

"Sudah gak usah dipikirkan.. Karena masalah sudah selesai, sekarang aku mau pulang dulu.. Kalian harus lebih hati-hati.." jawab Dewa.

"Mas Dede tinggalnya dimana sih..? Boleh kan aku main ke rumah mas Dede..?" tanya Naia.

"Lha semalem kan aku sudah kasih tau, yang aku bilang ke pak Yan itu..?" jawab Dewa.

"Huuuhhhh.. Tinggal tunjukin arahnya kemana ribet amat sih..?" sahut Naia sambil menggembungkan pipinya.

Melihat tingkah Naia, Dewa hanya tersenyum lalu dia menunjukkan arah menuju rumahnya, "Iya.. Iya.. Nih ya.. Jalan ini luruuuuuuusss aja sampai ada perempatan yang di tengahnya ada drumnya, lalu belok kanan. Lanjut luruuuuussss sampai ada pertigaan kamu belok kiri. Nah dari situ jalan lurus aja sampai ada musholla Al-Hikmah. Nah disamping musholla itu rumahnya.."

Dewa pergi meninggalkan Naia dan teman-temannya, tapi ada hal yang masih menganggu pikirannya, "Dengan latar belakangnya, Wawan pasti akan membalas dendam baik itu langsung kepadaku atau kepada mahasiswa itu.." gumam Dewa dalam hati.

Sementara itu, Naia dan teman-temannya telah kembali ke balai desa. 

"Eh.. Nai.. Tadi itu siapa..? Kok kamu kayaknya akrab banget sama dia..? Udah kenal lama kah..? Dia orang asli sini..?" tanya Risa.

"Dia bener-bener hebat, hanya butuh satu gerakan aja buat ngalahin si brengsek itu.." sahut Oki.

"Hhhmmmm.. Belum lama sih, baru semalam kenalnya.." Naia pun menceritakan bagaimana dia berkenalan dengan Dewa kepada teman-temannya.

"Jadi begitu lah ceritanya.. Kenapa bisa akrab ya..? Mungkin karena dia jodoh kali ya..? Hahahaha.." jawab Naia bercanda.

Tidak lama berselang datanglah rombongan mahasiswa yang baru saja berkeliling melihat kondisi desa Lerengwilis. Suasanapun menjadi lebih ramai.

"Eh gaes.. Kalian tau gak, tadi aku diberitahu sama kepala dusun kampung baru, pak Heru namanya, intinya kalau ada pemuda badannya tinggi gedhe, bertato sampai lengan, kita disuruh hindari saja. Katanya dia itu resek dan orang kampung sini gak ada yang berani sama dia. Namanya si Wawan kalau gak salah.." Sari memulai cerita.

"Apalagi yang cewek, sebaiknya langsung kabur aja dari dia. Si Wawan ini kurang ajar banget, dia gampang banget ngelecehin cewek, pegang-pegang bokong lah, payudara lah, gitu lah. Menjijikkan pokoknya.." sambung Silvia.

"Eh.. Van, itu kenapa wajahmu bonyok gitu..? Habis jatuh kah..?" tanya Rendi

Naia hanya tersenyum saja mendengar cerita teman-temannya itu, lalu dia menceritakan kejadian yang baru saja dialami oleh Risa,

"Sebelum kalian cerita, tadi kita udah sempat ribut sama orang yang kalian sebut itu. Gara-garanya si Risa dilecehin sama si brengsek itu.."

Naia kemudian menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami kepada teman-temannya, "Jadi gitu ceritanya.." ucap Naia mengakhiri ceritanya.

Nuraini menjadi ketakutan setelah mendengar cerita Naia, "Hhaaaaahh..!! Trus kita gimana dong..? Gak mungkin dia akan diam aja. Pasti dia akan balas dendam ke kita.."

"Udah tenang aja. Yang penting kalau ketemu dia langsung menghindar saja, atau bilangin aja ke cowoknya Naia itu, siapa tadi namanya..? Mas Dede ya Nai..?" sambung Sari.

Wajah Naia memerah mendengar ucapan Sari, "Hush.. Mas Dede itu bukan cowokku lah, kebetulan aja kita kenal dan dia hanya membantuku saja.." protes Naia.

"Ya kita do'ain aja biar mas Dede jadi cowokmu, jadi tiap saat kan pasti jaga kamu dan otomatis kita juga lebih aman.." sahut Silvia dan dianggukkan oleh teman-teman Naia.

"Silviaaa... kamu itu ih.." sahut Naia.

*****

Sesampainya dirumah, Dewa langsung melakukan latihan fisik yang biasa dia lakukan saat masih di kesatuan. Push up, pull up, sit up, back up. Setelah selesai aktifitas fisik, Dewa berlari naik ke perbukitan di wilayah gunung Wilis.

"Walaupun aku sudah tidak aktif lagi di kesatuan, aku harus tetap latihan agar fisik dan kemampuanku tidak turun… Dan aku akan menggunakan medan di gunung Wilis ini untuk melatih kecepatan dan ketahanan fisikku.." ucap Dewa dalam hati.

Episodes
1 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3 Akhirnya sampai juga..
4 Kehidupan Baru (Bag. 1)
5 Kehidupan baru (Bag. 2)
6 Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7 Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8 Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9 Menjadi pengawal (Bag. 1)
10 Menjadi pengawal (Bag. 2)
11 Menapak jalan spiritual
12 Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13 Melawan preman (Bag. 1)
14 Melawan preman (Bag. 2)
15 Pertemuan tak terduga
16 Hadiah kecil
17 Mencari masalah (Bag. 1)
18 Mencari masalah (Bag. 2)
19 Mencari masalah (Bag. 3)
20 Trio Wajan
21 Secercah harapan (Bag. 1)
22 Secercah harapan (Bag. 2)
23 Beraksi diam-diam
24 Sebuah keyakinan
25 Ujian buat Niko
26 Satu kepingan puzzle
27 Kompetisi tarung bebas
28 Berhasil atau gagal
29 Simpan penasaranmu
30 Pembuktian
31 Menjadi petarung
32 Belanja di pasar
33 Sepeda untuk Kartika
34 Semangat gotong royong
35 Tiga petarung Lerengwilis
36 Raja Yama
37 Rencana penculikan Naia
38 Mencari Sang Sniper
39 Kejujuran Santoso
40 Kekuatan kegelapan
41 Menyelamatkan Naia
42 Rasa yang terpendam
43 Sang Penguasa Kegelapan
44 Kebahagiaan kita
45 Masa lalu Silvia
46 Membagi hasil taruhan
47 Perguruan Taring Harimau
48 Ilmu Pengawak Wojo
49 Wanita tercantik
50 Amplop putih
51 Bank of Asia (Bag. 1)
52 Bank of Asia (Bag. 2)
53 Berlatih Tenaga Dalam
54 Catatan sang Kolonel
55 Bertemu dengan Kepala Desa
56 Menata rumah
57 Waktunya beraksi
58 Menempati rumah baru
59 Cidera yang sama
60 Aku setuju dengannya
61 Mungkin ini saatnya
62 Sambutan hangat
63 Penculikan Naia
64 Melacak keberadaan Naia
65 Api Dewi Agni
66 Kamu telah gagal
67 Sampah yang sebenarnya
68 Aku ingin bertobat, tapi..
69 Selamat Berpuasa
70 Darimana saja..?
71 Misi mencari Tiara
72 Apakah dia setuju..?
73 Sang Bathari
74 Tanah sangar
75 Dimana kesayanganku..?
76 Bangkitnya sang Dewi
77 Dasanama
78 Oknum sampah
79 Gandarwa Raja (Bag. 1)
80 Gandarwa Raja (Bag. 2)
81 Menolong Kepala Daerah
82 Siluman Kera Merah
83 Rencana Sang Bupati
84 Kena batunya
85 MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86 Aksara Caraka
87 Sastra Jendra Hayuningrat
88 Bantuan sang Guru
89 Kembali ke kota AB
90 Menyerahkan Laporan
91 Peringatan buatmu
92 Menjadi murid
93 Kelompok tersembunyi
94 Mitra Desa
95 Kepergian Sang Wapres
96 Biar aku menyelidikinya
97 Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98 Kabar bahagia
99 Ratu Bidadari
100 Perjuangan terberat
101 Aku menunggumu
102 Terimakasih guru..
103 Tarian Kamatantra
104 Peresmian pusat pelatihan
105 Pasukan Dewa
106 Undangan dari Walikota
107 Seorang ayah
108 Segera Temukan Mereka..!!
109 Kita Sambut Mereka
110 Kekuatan yang menghilang
111 Bawa mereka bertemu denganku
112 Permintaan Suko
113 Ceritakan rencana mereka
114 Bertemu kembali
115 Akui semua kejahatanmu
116 Meminta bantuan
117 Kekuatan tersembunyi Baros
118 Mencari bukti kejahatan
119 Akhirnya kutemukan kalian
120 Akhir Perjalanan
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3
Akhirnya sampai juga..
4
Kehidupan Baru (Bag. 1)
5
Kehidupan baru (Bag. 2)
6
Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7
Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8
Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9
Menjadi pengawal (Bag. 1)
10
Menjadi pengawal (Bag. 2)
11
Menapak jalan spiritual
12
Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13
Melawan preman (Bag. 1)
14
Melawan preman (Bag. 2)
15
Pertemuan tak terduga
16
Hadiah kecil
17
Mencari masalah (Bag. 1)
18
Mencari masalah (Bag. 2)
19
Mencari masalah (Bag. 3)
20
Trio Wajan
21
Secercah harapan (Bag. 1)
22
Secercah harapan (Bag. 2)
23
Beraksi diam-diam
24
Sebuah keyakinan
25
Ujian buat Niko
26
Satu kepingan puzzle
27
Kompetisi tarung bebas
28
Berhasil atau gagal
29
Simpan penasaranmu
30
Pembuktian
31
Menjadi petarung
32
Belanja di pasar
33
Sepeda untuk Kartika
34
Semangat gotong royong
35
Tiga petarung Lerengwilis
36
Raja Yama
37
Rencana penculikan Naia
38
Mencari Sang Sniper
39
Kejujuran Santoso
40
Kekuatan kegelapan
41
Menyelamatkan Naia
42
Rasa yang terpendam
43
Sang Penguasa Kegelapan
44
Kebahagiaan kita
45
Masa lalu Silvia
46
Membagi hasil taruhan
47
Perguruan Taring Harimau
48
Ilmu Pengawak Wojo
49
Wanita tercantik
50
Amplop putih
51
Bank of Asia (Bag. 1)
52
Bank of Asia (Bag. 2)
53
Berlatih Tenaga Dalam
54
Catatan sang Kolonel
55
Bertemu dengan Kepala Desa
56
Menata rumah
57
Waktunya beraksi
58
Menempati rumah baru
59
Cidera yang sama
60
Aku setuju dengannya
61
Mungkin ini saatnya
62
Sambutan hangat
63
Penculikan Naia
64
Melacak keberadaan Naia
65
Api Dewi Agni
66
Kamu telah gagal
67
Sampah yang sebenarnya
68
Aku ingin bertobat, tapi..
69
Selamat Berpuasa
70
Darimana saja..?
71
Misi mencari Tiara
72
Apakah dia setuju..?
73
Sang Bathari
74
Tanah sangar
75
Dimana kesayanganku..?
76
Bangkitnya sang Dewi
77
Dasanama
78
Oknum sampah
79
Gandarwa Raja (Bag. 1)
80
Gandarwa Raja (Bag. 2)
81
Menolong Kepala Daerah
82
Siluman Kera Merah
83
Rencana Sang Bupati
84
Kena batunya
85
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86
Aksara Caraka
87
Sastra Jendra Hayuningrat
88
Bantuan sang Guru
89
Kembali ke kota AB
90
Menyerahkan Laporan
91
Peringatan buatmu
92
Menjadi murid
93
Kelompok tersembunyi
94
Mitra Desa
95
Kepergian Sang Wapres
96
Biar aku menyelidikinya
97
Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98
Kabar bahagia
99
Ratu Bidadari
100
Perjuangan terberat
101
Aku menunggumu
102
Terimakasih guru..
103
Tarian Kamatantra
104
Peresmian pusat pelatihan
105
Pasukan Dewa
106
Undangan dari Walikota
107
Seorang ayah
108
Segera Temukan Mereka..!!
109
Kita Sambut Mereka
110
Kekuatan yang menghilang
111
Bawa mereka bertemu denganku
112
Permintaan Suko
113
Ceritakan rencana mereka
114
Bertemu kembali
115
Akui semua kejahatanmu
116
Meminta bantuan
117
Kekuatan tersembunyi Baros
118
Mencari bukti kejahatan
119
Akhirnya kutemukan kalian
120
Akhir Perjalanan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!