Menjadi pengawal (Bag. 1)

Pak Yan keluar dengan membawa beberapa cangkir teh dan kopi dan menyuguhkannya kepada para tamu. lalu pak Wira memulai pembicaraannya, "Jadi begini mas Dede, Naia sudah menceritakan semuanya kepada saya. Mas Dede gak perlu khawatir, kami akan simpan cerita itu untuk kami sendiri.. Sebagai orang tua, saya mengucapkan terimaksih kepada mas Dede karena sudah melindungi Naia.." ucap pak Wira

Disaat yang sama Dewa memperhatikan pak Wira dengan seksama, "Kharisma orang ini tidak biasa. Beliau pasti orang besar.." ucapnya dalam hati.

"Oh.. Masalah itu, bapak tidak perlu berterimakasih. Sebenarnya melawan atau tidak melawan, akan mempunyai resiko yang sama, nyawa kami juga terancam. Jadi saya memilih untuk melawan para begal itu, setidaknya ada kesempatan untuk kami bisa selamat dari pembegalan itu. Dan saya pikir itu sudah jadi kewajiban saya.." jawab Dewa.

Pak Wira pun memperhatikan Dewa dengan seksama, "Anak ini tidak sederhana, dia seperti orang yang sudah terlatih menghadapi hal apapun. Ketenangannya sungguh luar biasa..."pikir pak Wira.

"Tidak hanya itu mas Dede, tadi waktu di mobil Naia juga cerita kejadian sama preman kampung itu.. Untung ada mas Dede di sekitar tempat itu, kalau tidak.." ucap bu Santi.

Dewa segera memotong ucapan bunSanti dengan santun, "Hanya masalah kecil saja bu.. Tidak perlu dibesar-besarkan.." jawab Dewa.

Setelah berterimakadih, pak Wira mengutarakan tujuannya utamanya kepada Dewa, "Begini mas Dede, selain berterimakasih secara langsung, kedatangan kami kemari adalah kami ingin mas Dede menjadi pengawal untuk melindungi Naia, setidaknya selama dia menjalani KKN di desa ini.." pak Wira mengatakannya dengan serius.

"Lho kok hanya selama KKN aja sih..?" protes Naia.

"Kalau selamanya ya jadi suami aja Nai.. Hihihihi.." Silvia mulai menggoda Naia.

"Mulai lagi kan..? Ma... Silvia tuh.." rengek Naia.

"Udah-udah.. Kalian berdua diam dulu kenapa sih..? Ini masalah serius, jangan bercanda.."

"Naia juga dengerin dulu papa bicara dan denger jawaban mas Dede.. Udah diam.. Ssssttttt…" jawab bu Santi sambil memberi gerakan jari menutup mulut.

"Begini bapak, ibu, Naia ......." ucap Dewa

Pak Wira segera memotong ucapan Dewa, "Berapapun gaji yang mas Dede minta, saya akan memenuhinya.." sahut pak Wira.

Dewa mengambil nafas panjang sebelum memberikan jawabannya, "Hufhhhh.. Begini pak, perkerjaan menjadi pengawal tidaklah sederhana, pekerjaan itu resikonya yang sangat tinggi, sehingga seseorang yang menjadi pengawal haruslah orang dengan kemampuan tinggi.."

"Saya merasa sangat terhormat dan berterimakasih kepada pak Wira karena sudah mempercayakan pengawaalan Naia kepada sayya, akan tetapi kemampuan saya masih sangat jauh dari standart seorang pengawal. Jadi dengan berat hati saya menolaknya.." jawab Dewa serius.

Bu Santi dan terutama Naia terlihat kecewa dengan jawaban yang diberikan Dewa, tapi mereka juga tidak bisa memaksanya untuk menjadi pengawal Naia.

Melihat ekspresi Naia, Pak Wira berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah pintu, "Mas Dede bisa ikut saya sebentar..?" pinta pak Wira.

Dewa berjalan mengikuti pak Wira. Mereka berdua pergi ke teras musholla al Hikmah. Kebetulan musholla sudah sepi karena jamaah sholat dhuhur sudah selesai.

Disana pak Wira menceritakan latar belakangnya yang seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan, hingga kejadian penculikan yang dialami oleh adik Naia. Dewa mendengarkan dengan seksama cerita pak Wira, tapi Dewa sedikiitpun tidak tertarik dengan latar belakang pak Wira.

Setelah selesai bercerita, pak Wira kembali bertanya kepada Dewa, "Jadi apakah mas Dede tetap tidak bisa menerima kepercayaan saya untuk menjadi pengawal Naia..?" tanya pak Wira.

Mendengar pertanyaan pak Wira, Dewa tersenyum sebelum menjawab, "Sebelumnya saya mohon maaf pak Wira, apakah bapak yakin menyerahkan pekerjaan ini kepada orang yang belum bapak kenal sama sekali dan belum bapak ketahui sendiri kemampuannya..? Pak Wira hanya mendengar cerita dari putri bapak saja yang bahkan putri bapak juga baru saja mengenal saya beberapa hari. Bagaimana bapak yakin kalau saya adalah orang yang tepat dan bisa dipercaya..?"

"Bapak dengar sendiri dari putri bapak, perkenalan kami pun sangat tidak wajar. Apa bapak tidak curiga ada orang seumuran saya tidak mempunyai hp dan harus minta tolong kepada seorang gadis untuk memesan ojek online..?"

"Bagaimana jika ternyata saya adalah orang yang sengaja dikirim oleh musuh-musuh bapak untuk mendekati Naia dan mencelakakan keluarga bapak..?" pertanyaaaan Dewa memberondong pak Wira.

Pak Wira terlihat tidak terkejut sama sekali dengan ucapan Dewa. Justru sebaliknya, pak Wira merasa senang, "Hahahaha… Itulah sebabnya kamu tadi mengatakan bahwa pekerjaan ini tidaklah sederhana.."

"Seperti yang saya ceritakan tadi, saya adalah seorang pengusaha, jadi saya sering bertemu dan menjalin relasi dengan banyak orang. Ratusan bahkan ribuan orang sudah pernah aku temui dan selama ini intuisiku tidak pernah salah dalam menilai orang.."

"Kalau memang yang kamu mempunyai niat tidak baik untuk keluargaku, atau kamu adalah orang yang dikirim oleh musuh-musuhku, mengapa kamu harus mengatakan itu semua..? Bukankah lebih mudah kalau kamu langsung mengeksekusinya..?" ucap pak Wira sambil menatapku tajam.

Dengan tersenyum Dewa menatap pak Wira lalu berkata, "Bapak tidak hanya belum mengenal saya, tapi juga tidak mengetahui sama sekali latar belakang saya.. Mungkin akan lebih baik bapak mencari seseorang yang lebih jelas latar belakangnya.."

"Saya yakin bagi orang sekelas bapak, tidak sulit untuk mencari pengawal bahkan dari lingkungan kepolisian atau militer sekalipun. Lalu mengapa harus saya..?" tanya Dewa serius.

Pak Wira mengangguk-anggukkan kepalanya lalu dia menjawab, "Memang benar yang kamu katakan. Mudah bahkan sangat mudah mencari pengawal buat Naia dari latar belakang apapun. Tapi saya tetaplah orang tua bagi Naia.. Selain keamanan, saya harus tetap memikirkan juga kenyamanan untuk Naia. Sudah sering kami gonta-ganti pengawal hanya karena Naia tidak nyaman.."

Pak Wira mengembuskan nafasnya, "Hhuuufhh.. Tapi baru kali ini Naia berkeinginan untuk memiliki pengawal dan langsung merekomendasikanmu sebagai pengawalnya.. Dan apapun latar belakangmu, saya yakin kamu tidak akan menempatkan Naia dalam bahaya, itu yang saya lihat dari matamu.." jawab pak Wira sangat tegas.

Dewa lagi-lagi mengambil nafas panjang dan diam untuk beberapa saat, "Orang ini, beliau orang baik tapi mempunyai banyak musuh. Dalam dunia bisnis hal seperti ini adalah hal yang biasa.. Hhmmm.. Sepertinya tidak ada pilihan lain.." ucapnya dalam hati.

Pak Wira merasa bahwa usahanya meyakinkan Dewa sia-sia, "Tapi kalau mas Dede memang tidak ingin menerimanya, saya tidak akan memaksa. Ini semua saya lakukan demi Naia.." ucap pak Wira lirih.

Sementara itu Naia tampak bingung dengan sikap papanya yang tiba-tiba mengajakku bicara diluar, "Kemana papa dan mas Dede ma..? Mengapa harus bicara diluar..?" tanya Naia.

"Papa punya cara unik untuk meyakinkan orang. Tapi mama juga ragu, papamu bisa meyakinkan Dede.. Mama lihat Dede tidak sesederhana seperti kelihatannya.." jawab bu Santi.

"Kok mama bilang gitu..?"protes Naia.

"Bagaimanapun mama ini seorang psikolog sayang.. Jadi mama bisa sedikit menilai orang.." jawab bu Santi.

"Aku yakin pasti mereka lagi membicarakan urusan pengawalan seumur hidup.. Makanya mereka bicara diluar. Pembicaraan antar laki-laki para wanita gak boleh tau.. Iya kan tan..?" ucap Silvia

"Hahh..? Maksudnya pengawalan seumur hidup..?" tanya Naia.

"Ih... Lemot amat sih..? Itu yang aku bilang pengawalan selamanya itu tadi.. Tapi kalau kamu gak mau, aku sebagai sahabatmu ikhlas menggantikanmu Nai, biar om dan tante yang jadi walinya dan pak Yan yang jadi saksinya.. Gimana Tan, gimana pak Yan..?" ucap Silvia mulai menggoda Naia.

"Iiihhh.. Silvia mulai lagi deh... Ma.. Silvia tuh...!!" ucap Naia sambil menggembungkan pipinya..

"Eeemmmmm.. Bisa juga gitu.. Kayaknya kamu serasi deh Vi sama Dede.." jawab bu Santi ikut menggoda.

"Itu yang namanya masssuuuukkk pak ekoooooo.." ucap pak Yan sambil mengangkat jempolnya..

"Iiihhhh.. Kalian itu ya, sekongkol ternyata.. Yo wes, aku ngambek aja lah.." ucap Naia sebel.

Sementara itu, Dewa dan pak Wira mengakhiri perdebatan mereka. Pak Wira merasa bahwa usahanya meyakinkan Dewa sudah gagal. Melihat pak Wira putus asa, Dewa akhirnya memberikan jawabannya, "Sudahlah.. Diperdebatkan pun juga gak ada habisnya.. Sebenarnya saya hanya ingin tau aja seberapa jauh bapak percaya sama saya. Ternyata demi keluarga bapak mau berbuat sampai sejauh ini.. Oke lah.. Saya terima pekerjaan jadi pengawal Naia, tapi saya punya syarat.."

Pak Wira sangat terkejut dengan jawaban Dewa, dalam hati pak Wira merasa tidak berdaya dan kalah, "Hhhahhhh... Anak ini memang tidak sederhana. Aku berniat meyakinkan dia, tapi malah aku yang di uji sama dia.. Berarti dari awal dia itu sebenarnya menerima.." gumam pak Wira dalam hati.

"Sebentar-sebentar.. Apa berarti dari awal mas Dede udah memutuskan mau jadi pengawal Naia..?" tanya pak Wira.

"Enggak juga. Sebenarnya dari awal saya menolak tawaran bapak, saya juga tidak perduli dengan latar belakang bapak dan apa yang menimpa adik Naia.. Tapi melihat ketulusan bapak mempercayai saya dan melihat bagaimana bapak menatap saya tadi, ya akhirnya saya putuskan untuk menerimanya.." jawab Dewa santai.

"Ternyata memang tidak bisa diprediksi anak ini. Semoga aku tidak salah kali ini, bagaimanapun ini menyangkut kehidupan Naia dan keluargaku.." gumam pak Wira dalam hati.

"Lalu apa syaratnya..? Trus berapa gaji yang mas Dede inginkan..?" tanya pak Wira.

"Syaratnya, aku tidak akan melakukan seperti pengawal-pengawal yang lain, yang setiap saat selalu berada di samping orang yang dikawal.. Tapi aku akan melakukan dengan caraku, yang terpenting putri bapak aman dan selamat. Satu lagi aku tidak terikat pada apapun. Jadi kapanpun ingin berhenti mengawal, itu terserah aku.. Jadi apakah pak Wira bisa menerima syaratku..?" tanya Dewa.

"Baik, aku percaya mas Dede akan melakukan yang terbaik untuk menjaga Naia.. Lalu berapa gaji yang mas Dede minta untuk pekerjaan ini..?" tanya pak Wira.

"Untuk masalah gaji, terserah bapak mau memberiku berapa. Aku malas kalau bicara soal angka, bapak lebih tau berapa angka yang pas untuk seorang pengawal sepertiku.." Dewa menepuk pundak pak Wira dan berjalan menuju rumah.

Pak Wira terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu, "Anak ini benar-benar diluar jangkauan pemikiranku. Setiap orang akan membungkukkan badannya di depanku, tapi anak ini sungguh luar biasa. Dia mempunyai karakter yang sangat kuat dan tidak bisa ditebak.."

"Mas Dede.. Saya mohon lindungi Naia anakku satu-satunya.." ucap pak Wira membungkukkan badannya.

Dewa bergerak cepat ke arah pak Wira dan langsung menangkap tubuh pak Wira untuk membantunya kembali tegak, "Bapak tenang saja, aku akan melindungi dan menjamin keselamatan Naia dengan nyawaku sebagai jaminannya.. Tolong pak, jangan bungkukkan badan anda, aku tidak pantas menerimanya.." ucap Dewa tegas.

Mendengar jawaban Dewa, pak Wira memeluk Dewa seperti dia memeluk putranya sendiri, "Terimakasih mas Dede.. Terimakasih.." ucap pak Wira lirih.

"Mari pak, kita kembali ke dalam. Mereka pasti khawatir kalau kita tidak segera kembali.." Dewa mengajak pak Wira kembali ke rumah.

Episodes
1 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3 Akhirnya sampai juga..
4 Kehidupan Baru (Bag. 1)
5 Kehidupan baru (Bag. 2)
6 Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7 Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8 Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9 Menjadi pengawal (Bag. 1)
10 Menjadi pengawal (Bag. 2)
11 Menapak jalan spiritual
12 Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13 Melawan preman (Bag. 1)
14 Melawan preman (Bag. 2)
15 Pertemuan tak terduga
16 Hadiah kecil
17 Mencari masalah (Bag. 1)
18 Mencari masalah (Bag. 2)
19 Mencari masalah (Bag. 3)
20 Trio Wajan
21 Secercah harapan (Bag. 1)
22 Secercah harapan (Bag. 2)
23 Beraksi diam-diam
24 Sebuah keyakinan
25 Ujian buat Niko
26 Satu kepingan puzzle
27 Kompetisi tarung bebas
28 Berhasil atau gagal
29 Simpan penasaranmu
30 Pembuktian
31 Menjadi petarung
32 Belanja di pasar
33 Sepeda untuk Kartika
34 Semangat gotong royong
35 Tiga petarung Lerengwilis
36 Raja Yama
37 Rencana penculikan Naia
38 Mencari Sang Sniper
39 Kejujuran Santoso
40 Kekuatan kegelapan
41 Menyelamatkan Naia
42 Rasa yang terpendam
43 Sang Penguasa Kegelapan
44 Kebahagiaan kita
45 Masa lalu Silvia
46 Membagi hasil taruhan
47 Perguruan Taring Harimau
48 Ilmu Pengawak Wojo
49 Wanita tercantik
50 Amplop putih
51 Bank of Asia (Bag. 1)
52 Bank of Asia (Bag. 2)
53 Berlatih Tenaga Dalam
54 Catatan sang Kolonel
55 Bertemu dengan Kepala Desa
56 Menata rumah
57 Waktunya beraksi
58 Menempati rumah baru
59 Cidera yang sama
60 Aku setuju dengannya
61 Mungkin ini saatnya
62 Sambutan hangat
63 Penculikan Naia
64 Melacak keberadaan Naia
65 Api Dewi Agni
66 Kamu telah gagal
67 Sampah yang sebenarnya
68 Aku ingin bertobat, tapi..
69 Selamat Berpuasa
70 Darimana saja..?
71 Misi mencari Tiara
72 Apakah dia setuju..?
73 Sang Bathari
74 Tanah sangar
75 Dimana kesayanganku..?
76 Bangkitnya sang Dewi
77 Dasanama
78 Oknum sampah
79 Gandarwa Raja (Bag. 1)
80 Gandarwa Raja (Bag. 2)
81 Menolong Kepala Daerah
82 Siluman Kera Merah
83 Rencana Sang Bupati
84 Kena batunya
85 MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86 Aksara Caraka
87 Sastra Jendra Hayuningrat
88 Bantuan sang Guru
89 Kembali ke kota AB
90 Menyerahkan Laporan
91 Peringatan buatmu
92 Menjadi murid
93 Kelompok tersembunyi
94 Mitra Desa
95 Kepergian Sang Wapres
96 Biar aku menyelidikinya
97 Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98 Kabar bahagia
99 Ratu Bidadari
100 Perjuangan terberat
101 Aku menunggumu
102 Terimakasih guru..
103 Tarian Kamatantra
104 Peresmian pusat pelatihan
105 Pasukan Dewa
106 Undangan dari Walikota
107 Seorang ayah
108 Segera Temukan Mereka..!!
109 Kita Sambut Mereka
110 Kekuatan yang menghilang
111 Bawa mereka bertemu denganku
112 Permintaan Suko
113 Ceritakan rencana mereka
114 Bertemu kembali
115 Akui semua kejahatanmu
116 Meminta bantuan
117 Kekuatan tersembunyi Baros
118 Mencari bukti kejahatan
119 Akhirnya kutemukan kalian
120 Akhir Perjalanan
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3
Akhirnya sampai juga..
4
Kehidupan Baru (Bag. 1)
5
Kehidupan baru (Bag. 2)
6
Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7
Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8
Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9
Menjadi pengawal (Bag. 1)
10
Menjadi pengawal (Bag. 2)
11
Menapak jalan spiritual
12
Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13
Melawan preman (Bag. 1)
14
Melawan preman (Bag. 2)
15
Pertemuan tak terduga
16
Hadiah kecil
17
Mencari masalah (Bag. 1)
18
Mencari masalah (Bag. 2)
19
Mencari masalah (Bag. 3)
20
Trio Wajan
21
Secercah harapan (Bag. 1)
22
Secercah harapan (Bag. 2)
23
Beraksi diam-diam
24
Sebuah keyakinan
25
Ujian buat Niko
26
Satu kepingan puzzle
27
Kompetisi tarung bebas
28
Berhasil atau gagal
29
Simpan penasaranmu
30
Pembuktian
31
Menjadi petarung
32
Belanja di pasar
33
Sepeda untuk Kartika
34
Semangat gotong royong
35
Tiga petarung Lerengwilis
36
Raja Yama
37
Rencana penculikan Naia
38
Mencari Sang Sniper
39
Kejujuran Santoso
40
Kekuatan kegelapan
41
Menyelamatkan Naia
42
Rasa yang terpendam
43
Sang Penguasa Kegelapan
44
Kebahagiaan kita
45
Masa lalu Silvia
46
Membagi hasil taruhan
47
Perguruan Taring Harimau
48
Ilmu Pengawak Wojo
49
Wanita tercantik
50
Amplop putih
51
Bank of Asia (Bag. 1)
52
Bank of Asia (Bag. 2)
53
Berlatih Tenaga Dalam
54
Catatan sang Kolonel
55
Bertemu dengan Kepala Desa
56
Menata rumah
57
Waktunya beraksi
58
Menempati rumah baru
59
Cidera yang sama
60
Aku setuju dengannya
61
Mungkin ini saatnya
62
Sambutan hangat
63
Penculikan Naia
64
Melacak keberadaan Naia
65
Api Dewi Agni
66
Kamu telah gagal
67
Sampah yang sebenarnya
68
Aku ingin bertobat, tapi..
69
Selamat Berpuasa
70
Darimana saja..?
71
Misi mencari Tiara
72
Apakah dia setuju..?
73
Sang Bathari
74
Tanah sangar
75
Dimana kesayanganku..?
76
Bangkitnya sang Dewi
77
Dasanama
78
Oknum sampah
79
Gandarwa Raja (Bag. 1)
80
Gandarwa Raja (Bag. 2)
81
Menolong Kepala Daerah
82
Siluman Kera Merah
83
Rencana Sang Bupati
84
Kena batunya
85
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86
Aksara Caraka
87
Sastra Jendra Hayuningrat
88
Bantuan sang Guru
89
Kembali ke kota AB
90
Menyerahkan Laporan
91
Peringatan buatmu
92
Menjadi murid
93
Kelompok tersembunyi
94
Mitra Desa
95
Kepergian Sang Wapres
96
Biar aku menyelidikinya
97
Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98
Kabar bahagia
99
Ratu Bidadari
100
Perjuangan terberat
101
Aku menunggumu
102
Terimakasih guru..
103
Tarian Kamatantra
104
Peresmian pusat pelatihan
105
Pasukan Dewa
106
Undangan dari Walikota
107
Seorang ayah
108
Segera Temukan Mereka..!!
109
Kita Sambut Mereka
110
Kekuatan yang menghilang
111
Bawa mereka bertemu denganku
112
Permintaan Suko
113
Ceritakan rencana mereka
114
Bertemu kembali
115
Akui semua kejahatanmu
116
Meminta bantuan
117
Kekuatan tersembunyi Baros
118
Mencari bukti kejahatan
119
Akhirnya kutemukan kalian
120
Akhir Perjalanan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!