Pak Yan keluar dengan membawa beberapa cangkir teh dan kopi dan menyuguhkannya kepada para tamu. lalu pak Wira memulai pembicaraannya, "Jadi begini mas Dede, Naia sudah menceritakan semuanya kepada saya. Mas Dede gak perlu khawatir, kami akan simpan cerita itu untuk kami sendiri.. Sebagai orang tua, saya mengucapkan terimaksih kepada mas Dede karena sudah melindungi Naia.." ucap pak Wira
Disaat yang sama Dewa memperhatikan pak Wira dengan seksama, "Kharisma orang ini tidak biasa. Beliau pasti orang besar.." ucapnya dalam hati.
"Oh.. Masalah itu, bapak tidak perlu berterimakasih. Sebenarnya melawan atau tidak melawan, akan mempunyai resiko yang sama, nyawa kami juga terancam. Jadi saya memilih untuk melawan para begal itu, setidaknya ada kesempatan untuk kami bisa selamat dari pembegalan itu. Dan saya pikir itu sudah jadi kewajiban saya.." jawab Dewa.
Pak Wira pun memperhatikan Dewa dengan seksama, "Anak ini tidak sederhana, dia seperti orang yang sudah terlatih menghadapi hal apapun. Ketenangannya sungguh luar biasa..."pikir pak Wira.
"Tidak hanya itu mas Dede, tadi waktu di mobil Naia juga cerita kejadian sama preman kampung itu.. Untung ada mas Dede di sekitar tempat itu, kalau tidak.." ucap bu Santi.
Dewa segera memotong ucapan bunSanti dengan santun, "Hanya masalah kecil saja bu.. Tidak perlu dibesar-besarkan.." jawab Dewa.
Setelah berterimakadih, pak Wira mengutarakan tujuannya utamanya kepada Dewa, "Begini mas Dede, selain berterimakasih secara langsung, kedatangan kami kemari adalah kami ingin mas Dede menjadi pengawal untuk melindungi Naia, setidaknya selama dia menjalani KKN di desa ini.." pak Wira mengatakannya dengan serius.
"Lho kok hanya selama KKN aja sih..?" protes Naia.
"Kalau selamanya ya jadi suami aja Nai.. Hihihihi.." Silvia mulai menggoda Naia.
"Mulai lagi kan..? Ma... Silvia tuh.." rengek Naia.
"Udah-udah.. Kalian berdua diam dulu kenapa sih..? Ini masalah serius, jangan bercanda.."
"Naia juga dengerin dulu papa bicara dan denger jawaban mas Dede.. Udah diam.. Ssssttttt…" jawab bu Santi sambil memberi gerakan jari menutup mulut.
"Begini bapak, ibu, Naia ......." ucap Dewa
Pak Wira segera memotong ucapan Dewa, "Berapapun gaji yang mas Dede minta, saya akan memenuhinya.." sahut pak Wira.
Dewa mengambil nafas panjang sebelum memberikan jawabannya, "Hufhhhh.. Begini pak, perkerjaan menjadi pengawal tidaklah sederhana, pekerjaan itu resikonya yang sangat tinggi, sehingga seseorang yang menjadi pengawal haruslah orang dengan kemampuan tinggi.."
"Saya merasa sangat terhormat dan berterimakasih kepada pak Wira karena sudah mempercayakan pengawaalan Naia kepada sayya, akan tetapi kemampuan saya masih sangat jauh dari standart seorang pengawal. Jadi dengan berat hati saya menolaknya.." jawab Dewa serius.
Bu Santi dan terutama Naia terlihat kecewa dengan jawaban yang diberikan Dewa, tapi mereka juga tidak bisa memaksanya untuk menjadi pengawal Naia.
Melihat ekspresi Naia, Pak Wira berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah pintu, "Mas Dede bisa ikut saya sebentar..?" pinta pak Wira.
Dewa berjalan mengikuti pak Wira. Mereka berdua pergi ke teras musholla al Hikmah. Kebetulan musholla sudah sepi karena jamaah sholat dhuhur sudah selesai.
Disana pak Wira menceritakan latar belakangnya yang seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan, hingga kejadian penculikan yang dialami oleh adik Naia. Dewa mendengarkan dengan seksama cerita pak Wira, tapi Dewa sedikiitpun tidak tertarik dengan latar belakang pak Wira.
Setelah selesai bercerita, pak Wira kembali bertanya kepada Dewa, "Jadi apakah mas Dede tetap tidak bisa menerima kepercayaan saya untuk menjadi pengawal Naia..?" tanya pak Wira.
Mendengar pertanyaan pak Wira, Dewa tersenyum sebelum menjawab, "Sebelumnya saya mohon maaf pak Wira, apakah bapak yakin menyerahkan pekerjaan ini kepada orang yang belum bapak kenal sama sekali dan belum bapak ketahui sendiri kemampuannya..? Pak Wira hanya mendengar cerita dari putri bapak saja yang bahkan putri bapak juga baru saja mengenal saya beberapa hari. Bagaimana bapak yakin kalau saya adalah orang yang tepat dan bisa dipercaya..?"
"Bapak dengar sendiri dari putri bapak, perkenalan kami pun sangat tidak wajar. Apa bapak tidak curiga ada orang seumuran saya tidak mempunyai hp dan harus minta tolong kepada seorang gadis untuk memesan ojek online..?"
"Bagaimana jika ternyata saya adalah orang yang sengaja dikirim oleh musuh-musuh bapak untuk mendekati Naia dan mencelakakan keluarga bapak..?" pertanyaaaan Dewa memberondong pak Wira.
Pak Wira terlihat tidak terkejut sama sekali dengan ucapan Dewa. Justru sebaliknya, pak Wira merasa senang, "Hahahaha… Itulah sebabnya kamu tadi mengatakan bahwa pekerjaan ini tidaklah sederhana.."
"Seperti yang saya ceritakan tadi, saya adalah seorang pengusaha, jadi saya sering bertemu dan menjalin relasi dengan banyak orang. Ratusan bahkan ribuan orang sudah pernah aku temui dan selama ini intuisiku tidak pernah salah dalam menilai orang.."
"Kalau memang yang kamu mempunyai niat tidak baik untuk keluargaku, atau kamu adalah orang yang dikirim oleh musuh-musuhku, mengapa kamu harus mengatakan itu semua..? Bukankah lebih mudah kalau kamu langsung mengeksekusinya..?" ucap pak Wira sambil menatapku tajam.
Dengan tersenyum Dewa menatap pak Wira lalu berkata, "Bapak tidak hanya belum mengenal saya, tapi juga tidak mengetahui sama sekali latar belakang saya.. Mungkin akan lebih baik bapak mencari seseorang yang lebih jelas latar belakangnya.."
"Saya yakin bagi orang sekelas bapak, tidak sulit untuk mencari pengawal bahkan dari lingkungan kepolisian atau militer sekalipun. Lalu mengapa harus saya..?" tanya Dewa serius.
Pak Wira mengangguk-anggukkan kepalanya lalu dia menjawab, "Memang benar yang kamu katakan. Mudah bahkan sangat mudah mencari pengawal buat Naia dari latar belakang apapun. Tapi saya tetaplah orang tua bagi Naia.. Selain keamanan, saya harus tetap memikirkan juga kenyamanan untuk Naia. Sudah sering kami gonta-ganti pengawal hanya karena Naia tidak nyaman.."
Pak Wira mengembuskan nafasnya, "Hhuuufhh.. Tapi baru kali ini Naia berkeinginan untuk memiliki pengawal dan langsung merekomendasikanmu sebagai pengawalnya.. Dan apapun latar belakangmu, saya yakin kamu tidak akan menempatkan Naia dalam bahaya, itu yang saya lihat dari matamu.." jawab pak Wira sangat tegas.
Dewa lagi-lagi mengambil nafas panjang dan diam untuk beberapa saat, "Orang ini, beliau orang baik tapi mempunyai banyak musuh. Dalam dunia bisnis hal seperti ini adalah hal yang biasa.. Hhmmm.. Sepertinya tidak ada pilihan lain.." ucapnya dalam hati.
Pak Wira merasa bahwa usahanya meyakinkan Dewa sia-sia, "Tapi kalau mas Dede memang tidak ingin menerimanya, saya tidak akan memaksa. Ini semua saya lakukan demi Naia.." ucap pak Wira lirih.
Sementara itu Naia tampak bingung dengan sikap papanya yang tiba-tiba mengajakku bicara diluar, "Kemana papa dan mas Dede ma..? Mengapa harus bicara diluar..?" tanya Naia.
"Papa punya cara unik untuk meyakinkan orang. Tapi mama juga ragu, papamu bisa meyakinkan Dede.. Mama lihat Dede tidak sesederhana seperti kelihatannya.." jawab bu Santi.
"Kok mama bilang gitu..?"protes Naia.
"Bagaimanapun mama ini seorang psikolog sayang.. Jadi mama bisa sedikit menilai orang.." jawab bu Santi.
"Aku yakin pasti mereka lagi membicarakan urusan pengawalan seumur hidup.. Makanya mereka bicara diluar. Pembicaraan antar laki-laki para wanita gak boleh tau.. Iya kan tan..?" ucap Silvia
"Hahh..? Maksudnya pengawalan seumur hidup..?" tanya Naia.
"Ih... Lemot amat sih..? Itu yang aku bilang pengawalan selamanya itu tadi.. Tapi kalau kamu gak mau, aku sebagai sahabatmu ikhlas menggantikanmu Nai, biar om dan tante yang jadi walinya dan pak Yan yang jadi saksinya.. Gimana Tan, gimana pak Yan..?" ucap Silvia mulai menggoda Naia.
"Iiihhh.. Silvia mulai lagi deh... Ma.. Silvia tuh...!!" ucap Naia sambil menggembungkan pipinya..
"Eeemmmmm.. Bisa juga gitu.. Kayaknya kamu serasi deh Vi sama Dede.." jawab bu Santi ikut menggoda.
"Itu yang namanya masssuuuukkk pak ekoooooo.." ucap pak Yan sambil mengangkat jempolnya..
"Iiihhhh.. Kalian itu ya, sekongkol ternyata.. Yo wes, aku ngambek aja lah.." ucap Naia sebel.
Sementara itu, Dewa dan pak Wira mengakhiri perdebatan mereka. Pak Wira merasa bahwa usahanya meyakinkan Dewa sudah gagal. Melihat pak Wira putus asa, Dewa akhirnya memberikan jawabannya, "Sudahlah.. Diperdebatkan pun juga gak ada habisnya.. Sebenarnya saya hanya ingin tau aja seberapa jauh bapak percaya sama saya. Ternyata demi keluarga bapak mau berbuat sampai sejauh ini.. Oke lah.. Saya terima pekerjaan jadi pengawal Naia, tapi saya punya syarat.."
Pak Wira sangat terkejut dengan jawaban Dewa, dalam hati pak Wira merasa tidak berdaya dan kalah, "Hhhahhhh... Anak ini memang tidak sederhana. Aku berniat meyakinkan dia, tapi malah aku yang di uji sama dia.. Berarti dari awal dia itu sebenarnya menerima.." gumam pak Wira dalam hati.
"Sebentar-sebentar.. Apa berarti dari awal mas Dede udah memutuskan mau jadi pengawal Naia..?" tanya pak Wira.
"Enggak juga. Sebenarnya dari awal saya menolak tawaran bapak, saya juga tidak perduli dengan latar belakang bapak dan apa yang menimpa adik Naia.. Tapi melihat ketulusan bapak mempercayai saya dan melihat bagaimana bapak menatap saya tadi, ya akhirnya saya putuskan untuk menerimanya.." jawab Dewa santai.
"Ternyata memang tidak bisa diprediksi anak ini. Semoga aku tidak salah kali ini, bagaimanapun ini menyangkut kehidupan Naia dan keluargaku.." gumam pak Wira dalam hati.
"Lalu apa syaratnya..? Trus berapa gaji yang mas Dede inginkan..?" tanya pak Wira.
"Syaratnya, aku tidak akan melakukan seperti pengawal-pengawal yang lain, yang setiap saat selalu berada di samping orang yang dikawal.. Tapi aku akan melakukan dengan caraku, yang terpenting putri bapak aman dan selamat. Satu lagi aku tidak terikat pada apapun. Jadi kapanpun ingin berhenti mengawal, itu terserah aku.. Jadi apakah pak Wira bisa menerima syaratku..?" tanya Dewa.
"Baik, aku percaya mas Dede akan melakukan yang terbaik untuk menjaga Naia.. Lalu berapa gaji yang mas Dede minta untuk pekerjaan ini..?" tanya pak Wira.
"Untuk masalah gaji, terserah bapak mau memberiku berapa. Aku malas kalau bicara soal angka, bapak lebih tau berapa angka yang pas untuk seorang pengawal sepertiku.." Dewa menepuk pundak pak Wira dan berjalan menuju rumah.
Pak Wira terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu, "Anak ini benar-benar diluar jangkauan pemikiranku. Setiap orang akan membungkukkan badannya di depanku, tapi anak ini sungguh luar biasa. Dia mempunyai karakter yang sangat kuat dan tidak bisa ditebak.."
"Mas Dede.. Saya mohon lindungi Naia anakku satu-satunya.." ucap pak Wira membungkukkan badannya.
Dewa bergerak cepat ke arah pak Wira dan langsung menangkap tubuh pak Wira untuk membantunya kembali tegak, "Bapak tenang saja, aku akan melindungi dan menjamin keselamatan Naia dengan nyawaku sebagai jaminannya.. Tolong pak, jangan bungkukkan badan anda, aku tidak pantas menerimanya.." ucap Dewa tegas.
Mendengar jawaban Dewa, pak Wira memeluk Dewa seperti dia memeluk putranya sendiri, "Terimakasih mas Dede.. Terimakasih.." ucap pak Wira lirih.
"Mari pak, kita kembali ke dalam. Mereka pasti khawatir kalau kita tidak segera kembali.." Dewa mengajak pak Wira kembali ke rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments