Rutinitas yang dilakukan Dewa adalah waktu pagi hari untuk melatih kekuatan fisiknya. Selain berlari dia juga melakukan latihan fisik seperti push-up, pull-up, sit-up, back-up dan skipping. Sedangkan pada malam hari dimanfaatkannya untuk melatih kekuatan jiwa dan spiritual dengan bermeditasi menyerap intisari kitab Kalimasada di dalam goa di gunung Wilis.
Tidak terasa sudah beberapa hari Dewa melakukan rutinitas seperti itu. Hal tersebut dilakukannya demi dapat menguasai kitab Kalimasada secara sempurna sesuai dengan arahan dari mbah Sastro, gurunya. Hingga pada suatu malam, Dewa bermeditasi masuk ke alam hening yang ada di pusat hatinya, Dewa mendapati dirinya berada di atas telaga yang jernih airnya, sehingga terlihat dasar telaga tersebut. Dewa merasa berada di tempat asing yang belum pernah dia temui di kehidupan nyatanya, "Tempat apa ini..? Mengapa berbeda dari sebelumnya..? Apakah aku tersesat dalam meditasiku..?" ucapnya dalam hati.
Dewa melihat sekelilingnya, dan tiba-tiba muncul dihadapannya seseorang yang sama persis dengan dirinya, postur tubuh, wajah, gaya bicara dan suaranya benar-benar mirip dengan dirinya, tapi dari tubuh orang itu memancarkan cahaya putih keemasan. Dewa melihat sosok itu dan dia merasakan kedamaian dan ketentraman jauh melebihi yang pernah rasakannya selama ini dalam kehidupannya. Ditengah kebingungan dan keheranannya, sosok itupun mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat lembut tapi penuh dengan kekuatan,
"Tempat ini adalah telaga qalbumu, sumber dari rasa welas asihmu, sumber suara kebenaran, sumber kekuatan dan energi spiritualmu, dan tempat ini ada di telenging manah atau pusat hatimu.."
"Sadar akan hidupmu, sadar akan nafasmu, sadar akan Tuhanmu, itulah kesejatian dari dirimu. Siapa yang mengenali dirinya, dialah yang akan mengenal Gustinya.."
Suara itu perlahan-lahan membawa Dewa kembali pada kesadarannya. Dewa membuka mata dan merasakan hawa hangat dan dingin mengalir secara bergantian dari pusat hati menuju ke seluruh tubuhnya yang membuat dia merasa tubuhnya jauh lebih bertenaga dan semakin ringan. Dewa juga merasakan panca indranya jauh lebih tajam dari sebelumnya. Dia merasakan ketenangan yang belum pernah dirasakannya.
Dewa melihat jam tangannya menunjukkan angka 03:58, "Perasaan hanya sebentar, tapi waktu berlalu dengan sangat cepat. Sekarang saatnya pulang.." gumamnya. Dewa segera bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pulang.
*****
Sesampainya di rumah, Dewa segera mandi dan melakukan sholat shubuh lalu memejamkan mata setelahnya. Lagi-lagi Dewa terbangun karena ketukan di pintu rumahnya.
Tokk.. tokk.. tokk..
Dewa beranjak dari tempat tidurnya, "Siapa yang datang..? Apakah Naia..?" gumamnya
"Assalamu'alaikum... Pakeeeettt.."
"Paket..? Paket dari siapa..?" ucapnya dalam hati. Dewa membuka pintu, lalu memeriksa nama dan alamat penerima untuk memastikan bahwa itu memang paket untuknya, "Terimakasih mas.." ucapnya setelah menerima paket.
"Iya mas sama-sama. Permisi mas, wassalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
"Nanti saja lah ku buka. Sekarang sebaiknya mandi dulu.." Dewa meletakkan paket yang baru dia terima di atas meja lalu pergi mandi.
Setelah selesai mandi, dengan membawa secangkir kopi, Dewa menuju ruang tamu untuk membuka paket yang dia terima. Tidak lama berselang Naia dan Silvia datang sambil membawa beberapa nasi bungkus untuk sarapan.
"Assalamu'alaikum.. Eh.. Tumben mas Dede udah bangun, udah mandi juga..?" ejek Naia.
"Iya dong, ini gara-gara ada paket datang.. Kalian bikin minum sendiri ya, ini aku mau cek paket dulu.." ucap Dewa sambil membuka paket.
"Oke.. Ayo Vi bantuin.." ajak Naia
Paket yang berisi kartu identitas dari pak Wira, yang berisi KTP, SIM C dan SIM A, atas nama Dede Ramadhan, "Ternyata paket berisi identitasku. Aku akan memberi kabar beliau karena paket sudah ku terima.." pikir Dewa lalu dia memfoto isi paket yang dia terima dan mengirimkannya kepada pak Wira.
[Dewa] |Assalamu'alaikum.. Terimakasih pak Wira, kartu ID sudah saya terima. Terimakasih juga sudah dibuatkan SIM|
[Pak Wira] |Wa'alaikumsalam.. Oh.. Alhamdulillah sudah sampai ya..? Ah.. Itu masalah kecil saja mas Dede. Tolong titip Naia ya mas..?|
[Dewa] |Baik pak.. Siap..|
Naia penasaran siapa yang dihubungi Dewa, "Siapa mas yang WA..? Itu tadi paket apa..? Dari siapa..?" tanya Naia sambil menyuguhkan teh dan kopi.
"Calon mertua lah.. Emang siapa lagi..? Iya kan mas..?" ucap Silvia.
"Nah.. Tuh Silvia aja tau.." jawab Dewa.
"Eh.. Beneran calon mertua mas Dede..?" tanya Naia penasaran.
Silvia mengambil KTP Dewa yang ada di meja, "Waaahhh.. Ternyata lebih ganteng yang aslinya daripada di foto KTP.. hihihi.." ucap Silvia.
"Eh.. Udah jadi ya..? Bentar aku foto kasih tau papa.." jawab Naia.
"Hadeeehh.. Ngapain..? yang jelas mas Dede udah kasih kabar lah kalau paketnya udah diterima.. Tadi kan juga aku udah bilang, WA calon mertua.." goda Silvia.
"Eh.. eh gimana sih, gak ngeh aku.." jawab Naia.
"Udah.. Makan dulu aja, efek perut lapar itu jadi lemot tuh.." jawab Silvia.
"Hahahahhaa.." Dewa dan Silvia tertawa.
Setelah selesai menikmati sarapan pagi bersama, Naia dan Silvia pamit untuk menuju ke lokasi KKN. Setelah mereka pergi, Dewa melanjutkan membaca kitab Kalimasada. Dewa membaca dengan perlahan dan berusaha memahami makna dari tiap kalimatnya. Saat dia membuka lembaran berikutnya, dia melihat sebuah gambar anatomi tubuh manusia yaitu organ manusia, susunan tulang, sistem aliran darah dan saraf manusia.
Sebagai anggota pasukan elit tentunya Dewa juga mempelajari anatomi tubuh manusia hingga sistem saraf manusia. Hal ini sangat berguna untuk menghadapi situasi darurat, misalnya saat terluka karena tembakan atau untuk melumpuhkan musuh.
Dewa memperhatikan gambar itu dengan teliti, "Gambar ini lebih detail dari yang selama ini aku pelajari.. Selain itu di dalam gambar ini disebutkan selain aliran darah, di dalam tubuh manusia juga ada juga aliran prana atau energi spiritual dan bagaimana cara untuk mengalirkan energi itu agar menjadi kekuatan fisik.." Dewa terus mengamati dan mempelajari gambar itu, "Ternyata selama ini kita secara tidak sadar hanya menggunakan tidak lebih dari 10% dari kekuatan yang ada di dalam tubuh kita.. Dan kitab ini membuat kita mampu memaksimalkan kekuatan kita. Pantas saja guru bisa membuat bekas tapak pada batu hitam itu.." gumamnya dalam hati.
Saat Dewa serius mbah Sastro datang, "Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.. Kebetulan mbah Sastro datang, ada hal yang ingin aku tanyakan.." jawab Dewa.
"Hehehehe.. Iya aku sudah tau, makanya datang kesini.. Ternyata kamu sudah jumbuh dengan rasa sejatimu.." ucap mbah Sastro.
Dewa tidak memahami apa yang dikatakan mbah Sastro. Dengan rasa penasaran, dia bertanya kepada mbah Sastro, "Maksudnya mbah..? Lalu rasa sejati itu apa..?"
"Rasa sejati adalah sesuatu yang murni, suci yang merupakan pancaran energi Yang Maha Hidup lagi Menghidupi. Rasa sejatimulah yang akan selalu membimbingmu menemukan jalan kebenaran sejati dan sumber kekuatanmu yang sebenarnya, rasa Sejati juga dikenal dengan diri sejati atau guru sejati.."
"Dan kamu sudah jumbuh artinya kamu telah menyatu dengan rasa sejatimu, tapi kemenyatuanmu bersifat dinamis. Semakin kamu mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, menjalankan segala perintahNya, berlaku selaras dengan alam, maka semakin jumbuhlah dirimu, semakin wening telaga qalbumu, semakin kuat energi spiritualmu.."
"Demikian sebaliknya apabila perbuatanmu tidak selaras dengan alam, mengambil yang bukan hak mu, berlaku amoral, maka akan semakin jauh kamu dengan Tuhan sehingga kemenyatuanmu menjadi keterpisahan dan telaga qalbu mu menjadi keruh dan energi spiritualmu akan lenyap.." jawab mbah Sastro.
Dewa mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dia memahami apa yang dikatakan oleh gurunya itu, "Baik, aku paham sekarang.. Lalu selanjutnya apa yang harus aku lakukan mbah..?" tanya Dewa.
"Aku akan menjelaskan bagaimana cara mengalirkan energi spiritualmu menjadi kekuatan fisikmu.. Mari kita menuju ke goa.." jawab mbah Sastro.
*****
Dewa mengikuti mbah Sastro, walaupun dia masih belum bisa mengejarnya, tapi kali ini Dewa tidak merasa lelah sedikitpun.
Sesampainya di dalam goa, Mbah Sastro mengajarkan bagaimana cara mengalirkan energi spiritual secara merata ke seluruh tubuh sesuai dengan yang tertulis di kitab Kalimasada. Dewa duduk bersila dan mencoba melakukan sesuai dengan penjelasan mbah Sastro. Dia merasakan hawa hangat dan dingin secara bergantian mengalir dari pusat hati menuju seluruh tubuhnya mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Selanjutnya menarik kembali energi spiritual itu kembali ke pusat hati. Pertama kali mencoba, Dewa membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menyebarkan energi ke seluruh tubuhnya. Dewa berlatih dengan sabar, berulang kali dia mencoba hingga tak terasa sudah menjelang magrib. Latihan itu membuahkan hasil, Dewa hanya membutuhkan waktu 3 detik untuk menyebarkan seluruh energi spiritual ke seluruh tubuhnya.
"Sepertinya aku sudah bisa mengendalikan energi spiritualku untuk menyebar ke seluruh tubuh dan menariknya kembali ke dalam pusat hati.." ucapnya dalam hati.
Mbah Sastro takjub melihat hasil latihan Dewa, "Anak ini punya kemampuan pemahaman yang luar biasa. Hanya dalam beberapa kali percobaan, dia mampu mengatur dan mengontrol energi spiritual yang besar dengan cepat dan akurat.." ucap mbah Sastro dalam hati. Mbah Sastropun mengakhiri pelatihannya, "Kita sudahi dulu hari ini, besok pagi kita lanjutkan. Sekarang sebaiknya kita pulang dulu, nanti malam bermeditasilah di rumah saja.." ucap mbah Sastro lalu berjalan turun gunung diikuti oleh Dewa.
Keesokan harinya, mereka berdua berangkat setelah sholat Shubuh. Sesampainya di atas gunung, Mbah Sastro mengajak Dewa berdiri didepan batu hitam, "Sekarang nak Dede sebarkan energi spiritual ke seluruh tubuh, setelah itu fokuskan pikiranmu pada satu titik di telapak tangan dan hantamkan ke batu itu.. Aku yakin dengan beberapa kali mencoba, nak Dede sudah bisa meninggalkan bekas pada batu itu.." ucap mbah Sastro.
Dewa melakukan seperti apa yang diajarkan mbah Sastro. Dia berkonsentrasi untuk memusatkan kekuatan di telapak tangannya lalu bergerak memukul batu hitam yang ada di depannya.
Dhuuuuuuaaarr..
Suara ledakan terdengar keras saat tangan Dewa saat menyentuh batu hitam itu. Dewa sedikit kecewa saat dia mengetahui tidak terjadi apapun di batu itu. Tapi Dewa tidak berputus asa, dia mencoba kembali seperti yang dikatakan gurunya. Selama tiga hari Dewa harus naik turun gunung untuk melatih tapak Kalimasada, dan akhirnya dia berhasil membuat bekas telapak tangannya di batu itu, bahkan lebih dalam dari bekas telapak mbah Sastro.
Selanjutnya mbah Sastro membimbing Dewa untuk menguasai langkah kalimasada, yaitu bergerak cepat menggunakan energi spiritual. Dewa mengikuti setiap langkah yang mbah Sastro ajarkan kepadanya. Berbeda dengan saat Dewa berlatih tapak Kalimasada, Dewa membutuhkan waktu lebih singkat untuk menguasai langkah Kalimasada.
Mbah Sastro sangat bangga dengan muridnya itu, "Bagus.. tidak sampai satu minggu kamu sudah bisa menguasai keduanya. Selanjutnya kamu kombinasikan keduanya, hal itu akan sangat berguna untuk pertarungan.." ucap mbah Sastro.
"Iya guru, aku juga punya rencana demikian.." jawab Dewa.
Dengan sabar Mbah Sastro membimbing Dewa untuk dapat mengkombinasikan tapak Kalimasada dan langkah Kalimasada. Sebagai seorang anggota pasukan elit, kemampuan fisik dan kegigihan Dewa sangat membantunya dalam menguasai kombinasi kedua gerakan itu. Hanya dalam waktu dua hari Dewa mampu mengkombinasikan kedua gerakan itu.
"Nak Dede, kamu telah menguasai bab olah kanuragan dari kitab Kalimasada. Akan tetapi kamu harus tetap melatih fisikmu agar otot tubuhmu, aliran darahmu dan saraf-sarafmu menjadi lebih kuat.."
"Selanjutnya untuk oleh spiritual, bermeditasilah dengan kidung dan do'a yang ada di dalam kitab itu. Meditasi dengan kidung dan do'a yang ada di dalam kitab itu akan membuat kekuatan dan energi spiritualmu menjadi semakin tebal dan kuat. Tidak ada batasan dalam belajar kitab kalimasada, artinya terus latihlah kemampuan fisik dan batinmu.. Pesanku, jangan kamu gunakan ilmu kanuragan yang baru saja nak Dede kuasai sembarangan, kecuali pada saat mendesak.." pesan mbah Sastro.
"Terimakasih Guru.." Dewa membungkuk kepada gurunya.
"Jangan pernah ragu-ragu dalam melakukan sesuatu. "Ujianmu selanjutnya akan segera datang, bersiaplah.." ucap mbah Sastro lalu melangkah pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Pendekar Angin Barat
sarwono dan kawan kawan
2023-06-01
1