Dua dari empat orang yang turun dari mobil van itu adalah Roni dan Loreng. Roni melihat muka Bobby yang memar, dengan emosi, Roni bertanya kepada Bobby, "Siapa yang udah buat kamu babak belur seperti ini Bob..? Mana.. Mana orangnya..?" teriak Roni marah.
Sementara itu, pengunjung kafe terlihat sangat khawatir saat melihat Loreng datang, "Wah gawat, ternyata pemuda itu adalah teman Loreng. Kabarnya dia bisa menghadapi enam orang sendirian. Kasihan mas nya itu.." ucap salah seorang pengunjung dengan masih merekam menggunakan kamera hp.
Dengan menunjuk Dewa, Bobby mengadu kepada Roni, "I-Itu bang, dia yang melakukanny, dia yang memukuliku hingga seperti ini.."
Dewa berjalan ke arah Roni sambil berkata, "Loreng, Roni, ternyata kalian tidak mengindahkan aturan yang telah ku tetapkan ya..? Jadi kalian masih saja bertingkah seperti preman jalanan..?" Dewa melihat Roni dan Loreng.
Wajah Roni dan Loreng mendadak pucat, mereka berdua ketakutan ketika melihat Dewa, "Eh.. Eeee b-boss.. K-kenapa bos ada disini..? Ada apa sebenarnya bos..?" ucap Loreng dan Roni tergagap.
Dewa menepuk pundak Roni dan Loreng sambil berkata, "Sekarang aku tanya kalian, jika ada seorang laki-laki yang bersikap arogan karena pangkat orang tuanya lalu mengganggu perempuan, dengan kata-kata dan kelakuan yang tidak sopan dan melecehkan perempuan tersebut, sebaiknya diapakan laki-laki itu.." ucap Dewa dengan santai.
Mendengar ucapan Dewa, wajah Roni memerah, dia merasa malu kepada Dewa dan marah kepada Bobby yang telah memprovokasinya. Roni mendekati Bobby dan langsung menghajar Bobby.
Praaaaaakkkk.... Jdaaaaagggg... Jbaaaaaggg..
Pukulan dan tendangan Roni berulang kali mendarat di muka dan tubuh Bobby yang membuat dia berteriak meminta ampun, "A-ampuun-ampun-ampun bang.. Aku salah bang.. A-ampuun bang.." rintih Bobby.
"Bangsaaaatt..!! Keparat kau..!! Kelakuanmu sangat memalukan. Apa kau sengaja ingin mencoreng wajahku dan bapakmu..?!" bentak Roni.
Dewa melihat yang dilakukan Roni kepada Bobby, lalu mengatakan tujuan Bobby dan teman-temannya, "Asal kamu tau Ron, tujuan dia kesini itu sebenarnya mau balap liar dengan taruhan tentunya.."
Roni memaki Bobby, "Keparat kau ini, anak seorang perwira tapi tidak bisa menjadi contoh yang baik buat teman-temanmu.. Bapakmu selalu berpegang teguh terhadap aturan, tapi kau anaknya malah tidak tau aturan. Aku akan membantu bapakmu untuk memberimu pelajaran.." bentak Roni lalu menampar Bobby berulang kali.
Plaaaaakkk.. Plaaaaaakk.. Ploooookkk..
Teman-teman Bobby hanya diam dan menunduk tidak berani melaihat Bobby. Sedangkan Loreng merasa malu kepada Dewa,lalu memerintahkan anka buahnya untuk memberi pelajaran pada motor mereka, "Woi kalian, pecahkan semua ban motor mereka.." perintah Loreng kepada anak buahnya.
Anak buah Loreng dengan menggunakan pisau dan obeng, menyobek ban motor yang dibawa oleh Bobby dan teman-temannya.
Jblaaaaassss.. Jblaaaaasshh.. Jbleeeeessss...
"Jangan bang.. Tolong jangan bang.. Nanti kami pulang naik apa..?" rengek teman-teman Bobby.
"Tenang saja, nanti kalian akan dijemput dengan mobil polsek dan motor kalian akan diangkut dengan truk Brimob.." jawab Dewa kepada mereka. Selanjutnya Dewa membisikkan sesuatu kepada Loreng, "Oia, yang paling penting, ada beberapa orang yang tadi merekam aksiku dengan hp. Kamu urus deh, biar gak viral.."
Loreng pun langsung menghampiri siapapun yang merekam aksi Dewa dan menghapus video di hp mereka. Mereka hanya bisa pasrah saat Loreng meminta hp mereka dan menghapus video rekaman aksi Dewa tadi.
Roni menarik Bobby ke arah Dewa, "Sekarang kau minta maaf sama boss Dede. Kalau bos memaafkanmu, maka kau selamat. Tapi kalau bos sampai tidak memaafkanmu, bahkan bapakmu tidak akan bisa menolongmu.." Roni memberi perintah.
Dengan berlutut, Bobby memohon maaf kepada Dewa, "Bos Dede, mohon maafkan saya. Saya kapok, saya insaf. Saya tidak akan mengulangi perbuatan saya bos.." rengek Bobby.
Dewa menoleh dan bertanya kepada Naia, "Gimana non dimaafin kah..?"
"Udah lah lupain aja mas, pulang aja yuk..?" jawab Naia bete.
"Kamu sangat heruntung karena gadisku memaafkan kamu.." ucap Dewa kepada Bobby.
Sebelum pulang, Dewa menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Loreng. "Reng, tolong kamu selesaikan pembayaran di meja nomer 19. Sekalian kasih ganti rugi kursi yang rusak dan beberapa piring yang pecah.."
"Siap boss.." jawab Loreng
Sebelum pulang, Dewa juga mengembalikan posisi tulang teman-teman Bobby yang bergeser karena pukulan dan tendangannya. Setelah selesai dengan urusan teman-teman Bobby, mereka bersiap meninggalkan kafe itu untuk pulang, "Eh.. Nur kok duduk di belakang..?" protes Naia.
"Gantian lah kak.. Mulai sekarang dan seterusnya, kak Naia duduk di depan.. Hihihihi.." jawab Nuraini.
"Udah.. Tinggal duduk aja ribut sih.. Gak pa pa kan duduk depan, biar gampang pegangan tangannya.." ledek Silvia.
"Ih... Kalian nih udah sekongkol rupanya ya..?" ucap Naia sambil menarik handle pintu depan dan masuk ke mobil.
"Hadeeehhh.. Kalian ini suka banget sih godain Naia..?" ucap Dewa sambil menjalankan mobil.
Nuraini sangat takjub dengan kehebatan kakanya itu, "Kak Dewa ternyata benar-benar hebat ya..? Nur gak nyangka kak Dewa bisa nglawan 4 orang tadi.."
"Cuma 4 orang sih gak ada apa-apanya Nur, aku lihat sendiri mas Dewa nglawan 15 begal dan mereka pakai senjata semua lho.." sahut Naia.
"Haaah..!! Beneran kak..? Kak Naia lihat sendiri..? Kapan itu kak..?" tanya Nuraini penasaran.
"Iya aku lihat sendiri, pas pertama kali aku ketemu sama mas Dewa.." Naia menceritakan kejadian pada malam itu.
"Nah.. Justru karena kejadian itu Nur, Naia gak ingin dijodohin lagi sama kakakmu tapi pengennya sama mas Dede.. Itulah mengapa kak Naiamu itu pengen dikawal sama mas Dede, tapi gak tau kenapa kok dalam sekejap bisa melupakan mas Dede terus berpindah ke mas Dewa.." goda Silvia.
"Silviaaaaa.. Mulai lagi deh.. Kok bisa-bisanya lho kamu bikin narasi kayak gitu.." ucap Naia gemes.
"Beneran gitu kak Nai..?" tanya Nuraini polos.
"Ini juga Nur percaya aja omongan Silvia.." sambungnya.
"Kamu tau lagu yang lirinya kayak gini, yang aku tak bisa pindah, pindah ke lain body.. Hahahahha.." Silvia menyanyikan potongan dari lagu.
"Eh.. Awas ya kamu Vi.. Hhiiiiiiih.." Naia makin gemes.
Setelah puas menggoda Naia, Silvia bertanya tentang Roni dan Loreng, "Eh.. Mereka berdua tadi siapa mas..? Kayaknya takut banget sama mas Dewa..?" tanya Silvia.
"Ooohhhh.. Mereka itu Loreng sama Roni. Loreng itu pimpinan preman di pasar Lerengwilis, sedangkan Roni itu pimpinan sasana tarung bebas, preman juga sih dia.. Beberapa hari yang lalu kami pernah terlibat konflik, tapi akhirnya mereka memilih berteman denganku.." jawab Dewa santai.
"Ya jelas lah.. Yang ada mereka akan bonyok duluan kalau sampai lawan mas Dewa, daripada bonyok mending berteman.. Eh tapi kalian lihat gak tadi gayanya waktu pertama datang arogan banget. Eh.. Begitu mas Dewa ngomong langsung kayak krupuk kecelup air.. Hihihi.." komentar Silvia.
"Mereka panggil kakak kok bos..? Emang kakak bos mereka ya..?" tanya Nuraini penasaran
"Bukan lah.. Gak tau juga kenapa mereka panggil kakak seperti itu.."
Dewa segera mengalihkan topik pembicaraannya. Dia tidak ingin Nuraini tau lebih banyak tentang konfliknya dengan Roni dan Loreng, "Oiya, Sabtu lusa aku ada urusan di kota L..? Gimana kalau sekalian aja kalian pulang..? Nanti minggu sore kita balik lagi ke sini.."
"Wah kebetulan, teman-teman juga rencananya hari Sabtu mereka akan pulang kampung.. Yaudah gak pa pa sekalian aja kita pulang juga.." ucap Naia semangat.
"Kakak gak sekalian pulang ke rumah, ketemu ayah sama ibu..?" tanya Nuraini.
"Untuk sementara gak dulu, tunggu sampai saat yang tepat, kakak pasti akan pulang.." Nur tolong rahasiakan dulu tentang kakak ya..?" jawab Dewa.
Tidak terasa kami telah sampai di basecamp KKN, setelah menurunkan mereka, Dewapun meninggalkan mereka dan pulang.
****"
Sementara itu di kantor polsek Kecamatan Kota Barat, Bobby dan teman-temannya sedang didata oleh petugas ditemani Loreng dan Roni. Sebuah mobil SUV berwarna silver memasuki halaman kantor polsek. Seseorang turun dan langsung masuk menuju salah satu ruangan di dalam kantor polsek. Dialah orang tua Bobby seorang perwira menengah polisi yang bernama Husain. Di dalam sudah berkumpul beberapa orang tua dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang bekerja sebagai karyawan, PNS, guru, dan wiraswasta. Mereka punya tujuan yang sama, hendak menjemput anak mereka yang tak lain adalah teman geng motor Bobby.
"Ada apa ini Ron..? Mana Bobby..?" tanya Husain
"Itu om, yang jongkok paling ujung dekat dengan meja petugas itu.." jawab Roni.
Roni dan Loreng sangat dikenal di lingkungan kantor polsek karena beberapa anggota polisi sering berlatih di sasana milik Roni. Sedangkan Loreng dia terkenal karena sering bermasalah dengan tindak pidana ringan, terutama mabuk-mabukan dan membuat onar di pasar.
Sedangkan Husain adalah adik kandung dari orang tua Roni, jadi Roni memanggil Husai dengan sebutan om. Husain terkejut melihat kondisi Bobby, lalu dia bertanya kepada Roni, "Kenapa Bobby sampai babak belur begitu Ron..? Apa yang terjadi..? Dia berkelahi..? Lalu dimana motornya..?" tanya Husain emosi.
Dengan santai Roni menjelaskan kepada om nya itu, "Dia memang aku hajar om, karena dia sudah menganggu dan kata-katanya melecehkan seorang perempuan yang kebetulan pacar temanku.. Masalah motor..? Ada di belakang, aku juga sengaja pecahkan ban nya.. Biar om tau, malam ini Bobby dan teman-temannya akan melakukan taruhan balap liar sama geng motor lainnya.." jawab Roni.
Husain tidak percaya dengan cerita Roni, "Mana mungkin Bobby melakukan itu..? Jangan ngawur kamu Ron.." bentak Husain.
Tak lama kemudian beberapa anak muda datang bersama beberapa petugas kepolisian. Mereka adalah anggota geng lain yang akan melakukan balapan melawan geng Bobby. Di tangan mereka disita uang tunai 30 juta yang merupakan uang taruhan dari balap liar tersebut.
"Lapor.. Beberapa sudah ditangkap, sedangkan yang lainnya berhasil kabur.." laporan salah satu anggota kepada komandannya.
"Data mereka semua dan panggil orang tua mereka karena mereka masih di bawah umur. Uang dan motor mereka, gunakan sebagai barang buktinya.." perintah komandan itu.
"Siap laksanakan.." jawabnya.
Husain terdiam mendengar percakapan kedua anggota polisi itu. Roni menepuk pundak om nya, "Sekarang sudah percaya kan..? Seharusnya om berterimakasih sama temanku itu. Dia memaafkan Bobby dan tidak memperpanjang masalah ini.." ucap Roni.
"Brengseekk..!! Anak ini bikin malu orang tua saja.." gerutu Husain.
"Om dan tante itu kurang mengawasi Bobby dan terlalu memanjakan dia. Jadinya Bobby gak terkontrol kelakuannya.." Roni diam sesaat sebelum melanjutkan ceritanya, "Selama ini ku dengar dari beberapa polisi, Bobby selalu memakai namamu kalau ada urusan sama polantas.." jelas Roni kepada Husain.
"Kamu benar Ron.. Memang ini salah kami. Terimakasih Ron, sampaikan juga terimakasihku kepada temanmu itu.." ucap Husain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments