Pertemuan tak terduga

Di saat yang sama di Kota B, markas Pasukan Ganendra, tepatnya di sebuah ruangan Komandan Ganendra, terlihat dua orang sedang mengobrol. Seseorang dengan pangkat Kolonel terlihat dengan wajah serius bertanya kepada bawahannya yang berpangkat Letnan Satu, "Bagaimana Letnan, sudah mendapat informasi tentang lima anggota Regu III yang melarikan diri..?"

"Siap ndan.. Mohon maaf ndan, sampai saat ini kami belum menemukan jejak mereka. Sinyal dari alat pelacak yang ada pada diri mereka semua telah hilang. Mereka seperti hilang ditelan bumi.." jawabnya.

"Mereka pasukan terlatih dan pasukan terbaik kita. Tetap cari informasi tentang keberadaan mereka, bagaimanapun kita harus lebih cepat menemukan mereka daripada orang-orang itu.." perintah Kolonel.

"Siap ndan. Laksanakan.."

*****

Sementara itu di rumah Dewa, Naia dan Silvia terlihat tertawa kecil melihat ekspresi Nuraini saat menahan buang air kecil.

Tak lama kemudian Dewa sampai rumahnya, "Assalamu'alaikum.."

"Wa'alaikumsalam.." jawab Naia dan Silvia bersamaan.

"Kok lama mas..? Darimana aja sih..?" tanya Naia.

"Eh.. Maaf lama ya nunggunya..? Eee.. Ini tadi mampir beli martabak telor antri lumayan panjang.." ucapnya sambil menunjukkan bungkusan berisi martabak telor, lalu dia bertanya motor yang parkir di halaman rumahnya, "Eee.. Motor siapa diluar..? Ada teman yang datang..? Tau gitu beli 4 bungkus tadi.." tanya Dewa penasaran.

"Ooohh itu si Nur. Tau kita gak ada di basecamp, dia tanya kami dimana, terus nyusul dia setelah kami kasih tau lokasinya.." jawab Naia.

"Loh.. Terus dimana dia sekarang..?" tanya Dewa.

"Tuh lagi di kamar mandi dia.." jawab Silvia.

Setelah menyelesaikan urusan buang air kecil, Nuraini segera pergi ke ruang tamu. Dia dangat terkejut saat melihat pemuda yang sedang berdiri di ruang tamu rumah Dewa. Nuraini berteriak, "K-kak Dewa.. Kak Dewaaaa.." teriak Nuraini sambil berlari ke arah Dewa lalu Nuraini memeluk Dewa sambil menangis, "Kak Dewa kemana aja..? 3 tahun kak Dewa gak ada kabar.. Aku kangen sama kak Dewa.. Ayah, ibu semua khawatir keadaan kak Dewa.." ucap Nuraini dengan memeluk Dewa memeluk sambil menangis.

Naia dan Silvia saling pandang. Gak ngerti apa yang sedang terjadi, dan apa hubungan Nuraini dengan Dewa, "Kak Dewa..? Siapa yang Nuraini maksud dengan kak Dewa..?" Naia berbisik kepada Silvia

Sama halnya dengan Naia, Silvia juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, "Sebenarnya mas Dede itu siapanya Nur..?" Silvia berbisik kepada Naia. Mereka saling pandang dan hanya mengangkat bahu.

Dada Dewa terasa sesak menahan perasaan haru, "Maafin kakak Nur.. Sudah buat kalian khawatir.." ucap Dewa sambil membalas pelukan Nuraini.

Setelah beberapa saat, Dewapun bisa mengendalikan dirinya, dia mencoba menenangkna Nuraini, "Udah-udah.. Ada Naia sama Silvia tuh.. Kita ngobrol sambil duduk aja.." ucap Dewa. Nurainipun melepas pelukannya dan duduk di samping Dewa. Dengan masih sesenggukan, Nuraini mulai bertanya kepada Dewa, "Kak Dewa kemana saja..? Semenjak kakak pamit mau ikut seleksi anggota pasukan khusus, setelah itu kak Dewa gak ada kabar sama sekali..? Ayah, ibu, kak Robi, aku khawatir banget keadaan kakak.." ucap Nuraini sambil menghapus air matanya.

"Maaf Nur, setelah kakak bergabung di pasukan Ganendra, kakak terikat pada aturan yaitu selama 3 tahun kakak tidak boleh menghubungi keluarga. Semua itu dilakukan demi menjaga keselamatan keluarga, karena kakak harus menjalani misi-misi yang sangat berbahaya baik di dalam dan di luar negeri.." jawab Dewa

"Lalu mengapa kakak disini dan mengganti nama kakak dengan panggilan itu..? Mengapa kakak tidak pulang menjenguk ibu sama ayah..? Apa benar kakak melarikan diri dari militer, ada apa sebenarnya kak..?" tanya Nuraini.

Dewa terdiam beberapa saat dan mengambil nafas panjang, lalu menjawab pertanyaan Nuraini, "Ya itu benar Nur, kakak memang melarikan diri dari misi kakak. Semua ini terjadi karena kakak dan anggota regu kakak dijebak saat menjalankan misi penyergapan penyelundupan heroin di perairan Borneo. Kapal yang menurut informasi terdapat heroin ternyata berisi senjata, lalu mereka memfitnah regu kakak menyelundupkan senjata dan akhirnya baku tembak tak terhindarkan. Beruntung kakak dan teman-teman kakak bisa selamat..". Dewa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya, "Kakak dan teman-teman kakak terpaksa harus lari menyelamatkan diri hingga kakak sampai disini. Kakak gak tau dimana dan bagaimana sekarang keadaan teman-teman kakak lainnya, yang jelas kami akhirnya berpencar untuk memudahkan kami bersembunyi.." Dewa mengakhiri ceritanya.

"Mengapa kakak tidak pulang saja..? Kami pasti akan melindungi kakak.." ucap Nuraini.

"Kakak sengaja tidak pulang dan tidak berkomunikasi dengan kalian untuk menjaga keselamatan kalian.. Kakak tidak ingin kalian terlibat dalam masalah ini. Semakin sedikit kalian tau, itu akan semakin aman buatmu, ayah, ibu dan Robi.." jawab Dewa.

Naia dan Silvia masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi, percakapan antara aku dan adikku sungguh sulit dicerna oleh mereka.

"Lalu kak, rumah ini..?" tanya Nuraini.

"Satu setengah tahun lalu, kakak menitipkan uang gaji dan bonus misi ke kakakmu Robi. Lalu kakak minta Robi mencarikan rumah untuk kakak di daerah terpencil, dan sebulan lalu kakakmu Robi memberi kakak alamat rumah ini.." jawab Dewa.

"Ohhh.. Pantesan kak Robi menyuruhku untuk KKN disini mungkin agar aku bisa ketemu sama kak Dewa.." ucap Nuraini.

Walaupun Naia sudah tau bahwa Dewa adalah kakak Nuraini, dia ingin memastikannya sendiri, "Eeemmmm.. jadi mas Dede ini adalah mas Dewa kakak Nuraini yang tentara itu..?" tanya Naia dijawab oleh Nuraini dan Dewa dengan menganggukkan kepalanya

"Lalu mengapa mas Dewa mengaku sebagai pecatan satpam dan bilang kalau namanya Dede..?" sahut Naia

"Naia, aku minta maaf. Aku gak bermaksud membohongimu tapi ini aku lakukan untuk menjaga keselamatanku.." jawab Dewa diikuti anggukan Naia.

Nuraini segera menyahut dan menjelaskan kepada Naia, "Kak Naia jangan kaget ya..? Ini kak Dewa, dan dia gak bohong, itu panggilan teman-teman kak Dewa saat masih SD.. Dan kak Dewa adalah kakak tertuanya Nur yang selama 3 tahun ini tanpa kabar. Kak Dewa inilah yang sama ayah dan om Wira dijodohkan sama kak Naia.." ucap Nuraini.

Dewa terkejut mendengar ucapan Nuraini, "M-maksudnya gimana Nur..? Di-dijodohkan gimana..?" tanya Dewa bingung.

"Jadi gini kak, ayah sama om Wira itu teman dekat. Nur juga gak tau sedekat apa mereka. Tapi ayah pernah cerita kalau dulu ayah dan om Wira pernah berjanji, kalau anak om Wira perempuan, maka mereka sepakat akan menikahkan kalian.." Nuraini diam sesaat sebelum melanjutkan ceritanya, "Seharusnya kakak dan kak Naia bertunangan fua tahun lalu. Tapi kakak tidak ada kabar sama sekali sampai hari dimana prosesi pertunangan kalian berlangsung, sehingga pertunangan itu gagal.." cerita Nuraini.

"Terus apa yang terjadi..?" tanya Dewa penasaran.

"Ayah sempat ingin membatalkan perjodohan kalian, karena ayah merasa beban moral kepada om Wira. Tapi om Wira tidak setuju dengan rencana ayah dan tetap ngotot menjodohkan kalian sampai sekarang.." jelas Nuraini. Naiapun menyambung cerita Nuraini dengan menceritakan hubungan antara ayah Dewa dengan papanya dan segala hal yang menyangkut perjodohan mereka seperti yang dituturkan oleh orang tua Naia.

"Jadi ada kejadian seperti itu ya..? Tapi mengapa ayah dan ibu tidak memberitahu kakak..?" tanya Dewa heran.

"Sebenarnya ayah sudah berusaha menghubungi kakak sebulan sebelum acara pertunangan itu. Tapi pesan maupun telepon tidak pernah sampai ke kakak.." Nuraini mengusap air matanya lalu melanjutkan ceritanya, "Bahkan ayah sampai pergi ke kesatuan kakak, mereka bilang kakak sudah pindah kesatuan dan mereka tidak memberi tahu kemana kakak pindah.. Ayah tidak tau harus kemana lagi mencari kakak. Ayah merasa hanya tentara berpangkat Sersan Mayor yang berdinas di daerah, akhirnya ayah menyerah untuk mencari kakak.." Nuraini menjelaskan.

Jawaban Nuraini membuat Dewa merasa bersalah, "Aku jadi merasa bersalah kepada ayah, ibu dan keluarga pak Wira.. Suatu saat aku akan menemui mereka dan menjelaskan sendiri kepada mereka.. Dan kepada Naia, aku benar-benar minta maaf atas kejadian itu. Aku benar-benar tidak tau ada rencana seperti itu.." ucap Dewa menyesal.

"Sebenarnya aku juga gak ngerti mas, waktu itu tiba-tiba papa cerita bahwa aku akan bertunangan dengan anak teman papa yang aku sendiri gak tau bagaimana calon tunanganku itu.." jawab Naia.

Silvia yang sedari tadi hanya memperhatikan pembicaraan mereka, akhirnya mulai bicara, "Yang namanya jodoh ya jodoh aja. Mau ada kejadian kayak gimana ya tetap jodoh.. Iya kan Nur..?" Silvia mulai menggoda Naia.

"Bener, ternyata memang perjodohan kalian itu memang sudah kehendak Tuhan.. Alhamdulillah.." jawab Nuraini.

Udah lega kan kamu sekarang..?" ucap Silvia menggoda Naia.

"Eh.. Eeeee.. Gak tau ah.." ucap Naia dengan wajah memerah.

"Nah.. Kenapa wajahmu merah Nai..? Demam ya..? Hihihihi.. Udah sana.. Peluk tuh peluk.. Udah jelas kan sekarang statusnya.. Weeeekkk.." ledek Silvia.

"Silviaaaaaaa... Bisa diem gak sih tuh mulut.. Iiihhhhh.." ucap Naia gemes..

"Alhamdulillah Ya Allah, aku bisa bertemu dengan kak Dewa lagi dan kak Naia juga bisa bertemu dengan kak Dewa juga.." ucap Nuraini dalam hati.

"Sebelumnya kakak juga sudah ketemu sama Naia. Sekarang kakak kerja sama pak Wira jadi pengawalnya Naia.." ucap Dewa

"Berarti sebentar lagi mas Dewa pasti dipecat sebagai pengawal sama om Wira.." ucap Silvia.

"Do'amu jelek amat Vi..?" protes Naia.

"Lha jelek gimana sih..? Sekarang coba pikir buat apa bayar gaji pengawal mahal-mahal kalau bisa punya mantu yang hebat seperti mas Dewa.. Weeeekk.." ledek Silvia.

"Oia Nur, tadi kakak udah transfer biaya kuliah sama kos mu.. Kalau masih ada yang kurang, kamu kasih tau kakak saja.." ucap Dewa sambil mengelus kepala Nuraini.

"Kakak tenang aja, tante Santi udah bantu bayar kuliah Nur.. Kalau kos, Nur tinggal di rumah kos nya kak Naia.. Keluarga kak Naia udah banyak bantu Nur.." jelas Nuraini.

Jawaban Nuraini membuat Dewa terharu, "Naia, terimakasih sudah banyak membantu Nur, gak tau gimana caraku membalas budi baik keluargamu.." ucap Dewa.

"Udah lah mas, hal kecil gak usah dipikirkan.." jawab Naia.

"Udah mau magrib, balik ke basecamp yuk..?" kata Silvia.

"Eh.. Nur.. Kayaknya kita gak perlu balik ke basecamp deh.. Kan ini rumah kita..?" ucap Naia balas menggoda Silvia.

Bukan Silvia namanya kalau tidak bisa membalas menggoda Naia, "Eh.. Kalian ini ya..? Mentang-mentang udah ketemu sama yang dicari, aku langsung dilupakan..? Tadi siapa juga yang galau lalu bilang gak mau jatuh cinta lagi, aku takut jatuh cinta sama mas Dede karena aku udah dijodohin..? Eh.. Ternyata setelah tau mas Dedenya ganti mas Dewa, langsung deh insomnia, eh.. Amnesia.. Weeeekkk..." balas Silvia.

"Ih.. Silvia kamu ini..... Hhhiiiiiihh...." sahut Naia gemes.

"Hahahahahha..." merekapun tertawa.

"Tapi kalian janji ya..? Kejadian hari ini jangan kalian ceritakan kepada siapapun, termasuk ke ayah, ibu, dan Robi ya Nur..? Juga Naia, jangan cerita dulu masalah ini sama pak Wira dan bu Santi.. Kalian tetap seperti biasa saja. Ini semua menyangkut keselamatan kalian dan keluarga.. Kalian paham kan..?" ucap Dewa.

Naia, Silvia dan Nuraini, mereka mengangguk secara bersamaan.

Dewa sangat bersyukur, walaupun pertemuannya dengan Nuraini diluar dugaan, tapi hal itu membuatnya bahagia, "Aku tidak tau apa yang akan terjadi kedepan, tapi aku akan berusaha melindungi mereka. Tawa ini, kebahagiaan ini, tidak akan kubiarkan siapapun merenggutnya.." ucap Dewa dalam hati.

Terpopuler

Comments

Pendekar Angin Barat

Pendekar Angin Barat

mantap thor

2023-06-02

1

lihat semua
Episodes
1 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2 Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3 Akhirnya sampai juga..
4 Kehidupan Baru (Bag. 1)
5 Kehidupan baru (Bag. 2)
6 Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7 Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8 Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9 Menjadi pengawal (Bag. 1)
10 Menjadi pengawal (Bag. 2)
11 Menapak jalan spiritual
12 Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13 Melawan preman (Bag. 1)
14 Melawan preman (Bag. 2)
15 Pertemuan tak terduga
16 Hadiah kecil
17 Mencari masalah (Bag. 1)
18 Mencari masalah (Bag. 2)
19 Mencari masalah (Bag. 3)
20 Trio Wajan
21 Secercah harapan (Bag. 1)
22 Secercah harapan (Bag. 2)
23 Beraksi diam-diam
24 Sebuah keyakinan
25 Ujian buat Niko
26 Satu kepingan puzzle
27 Kompetisi tarung bebas
28 Berhasil atau gagal
29 Simpan penasaranmu
30 Pembuktian
31 Menjadi petarung
32 Belanja di pasar
33 Sepeda untuk Kartika
34 Semangat gotong royong
35 Tiga petarung Lerengwilis
36 Raja Yama
37 Rencana penculikan Naia
38 Mencari Sang Sniper
39 Kejujuran Santoso
40 Kekuatan kegelapan
41 Menyelamatkan Naia
42 Rasa yang terpendam
43 Sang Penguasa Kegelapan
44 Kebahagiaan kita
45 Masa lalu Silvia
46 Membagi hasil taruhan
47 Perguruan Taring Harimau
48 Ilmu Pengawak Wojo
49 Wanita tercantik
50 Amplop putih
51 Bank of Asia (Bag. 1)
52 Bank of Asia (Bag. 2)
53 Berlatih Tenaga Dalam
54 Catatan sang Kolonel
55 Bertemu dengan Kepala Desa
56 Menata rumah
57 Waktunya beraksi
58 Menempati rumah baru
59 Cidera yang sama
60 Aku setuju dengannya
61 Mungkin ini saatnya
62 Sambutan hangat
63 Penculikan Naia
64 Melacak keberadaan Naia
65 Api Dewi Agni
66 Kamu telah gagal
67 Sampah yang sebenarnya
68 Aku ingin bertobat, tapi..
69 Selamat Berpuasa
70 Darimana saja..?
71 Misi mencari Tiara
72 Apakah dia setuju..?
73 Sang Bathari
74 Tanah sangar
75 Dimana kesayanganku..?
76 Bangkitnya sang Dewi
77 Dasanama
78 Oknum sampah
79 Gandarwa Raja (Bag. 1)
80 Gandarwa Raja (Bag. 2)
81 Menolong Kepala Daerah
82 Siluman Kera Merah
83 Rencana Sang Bupati
84 Kena batunya
85 MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86 Aksara Caraka
87 Sastra Jendra Hayuningrat
88 Bantuan sang Guru
89 Kembali ke kota AB
90 Menyerahkan Laporan
91 Peringatan buatmu
92 Menjadi murid
93 Kelompok tersembunyi
94 Mitra Desa
95 Kepergian Sang Wapres
96 Biar aku menyelidikinya
97 Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98 Kabar bahagia
99 Ratu Bidadari
100 Perjuangan terberat
101 Aku menunggumu
102 Terimakasih guru..
103 Tarian Kamatantra
104 Peresmian pusat pelatihan
105 Pasukan Dewa
106 Undangan dari Walikota
107 Seorang ayah
108 Segera Temukan Mereka..!!
109 Kita Sambut Mereka
110 Kekuatan yang menghilang
111 Bawa mereka bertemu denganku
112 Permintaan Suko
113 Ceritakan rencana mereka
114 Bertemu kembali
115 Akui semua kejahatanmu
116 Meminta bantuan
117 Kekuatan tersembunyi Baros
118 Mencari bukti kejahatan
119 Akhirnya kutemukan kalian
120 Akhir Perjalanan
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 1)
2
Perjalanan menuju Lerengwilis (Bag. 2)
3
Akhirnya sampai juga..
4
Kehidupan Baru (Bag. 1)
5
Kehidupan baru (Bag. 2)
6
Kitab Kalimasada (Bag. 1)
7
Kitab Kalimasada (Bag. 2)
8
Kitab Kalimasada (Bag. 3)
9
Menjadi pengawal (Bag. 1)
10
Menjadi pengawal (Bag. 2)
11
Menapak jalan spiritual
12
Manapak jalan spiritual (Bag. 2)
13
Melawan preman (Bag. 1)
14
Melawan preman (Bag. 2)
15
Pertemuan tak terduga
16
Hadiah kecil
17
Mencari masalah (Bag. 1)
18
Mencari masalah (Bag. 2)
19
Mencari masalah (Bag. 3)
20
Trio Wajan
21
Secercah harapan (Bag. 1)
22
Secercah harapan (Bag. 2)
23
Beraksi diam-diam
24
Sebuah keyakinan
25
Ujian buat Niko
26
Satu kepingan puzzle
27
Kompetisi tarung bebas
28
Berhasil atau gagal
29
Simpan penasaranmu
30
Pembuktian
31
Menjadi petarung
32
Belanja di pasar
33
Sepeda untuk Kartika
34
Semangat gotong royong
35
Tiga petarung Lerengwilis
36
Raja Yama
37
Rencana penculikan Naia
38
Mencari Sang Sniper
39
Kejujuran Santoso
40
Kekuatan kegelapan
41
Menyelamatkan Naia
42
Rasa yang terpendam
43
Sang Penguasa Kegelapan
44
Kebahagiaan kita
45
Masa lalu Silvia
46
Membagi hasil taruhan
47
Perguruan Taring Harimau
48
Ilmu Pengawak Wojo
49
Wanita tercantik
50
Amplop putih
51
Bank of Asia (Bag. 1)
52
Bank of Asia (Bag. 2)
53
Berlatih Tenaga Dalam
54
Catatan sang Kolonel
55
Bertemu dengan Kepala Desa
56
Menata rumah
57
Waktunya beraksi
58
Menempati rumah baru
59
Cidera yang sama
60
Aku setuju dengannya
61
Mungkin ini saatnya
62
Sambutan hangat
63
Penculikan Naia
64
Melacak keberadaan Naia
65
Api Dewi Agni
66
Kamu telah gagal
67
Sampah yang sebenarnya
68
Aku ingin bertobat, tapi..
69
Selamat Berpuasa
70
Darimana saja..?
71
Misi mencari Tiara
72
Apakah dia setuju..?
73
Sang Bathari
74
Tanah sangar
75
Dimana kesayanganku..?
76
Bangkitnya sang Dewi
77
Dasanama
78
Oknum sampah
79
Gandarwa Raja (Bag. 1)
80
Gandarwa Raja (Bag. 2)
81
Menolong Kepala Daerah
82
Siluman Kera Merah
83
Rencana Sang Bupati
84
Kena batunya
85
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
86
Aksara Caraka
87
Sastra Jendra Hayuningrat
88
Bantuan sang Guru
89
Kembali ke kota AB
90
Menyerahkan Laporan
91
Peringatan buatmu
92
Menjadi murid
93
Kelompok tersembunyi
94
Mitra Desa
95
Kepergian Sang Wapres
96
Biar aku menyelidikinya
97
Kupercayaan kebahagiaannya padamu
98
Kabar bahagia
99
Ratu Bidadari
100
Perjuangan terberat
101
Aku menunggumu
102
Terimakasih guru..
103
Tarian Kamatantra
104
Peresmian pusat pelatihan
105
Pasukan Dewa
106
Undangan dari Walikota
107
Seorang ayah
108
Segera Temukan Mereka..!!
109
Kita Sambut Mereka
110
Kekuatan yang menghilang
111
Bawa mereka bertemu denganku
112
Permintaan Suko
113
Ceritakan rencana mereka
114
Bertemu kembali
115
Akui semua kejahatanmu
116
Meminta bantuan
117
Kekuatan tersembunyi Baros
118
Mencari bukti kejahatan
119
Akhirnya kutemukan kalian
120
Akhir Perjalanan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!