Naia dan Risa mundur untuk menghindari Wawan. Tapi Wawan terus melangkah maju ke arah Naia. Tubuh Naia dan Risa bergetar karena ketakutan. Muncul penyesalan dalam diri Naia karena tidak mengikuti omongan orang tuanya, "Tau gini aku ikuti aja omongan papa buat didampingi pengawal.." gumam Naia dalam hati.
Orang-orang hanya melihat saja tanpa ada yang berani membantu karena Wawan adalah anak Suwarno mantan kepala desa yang sangat berpengaruh dan ditakuti di desa Lerengwilis, dia terkenal kejam dan raja tega. Suwarno tidak akan segan-segan menghajar bahkan membunuh siapapun yang menjadi musuhnya. Suwarno adalah mantan tentara angkatan laut berpangkat Kolonel. Dia dipecat dari tentara karena terlibat kasus kriminal. Setelah dipecat dari militer, Suwarno banyak menjalani bisnis kotor seperti perjudian, narkotika dan prostitusi. Wawan sudah pasti mengikuti apa yang orang tuanya lakukan, selain itu dia juga berlatih tinju sehingga tidak ada satupun pemuda di Lerengwilis yang berani berkelahi dengan dia.
Mata Wawan terfokus pada tubuh dan kecantikan Naia. Wawan melihat Naia dari ujung rambut sampai ujung kaki Naia, dia terus mendekati Naia sambil mengoceh dan berusaha melecehkan Naia, "Eh.. Kalian mau kemana..? Ternyata cantik juga ya kamu kalau dilihat lebih dekat.. Heemmmmmh wangi lagi.. Mulus juga tuh kulitnya.." tangan Wawan berusaha menyentuh pipi Naia.
Naia menghindari tangan Wawan, merasa dilecehkan, Naia berteriak mengumpat Wawan, "Bajingan..!! Aku akan laporkan kamu ke polisi kalau kau berani menyentuhku.."
Orang yang berada di sekitar warungpun hanya bisa melihat dan berkomentar, "Wah.. Sii brengsek itu bikin ulah lagi.." ucap salah satu pengunjung.
"Iya, kasihan mereka. Lagian ngapain sih mereka cari masalah sama Wawan..?" sahut lainnya.
Mendengar teriakan Naia, Dewa melihat keluar warung, "Sebenarnya kalau bukan mendengar suara Naia, aku juga malas untuk ikut campur.. Bagaimanapun aku tidak ingin mencari musuh dan menjadi perhatian orang lain.." gumam Dewa dalam hati.
Dewa segera keluar dari warung dan dengan cepat dia menjentikkan rokoknya ke wajah Wawan dan tepat mengenai pipinya. Wawan terkejut lalu dia mengumpat, "Asuuuuu..!! Panaaaasss... Panaaaasss..!!" teriak Wawan sambil mengusap pipinya.
Wawan menoleh kekanan kiri sambil berteriak marah, "Bangsaatt..!! Siapa yang melakukan ini..?!
Dewa berjalan dengan santai ke arah Wawan sambil berkata, "Lebih baik kamu jangan ganggu mereka, dasar sampah kalian ini, mending kalian ngepel jalan tuh lebih manfaat.."
Mata Naia berbinar ketika melihat Dewa, dia tersenyum lega, "Mas Dede..... Alhamdulillah aku selamat.."
Sementara itu, orang-orang yang berada di dalam warung melihat apa yang dilakukan Dewa dengan kasihan, "Mak Yem, siapa pemuda itu..? Dia orang baru ya..? Dia gak tau sedang buat masalah sama siapa..?" tanya salah satu pelanggan.
"Waduuuhh.. Kasihan anak-anak itu.." sahut lainnya
"Aku yo gak ngerti siapa pemuda itu.. Dia baru pertama kali datang ke warungku, cuma sarapan sama ngopi disini.." sahut mak Yem pemilik warung.
Mendengar jawabanku, Wawan menjadi semakin emosi, dan langsung menyerang Dewa dengan tinjunya sambil berteriak, "Bangsaaaatt..!! Modaaaaarrr kauuu...!!" Wawan mengayunkan tinjunya mengarah ke wajah Dewa.
Sebagai anggota pasukan elit, tentunya dengan sangat mudah Dewa menangkap tinju Wawan..
Ctaaaaaaaaapp..
Dia mencengkeram kepalan tangan Wawan dengan sangat kuat, sedangkan Wawan berusaha dengan keras melepas kepalannya dari cengkraman tangan Dewa, tapi semakin dia berusaha melepas, Dewa mencengkram lebih kuat lagi, hingga terdengar suara tulang tangan Wawan saat Dewa memperkuat cengkramannya yang membuat Wawan kesakitan
Krreetaakkkk.. Krrreeteeekkk...
Wawan berteriak kesakitan, "A-aduuuh.. S-sakit.. Sakit.. Sakiiittt.. L-lepaskan tanganku..!!". Dengan tetap mencengkeram tangan Wawan, Dewa mendorong tangannya hingga Wawan harus berlutut di tanah.
Mengetahui kondisi Wawan, eman-teman Wawan hanya melihat tanpa berani berbuat apa-apa, hingga salah satu dari mereka maju dan bermaksud menyerang Dewa, tapi dengan cepat Dewa menendangnya bahkan sebelum dia sempat menyerang. Tendangan Dewa tepat mengenai dada teman Wawan itu dan membuatnya terpental kebelakang lalu jatuh menabrak pagar..
Jdaaaaaaagggg.... Bruuuuaaaakkk..
"Kalian cepat lepaskan dua mahasiswa itu. Kalau ada yang berani maju lagi, kuhancurkan tangan keparat ini.." ucap Dewa sambil memperkuat cengkramannya.
Kraaaaakk.. kreeeeeeekk..
Wawan merintih menahan sakit di tangannya, "A-aduuhh.. A-amuuuunn.. Ampuuuuunnn.."
"Cepat suruh teman-temanmu melepaskan mereka.. Atau gak hanya tanganmu yang remuk tapi kepalamu juga bisa kupecahkan..!!" bentak Dewa
Wajah Wawan pucat diapun memerintahkan teman-temannya untuk melepaskan Oki dan Ivan, "Cepaaatt.. Lepaskan mereka... Aduuuuuhh.. Sakiiittt..." ucap Wawan.
Dengan cepat, mereka mengikuti perintah Wawan melepas Oki dan Ivan. Setelah itu, Dewa memerintahkan teman-teman Wawan untuk berbaris, "Cepat..!! Kalian berbaris di depanku.."
Dengan satu gerakan, Dewa menekuk tangan Wawan hingga pergelangan tangannya bergeser. Suara tulang sendi pergelangan tangan Wawan membuat siapun yang mendengarnya menjadi ngilu.
Klaaaaaakk..
"Sekarang kau masuk ke dalam barisan.." perintah Dewa kepada Wawan.
Dewa menampar mereka satu persatu sebagai bentuk pelajaran atas perilaku mereka.
Plaaaaakkk.. Plaaaakkk.. Plaaaaakkk.. Cplaaaaakk..
Plaaaakkkk.. Plaaakkkk.. Cplaaaaaakkk..
Karena tamparan Dewa yang cukup keras, mereka ada yang jatuh, ada yang telinganya sampai berdarah, ada yang giginya lepas karena tamparan Dewa.
"Ini peringatan buat kalian semua. Kalau kalian sampai berani mengulangi lagi, maka akan kubuat kalian seperti teman kalian yang disana itu.." ucap Dewa sambil menunjuk pemuda yang pingsan karena tendangannya.
Wawan dan teman-temannya hanya bisa diam dan menunduk. Mereka takut akan bernasib sama seperti Wawan.
"Sekarang kalian bubar.. Jangan sampai aku melihat kalian lagi..!! Bubaaaarr..!!" bentak Dewa.
Wawan dan gerombolannya pun bubar, tapi sebelum mereka benar-benar pergi, Dewa berteriak, "Woooiii...!!"
"Iya bang, ada apa..?" jawab Wawan..
"Itu kopinya bayar dulu. Jangan asal pergi aja.." ucap Dewa.
"Bu.. Itu sekalian tadi saya makan, kopi, rokok, gorengannya mbak nya tadi sama semua tagihan orang yang makan di warung itu, biar dibayar sekalian sama dia bu.." ucap Dewa kepada pemilik warung sambil menunjuk Wawan..
Setelah membayar semua tagihan warung, Wawan beserta gerombolannya pergi dengan perasaan dongkol, "Awas kau keparat..!! Aku pasti akan membalas perbuatanmu kali ini 100x lipat.." ucap Wawan dalam hati dengan geram.
Sementara itu, Ivan mendatangi Dewa, "Bang.. Makasih bang. Kalau gak ada abang tadi gak tau deh gimana jadinya.." ucap Ivan sambil memegang pipinya.
"Iya.. Lain kali jangan sok jagoan kalau belum tau kemampuan musuh.. Jadi bonyok kan..?"
"Tapi salut sama kalian. Ada teman didzalimi kalian berinisiatif buat membela. Tapi tetap jangan ngawur caranya.." jawab Dewa sambil menepuk pundak Ivan dan Oki
"Iya bang.." jawab Oki sambil menunduk
Naia berjalan mendekat dan memegang tangan Dewa, "Mas Dede... Terimakasih ya..?"
"Hhhaaaahhh.. Tiap ketemu kamu pasti aja ada masalah.." ucap Dewa menggoda Naia.
"Eh mas, knapa sih berandalan tadi gak di...." ucapan Naia terhenti setelah Dewa memberinya kode.
"Eee.. mas terimakasih ya udah kasih pelajaran sama mereka. Aku gak tau gimana membalas kebaikan mas Dede.." ucap Risa.
"Sudah gak usah dipikirkan.. Karena masalah sudah selesai, sekarang aku mau pulang dulu.. Kalian harus lebih hati-hati.." jawab Dewa.
"Mas Dede tinggalnya dimana sih..? Boleh kan aku main ke rumah mas Dede..?" tanya Naia.
"Lha semalem kan aku sudah kasih tau, yang aku bilang ke pak Yan itu..?" jawab Dewa.
"Huuuhhhh.. Tinggal tunjukin arahnya kemana ribet amat sih..?" sahut Naia sambil menggembungkan pipinya.
Melihat tingkah Naia, Dewa hanya tersenyum lalu dia menunjukkan arah menuju rumahnya, "Iya.. Iya.. Nih ya.. Jalan ini luruuuuuuusss aja sampai ada perempatan yang di tengahnya ada drumnya, lalu belok kanan. Lanjut luruuuuussss sampai ada pertigaan kamu belok kiri. Nah dari situ jalan lurus aja sampai ada musholla Al-Hikmah. Nah disamping musholla itu rumahnya.."
Dewa pergi meninggalkan Naia dan teman-temannya, tapi ada hal yang masih menganggu pikirannya, "Dengan latar belakangnya, Wawan pasti akan membalas dendam baik itu langsung kepadaku atau kepada mahasiswa itu.." gumam Dewa dalam hati.
Sementara itu, Naia dan teman-temannya telah kembali ke balai desa.
"Eh.. Nai.. Tadi itu siapa..? Kok kamu kayaknya akrab banget sama dia..? Udah kenal lama kah..? Dia orang asli sini..?" tanya Risa.
"Dia bener-bener hebat, hanya butuh satu gerakan aja buat ngalahin si brengsek itu.." sahut Oki.
"Hhhmmmm.. Belum lama sih, baru semalam kenalnya.." Naia pun menceritakan bagaimana dia berkenalan dengan Dewa kepada teman-temannya.
"Jadi begitu lah ceritanya.. Kenapa bisa akrab ya..? Mungkin karena dia jodoh kali ya..? Hahahaha.." jawab Naia bercanda.
Tidak lama berselang datanglah rombongan mahasiswa yang baru saja berkeliling melihat kondisi desa Lerengwilis. Suasanapun menjadi lebih ramai.
"Eh gaes.. Kalian tau gak, tadi aku diberitahu sama kepala dusun kampung baru, pak Heru namanya, intinya kalau ada pemuda badannya tinggi gedhe, bertato sampai lengan, kita disuruh hindari saja. Katanya dia itu resek dan orang kampung sini gak ada yang berani sama dia. Namanya si Wawan kalau gak salah.." Sari memulai cerita.
"Apalagi yang cewek, sebaiknya langsung kabur aja dari dia. Si Wawan ini kurang ajar banget, dia gampang banget ngelecehin cewek, pegang-pegang bokong lah, payudara lah, gitu lah. Menjijikkan pokoknya.." sambung Silvia.
"Eh.. Van, itu kenapa wajahmu bonyok gitu..? Habis jatuh kah..?" tanya Rendi
Naia hanya tersenyum saja mendengar cerita teman-temannya itu, lalu dia menceritakan kejadian yang baru saja dialami oleh Risa,
"Sebelum kalian cerita, tadi kita udah sempat ribut sama orang yang kalian sebut itu. Gara-garanya si Risa dilecehin sama si brengsek itu.."
Naia kemudian menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami kepada teman-temannya, "Jadi gitu ceritanya.." ucap Naia mengakhiri ceritanya.
Nuraini menjadi ketakutan setelah mendengar cerita Naia, "Hhaaaaahh..!! Trus kita gimana dong..? Gak mungkin dia akan diam aja. Pasti dia akan balas dendam ke kita.."
"Udah tenang aja. Yang penting kalau ketemu dia langsung menghindar saja, atau bilangin aja ke cowoknya Naia itu, siapa tadi namanya..? Mas Dede ya Nai..?" sambung Sari.
Wajah Naia memerah mendengar ucapan Sari, "Hush.. Mas Dede itu bukan cowokku lah, kebetulan aja kita kenal dan dia hanya membantuku saja.." protes Naia.
"Ya kita do'ain aja biar mas Dede jadi cowokmu, jadi tiap saat kan pasti jaga kamu dan otomatis kita juga lebih aman.." sahut Silvia dan dianggukkan oleh teman-teman Naia.
"Silviaaa... kamu itu ih.." sahut Naia.
*****
Sesampainya dirumah, Dewa langsung melakukan latihan fisik yang biasa dia lakukan saat masih di kesatuan. Push up, pull up, sit up, back up. Setelah selesai aktifitas fisik, Dewa berlari naik ke perbukitan di wilayah gunung Wilis.
"Walaupun aku sudah tidak aktif lagi di kesatuan, aku harus tetap latihan agar fisik dan kemampuanku tidak turun… Dan aku akan menggunakan medan di gunung Wilis ini untuk melatih kecepatan dan ketahanan fisikku.." ucap Dewa dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments